Satu Mana Cukup (PART I)

Nyerpen, kegiatan disela-sela menunggu panggilan HRD dari perusahaan manapun. Semoga bulan depan udah ada kepastian masa depan. Well sebenarnya udah ada kepastian bakal kerja dimana. Hmm dimanapun kerja nanti, asalkan halal pasti dijalanin dengan penuh semangat. Nb : aku disini bukan gw ya.

Suasana mall sedang ramai-ramainya. Sabtu siang memang saat paling tepat untuk menghabiskan waktu weekend di luar rumah. Apalagi kalau tanggal muda…, bawaanya ingin beli ini itu tanpa pikir masalah dompet. Sebuah panggilan mampir ke ponselku

“Halo, iya sayang. Ini lagi di jalan nganterin nyokap belanja.”

“Sampe jam berapa sayang ? Ntar malam kita jadi jalan kan ? Kamu nggak lupa kan ?”

“Paling ini setengah jam lagi selesai. Jadi dong say, masa sih aku bisa lupa.”

“Oke nanti jemput aku ya.”

“Sip. Eh udah dulu ya sayang.”

Dasar wanita, pinginnya diperhatikan melulu, termasuk Hana, pacarku. Ya memang itu sudah menjadi sifat kaum hawa. Aku menutup penggilan telepon itu saat melihat dia yang sudah berjarak kurang dari 2 meter dariku. Dia tersenyum kearahku dengan  begitu manis apalagi dengan baju baru yang sedang ia coba itu. Dia begitu cantik, berjalan bak model yang melenggang di runway. Siapa dia ? Dia adalah Hani pacarku juga. Zaman sekarang 2 cewek bukan masalah lah, yang penting adil.

“Siapa yang barusan nelpon say ?” katanya menaikkan sebelah alisnya.

“Biasa nyokap,” kilahku.

“Kenapa nyokap kamu ?”

“Nanyain kapan pulang. Biasalah nyokap kadang suka khawatir.”

“Ooh. Eh gimana menurut kamu bagus nggak baju ini ?”

“Mmm,” aku memiringkan kepala.

“Kenapa ? nggak cocok ya ?”

“Coba kamu muter deh.”

“Kenapa emang ?” kata Hani berputar bak model yang bergaya.

“Ada yang salah di punggungnya,.”

“Hah kenapa ?” katanya memutar kepala, melihat ke punggungnya.

“Sayap kamu kemana ? Masa bidadari cantik turun dari khayangan nggak ada sayapnya.”

“Ih kamu gombal deh. Yaudah aku ambil aja ya bajunya.”

“Sip. Apapun yang kamu mau ambil aja say. Nggak perlu khawatir. My money is unlimited.”

Eits. Ini bukan cerita dimana aku akan pura-pura kehilangan dompet, well aku memang lahir dari keluarga yang sangat kaya raya ditambah aku anak tunggal jadi ya semua keinginanku akan dikabulkan kedua orang tuaku. Kalau hanya sekedar mobil mewah atau kartu kredit dengan limit 10 digit sih masalah kecil buatku. Perkataanku barusan langsung membuat Hani kembali mengitari metro department store, mencari baju-baju lain yang disukainya.

Hani dan Hana, mereka kedua pacarku. Walaupun namanya mirip, tapi mereka adalah dua individu yang berbeda. Kesamaan mereka hanyalah di umur, 21 tahun which is berbeda 2 tahun dariku, dan juga cantik plus semoknya. Yaiyalah standarku kan tinggi, setinggi nominal uang di atmku. Hani, wanita cantik berambut panjang, mahasiswi, manja, dan menggemaskan. Kalau Hana, dia jilbabers gaul, mahasiswi, mandiri, berpendirian, dan manja dalam taraf wajar. Well punya 2 pacar jangan terlalu sama dong sifatnya, bakal bosen lah. Makanya aku memacari Hana setelah 6 bulan memacari Hani untuk sedikit variasi.

Belanja sudah selesai dan sekarang saatnya aku mengantar Hani untuk pulang. Sabtu siang bukan Jakarta kalau misalnya tidak macet. Haduuh, semoga para orang kaya nanggung yang bermobil itu segera pindah ke public transport deh biar nggak menuh-menuhin jalan. Kalau aku ? Berapapun harga bensinnya aku sih sanggup so sampai kapanpun males deh berdesak-desakkan di bus. Lagipula gengsi dong sama pacar kalau mobil nggak mewah kayak begini.

“Sayang ya nanti malam kita nggak bisa jalan,” Hani membuka perbincangan.

“Iya, nanti malam aku ada kondangan. Nggak enak sama papa dan mama say. Kamu nggak apa-apa kan ?”

“Nggak apa-apa kok. Lagipula ntar malem aku mau ada acara kok sama temen-temen SMAku. Biasalah reuni kecil-kecilan.”

“Oh gitu.”

“Eh say, kapan kamu ngenalin ke orang tua kamu ?” tanya Hani

“Aduh ntar dulu deh. Aku masih belum siap untuk itu. Kita baru 1, 5 tahun jalan. Pasti nanti aku kenalin kok, sekarang kita jalani begini dulu aja. Kamu nggak keberatan kan sayang ?”

