Anak Iseng (PART III)

 

“Don, lo ngalamin hal yang sama dengan yang gw alamin ?”

Aku menanyai Doni yang datang dengan tampang pucat seperti sedang dikejar hantu saja. Well, mungkin itu bukan hanya sekedar pribahasa. Bibir Doni gemetar, mimik wajahnya memancarkan ketakutan. Nafasnya sedikit tak teratur. Pandangan matanya kosong. Aku bisa menebak jawaban dari pertanyaanku barusan. Kelas sudah rapi, bel masuk sudah berbunyi namun guru belum datang.

“Gw juga di datangin Don. Nggak Cuma lo.”

“Terus kita harus bagaimana. Gw takut. Gw sama sekali belum pernah ngalamin hal beginian. Lama-lama bisa gila gw.”

“Menurut lo dengan menghancurkan buku dan boneka itu, bisa menghentikan kekuatan magis si anak nerd itu ?”

“Gw nggak tahu. Gw sama sekali nggak bisa mikir jernih.”

“Yaudah kita coba aja yuk ntar siang. Siapa tahu berhasil.”

“Kalau misalnya teror tetap berjalan bagaimana Rik ? Kita harus ke orang pintar. Itupun kalau misalnya gw belum gila karena takut.”

“Ntar siang kita ambil buku dan boneka itu terus kita bakar.”

“WAAA.”

Doni berteriak kencang di dalam kelas sambil menatap ke arah bangku si anak Nerd. Semua mata langsung tertuju ke arah kami. Mereka menatap dengan penuh kebingungan. Aku mencoba untuk tidak berteriak. Sosok Nerdy sedang duduk di bangku itu. Ia seram, kulitnya putih pucat dengan luka darah di bagian perutnya. Ia duduk menghadap depan, membelakangi kami. Ketakutan hebat langsung menguasai tubuhku dan Doni. Doni sampai menangis karena takut. Hanya kami berdua yang menyadari kehadiran sosok itu.

 

“Kenapa lo ?” tanya teman di depanku.

“Nggak kenapa-kenapa. Eee, keinjek tadi kakinya si Doni,” kataku.

Sepanjang pelajaran, kami tak bisa fokus karena sosok itu terus duduk di situ.

*

Bel tanda pulang telah berbunyi. Semua murid langsung merapikan buku termasuk aku dan Doni. Nampaknya akan segera hujan karena awan hitam sudah menggumpal di langit. Sosok hantu itu sudah tak ada di mejanya, namun tetap saja bulu kuduk tak bisa untuk tidak merinding. Hiii, rasanya bayangan mata si Nerdy selalu terbayang dan menggelitikku sampai merinding ketakutan. Doni tak pernah sepucat ini.

“Jadi sekarang kita harus ambil boneka dan buku itu Don,” kataku.

“Lo aja yang ambil deh. Gw takut kalau tiba-tiba hantunya dateng.”

“Lo temenin dong. Gw juga takut tahu. Ayo ah.”

Murid-murid semuakeluar kelas untuk pulang. Aku dan Doni perlahan mendekati meja itu. Masih banyak siswa yang berjalan di lorong, memecah atmosfir sepi. Aku memberanikan diri untuk merogoh laci meja anak nerd itu. Deg-degan, kalau di film horor sih bisa-bisa ada tangan yang menaik masuk ke dalam laci. Doni hanya berdiri di belakangku. Tanganku sedikit gemetar karena takut. Tak ada, laci meja itu kosong.

“Nggak ada bonekanya.”

“Kamu yakin ? Coba tengok lagi ?”

Aku mengecek untuk kedua kalinya, memang tak ada. Apa mungkin sudah dibuang oleh tukang bersih sekolah ? Atau benda itu hilang secara gaib ? No no no, alasan pertama lah yang akan kuambil sebagai alasan. Kami mencari tukang bersih sekolah yang biasanya membersihkan kelas 12. Si Doni apaan banget sih, bawaannya pegang-pegang mulu. Takut sih takut tapi jangan berlebihan gitu dong.

“Pak, bapak kemarin membersihkan kelas 12 IPA 1 ?” tanyaku.

“Iya, kenapa dik ?”

“Apa bapak menemukan sesuatu seperti boneka ?”

“Boneka ? Tidak tuh. Bapak tidak menemukan apa-apa. Memangnya adik ini suka main boneka ?”

