Biaya Pemasaran Mahal ? Jejaring Sosial Solusinya

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Prasetya Mulya Business School, informasi klik disini

*

Recomended nih RT @Lovecupcakes :Homemade cassava cupcakes, terobosan baru kue ulang tahun untuk orang tercinta. Desain sendiri cupcakes kamu sesuai dengan selera.  Harga sudah pasti terjangkau. Promo spesial bulan ini…. Tinyurl/nfjfwjkfj

Kalau misalnya kalian ngelihat tweet seperti ini dan sedang mencari kue ulang tahun yang inovativ pasti kamu akan mengklik link tersebut bukan. Link tersebut akan mengarahkan kamu ke website mereka. Di website itu pastinya kamu akan melihat model-model cupcake yang mereka sediakan. Kamu tertarik ke sebuah model dan ingin memesan cupcakes tersebut. Lalu kamu menghubungi contact person mereka ,order lewat telepon, pembayaran lewat transfer, dan TARA…, sampai deh cupcakes kamu tanpa perlu repat repot keluar rumah. Atau kalau misalnya kamu sebenarnya tidak merencanakan untuk membeli kue namun kamu menjadi tertarik karena bisa mendesai cupcakes sendiri. Lalukamu mendatangi outlet toko itu atau mengirim desain cupcakes via email untuk mendapatkan cupcakes selera kamu. It’s that so simple, yes technology makes everything easier.

Sadari atau tidak, transaksi itu berawal dari membaca tiga kalimat di jejaring social twitter. Zaman sekarang siapa sih yang tidak punya jejaring social facebook atau twitter ? Tidak tahu apa itu facebook atau twitter ? Plis deh. Jejaring social digunakan untuk banyak hal yaitu untuk share and get informasi, mengekspresikan diri (red : media galau), berhubungan dengan teman lama maybe teman SD yang sudah lama sekali tidak bertemu, kepentingan bisnis, profile diri atau company, upload foto kenangan, dan masih banyak lagi. Ya jejaring social menghilangkan batas bagi kita untuk mendapatkan informasi. Kebebasan berpendapat menjadi suatu hal yang utama dalam berjejaring social.

Tadi saya bilang Jejaring social bisa untuk berbisnis ? Tidak kaget sih. Sering kan kamu membaca tweet seperti yang saya contohkan lagi. Kalau dulu biasanya perusahaan hanya mempunyai website sebagai media maya, kalau sekarang perusahaan-perusahaan biasanya mempunyai paling tidak website, facebook dan twitter sebagai media maya untuk lebih ke masyarakat. Website memiliki fungsi jelas yaitu untuk menjelaskan company profile seperti sejarah singkat dan visi misi, penjelasan produk, info promosi,  peta lokasi, anuual report, dan lain-lain. Lalu kalau jejaring social fungsinya untuk apa ? Jejaring social bisa digunakan sebagai pengcover fungsi website,nnamun focus utama dari jejaring social adalah lebih ke media pemasaran produk dan media komunikasi dengan konsumen.

Macam Jejaring Sosial

Macam Jejaring Sosial

Sifat jejaring social yang lebih fleksibel dan tidak formal dapat dijadikan media dua arah sebagai penghubung konsumen dan produsen. Coba lihat facebook sebuah perusahaan, banyak thread-thread yang isinya komunikasi antara konsumen dengan produsen, bisa complain, ucapan terima kasih atau pertanyaan-pertanyaan seputar promosi atau event atau lomba. Tentunya kita harus tetap menjunjung netiqette ya. Coba lihat twitter suatu perusahaan, tak sedikit tweet yang isinya replyan ke konsumen atas pertanyaan yang diajukan. Kalau melihat thread  di jejaring sosial tersebut, bahasa yang digunakan juga tidak terlalu formal. Hal itu dilakukan agar konten yang ingin disampaikan ke masyarakat lebih ngena ke masyarakat. Coba bandingkan dua kalimat ini.


Promosi bulan ini adalah potongan harga sebesar 25 % untuk pembelian diatas Rp 200.000. Uang diskon akan bisa dimanfaatkan untuk membeli keperluan lain.


Mau menghemat 50.000 rupiah ? Lumayan kan untuk beli pulsa buat yayang-yayangan sama si yayang. Tertarik ? Yuk belanja di toko kita, diskon 25 % setiap pembelian diatas 200.000. Ayo buruan, Cuma bulan ini saja.