“Ya nggak sih. Cuma kan kamu udah aku kenalin ke orang tua aku, masa kamu belum ngenalin sih ?”

“Ya pasti nanti ada waktunya kok say,” ya itu memang perkataan yang keluar dari mulut, namun dalam hati sebenarnya aku belum mantap untuk benar-benar menjalin hubungan serius dengan Hani maupun Hana, jadi tak ada dari mereka yang aku kenalkan ke orang tuaku.

Hey, i just met you and this is crazy but here’s my number so call me maybe.”

Suara lagu call me maybe itu terdengar dari saku celanaku. Aduh ada telepon, namun sulit untuk meraih ponselku karena aku sedang fokus mengemudi. Bisa saja itu dari Hana which is tidak mungkin aku angkat juga kalau iya. Hani dan Hana tak ada yang tahu kebejatanku ini. Yasudah biarkan saja jadi miscall dan bilang kalau aku sedang mengemudi sebagai alasan tidak mengangkat telepon.

“Telepon tuh,” kata Hani.

“Biarin aja, lagi fokus nyetir nih.”

Well Hani memang tipe wanita yang agak agresif. Tangannya menari dipahaku dengan lembut. Perlahan tapi pasti, tangannya makin mendaki dan berbelok ke saku jeansku. Ia memasukkan tangannya ke saku dan mengambil ponselku. Waw, bisa gawat nih walaupun sebenarnya aku menikmati grepe-grepean tadi. *ups.

“Kamu ngapain sih ?”

“Habis berisik. Telepon dari…,” Hani melihat layar ponselku.

Aduh mati aku.

“Dari nyokap kamu. Calon mertuaku nih, aku angkat ya.”

“Jangan, sini aku aja yang angkat,” kataku lega.

Aku langsung mengambil ponselku dan mengangkatnya. Untung pas macet sehingga aku bisa fokus ke telepon. Ternyata nyokap yang sedang mengecek dimana keadaanku. Ah telepon yang tidak terlalu penting, namun untung bukan dari Hana. Aku menyudahi pembicaraanku dengan mama.

“Eh say.”

“Ada apa ?” tanyaku.

“Mmmm, gimana ya bilangnya.”

“Ada apa sih ? Ada yang kamu pinginin ?”

“Iya sih, tapi lebih baik nggak usah deh.”

“Kamu pingin apa say ? Your wish is my command my princess.”

“Sebenarnya aku pingin banget mobil yang tadi ada di mall itu. Yang tadi kita lihat bareng-bareng itu. Yang warnanya merah muda. Tapi lupakan saja deh say. Cuma sekedar pingin punya aja sih.”

“Oh itu doang rupanya. Kamu tadi minta kartu nama salesnya kan ?”

“Iya ada nih di tasku.”

“Coba teleponin pake HPku, nanti aku yang ngomong sama dia.”

“Kamu emang mau ngapain say ?”

“Udah lakukan aja, nanti kamu juga tahu.”

Hani mengeluarkan kartu nama yang tadi di dapat di pameran mobil. Ia menekan beberapa angka di ponselku kemudian menyerahkan ponsel itu kepadaku.

“Halo dengan sales mobil tadi ya. Ini saya tertarik dengan mobil yang merah muda yang ada di pameran tadi…, iya…, iya mas,” kataku melihat kearah Hani yang terlihat excited.

“Iya saya pesen satu ya mas. Saya nggak mau tahu pokoknya nanti malam udah harus sampai ke alamat yang nanti saya kasih. Pokoknya mas urus semua aja, mulai surat sampe BPKBnya, saya tahunya cuma kirim uangnya aja. Nanti mas juga dapat persenannya kok dari saya. Nomor ini di catat ya mas nanti mas kasih tahu nomor rekeningnya ke nomor ini.”

Transaksi selesai. Well it’s only 200 juta, bukan nominal yang akan membuatku miskin. Haha sifat loyal seperti ini yang membuat mereka tak menaruh curiga kalau aku bermain belakang di hadapan mereka. Yang penting mereka senang dan akupun juga bisa bersenang-senang.

“Sayang terima kasih…,” Hani langsung memelukku yang sedang mengemudi di jalanan yang sedang macet-macetnya, membuatku bisa fokus menikmati pelukan ini.

*lanjutan scene di mobilnya lebih baik tak usah ditulis tapi jangan berpikir yang aneh-aneh ya.

*

Siang ini bersama Hani kalau malam nyabersama Hana. Haha kehidupan cinta yang bervariasi. Hidup memang penuh tantangan dan menjalin dua cinta seperti ini adalah tantangan yang menyenangkan jika engkau berhasil mengatasinya. Malam minggu ini aku akan nonton dan makan bersama Hana di sebuah pusat perbelanjaan. Tiket bioskop premier sudah ditangan. Hana memang hobi sekali nonton, dia pasti senang dengan tiket film ini.

“Kamu tepat waktu banget say,” kata Hana naik ke mobilku.

“Ya iyalah buat kamu apa yang nggak sih.”

