Satu Mana Cukup (PART II)

and the story goes. (Wajib baca part I-nya dulu)

“Makan yuk. Aku udah laper nih,” ajakku.

“Oke makan dimana ?” tanya Hana.

“Di restoran biasa aja.”

Kami menuju ke restoran langganan jika pergi ke mall ini. Selain masakan disini enak, seenak harganya, tempatnya juga cozy dan tidak terlalu ramai. Lampunya yang agak remang-remang tapi tidak murahan membuat restoran ini mempunyai kelasnya sendiri. Kami duduk di salah satu kursi dan memesan makanan kepada pelayan.

“Eh say, aku ke toilet dulu ya,” kata Hana.

“Oke.”

Hana pergi keluar karena toilet berada di luar restoran.  Hani tadi SMS mengatakan kalau ia sedang jalan-jalan dengan teman-temannya. Aku terkadang malas membalas SMS kayak begini, Cuma buang-buang waktu tapi kalau tidak dibalas pasti marah. Yasudah balas saja dengan SMS dengan kata berbunga-bunga.

Sebuah tangan menutup kedua mataku. Siapa nih ? Hana kah ? Wait, dari lingkar tangannya ini tangan wanita namun jelas ini bukan tangan Hana. Wanita ini tidak mengenakan baju lengan panjang seperti baju Hana tadi. Kalau dari aromanya sih ini tangannya Hani. Hah Hani ? Aku menggeser tangan itu dan mendapati Hani berdiri di belakangku. Hah…, gawat.

“Hani…, kamu ngapain disini ?”

“Aku kan lagi jalan-jalan sama teman-teman SMA disini. Bukannya aku udah bilang ya. Kamu sendiri ngapain ? Bukannya kamu ada kondangan ?”

“Eh iya ini…, eee…, tadi mama berubah pikiran. Katanya aku boleh nggak ikut. Secara ini malam minggu, malamnya anak-anak muda hangout di mall. Ya berhubung nyokap ngebolehin nggak ikut, ya mending aku jalan-jalan aja. Temen-temen kamu mana ?”

“Itu diluar.” Hani menunjuk ke beberaa wanita yang berdiri diluar restoran. Well teman-teman Hani kok terlihat lebih tua ya, ah masa bodoh deh.

“Kenapa kamu nggak bilang aku kalau kamu nggak jadi ke kondangan ? Kan kita bisa jalan malam ini,” kata Hani

“Ah aku nggak enak. Kamu kan mau jalan sama teman SMA kamu. Aku nggak mau ganggu ah.”

“Kamu sendiri aja ?”

Eee, untung Hana membawa tasnya ke toilet kalau tidak kan ketahuan banget aku pergi berdua dengan wanita. Aduh bohong apa ya. Pokoknya aku harus buat Hani tetap stick to her plan, yaitu reuni bareng teman SMAnya.

“Nggak. Nanti juga mau ketemuan sama teman kuliah dulu. Mereka belum pada sampe, jadi aku makan dulu deh soalnya laper.”

“Oh begitu. Eh mobilnya udah sampe loh say. Makasih banget ya.”

“Iya.”

“Eh baguskan bajunya. Ini baju yang tadi kita beli loh.”

“Iya bagus. Eh udah sana, kasih tuh temen kamu nunggu begitu,” kataku yang sudah mulai was-was kalau Hana akan sampai.

“Iya nih. Yaudah deh say. Aku kesana dulu ya. Love you. Muach,” Hani memberi kecupan di pipiku dan keluar restoran.

Timing yang benar-benar pas karena begitu Hani keluar, Hana datang dari toilet. Untung tidak ada adegan aku harus bohong kepada mereka. Lagiupula bohong gimana juga. Haduh sempat spot jantung juga nih. Kalau mereka berdua bertemu bagaimana ya, bisa-bisa aku dibejek-bejek nanti. Hana duduk dan menatapku dengan bingung. Ia menangkap raut gugup pada wajahku.

“Kamu kenapa ? Kok gugup begitu ?” tanya Hana.

“Gugup ? Gugup kenapa ? Nggak kok,” kataku menenangkan diri.