Mana kalimat yang lebih menarik dan lebih ngena ke konsumen ? Bisalah jawab sendiri. Bedanya kalau kalimat 2 dipasang diwebsite, maka website akan terlihat agak kamseupay, namun kalau kalimat 2 dipasang di jejaring social ? Itu sudah menjadi hal yang biasa.

Produksi – Penjualan. Dua hal itu merupakan jantung dalam sebuah usaha. Untuk membuat penjualan meningkat, butuh yang namanya pemasaran produk. Pemasaran memiliki fungsi untuk memasyarakatkan perusahaan ke masyarakat, memperkenalkan produk ke masyarakat, sarana promosi, dan lain-lain. Dalam kata singkat pemasaran berfungsi sebagai salah satu tangan antara produsen dan konsumen. Percuma kalau misalnya pabrik makanan sudah memproduksi sampai jutaan kaleng tapi masyarakat tidak tahu pabrik itu jualan apa, produk hanya akan nampang di etalase toko tanpa ada yang membeli. Untuk mendapatkan hati konsumen, itulah inti utama dari pemasaran. Pemasaran adalah hal yang vital terutama untuk produk yang sasarannya masyarakat seperti produk-produk FMCG (Fast moving consumer good) yang menjual daily needs.

Kalau perusahaan besar yang sudah memiliki nama mengandalkan pemasaran produknya melalui media professional seperti iklan televisi, surat kabar, brosur, public expose, radio, dan semacamnya. Kalau sedang seru-serunya melihat acara televisi lalu dipotong iklan, walaupun sebenernya nge-BT in tapi iklan-iklan itu adalah media untuk memperkenalkan apa yang ingin di jual ke masyarakat. Kalau lagi membaca Koran lalu melihat iklan besar penuh warna, nah walaupun memakan tempat, namun itu adalah strategi untuk membuat konsumen tahu tentang produk mereka. Kalau di jalan diberikan brosur-brosur oleh mbak-mbak cantik, itu merupakan salah satu usaha mereka untuk mengenalkan produk ke masyarakat.

Biaya pemasaran untuk media TV tidaklah kecil. Kalau acara yang ratingnya tinggi tentunya biaya iklan ketika acara itu lebih mahal. Ketika trafik penonton sedang tinggi biaya iklan tv juga akan lebih mahal. Kalau channel televisi nasional juga lebih besar tarifnya dibandingkan channel televisi local. Namun memang sebesar apa sih ? Apabila dirata-ratakan biaya pemasangan iklan.

  

Jam 00.00-05.00, biayanya sekitar Rp5.000.000,00 – Rp7.000.000,00 per 30 detik.

Jam 05.00-08.00, biayanya sekitar Rp7.000.000,00 – Rp9.500.000,00 per 30 detik.

Jam 08.00-12.00, biayanya sekitar Rp6.000.000,00 – Rp8.000.000,00 per 30 detik.

Jam 12.00-13.00, biayanya sekitar Rp7.000.000,00 – Rp9.500.000,00 per 30 detik.

Jam 13.00-17.00, biayanya sekitar Rp6.000.000,00 – Rp8.000.000,00 per 30 detik.

Jam 17.00-21.00, biayanya sekitar Rp12.000.000,00 – Rp14.000.000,00 per 30 detik.

Jam 21.00-00.00, biayanya sekitar Rp7.000.000,00 – Rp9.500.000,00 per 30 detik.

 

Kalau misalnya ingin pasang iklan semenit aja bisa habis biaya 30 juta, itu baru iklannya saja belum biaya membuat iklannya sendiri seperti membeli proerti, membayar artisnya, perizinan sana sini. Wah cukup memakan biaya juga ya.

Untuk biaya pemasaran untuk media koran…, cukup memakan profit juga. Besarnya biaya bergantung pada besarnya kolom iklan yang diinginkan, warna atau hitam putih, ingin dipasang di rubric apa, serta merek korannya apa. Kalau iklannya cukup besar, berwarna, ingin dipasang di rubric yang sering dibaca dan ingin dipasang di Koran yang ternama, pasti tarifnya lebih mahal. Seberapa mahal ya ? Sebagai contoh bila ingin memasang banner di harian kompas, maka biayanya untuk Halaman 1 ( per insersi)  Full Colour. Untuk  7 x 50 mmk : Rp 206.000.000. Ukuran  7x 70 mmk : Rp 270.000.000. dan ukuran  7x 100 mmk : Rp 370.000.000. Mmk adalah millimeter kolom. Contoh 7 x 50 mmk, berarti banner itu memiliki lebar 7 kolom dan tinggi 50 mm (atau 5cm). 1 kolom bervariasi antara Koran satu dengan yang lainnya, untuk kompas 7 kolom memiliki panjang 325mm. Bisa dilihat, bila ingin memasang banner ukuran 32,5 cm x 5 cm maka biayanya sampai 200 juta. Wah…, dapat duit darimana ya sebegitu banyak ?

