Anak Iseng (PART II)

playing with mistic sides. Hope you enjoy

Aku mengikuti arah lari si Nerd. Ia menangis sambil berlari menghindari anjing yang menggonggong ke arahnya. Ia berbelok ke sebuah jalan. Aku sampai di ujung belokan itu. Si nerd berada jauh di ujung jalan itu. Dia sedang diterkam oleh sang anjing. Hah diterkam ? Si nerd terjatuh dan tubuhnya ditindih oleh anjing besar itu. Ia berteriak minta tolong namun tak ada yang datang. Bercak merah berceceran di bajunya.

Hah…, gawat. Aku mendekati dia yang berada sekitar 200 meter di depanku. Si Nerd berhasil lepas dan berdiri untuk menghindari terkaman anjing yang lebih membabi buta. Ia berlari ke arah perempatan yang berlawanan denganku. Gila cepat juga larinya. Namun anjing itu lebih cepat. Ia berhasil menindih si Nerd lagi dan menerkamnya. Ada mobil yang tiba lewat perempatan. Anjing itu kabur ketika mobil mengklakson. Langkahku dan Riki terhenti. Pengemudi mobil itu keluar dari mobil dan membopong Nerdy ke mobilnya. Darah bercecerah ketika Nerd diangkat. Aku hanya bisa saling melepas pandang dengan Riki di kejauhan.

*

Aku sampai di sekolah dengan wajah yang pucat pasi. Aku berharap si nerdy tetap datang dengan wajah nerdnya itu hari ini. Aku yakin dia pasti datang. Dia kan sama sekali tak ingin ketinggalan pelajaran. Aku duduk di bangkuku, sementara banngku si anak Nerd masih kosong. Tak seperti biasanya dia belum datang jam segini. Jangan-jangan ? Ah paling juga dia sakit doang tak sampai kenapa-kenapa. Well ada rumor di grup FB kelasku kalau si Nerd meninggal. It’s just rumor.

“Don, lo buka grup FB kan ?”

“Iya Rik. Udah itu Cuma rumor kok. Dia paling di rumah sakit sekarang lagi dirawat, nggak sampai meninggal kok.”

Teman-teman semua menggosipkan keadaan Nerdy. Sebagian besar yakin sekali kalau ia sudah meninggal. Si Nerdy memang sangat introvert jadi tak ada yang tahu kepastiannya. Bel masuk berbunyi. Tak lama kemudian ibu guru masuk. Pagi ini dengan kemarin pagi, sama-sama pelajaran fisika. Terlihat ibu guru memasang mimik wajah yang sedih.

“Anak-anak kita punya berita duka.”

Oh my god keisenganku berbuah petaka. Dia meninggal kemarin sore. Orang tuanya menelpon wali kelas sore kemarin. Si Nerd telah dikuburkan kemarin sore di pekuburan keluarganya di Padang. Tak ada teman atau guru yang bisa menengok karena semua terjadi begitu mendadak. Jadi…, dia telah meninggal. Debar ketakutan mulai bergenderang di dadaku.

“Memangnya dia meninggal karena apa bu ?” tanya salah satu teman.

“Orangtuanya berkata kalau dia kehabisan darah. Ada luka cakar dan gigitan di tubuhnya. Dugaan dia diterkam anjing di sekitar jalan di perumahan. Dia meninggal ketika ingin di bawa ke rumah sakit. Ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk berhati-hati. Padahal dia adalah anak yang baik dan pintar namun nasib berkata lain.”

Aku dan Riki saling tukar pandang. Haduh bagaimana ini ???

*

Bel pulang sekolah berbunyi. Aku dan Riki menunggu sampai semuanya keluar. Apa yang sebaiknya harus kami lakukan ? Jawaban dari pertanyaan ini harus dibicarakan bersama. Kelas sudah kosong. Aku menatap wajah Riki yang ketakutan, sama sepertiku.

“Gimana ini Don ? Kamu sih keterlaluan ngerjainnya.”

“Aduh maafin aku deh. Mending gimana sekarang ?”

“Ya aku juga nggak tahu,” kata Riki.

“Aku takut kalau mengaku. Bisa-bisa kita dipenjara.”

“Well kita diam dulu aja selama seminggu dan coba lupakan masalah ini. Terlihat kriminal banget sih, tapi biar kita nggak ketahuan deh.”