“Eh ada yang beda nggak dari penampilan aku ?”

“Jilbab kamu bagus. Kayak hijabers-hijabers gaul gitu. Berapa lama tuh buat jilbab sampe 3 tingkat begitu ?”

“yah 1 jam lah kurang lebih. Kan aku mau jalan sama kamu, harus well prepared dong.”

“Itu cepol, rambut asli atau kain dibuntel-buntel terus di masukin ke jilbab sih ?”

“Rambut asli lah.”

“Maklum, aku kan belum pernah liat rambut asli kamu.”

“Kamu suka kan sama penampilan aku ?”

“Mmm…, gimana ya.”

“Kenapa ada yang salah ya ?” kata Hana mengecek penampilannya.

“Punggungnya ada yang salah tuh.”

“Hah kenapa punggung aku ?”

“Sayap kamu kemana ? Masa bidadari turun dari surga nggak punya sayap.”

“Ih kamu gombal ah. Yuk cao ke mall.”

Malam minggu mall pastilah ramai dengan anak-anak muda yang ingin menghabiskan waktu. Aku dan Hana langsung menyatu dengan mall yang bebas alay ini. Yaiyalah, aku memilih mall nomor 1 di Indonesia, mana mungkin aku mau ke mall yang ecek-ecek plus banyak alas gajebo. Masih 2 jam sebelum film dimulai.

“Kita kemana dulu nih ? mau makan ?” tanyaku

“Jalan-jalan dulu yuk. Aku masih agak kenyang. Satu jam lagi ya.”

“Mau jalan-jalan kemana ?”

“Ya jalan-jalan aja. Yuk.”

Hmm ini bilangnya sih jalan-jalan tapi sebenarnya beli baju dan ini itu. Well ikhlas saja deh, toh jumlahnya tak seberapa. Uang saku dari orang tua juga jauh lebih banyak dari ini. Kalau Hana masih mempunyai rem yang lebih pakem dari Hani. Ia hanya membeli sedikit, ia masih ada rasa tak enakkan kepadaku. Maklum, dia bukan berasal dari orang yang sangat berpunya jadi rasa keprihatinannya terhadap harga cukup besar.

“Eh say ke situ yuk.”

Hana membawaku ke sebuah toko yang menjual perhiasan. Haduh dasar cewek liat yang bening dikit, baik itu perhiasan maupun cowok, bawaannya langsung kayak kucing garong. Ini toko perhiasan yang menjual permata asli dengan merek-merek yang tak asing di dunia fashion. Hanya kami berdua pelanggan disini, yaiyalah secara harga barang yang dijual mahal gila. Hana melihat ke sebuah kalung yang sangat indah, seindah harganya.

“Kenapa say, kamu mau yang itu ?” kataku kepada Hana.

“Iya, eh nggak kok makdusnya. Mahal banget. Mending buat….”

“Mas, yang ini dibungkus ya.”

“Hah kamu ngebeliin aku kalung ini say ?”

“Iya. Selama kamu jadi pacar aku, your wish is my command princess.” Well masih 9 digit ini harganya, santai lah.

“Ah makasih banget say.”

Hana lalu mencubitku, mengacuhkan kalau kita sedang di mall. Well tokonya sedang sepi sih, paling cuma ada penjualnya yang ngelihat. Hana memang orang yang penuh kasih sayang, baru dikasih kalung saja dia sudah mencubit, memelukku dan… *lebih baik tak usah ditulis kelanjutan scene di toko perhiasannya tapi jangan berpikir yang jauh-jauh ya.

“Makan yuk. Aku udah laper nih,” ajakku.

“Oke makan dimana ?” tanya Hana.

“Di restoran biasa aja.”

Kami menuju ke restoran langganan jika pergi ke mall ini. Selain masakan disini enak, seenak harganya, tempatnya juga cozy dan tidak terlalu ramai. Lampunya yang agak remang-remang tapi tidak murahan membuat restoran ini mempunyai kelasnya sendiri. Kami duduk di salah satu kursi dan memesan makanan kepada pelayan.

“Eh say, aku ke toilet dulu ya,” kata Hana.

“Oke.”

Hana pergi keluar karena toilet berada di luar restoran.  Hani tadi SMS mengatakan kalau ia sedang jalan-jalan dengan teman-temannya. Aku terkadang malas membalas SMS seperti begini, Cuma buang-buang waktu tapi kalau tidak dibalas pasti marah. Yasudah balas saja dengan SMS dengan kata berbunga-bunga walaupun sebenarnya biasa-biasa saja. Perempuan mah pintar digombali. hahaha.

Sebuah tangan menutup kedua mataku. Siapa nih ? Hana kah ? Wait, dari lingkar tangannya ini tangan wanita namun jelas ini bukan tangan Hana. Wanita ini tidak mengenakan baju lengan panjang seperti baju Hana tadi. Kalau dari aromanya sih ini tangannya Hani. Hah Hani ? Aku menggeser tangan itu dan mendapati Hani berdiri di belakangku. Hah…, gawat.

“Hani…, kamu ngapain disini ?”

*bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s