Well selebihnya aman, dia tak menyadari kalau baru saja pacar pertamaku datang. Sebenarnya ini agak berbahaya sih. Kalau boleh memilih, lebih baik menonton di tempat lain yang tidak berisiko namun tiket sudah ditangan. Berdoa saja deh semoga tidak terjebak di tempat dan waktu yang salah. Mall ini kan luas, sedikit peluang bertemu lagi dengan Hani. Makan sudah selesai dan kami memutuskan untuk langsung ke teater dan menunggu disana. Aku tak mau jalan-jalan dan mengambil risiko bertemu dengan Hani and the geng.

“Kamu kenapa sih say, kok kayaknya gugup banget daritadi. Are you hiding something ?”

“Perasaan kamu doang kali say. Satu-satunya yang aku sembunyikan dari kamu adalah….”

“Apa ?”

“Kepo ya. Namanya sembunyi ya lebih baik nggak ketahuan lah. Haha.”

“Ih GJ deh kamu.”

Kami berjalan di sebuah koridor mall. Keramaian menggambarkan suasana mall di malam minggu. Pasangan-pasangan labil berjalan tanpa tujuan hanya untuk melepas kerinduan diantara mereka. Di ujung koridor adalah teater bioskop. Jeder, bagai suara petir yang menggelegar. Itu  Hani and the geng yang sedang berjalan di koridor yang sama dengan arah yang berlawanan. Haduh ini sih bakal bertemu di tengah jalan. Bagaimana ini ? Bisa perang dunia nih. Aku memutar otak dengan cepat untuk keluar dari situasi ini sebelum Hani melihatku disini.

“Ah,” kataku melihat ke toko disebelahku.

“Kenapa ?”

“Aku pingin beli ini.”

Aku langsung menggandeng tangan Hana masuk ke dalam toko itu. Hana yang masih bingung hanya bisa mengikutiku tanpa bisa melawan. Apapun asalkan bisa aman dari risiko terburuk situasi ini.

“Kamu ngapain ngajak aku kesini ?” tanya Hana.

Aku memang tak peduli toko apa ini dan asal masuk ke dalam. Well ternyata ini adalah toko *lebih baik tak usah ditulis. Haduh, masa sih aku menyuruh Hana membeli barang di toko ini. Dia kan wanita baik-baik masa sih beli sesuatu disini. Hey, satu-satunya alasan aku masuk kesini adalah situasi yang belum aman. Aku belum bisa keluar toko. Yasudah PD-PD aja sok melihat barang disini walaupun aku sebenarnya risih apalagi Hana.

“Ini aku lagi nyari yang kayak begini,” kataku asal ngambil barang yang dipajang.

Hana melihatku dengan pandangan bingung. Dia pasti tak pernah mengira aku punya selera terhadap barang tersebut. Aduh masa bodoh deh. Yang penting aman. Aku mencoba menetralisir perasaan gugupku. Pelayan mendatangiku.

“Mau yang model begitu mas ?”

“Aku tunggu diluar aja ya say,” kata Hana.

Transaksi yang tak diinginkan terjadi. Whatever deh asalkan aku punya waktu untuk keluar dari situasi ini. Toko ini juga tak mungkin dimasuki Hani. Aman. Hani sudah lewat. Hani dan Hana sempat berpapasan namun mereka kan tak saling kenal jadi tak ada yang mengira kalau keduanya memiliki pacar yang sama. Aku langsung keluar toko dengan membawa kantong berisi belanjaan yang sebenarnya tak pernah kurencanakan untuk kubeli. Haduh malu juga harus beli barang beginian bareng Hana. Well yang penting aman deh.

Kami langsung menuju ke bioskop dan menunggu sampai teater dibuka. Bioskop ramai gila. Tempat duduk kami berada di tengah, sangat strategis untuk membuat kepala tidak pegal. Hana duduk di sebelah kananku. Ia sangat senang bisa menonton film ini bersamaku. Ah, Pwnya kursi di bioskop berkualitas ini. Setelah ini kami akan menonton dan film akan selesai malam sekali. Aku yakin Hani sudah pulang, berarti situasi aman.

“Eh masih iklan-iklan kan ya. Aku mau pipis lagi deh, tadi kebanyakan minum nih,” kata Hana.

“Yaudah. Jangan lama-lama nanti filmnya keburu mulai say.”

Hana keluar dari deretan bangku. Kukira situasi aman sampai aku mendapati sebuah suara yang memanggilku. Suara wanita yang tidak asing bagiku.

“Loh kamu nonton juga toh ?” Hani langsung duduk di samping kiriku.

“Iya. Kamu duduk disitu.”