“Oke deh. Anggap dia emang meninggal tanpa campur tangan kita. Deal ?”

“Deal.”

Aku hendak berjalan keluar kelas. Langkahku terhenti di bangku si Nerdy. Seharusnya dia duduk disini hari ini, namun karenaku dia tak ada. Aku pembunuh. Perasaan bersalah mulai hinggap. Lupakan, coba kamu lupakan Doni. Aku teringat tatapan mata Nerdy ketika terakhir kali kami bertemu. Tatapan dengki dan penuh dendam.

“Kenapa Don ?”

“Harusnya dia duduk disini hari ini.”

“Kira-kira apa ya isi laci mejanya.”

Riki merogoh laci meja si anak Nerd. Dia menarik dua buah benda aneh dari dalam laci itu. Dua buah boneka kain. Sebuah jarum besar menusuk bagian jantung benda itu. Di bagian punggung boneka-boneka itu terlulis nama dengan tinta merah. Namaku dan nama Riki. Aku dan Riki saling lepas pandang. Ah masa sih si anak Nerd itu….

Aku merogoh ke dalam laci untuk menemukan benda lain. Sebuah buku bersampulkan kulit berwarna hitam. Di sampul buku itu ada lambang yang cukup aneh. Aku tak tahu apa maksud lambang ini. Aku membuka buku itu…. Baru sampai di halaman lima aku sudah menutup buku itu. Seram sekali gambar-gambar di dalamnya. Apalagi buku itu juga dipenuhi tulisan-tulisan dengan abjad yang tak kumengerti. Ada sesuatu yang aneh di buku itu.

Bulu kudukku merinding. Seakan ada angin dingin yang berhembus tepat ke leherku. Riki mengambil buku itu dan melihat isinya. Ia langsung memasang ekspresi yang sama denganku. Hiii seram. Kami menutup buku itu dan meletakkannya dan boneka itu ke dalam laci lagi. Apa maksud benda itu ? Masa sih si anak nerd itu punya bakat ‘ngilmu’.

*

Sepulang sekolah aku hanya tenggelam dalam ketakutan. Petranyaan itu terlintas di benakku. Apa maksud boneka itu ? Apa arti lambang dan tulisan di buku itu ? Bulu kudukku semakin merinding saat mengingat tatapan mata si Nerdy ketika terakhir kali kita bertemu. Jantungku berdebar kencang dari tadi, memacu adrenalin untuk diproduksi dengan dosis lebih banyak.

Rumah sepi sekali sih ? makin membuatku takut saja. Kedua orang tuaku sedang keluar negeri. Mereka memang sering keluar negeri karena urusan pekerjaan. Dari kecil memang aku kurang mendapat perhatian dari mereka. Sifat isengku ini lahir dari kurangnya perhatian itu. Aku juga anak tunggal, jadi aku tak punya teman bermain. Jadi jangan salahkan aku atas semua keisengan yang kuperbuat.

Rumahku memang besar, yah sebelas duabelas sama rumah-rumah orang kaya yang sering ada di TV deh. Suasana sepi, hanya ada aku, 2 pembantu, dan satu satpam dirumah ini. Bayangan-bayangan aneh mulai memenuhi pikiranku. Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh Riki, ayo pikirkan hal konyol. Aku naik ke tangga untuk menuju kamar. Koridor kamarku sepi sekali. Biasanya memang sepi seperti ini, namun mengapa sekarang rumahku terasa spooky ya. Padahal ini masih sore, bagaimana jika malam nanti ya.

Aku berhenti di depan kamar. Seperti ada yang mengikutiku. Aku berbalik dengan tiba-tiba ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Padahal tadi aku yakin sepertinya ada seseorang di balik tembok itu. Angin berhembus tak biasa, membuat bulu kudukku makin merinding. Ah cuma pikiran buruk semata saja. Kamu akan baik-baik saja Riki. Semua akan berjalan seperti biasa. Aku kembali menghadap ke arah depan. Seorang wanita sudah berdiri tepat di depanku.

“Sudah pulang Den ?”

“Ah Bi Sari ngagettin aja.”

“Mau makan malam di rumah Den ?”

“Iya.”

“Nanti habis magrib saya siapkan. Den Riki tinggal turun saja ke meja makan.”