“Bukan boneka mainan pak.  Boneka kain di laci meja depan ?”

“Nggak. Bapak nggak nemuin apa-apa.”

“Kalau buku dengan tulisan aneh bapak nemu ?”

“Nggak. Bapak kemarin ngebersihin kelas kamu dan nggak ngebuang apa-apa.”

Bapak tukang bersih sekolah pergi meninggalkan kami. Aku dan Doni saling lepas pandang. Jadi, bonekanya hilang secara misterius ? Hiii, bulu kudukku langsung merinding lagi. Lalu kami harus bagaimana ? Mengaku kah ? Aku tak tahan jika harus mengalami malam horor seperti kemarin.

“Terus kita gimana nih Rik ?”

“Kita ngaku aja ke guru ?”

“Apa dengan ngaku akan menyelesaikan teror ? Gw rasa dia akan terus meneror kita walapun kita udah masuk ke penjara. Masalah teror ini tak akan terselesaikan dengan cara hukum.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan Don ? Pergi ke orang pintar ?”

“Lo ada kenalan orang pintar Rik ?”

“Nggak ada. Yaudah kita pulang dulu aja sembari tanya bonyok atau teman. Siapa tahu ada yang punya kenalan orang pintar.”

“Gw nginep di rumah lo ya Rik, takut gw.”

“Terserah lo deh.”

Gerimis kecil ini akhirnya menjelma menjadi hujan. Suasana gelap yang dibawa oleh hujan makin membuat suasana kelam. Sial aku tak bawa payung lagi. Si Doni sih mana ada cerita bawa payung. Kami menuju parkiran untuk naik ke mobilku. Hujan-hujanan sedikit untuk sampai ke mobil. Kami sampai di depan mobilku, baru ingin membuka pintu mobil saat aku dikejutkan oleh sebuah sosok yang berada di dalam mobil. Dia…, dia ada di dalam mobilku.

“AAAA,” aku teriak kaget.

Aku dan Doni mundur beberapa langkah. Sosok itu kemudian menengok ke arah kami berdua dengan pandangan marah. Aku dan Doni langsung berlari secepat kilat masuk ke dalam sekolah lagi. Jantung berdebar kencang karena takut. Tubuh kami setengah basah ketika sampai ke dalam sekolah. Sekolah sudah sepi, aktivitas ekskul tak ada karena hujan.

“Dia ada di dalam mobil,” kata Doni.

“Lalu gimana ? Kita nggak bisa pulang.”

“Aku juga nggak tahu. Hiiii,” Doni menunjuk ke belakangku dengan ekspresi takut.

“Apa sih ?”

“Di belakang lo.”

Aku menengok pelan-pelan ke belakang. Sosok itu berdiri di belakangku dengan pandangan wajah seram yang terakhir ia lontarkan ke arahku. Hah…, kaget bukanmain. Refleksku langsung lari meninggalkan Doni yang mati membeku di tempatnya berdiri.  Doni langsung ikut berlari ketika melihatku berlari. Kami berteriak karena takut, namun percuma. Sekolah sudah sepi. Kami berhenti di depan tangga. Apa ya yang dimauin si Nerdy itu.

Kami melongok ke belakang. Sosok itu berdiri di ujung lorong. Hiiii, kakiku tak bisa lagi menopang tubuhku. Takuuut. Sosok itu berjalan pelan kearahku berdiri. Aku mati kutu tak bisa bergerak, seakan tersihir membeku oleh tatapannya yang begitu menyeramkan. Doni menggandeng tanganku dan berlari menaiki tangga yang berada di depan kami.

Hujan mengguyur makin deras. Kami berlari secepat yang aku bisa. Gedubrak. Doni terjatuh karena ada genangan air di depan kelas 12 IPA 7. Doni mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya. Aku memaksanya berdiri namun kakinya terasa sangat nyeri jika digerakkan. Aduh sepertinya keseleo nih. Masa sih aku gendong dia, mana aku kuat.

“Kaki gw sakit banget. Kayaknya keselo nih. Gw nggak bisa berdiri nih.”

“Aduh jangan keseleo di saat seperti ini dong.”

“Jangan tinggalin gw Rik, plis.”