“Iya aku sama teman-temanku nonton juga malam ini. Wah beruntung banget ya bangkunya bisa deket-deketan.”

“Iya.”

“Walaupun nggak direncanain ternyata kita bisa nonton berdua ya malam ini.”

“Mungkin ini yang namanya jodoh say,” kataku menyembunyikan perasaan gugupku.

“Temen-temen kamu mana ?” tanya Hani.

“Em, aku nonton sendiri doang. Mereka pada nggak bisa nonton. Daripada pulang mending nonton aja kan say ?” kataku berbohong ala kadarnya yang terpikir pertama kali diotak.

“Iya bener juga. Eh kamu nggak lagi…, selingkuh kan ?”

“Hah maksud kamu ?” kataku curiga, kok dia bisa menebak seperti itu.

“Habis kamu mencurigakan sih. Nggak lupakan saja deh. Aku Cuma bicara ngelantur.”

“Cuma ada kamu kok di hati aku say, jangan khawatir.”

“Oh ya kenalin ini temen-teman aku.”

Aku berkenalan dengan empat teman Hani yang sepertinya lebih tua dari Hani. Aneh sih, secara mereka teman SMA Hani tapi kok lebih tua ya. Tidak sopan sekali aku bertanya berapa umur mereka. Ah mungkin kelihatannya aja lebih tua tapi pasti umurnya sama. Teman-temannya Hani genit-genit juga ya walaupun sudah tahu kalau aku ini pacar teman mereka. Maklum nampaknya tipe cewek jarang dibelai.

Tak lama kemudian Hana datang dan langsung duduk di sampingku. Lampu mulai meredup. Dag dig dug hatiku…, namun bukan karena cinta melainkan karena takut. I’m in high risk akan ketahuan.Hani di sebelah kiri, Hana disebelah kanan. Kalau misalnya lampu menyala, siapa yang akan aku sapa sebagai pacarku ya Hana atau Hani. Aduh mati aku. Kalau disuruh memilih sih, aku mau milih keduanya. Aku sayang keduanya dan satu itu nggak cukup kayak judul lagu two is better than one. Tapi mana ada wanita yang mau dimadu.

“Eh filmnya udah mau mulai ya,” kata Hana.

“Hm,” aku hanya mengguman kecil sambil mengangguk.

Yang terpenting sekarang adalah selama film ini berlangsung aku tak boleh berkomunikasi dengan salah satu dari mereka. Hani akan curiga kalau aku berbicara dengan Hana begitu juga sebaliknya. Hani kan tahunya aku jalan sendiri sedangkan Hana tahunya aku jalan hanya bersama dia. Aku mulai gugup dan berkeringat walaupun ruangan ini dinginnya minta ampun. How disaster it is.

Film pun dimulai. Untunglah selama film berlangsung mereka cukup fokus dengan film yang diputar walaupun sekali-kali mereka mengajakku bermesra-mesraan. Aku tanggapi mesraan centil itu dengan agak dingin. Pasti mereka akan curiga sih dengan sifat dinginku itu, namun daripada ambil risiko ketahuan mending gitu dulu deh. Aku sama sekali tak mengikuti alur film, aku hanya memikirkan bagaimana cara agar tidak ketahuan saat film selesai nanti.

Dua jam berlalu dan film sudah hampir usai. Oke i have a plan to get my self save from this disaster. Mas-mas penjaga bioskop sudah menyibak tirai pintu keluar. Lampu exit sudah dinyalakan. Beberapa menit lagi film pasti usai. Kurasa sekarang lah saatnya untuk menjalankan rencana ini.

“Eh say filmnya kan udah mau selesai, aku keluar duluan ya. Kebelet pipis nih. Aku tunggu diluar ya,” bisikku pada Hana.

“Oh gitu. Oke-oke.”

“Hani, aku duluan ya. Kebelet pipis ni.” Aku memBBM Hani, walaupun dia disampingku, dan langsung keluar.

Aku menunggu di pintu toilet sampai Hana menelpon baru aku akan keluar dari WC. Kalau menunggu di depan pintu keluar sih ada kemungkinan ketemu dengan Hani. Pokoknya inti rencananya jangan ketemu Hani setelah nonton, aku kan kesini niatnya keluar bareng Hana. Tak lama kemudian orang-orang banyak masuk ke dalam WC, berarti film sudah bubar. Agak aneh sih aku berdiri lama di dalam WC namun tidak ngapa-ngapain, ah masa bodoh deh yang penting aman. Hana menelponku. Nah ini yang aku tunggu.