Aku masuk ke kamar. Kamarku kosong, tak ada siapa-siapa. Memang seharusnya kosong dan tidak ada siapa-siapa. Aku menaruh tas dan langsung beranjak mandi. Kok bulu kudukku merinding ya ketika ingin masuk ke kamar mandi. Haduh kalau di film horor kan biasanya hantu sukanya muncul di kamar mandi. Masa sih minta pembantu temanin aku mandi. Ah kamu ini cowok Riki, masa takut sih sama begituan.

Aku akhirnya memberanikan diri untuk mandi. Selama 5 menit pertama memang tak terjadi apa-apa. Keanehan mulai terjadi ketika aku selesai sabunan. Dug dug dug. Terdengar suara sesorang yang memukul pintu kamarku. Jantungku mulai berdebar kencang. Kalau itu orang rumah, pasti dia tahu kalau aku sedang mandi dan tak akan mengganggu dengan gedoran seperti itu.

“Siapa itu ?” kataku.

Tak ada yang menjawab. Aduh siapa sih ? Aku menyudahi mandiku dan langsung keluar kamar mandi. Tak ada siapapun di kamarku (kamar mandi berada dalam kamarku). Apa tadi aku hanya salah dengar ya ? Ah kupingku tidak separno itu sampai berhalusinasi pendengaran. Tanganku mulai merinding. Aku bergegas memakai baju dan turun ke bawah.

“Bi tadi, bi Sari masuk ke kamar saya ?”

“Nggak den.”

“Kalau Bi Inah tadi masuk ke kamar saya pas saya lagi mandi ?”

“Nggak den. Memangnya kenapa ?”

“Nggak kenapa-kenapa bi.”

“Den Riki mau makan sekarang ?”

“Boleh.”

Aku menunggu di meja makan. Bi Sari dan Bi Inah mengangkat piring berisi makanan ke meja makan. Selalu seperti ini, sendiri tanpa teman. Kalau tak ada orang tuaku, hanya ada satu piring yang disiapkan di meja makan ini. Makanan yang terasa enak ini tak lengkap jika tak dinikmati bersama keluarga. Yah ini sudah menjadi nasibku.

Ketika sedang asyik makan…, jreng. Aku merasa sedang diperhatikan. Jantungku berdebar kencang karena takut. Aku berbalik dan melihat ke arah pintu yang mengarah ke kolam renang di belakang. Hiii, apa itu tadi. Aku yakin melihat ada sesuatu berwarna putih yang berlari kencang di depan pintu. Siapa ya ? Kolam renang kan kalau malam gelap sekali, takut ah melihat. Palingan itu satpam yang lagi iseng. Aku mencoba menghibur diri.

Suasana malam yang cukup spooky. Biasanya selalu seperti ini, namun mengapa malam ini aku merasa berbeda. Aku merasa sedang diperhatikan dan aku tak sendiri di kamarku ini. Baru pukul 7 malam, terlalu dini untuk tidur. Aku menyalakan televisi untuk memecah keheningan di kamarku. Well cari channel yang isinya bisa membuat ketawa deh. Satu jam menonton tetap saja, aku tak bisa mengalihkan perasaan takutku malam ini. Nit nit.

 

“Waa,” aku teriak kaget.

Sial aku kaget oleh bunyi ponselku sendiri. Sebuah BBM masuk. Dari Doni.

Rik, lo baik-baik aja kan ?”

“Iya. Emang kenapa Don ?”

“Nggak nanyain doang.”

 

Aduh BBM nggak penting. Ada PR yang harus aku kerjakan. Namun rasanya kok takutnya untuk duduk di meja belajar. Kalau misalnya lagi ngerjain PR terus tiba-tiba ada yang aneh-aneh di belakangku gimana ? Ah besok saja deh disekolah nyontek PRnya. Malam ini aku fokus untuk menghilangkan ketakutan ini saja deh.

Bret. Lampu dan televisi tiba-tiba mati. Aaaa. Aku berteriak karena kaget. Aduh mak, kenapa mesti mati lampu di saat yang sangat tidak tepat. Kamarku menjadi gelap seketika. Hanya cahaya bulan  yang mencoba menerawang masuk melalui gorden kamarku. Aku menaikkan selimutku sampai menutupi hidungku. Hening…, aku tenggelam dalam kesunyian.