Suara geledek cukup menganggetkanku. Sosok itu sudah berdiri di ujung lorong. Hiii, aku langsung melangkah mundur. Si anak Nerd itu berjalan pelan kearah kami berdua dengan wajah penuh dendam Doni mencoba menjauh dengan cara mengesot. Ia menangis diantara kesakitan di kakinya. Kalau dilihat wajahnya culun juga pas lagi sakit. Maaf deh Don, gw bakal MT-in lo, gw juga takut kali.

“Rik, tolongin gw Rik. RIIIK,”

Aku berlari di lorong meninggalkan Doni yang masih mencoba mengesot. Aduh maaf deh sahabatku because i’m leaving you. Aku berbelok ke lorong lain. Ada sebuah tangga turunan, namun sayang sudah dikunci. Di sekolahku memang ada dua tangga, yang beroperasi sampai malam hanya 1, satu tangga akan dikunci sepulang sekolah. Aku menggedor pintu tangga itu, tak ada gunanya.

Aku mendengar suara teriakan Doni di salah satu lorong. Apa yang sedang terjadi dengan dia ya ? Ah masa bodoh deh, selamatkan diri sendiri dulu. Tapi kalau Doni sampai mati gimana ? Aku kembali berjalan ke lorong panjang tempat Doni tadi terjatuh. Aku melihat Doni sudah terjatuh bersimbah darah di tempatnya berdiri. Jantungku berdebar kencang karena skenario terburuk adalah aku akan bernasib sama seperti Doni.

Tiba-tiba ada yang menarik kakiku. Sosok hantu Si Nerd sudah merangkak di depanku dan menggapai tanganku. Telapak tangannya begitu dingin seperti es. Ia begitu kuat mencengkramku. Aku mundur namun terjatuh. Kutendang-tendang tangan itu sembari mencoba mundur dalam keadaan terduduk. Nafasku terengah-engah karena adrenalin yang terpacu deras.

Bruk. Aku sampai di ujung lorong yang buntu. Si Nerd terus merangkak kearahku. Ketakutan merambah keseluruh urat darahku. Belum pernah aku merasa setakut ini. Ia makin dekat denganku. Mama…, aku mau ketemu mama sebelum mati. Sosok hantu itu sudah berada di depanku.

“Kumohon maafkan aku. Aku menyesal telah melakukan itu. Kumohon maafkan aku.”

“Mengapa ? Mengapa kamu melakukan itu ?” bisiknya pelan.

“Aku hanya ingin mengerjaimu. Kumohon maafkan aku. Aku bersumpah akan berubah jika engkau melepaskanku. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik-baik setelah ini.”

“Kematian harus dibayar dengan kematian.”

Sosok itu mengangkat tangannya dan mencengkram kakiku. Kukunya cukup tajam untuk membuatku kesakitan. Aku teriak namun tak ada yang mendengar. Tubuhku lemas karena ketakutan. No, kamu harus bisa bangun dan melawan Riki, pasti ada yang bisa kulakukan untuk keluar dari semua ini. Aku menarik kakiku yang dicengkram olehnya, luka goresan kuku membuat sedikit rasa perih di kaki

“Mama, mama, aku mau pulang,” teriakku tanpa pikir.

Ada api di yang sudah menyala di lorong. Semenjak kapan api itu menyala ? Hii api misterius. Aku tak bisa melangkah maju karena api itu. Aku menengok ke belakang. Sosok itu sudah berdiri dan berjalan kearahku. Aku berteriak makin kencang memanggil mama sambil histeris dan menangis. Sekarang pilih mana, mati terbakar atau mati diterkam hantu atau masuk ke kelas di sebelahku. Kelas 12 IPA 1, kelasku. Dia makin mendekatiku, aku membuka pintu kelas dan…, byur.

Sebuah cairan bau membasahi tubuhku. Ini cairan yang sama dengan cairan bau yang dulu aku gunakan untuk mengisengi si Nerd. Kenapa bisa ada cairan ini disini ? Aku menengok ke belakang. Teman-teman sekelas sudah berdiri di kejauhan. Sosok seram anak Nerd sedang tertawa terbahak-bahak sambil melihat ke arahku. Semprotan karbondioksida mematikan api yang berdiri di lorong. Doni berjalan sambil tertawa melihatku. Teman-teman sekelas berjalan mendekatiku sambil tertawa. Ada apa sih ini.