Untuk perusahaan besar yang sudah common di masyarakat, biaya milyaran untuk pemasaran memang sudah dianggarkan sehingga mereka tidak memiliki kesulitan ketika ingin membayar tarif pemasaran yang setinggi langit. Biaya pemasukan dari penjualan produk mereka akan sebanding dengan biaya pemasaran yang telah mereka keluarkan. Namun bagaimana untuk industri kecil yang tidak memiliki profit sebesar itu ? Sebut saja industry rumah tangga kecil. Kalau sampai membuat iklan televisi berarti mereka tidak akan punya modal untuk usaha esok. Walaupun usaha kecil mereka juga butuh media pemasaran untuk memperkenalkan produk mereka. Lalu bagaimana dong ? Nah itulah mengapa saya membuat contoh tweet cupcakes tadi.

Pernah mendengar keripik maicih ? Itu loh keripik singkong yang tingkat kepedasananya memiliki beberapa level dengan yang paling pedas adalah level 10. Kalau makan keripik maicih pastinya keringat saya akan bercucuran karena pedasnya yang bukan main. Keripik maicih adalah industri rumah tangga yang dulu menggunakan konsep pemasaran door to door dan cara ordernya melalui twitter. Pendiri Maicih merancang lokasi penjualan berpindah-pindah setiap hari dan hanya dapat diketahui dengan melihat status Facebook (#maicih) atau Tweet Maicih (@infomaicih). Saya ingat sekali dulu ketika kuliah di Bandung, kalau ada tweet infomaicih yang mengatakan maicih sedang ada di dekat kampus, teman-teman langsung berbondong-bondong datang untuk membeli. Antrain untuk membeli pasti ramai dan terkadang sering kehabisan untuk keripiki level 10. Melalui testimoni dan twitpic atau facebook foto, ketenaran maicih mulai meraja lela. Orang-orang menjadi penasaran dengan setannya rasa keripik maicih dan mencari keripik tersebut. Modal awal usaha keripik ini adalah sebesar kurang lebih 15 juta rupiah. Mereka sadar tak mungkin membuat iklan-iklan yang heboh dengan modal hanya sebesar itu. Butuh sebuah inovasi dan krativitas untuk memasarkan produk tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal. Terbukti media pemasaran melalui jejaring soial cukup sukses sehingga setahun kemudian omset yang diperoleh kurang lebih adalah Rp 4 miliar per bulan. See, tak butuh TV atau koran untuk mendapatkan pelanggan yang mengantri sampai 1 km, toh media sosial sudah cukup untuk medapatkan unsur utama untuk pemasaran yaitu mendapatkan hati konsumen.

Itu hanya salah satu contoh. Zaman sekarang pemasaran via jejaring social sudah menjadi hal yang lumrah terutama bagi industri kecil untuk mendapatkan pelanggan. Distro online, kosmetik online, makanan online, semua serba online dalam memasarkan produknya. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir biaya pemasaran melalui media profesional. Biasanya para pengusaha kecil menggunakan twitter dan facebook sebagai media pembuat ‘kepo’ yang akan mengantar pelanggan ke blog atau website mereka dimana blog / website akan memberikan informasi yang lebih lengkap ketimbang twitter atau facebook. Saya sendiri sudah beberapa kali berbelanja ke pengusaha kecil via jejaring social kaskus. Ketika itu barang yang saya beli adalah baju dan jaket. Saya melihat retweetan teman saya di twitter, kemudian mengklik link facebook mereka, memesan via SMS, transfer via rekening, dan barang akan di kirim via paket. Dan semua proses bisnis itu hanya dimulai dengan ketertarikan saya kepada tweet mereka.

Proses pemasaran via jejaring sosial

Proses pemasaran via jejaring sosial

Memangnya seberapa efektifkah penggunaan media jejaring sosial ? Sampai februari 2012, untuk media social twitter, Indonesia merupakan pengguna twitter terbanyak nomor 5 di dunia dengan jumlah akun akun 19,5 juta. Berada di posisi 4 adalah Inggris Raya dengan jumlah akun 23,8 juta. Jadi jangan heran kalau misalnya ada trending topic dunia yang menggunakan bahasa Indonesia (tapi semoga jangan bahaya alay). Jaman sekarang dengan akses internet yang makin mudah, tentunya untuk bertwitter akan sangat mudah, saya sendiripun tidak afdol kalau setiap hari tidak membuka twitter atau facebook.