“Halo, kamu dimana say. Kok nggak ada dipintu ?”

“Aku masih ditoilet. Agak sakit perut jadi lama. Bentar ya,” kibulku.

Aku keluar dari WC, pasti Hani sudah lebih dulu keluar dari bioskop. Ah aman. Hanya ada Hana di depan pintu keluar bioskop sedangkan Hani sudah entah dimana.

“Kamu kenapa sih ? Kok tadi di dalem aneh begitu ?”

“Aneh gimana ?”

“Ya kayak cuek gitu sama aku. Kenapa sih ? Aku jelek ya dengan hijab bertingkat ini ?”

“Ah enggak kok. Tadi aku…, kebelet boker say jadi agak bersikap aneh tapi aku males kalau meninggalkan studio buat boker, penasaran sama filmnya.”

“Oh gitu. Kok aku mencium bau-bau ketidaksetiaan ya ?”

“Maksud kamu ?”

“Jujur aja deh. Kamu pikir aku nggak tahu ?”

Hah ? Jadi dia sudah tahu ? Mungkin aja tadi Hana bertemu Hani dan…. Wait, jangan ngaku sampai bener-bener ketahuan. Bisa saja Hana Cuma menjebakku padahal dia tak tahu apa-apa. Ya mana mungkin dia tahu. Aku kan pintar bermain dengan cinta dua wanita ini sampai baunya tidak tersebar.

“Tahu apa sih ? Kamu ngigo ya say ? Cuma ada kamu dihati aku.”

“Bener ?”

“Iya suer. Belah dadaku kalau kamu nggak percaya.”

“Oke deh. Yuk pulang.”

Hana sepertinya masih sedikit tak percaya, ah biasalah cewek pasti cemburuan. Untunglah Hana bisa dikelabuhi. Kami menuju ke tempat parkir. Mall sudah tak seramai tadi. Aman, tak kusangka malam ini bisa kulalui dengan aman. Tempat parkir sudah tidak penuh, hanya tinggal beberapa mobil. Ya iyalah secara sudah hampir jam 12 malam, pengunjung biasa pastilah sudah pulang.

“Eh say, makasih ya atas hari ini. Terutama atas semua barang yang kamu kasih ke aku.”

“Ah itu bukan apa-apa say.”

“Baru kali ini ada pacar yang mau ngebeliin kalung ratusan juta. Juga mobil.”

“Ya uang segitu sih buat aku Cuma…, mobil ?”

“Iya mobil warna merah jambunya bagus banget loh say,” terdengar suara wanita di belakangku.

Aku menengok kebelakang dan sensasinya seperti terkena serangan jantung. Hani dan teman-temannya berdiri di belakangku dengan senyum yang licik. Hah ? Jadi mereka sudah tahu kalau aku ini mempermainkan mereka. Deg-degan, baru kali ini aku merasa seperti ini. Nampaknya kena batunya nih gw. Hani berdiri didepanku dan…, PLAK. Tamparan keras mendarat di pipi kananku. PLAK. Hana menambahkan rasa sakit di pipi kiriku.

“Kamu pikir kita nggak tahu ? Kita dah tahu semenjak lama. Kita sengaja diem-diem aja dari kamu dan membiarkan kamu main-main dengan kita. Malam ini adalah puncak semuanya, kita udah kesel karena kamu nggak akan bisa mengakui kesalahan kamu udah selingkuh. Kita udah tahu dan udah saling kenal selama 3 bulan terakhir ini.”

“Kalian ?”

“Iya berengseeeek.”

Hani maju dan langsung meremas rambutku. Begitu juga dengan Hana yang langsung memukulku. Aduh jadi korban kekerasan dalam rumah tangga nih. Untung suasana tempat parkr sepi sehingga tak ada yang menyaksikan pembantaian ini. Sumpah walaupun mereka wanita tapi tenaga mereka kuat sekali sampai aku tak bisa melawan.

“STOP,” kataku sambil sedikit melawan mereka.

“Kalian itu nggak tahu terima kasih ya. Itu mobil, kalung, baju, aku semua yang beliin.”

“Lo emang bisa kasih kami harta namun kita lebih memilih nggak dimadu daripada harta. Kita sengaja pelorotin lo biar kita plong pas bilang…, kita putus. PLAK,” Hani menggamparku dengan amat keras.