Handycam yang merekamku langsung membuatku tersadar. Oooh, jad ini Cuma dikerjain. Siaaaaaaal, aku dikerjai teman-teman sekelas. Aku terlihat sangat bodoh dengan cairan bau ini dihadapan mereka. Sukses besar untuk mereka. Aku langsung menutup muka karena malu. Bausih tak seberapa bila dibanding dengan malunya. Doni datang dan mencoba menarik tanganku dari muka.

“Hoi, kenapa lo nutup muka malu ya ?”

“Kematian harus dibayar dengan kematian,” bisik si Nerd pelan.

“Apaan sih lo.”

“Eits, nggak boleh marah.”

Aku menahan diriku untuk tidak marah. Kalau lagi diisengin sih memang tidak boleh marah. Namun tertawaan mereka itu bagaikan cemooh yang merendahkan aku. Well sadar woy, selama ini gw juga ngisengin dan pasti orang yang aku isengin merasakan hal seperti ini. Kalau dari senyum liciknya sih, ini pasti kerjaan Doni.

“Semua ini ide lo kan Don ?”

“Bukan, ini ide aku,” kata anak Nerd.

“Kita sengaja ngisengin lo buat ngasih tahu kalau diisengin itu nggak enak. Sekarang kerasa kan ?”

“Terus kok terasa begitu nyata. Pas anjing itu nerkam lo, itu bener-bener nerkam kan ?”

“Itu sebenernya anjing aku, udah jinak. Aku sudah sering bermanja-manja ria sama dia seperti itu. Kalau dilihat dari jauh sih emang kayak lagi diterkam. Darah ini juga Cuma darah buatan aja. Mobil yang ngebawa aku habis diterkam itu juga mobil teman-teman.”

“Iya Rik, kita semua udah sekongkol buat ngerjain lo. Teman-teman sekelas juga udah tahu dan berpura-pura nggak tahu. Pas tadi hantu-hantuan ada dikelas semuanya juga lihat, tapi pura-pura nggak lihat,” kata Doni.

“Terus buku dan boneka itu ?” tanyaku.

“Itu Cuma boneka asal buat aja. Tulisan di buku itu juga asal buat. Buat makin meyakinkan kamu aja,” kata si Anak Nerd.

“Kenapa lo bisa masuk rumah gw sama mobil gw ?”

“Pembantu kamu udah tahu kok, mereka sekongkol sama kita jadi kunci rumah nggak masalah lah. Kunci mobil aku dapet dari kunci serep yang pembantu kamu kasih. Mati lampu itu kan Cuma listrik yang diturunin aja. Pas kamu makan, aku naik ke balkon kamu buat bersiap-siap. Pas kamu nutup muka pakai selimut aku keluar kamar. Jadi deh efek yang membuat seakan-akan aku muncul dan menghilang daribalkon. Pembantuk kamu berakting seakan aku ini hantu beneran.”

“Terus api itu ?”

“Cuma minyak tanah yang disulut doang. Tenang Riki, semua ini Cuma mainan kita semua ke lo. Habis lo jadi orang iseng banget sih. Gw Cuma pingin lo itu sadar kalau diisengin itu nggak enak,” kata Doni.

“Iya-iya maafin gw ya semuanya. Gw selama ini iseng sama kalian, gw janji nggak bakal seiseng dulu karena rasanya diisengin itu bener-bener nggak enak. Kok lo aktingnya bagus banget, membuat gw tertipu mony*t,” kataku pada Doni.

“Haha, sekarang raja anak iseng adalah gw karena gw berhasil mentah-mentah nipu lo.”

“Kurang ajar bangke, gw serasa mau mati tahu…,” kataku sambil mencekek Doni.

“Sabar Rik.”

“Sabar gimana ? Mulai dari gedoran kamar mandi tanpa ada orangnya, hantu di kamar, dikejar-kejar di sekolah, semua membuat gw takut berengs*k,” kataku kesal pada Doni.

“Hah gedoran di kamar mandi ? Kita nggak pernah ada skenario itu tuh. Gedoran apaan ?”

“Itu pas gw di rumah ada yang ngegedor pintu kamar mandi gw tapi nggak ada orangnya. Gw mulai takut pas itu.”

“Nggak tuh, aku nggak  pernah ngegedor kamar mandi. Aku muncul nakut-nakutin kamu pas mulai kamu makan,” kata si Nerdy.

“Loh terus yang gedor pintu kamar mandi gw siapa ?”

* finishe

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s