Indonesia adalah pengguna twitter terbanyak nomor 5 dunia dengan jumlah akun 19,5 juta

Indonesia adalah pengguna twitter terbanyak nomor 5 dunia dengan jumlah akun 19,5 juta

Untuk media social facebook, berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2012 ini, total akun facebook Indonesia mencapai 43,06 juta orang. Itu menempatkan Indonesia menjadi pengguna facebook tertinggi ketiga di dunia. Ketika pemilik suatu usaha kecil memasarkan produknya melalui jejaring sosial, paling tidak mereka akan menginfokan produknya ke ratusan teman di jejaring sosialnya. Jika satu orang dapat menyampaikan pemasaran ke 200 orang teman, jika ada 10 orang yang men-share, maka pemasaran sudah dilakukan ke 2000 orang. Apalagi kalau misalnya customer yang telah membeli melakukan testimoni ke teman-temannya, itu merupakan kekuatan multi pemasaran yang berada di balik pemasaran via jejaring sosial.

Total akun facebook Indonesia mencapai 43,06 juta orang, tertinggi ke-3 dunia

Total akun facebook Indonesia mencapai 43,06 juta orang, tertinggi ke-3 dunia

Seberapa efektif penggunaan jejaring sosial untuk industri kecil itu bergantung usaha dari pengusaha yang bersangkutan. Jumlah friends atau follower merupakan unsur utama dalam pemasaran via jejaring sosial. Ini sama saja dengan penyanyi dan fans. Penyanyi tak akan sukses hanya dengan mengandalkan talenta belaka, nelainkan harus mempunyai basis massa dibelakangnya. Untuk itu pelaku pemasaran via jejaring sosial harus aktif dalam berjejaring sosial manapun untuk mendapat basis massa yang banyak. Unsur kreatifitas dalam penyusunan konten merupakan hal yang tak kalah penting. Apa gunanya fans banyak tapi suara penyanyi itu tidaklah merdu. Pemasaran via jejaring sosial haruslah bisa membuat orang ‘kepo’ agar mereka ingin melihat apa yang kita jajakan pada mereka. Pemasaran via jejaring sosial tidak seperti iklan televisi yang akan tetap menayangkan iklan kita walaupun iklannya kurang mengena. Kalau iklan TV paling tidak konsumen tahu apa produk kita walaupun mereka tak tertatik ingin membeli. Namun jika kita menayangkan konten membosankan via jejaring sosial maka pastinya konsumen malas untuk melihat dan bye-bye pelanggan. Disinilah harga yang harus kita bayar untuk pemasaran via jejaring sosial.

Jadi kesimpulannya adalah jejaring sosial merupakan media alternatif dalam mendapatkan hati konsumen dalam berbisnis terutama untuk industri kecil yang tidak memiliki modal untuk pemasaran via media profesional. Penggunaan jejaring sosial seperti facebook dan twitter harus kreatif dan inovativ agar konsumen memiliki rasa ingin tahu terhadap produk yang ingin kita jual. Selain itu pelaku industri kecil juga harus rajin dalam bersosial media agar memiliki banyak friends/follower sebagai basis target penjualan. Dan yang terpenting adalah jangan pernah ragu dan menyerah karena penggunaan media jejaring sosial tidak seperti menggunakan televisi yang langsung bisa menayangkan ke satu Indonesia. Media jejaring sosial hanyalah sebuah media, pelaku industri kecil tetap menjadi sang dalang dalam memajukan usahanya.

 

 

sumber

 

http://kamerabaru.blogspot.com/2012/09/harga-iklan-di-televisi-tv.html

http://pasangiklankompasposkota.com/

http://www.scribd.com/doc/97633811/Iklan-Di-TV-Beberapa-Hal-Yang-Menjadi-Pertimbangan-Pengelola-Televisi-Mematok-Biaya-Iklan-Tv-Di-Antaranya-Adalah

http://tgif-consulting.blogspot.com/2011/11/keripik-setan.html

http://www.tempo.co/read/news/2012/02/02/072381323/Indonesia-Pengguna-Twitter-Terbesar-Kelima-Dunia

http://www.antaranews.com/berita/317451/pengguna-facebook-di-indonesia-tertinggi-ketiga-dunia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: