Gara-Gara Telepon

Udah 2 kali dapat panggilan telepon iseng. Pas diangkat ada suara laki-laki yang lagi nangis. Dia bilang kalau anak aku ada di kantor polisi. ‘Woy, sejak kapan gw udah punya anak’. Nipu kagak pake mikir sih. Well it gave me an inspiration

Sebuah panggilan dengan nomor tak dikenal masuk ke ponselku. Aku mematikan kompor dan mengambil ponselku. Siapa ya sore-sore begini telepon.

“Hallo.”

“Hiks…, hiks.”

Terdengar suara tangis seorang pria dari speaker ponselku. Hah siapa nih telepon-telepon kok sambil nangis. Kalau tidak sesuatu yang penting atau orang iseng.

“Halo siapa ini,” tanyaku.

“Halo bu, anak ibu, anak ibu…,”

“Putra, apa yang terjadi sama Putra ?”

“Dia sekarang ada di kantor polisi Bu. Dia terlibat tawuran pelajar.”

Putra tawuran ? Dia kan anak baik-baik. Memang sekarang jam pulang sekolah namun sekolah tempat Putra menimba ilmu bukanlah sekolah langganan tawuran. Kalaupun iya, mana aku percaya dia tawuran secara dia tipe anak laki-laki yang kalem dan penurut. Tunggu, ini kan pernah ada di televisi. Modus penipuan yang sedang berkembang. Oke kita lihat dulu maunya apa ini orang.

“Ini dengan siapanya ya ?”

“Saya guru sekolahnya. Bu, anak ibu dalam bahaya kecuali…,” suara isak itu terdengar begitu natural.

“Aduh apapun akan saya lakukan untuk menyelamatkan Putra. Tolong katakan pak apa yang harus aku lakukan,” kataku sok khawatir.

“Ibu tolong sekarang transfer uang untuk jaminan anak ibu ke rekening yang akan saya sebutkan. Coba ibu sekarang ambil pulpen dan kertas untuk mencatat.”

“Loh kenapa harus transfer uang pak. Apa tidak ada cara lain untuk membebaskan anak saya ? Bapak dan anak saya ada di kantor polisi mana, biar saya datangi.”

“Tidak perlu, ini harus dibayar sekarang atau anak ibu masuk penjara. Ibu mau anak ibu punya riwayat kriminal ?”

“Iya, iya, akan segera saya transfer. Berapa yang harus saya bayar, 1 miliar atau 2 miliar ?”

“…,” hanya terdengar keheningan dari balik telepon.

“Pak, kalau mau nipu yang kreatif dong. Katanya orang Indonesia, yang terkenal kreatif dalam hal negatif, masa nipu pake cara yang basi kayak begini. Lihat tuh koruptor di televisi, bahkan KPK aja mau di penjarakan biar mereka bisa aman. Tiru dong pola pikir mereka.”

Aku mematikan panggilan telepon iseng itu. Hahaha, bisa juga aku menceramahi penjahat. Mana percaya aku kalau Putra, anakku, melakukan tawuran. Lagipula dia kan aaktivis rohis yang getol, masa sih melakukan hal tidak penting seperti tawuran. Cara menipu seperti itu juga sudah ketinggalan zaman. Penjahat kok tidak kreatif banget sih, kalah sama koruptor yang udang lebih canggih dalam menipu.

 

*

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 sore. Sudah hampir magrib. Hari Jumat seperti ini Putra memang ada kegiatan rohis yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan basket di salah satu club di Jakarta. Seharusnya ini sudah menjadi jam pulangnya. Memang setiap jumat aktivitasnya seperti itu dan seharusnya aku tidak khawatir. Namun kenapa ya aku was-was. Biasanya Putra kan selalu meng-SMSku kalau sudah di tempat basket namun kali ini tidak. Aku menelpon Putra namun ponselnya tidak aktiv. Jangan berpikir yang macam-macam, bisa saja baterai Hpnya habis.

“Sebuah tawuran terjadi antara SMA XX dengan SMA XX tadi siang. Tawuran terjadi selepas Solat Jumat. Penyebab tawuran tidak diketahui pasti. Tak ada korban jiwa dalam tawuran ini, namun tiga siswa terkena luka serius dan sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit. Beberapa siswa yang menjadi biang kerok sudah diamankan di kantor polisi.”