“Makasih ya say, buat kalung ratusan juta ini. PLAK. Lo, gw, end.” Hana menambah gamparan dipipiku menjadi empat buah. Lengkap sudah kemalanganku.

Aduh sakit banget ini pipi plus badan. Aduh jangan minta putus dong, bagaimanapun aku masih sayang kepada mereka berdua.

“Kalian jangan putusin aku dong.”

“Gw nggak peduli lagi. Gw mau pulang sendiri,” Hana langsung pergi masuk kembali ke dalam mall untuk ke pintu depan untuk pulang naik taksi.

“Kamu maafin aku kan Say ?” kataku pada Hani. HAni menunggu sejenak dan memandang mataku dalam-dalam.

“I hate to say this. Tapi kamu jangan bilang-bilang ke Hana ya. Soalnya di kesepakatan aku sama Hana, kita harus putus sama kamu.”

“Iya apapun syaratnya aku akan penuhi asalkan kamu nggak putus sama aku. Aku masih sayang sama kamu.”

“Baiklah. Aku maafin kamu, tapi tolong kamu jangan ulangi lagi.”

“Jadi kita nggak putus kan ?” tanyaku penuh pengharapan. Hani hanya membalas dengan anggukan kepala. Well itu sudah cukup bagiku.

“Makasih say,” kataku memeluk Hani.

“Say, walaupun aku maafin kamu aku butuh waktu untuk sendiri. Tolong kamu anterin temen-temen aku pulang ya. Aku bener-bener butuh waktu sendiri dulu saat ini.”

“Oke aku mengerti say. Aku menyesal dan tak akan mengulanginya lagi.”

Malam ini berakhir dengan happy ending untukku. Hani memaafkanku dan masih mengizinkanku untuk berpacaran dengannya. Hah, tak kusangka balada selingkuh ini akan berakhir seperti ini. Malam ini diakhiri dengan tugasku menjadi supir untuk teman-teman Hana pulang. Yah, pastilah Hana shock dan ingin langsung pulang untuk ‘waktu sendiri’. Haduh mana teman-teman Hana genit-genit semua lagi terus rumah mereka jauh pula. Harus lewat jalan yang cukup rawan. Ah tak apalah, asalkan Hana mau tetap menerimaku.

Hey, i just met you and this is crazy but here’s my number so call me maybe.” Hani menelponku. Aku menepi di sebuah jalan yang sepi dan mengangkat telepon itu. Tak baik mengemudi sambil menyetir.

“Halo ya sayang.”

“Lo gw end.”

“Apasih maksud kamu ?”

“Emangnya cowok doang yang boleh bohong. Gw paling jam nggak terima dimadu.”

“Jadi kamu bohong toh tadi ?”

“Iya bodoh. Bye bye forever. Btw Thanks ya atas mobilnya. Sebagai ucapan terima kasihnya, gw kasih tuh tante-tante girang.” Tuuut,

“Eh tunggu dulu.” sambungan sudah terputus

“Siapa si Hani ya ?” kata salah satu teman Hani.

“Iya.”

“Hei, emangnya kamu nggak curiga ya, masa teman SMAnya Hani lebih tua dari dia,” kata teman yang lain.

“Jadi kalian ini bukan teman SMAnya Hani ?”

“Bukan.”

“Terus kalian berempat ini siapa ?”

“Kita ini geng the jeudes bo,” kata mereka.

“Aduh, udah lama eike nggak makan brondong.”

Hah…, mereka ini wanita jadi-jadian. Sumpah dari luar nggak ada kelihatan-kelihatannya. Memang dunia sudah semakin gila. Cewek jadi-jadian aja bisa lebih cantik dari cewek beneran. Pantas saja, masa sih teman SMA tapi umur sepertinya berbeda. Oh god…, aku harus keluarkan amphibi ini dari mobilku. Bisa kiamat nih secara tampang mereka udah kayak mau makan orang begitu.

“Keluar kalian dari mobil gw,” bentakku pada mereka.

Bret. Seorang ‘wanita’ yang duduk di belakang langsung membekap mulutku. ‘Wanita’ yang duduk di sampingku langsung memegangi badanku, membuatku tak bisa bergerak. Gila kuat banget tenaga mereka. ‘Wanita’ yang lain langsung mengunci mobil. What they will do to me ?

“Lo yang ikutin perintah kita bukan sebaliknya.”

*lebih baik kelanjutan scene mobil tak usah ditulis ya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s