Aku melihat ke gorden kamarku. Aku melihat ada bayangan seseorang dari balik gorden. Siluet berbentuk manusia, seorang pria. Bayangan itu terlihat samar karena balkon yang gelap. Sumber cahaya hanyalah cahaya bulan semata. Siapapun dia, berarti dia sedang berdiri di balkon kamarku. Siapa ya ? Sepertinya tadi tak ada siapa-siapa di kamar. Bayangan itu bergerak.

Aku merinding hebat. Ingin berteriak namun teriakanku menyangkut di tenggorokkan. Tok tok tok. Terdengar suara pintu kamarku yang diketuk. Aku makin merinding ketakukan. Akhirnya teriakkan ini bisa sampai ke mulut. Bayangan itu masih bergerak, ia berjalan mondar mandir di balkom kamarku. Hiii. Aku berteriak karena takut. Gagang pintu bergeser dan pintupun terbuka. Aku menutp kepalaku dengan selimut.

“AMPUN, AMPUN, JANGAN BUNUH GW.”

Ada tangan yang menyentuh tubuhku dari balik selimut. Aku makin tenggelam dalam ketakutan. Aku berteriak untuk menumpahkan ketakutan. Belum pernah aku merasa semerinding ini. Aku bahkan sampai menangis karena takut. Terdengar suara suara perempuan yang memanggilku dari balik selimut. Kok rasanya aku kenal suara itu. Perlahan aku menurunkan selimutku. Bi Sari sudah berdiri di depanku dengan membawa sebuah lilin yang menyala.

“Den Riki kenapa ?”

“Nggak apa-apa Bi. Saya hanya kaget.”

“Ini mati lampu, jadi bibi bawakan lilin.”

“Yasudah tolong dipasangkan saja bi.”

Bi Sari memasang lilin di lantai. Aku melihat ke arah jendela. Siluet itu telah menghilang. Apa tadi aku hanya berhalusinasi saja ya ? Tapi aku yakin sekali melihat seseorang di balik gorden. Pori-pori tanganku masih menutup rapat, membuat rindingan makin menusuk kulit. Bi Sari selesai, lilin sudah menyala, memberikan setitik cahaya di kamarku.

“Bi, tolong lihatin balkon kamar saya dong.”

“Memangnya ada apa den ?”

“Udah lihatin aja.”

Bi Sari berjalan ke arah balkon dan menyibak gorden balkon. Tak ada siapa-siapa di balkon kamarku. Well, sepertinya tadi hanya halusinasi sebagai perwujudan rasa takutku. Sudahlah Riki, buang rasa takut itu. Bi Sari keluar kamar, membuatku kembali berada dalam kesunyian. Lilin bergeming di tempatnya berdiri, angin kecil berhembus membuat api meliuk-liuk di tengah gelapnya malam. Aku mencoba tertidur walaupun belum jam tidurku. Bodo ah, yang penting bersembunyi di bawah selmut dan tutup mata. Walaupun ditemani dengan kulit merinding karena merasa sedang diperhatikan, akhirnya aku bisa tidur juga.

Aku tak tahu jam berapa ini, yang jelas ini masih malam. Cairan seni sudah memenuhi kandung kemihku, membuatku terjaga karena harus mengosongkan kandung kemih itu. Lampu masih mati. Aduh kenapa pakai acara kebelet pipis segala sih. Aduh sudah tak tahan, bisa-bisa ngompol kalau diabaikan. Biasanya aku berani, namun malam ini rumah ini terasa menyeramkan.

Aku membuka selimutku dan berdiri. HAH, aku kaget setengah mati saat melihat sesosok laki-laki di dalam kamarku. Dia berdiri di dekat pintu balkon kamarku. Itu si anak Nerd. Bukankah dia sudah meninggal ? Well dari tampangnya sih memang tampang makluk bukan orang alias setan. Ia mengenakan baju sekolah, wajahnya putih, pucat, luka cakar ada di bagian perutnya. Ia menatapku dengan pandangan dendam seperti terakhir dia melihatku. Tanganku merinding bukan main. Ketakutan menjalar di seluruh urat nadiku.

“AAAAAA.”