Jreng-jreng. Itukan SMA tempat Putra sekolah. Kok sesuatu banget tiba-tiba SMA tempat Putra sekolah ikut tawuran. Kok perasaanku jadi tidak enak ya. Apa jangan-jangan telepon tadi bukan orang iseng ya. Bisa saja Putra berada di tempat dan waktu yang salah sehingga membuatnya ikut arus tawuran. Bisa saja dia dikira ikut tawuran dan ditangkap polisi. Bisa saja guru Putra datang dan mencoba menyelamatkan Putra dari polisi karena catatan sikap baik Putra disekolah. Untuk itu bisa saja butuh uang jaminan agar Putra bisa bebas. Ah masa iya sih bisa begitu ?

Namun semua itu bisa saja terjadi. Yang pertama karena dia tak menghubungiku untuk memberi kabar posisi dia. Yang kedua tiba-tiba sekolahnya ikut tawuran. Yang ketiga karena dia belum pulang sampai sekarang. Aku kan tidak tahu pergaulan dia di sekolah bagaimana, aku tak bisa begitu saja menutup kemungkinan. Haduh…, dag dig dug deh. Eits, tunggu dulu, kalau benar kan pasti Guru tadi seharusnya menelpon lagi ke nomorku atau nomor rumah. Well, think positiv dulu deh.

Sudah jam 19.00. Berkali-kali aku telepon Putra namun tak diangkat. Aku mencoba menelpon wali kelasnya, namun ia tak tahu keberadaan Putra. Wali kelasnya bilang akan membantuku mencari keberadaan Putra. Ia juga tak percaya dengan kekhawatiranku akan Putra ikut tawuran. Suamiku pulang kerja. Ia bingung melihatku yang duduk dengan tampang khawatir.

“Ada apa sih ? Kok kamu khawatir begitu ?”

“Putra belum pulang mas….” Aku menceritakan kekhawatiranku kepada suamiku.

“Terus menurut kamu telepon tadi bener ? Menurut kamu Putra ikut tawuran ?”

“Mungkin kan ? Kenapa nggak mungkin.”

“Tadi dia telepon ke HP kamu kan ? Coba kamu telepon balik aja ?”

Oh ya kenapa tak terpikir olehku. Tadikan orang itu menelpon pakai ke HP, nomornya bisa terlacak. Aku mengambil ponselku dan menelpon ke nomor itu. Nyambung… Kalau yang aku baca-baca sih, biasanya penipu menonaktifkan nomor yang digunakan untuk menipu. Aku menunggu beberapa saat sampai ada seseorang yang mengangkat.

“Halo,” suara pria yang tadi siang, aku yakin itu.

“Halo ini orang tuanya Putra. Ini yang tadi siang telepon ke nomor saya kan ya ? Ini tuh benar-benar gurunya Putra ? Guru apanya ya ?”

“Oh…, iya benar. Saya guru olahraganya. Ibu kenapa tadi siang tidak percaya ?”

“Jadi benar toh ini gurunya ?”

“Iya. Saya nggak pernah bohong bu.”

“Lalu Putra dimana sekarang ?”

“Dia ada di kantor polisi. Dia tak bisa saya tebus karena ibu tak mau mengirim uang jaminannya.”

“Kantor polisi mana ? Kenapa bapak tidak mencoba menelpon lagi dan lebih meyakinkan saya ? Kenapa tidak coba telepon ke telpon rumah juga ?”

“Habis ibu tidak bisa percaya dengan saya. Sekeras apapun saya mencoba menjelaskan, pasti ibu tak akan percaya. Yasudah saya tunggu saya ibu menelpon kembali karena anak ibu yang tidak pulang-pulang.”

“Lalu bapak sekarang dimana ?”

“Saya sedang di rumah. Tak ada yang bisa saya lakukan disana. Saya sudah nego dengan polisi tapi tidak bisa. Harus ada uang tebusan. Saya hanya guru, tak punya uang sebanyak itu untuk tebusan. Yasudah saya menyerah.”