Aku berteriak karena takut. Kakiku lemas, tak kuat menahan beban tubuhku sendiri. Aku berlutut sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. Nampaknya aku ngompol, ah masa bodoh deh. Aku merasa dia berjalan mendekatiku. Teriakkanku makin kencang karena katakutan yang makin bertambah. Tangan putih itu menyentuh bahuku. Rasa takut menyambar bagaikan petir yang menganggetkan kesadaranku. Shock yang amat sangat shock. Semua berubah gelap seketika. Yang terakhir aku lihat adalah wajah si Nerdy yang sedang menatapku dengan dengki.

*

Aku membuka mata karena seseorang menepuk pipiku. Bau alkohol mengakselerasi alam bawah sadarku untuk memudar, membuatku kembali sadar akan kehadiranku. Wajah seram itu terbayang di benakku. Well sepertinya aku pingsan karena melihat wajah itu. Jangan-jangan yang menepuk pipiku ini hantu si Nerd. Aku langsung terbangun dengan kaget.

“Tenang den. Ini bibik.”

Aku bernafas lega karena yang membangunkanku adalah Bi Sari dan Bi Inah. Aku terduduk di kasurku. Kepalaku sedikit pusing. Langit masih gelap, masih pukul 4 pagi. Aku meminum air putih yang disodorkan Bi Inah. Semua terlihat panik. Aku yang tadi berangkat sekolah tak apa-apa kenapa bisa sampai pingsan ? aku tahu mereka semua memikirkan itu.

“Den, Den Riki kenapa bisa sampe pingsan ?” tanya Bi Sari.

Sosok itu masih berdiri di dekat balkon. Ketakutan kembali menjalar ke seluruh tubuhku. Pori-poriku menutup hebat, membuat kulitku merinding bukan main. Nafasku terngah tak teratur karena hormon adrenalin yang terpacu. Tubuhku langsung melemas. Aku kembali tenggelam dalam ketakutan. Aku menunjuk sosok itu. Bi Sari dan Bi Inah melihat ke arah balkon.

“Ada apa Den ?”

“Itu…, itu…,” aku tak bisa berkata-kata.

“Tidak ada apa-apa den disitu.”

Kenapa mereka berdua tidak bisa melihat sosok itu. Kenapa hanya aku yang bisa melihat. Bi Sari dan Bi Inah bingung dengan tingkahku. Sosok itu berjalan mendekat kearahku. Aku kembali berteriak. Kedua pembantuku berusaha menenangkanku. Aku kembali menarik selimut menutupi seluruh tubuhku dan berteriak. Aku kembali melihat ke arah gorden dari balik selimut. Sosok itu telah hilang.

“Den Riki kenapa sih ?” tanya Bi Inah bingung dengan mimik parnoku.

“Nggak ada apa-apa Bi.”

“Den butuh di temani ?”

“Nggak usah.”

Jreng. Lampu tiba-tiba menyala. Syukurlah mati lampu sudah usai. Kedua pembantuku meninggalkanku di kamar. Aku langsung menyalakan televisi untuk memecah keheningan. Aku mencoba tertidur di sisa malam ini.

Nit nit. Suara weker mengusik alam bawah sadarku. Aku membuka mata secara perlahan. Balkon aman. Tak ada sosok itu. Bulu kudukku masih merinding jika mengingat kembali tatapan mata seram penuh dengki itu menatapku. Aku bangun dan langsung mandi. Saatnya memulai hari ini. Dag dig dug, walaupun sudah pagi tetap saja perasan takut masih menghantuiku. Apakah akan selamanya seperti ini ? Kurasa seminggu seperti ini akan membuatku gila.

Aku makan dengan kondisi waswas. Sekali-sekali aku menengok ke belakang, mengecek kalau aku benar-benar sendirian. Well aku aman pagi ini. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah aku berpikir. Bagaimana aku bisa lepas dari teror ini ? Apakah dengan mengakui perbuatanku bisa mengakhiri kutukan ini ? Kurasa boneka dan buku itu ada hubungannya dengan teror tak masuh akal ini. Ternyata si nerdy itu punya kekuatan magis juga. Well nobody’s know about him. Dia sangat introvert. Mungkin…, dengan menghancurkan buku dan boneka itu bisa membuat ‘kekuatan ngilmu’ si anak itu. Ya aku akan coba. Siang ini aku akan coba bakar buku dan boneka itu.

*continued to last part

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s