“Kok dia bisa-bisanya ikut tawuran ?”

“Wah mana saya tahu. Coba saja ibu tanyakan ke anak ibu.”

“Terus dia ditahan di kantor polisi mana ?”

*

Kemacetan menghalangiku untuk sampai ke kantor polisi itu. Sudah 2,5 jam aku berkutat dengan kemacetan ibu kota untuk bisa melaju di jalanan. Aku sudah sangat khawatir. Putra kenapa kamu bisa jadi anak berandalan begini.

“Aku masih nggak percaya sama telepon tadi,” kata suamiku.

“Udahlah mas. Masa kamu nggak percaya. Yang terpenting sekarang kita harus bawa pulang putra.”

“Habis aneh aja. Masa ditahannya di kantor polisi yang jauhnya setengah mati begini. Orang tawurannya dimana, di tahannya dimana.”

“Yah mana aku tahu mas kenapa dibawanya ke kantor polisi yang jauh.”

“Menurut aku orang tadi bukan guru Putra. Palingan Putra ada kegiatan apa sampai malem terus baterai Hpnya habis. Kamu terlalu khawatir ah.”

“Udah deh mas. Masa sama anak sendiri nggak khawatir. Saya yakin dia benar-benar guru Putra.”

Akhirnya kami sampai di kantor polisi yang di maksudkan. Aku langsung turun dan memasuki kantor polisi. Seorang polisi menghampiri kami dan menanyai maksud kedatangan kami.

“Saya mencari anak saya. Namanya Putra. Kata guru olahraganya dia menjadi tersangka tawuran bla bla bla.”

“Hah ? Dari tadi siang kita nggak kedatangan anak SMA mana-mana yang habis tawuran.”

“Yang bener pak. Saya akan bayar uang jaminannya yang penting dia bisa keluar.”

“Bener bu, disini nggak ada anak ibu. Emang bagaimana ceritanya bisa sampai ibu mendapat informasi kalau anak ibu disini ?”

“Saya dapat dari….,”

Aku menceritakan kronologi semua yang aku alami dari telepon yang kukira telepon iseng itu sampai kalimat yang membuatku harus datang ke kantor polisi ini. Polisi itu hanya tertawa ketika selesai mendengar ceritaku. Polisi itu meyakinkanku kalau itu benar-benar penipu dengan modus telepon. Jadi aku masih tertipu nih dengan modus basi itu. Suamiku langsung memandangku dengan kesal.

“Tuh kan mama si. Telepon kayak begitu kok dipercaya. Paling kita cuma dikerjain sama penipu itu biar bermacet-macet ria di kota Jakarta. Pegel tahu ma nyetir sejauh ini. Mendingan kita beliin penipu itu pulsa, paling 100 ribu daripada capek fisik dan hati kayak begini. Uang buat bensin juga cepek cepek juga. Kita tuh lagi dikerjain sama penipu ma. Makanya jangan sok nasehatin penipu, kena batunya sendiri kan.”

“Iya-iya. Terus Putra sekarang dimana ?”

*

“Ma, tadi wali kelas Putra telepon ke HP temen Putra katanya mama nyariin ya ? Kan tadi pagi Putra udah bilang kalau hari ini nggak ada basket dan mau mabit di masjid sekolah. Mama pasti lupa ya. Putra kan bilang nggak akan ngabarin karena putra akan semalaman di sekolah. Lagi pula baterai HP putra habis, ini juga SMS pake nomor teman. Kalau mau ngecharge harus antri, jadi malas deh ngecharge. Tenang Putra nggak ikut tawuran kok.

===

Pesan :

–       To all :   Jangan percaya dengan SMS mama minta pulsa, broadcast nggak jelas, telepon iseng kayak cerita diatas. Lebih baik hiraukan sama sekali daripada mengindahkan.

–        To children : Jangan menyepelekan SMS konfirmasi keberadaan. Orang tua akan sangat khawatir jika mendapati kalian ada di tempat yang mereka tak ketahui.

–          Komunikasi adalah hal yang penting. Jadi biasakan jangan meng-0 %kan baterai HP.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s