Paradoks Kakek (PART II)

and the story goes. Press like if you like it.

Walaupun berat untuk melanggar sumpah dan membunuh, namun aku harus lakukan ini untuk dunia. Aku menggantik sepatu dan mengambil sebuah benda seperti pena. Sepatu ini adalah sepatu anti gravitasi, bukan untuk umum. Benda seperti pena ini adalah pistol dengan laser dan radiasi sebagai pelurunya, juga bukan untuk umum. Setelah bersiap aku berdiri di sebuah lingkaran. Mesin mulai dihidupkan. Wormhole mulai tercipta. Cahaya putih mulai menyelubungiku, membuatku tak tahu berada dimana. Inilah lorong ruang dan waktu begitu dingin dan hening. Well saatnya menjelajah waktu.

*

Cahaya putih mulai berpendar di sekelilingku. Bayangan dunia luar mulai terlukis kembali di depanku. Dalam waktu kurang dari 5 menit, aku sudah kembali menapak ke tanah. Tahun 3450 tidak jauh berbeda dengan tahun 3500. Yang terpenting dari perjalanan waktu adalah jangan sampai terlihat orang ketika sampai di tujuan. Tahun 3450, aku belum lahir. Usiaku baru 28 tahun sekarang. Well mesin waktu sudah lahir tahun ini which mean time traveller sebelumku sudah lahir.

Aku sampai di jalan kecil di samping sebuah gedung besar. Aku berjalan ke depan gedung itu. Sebuah rumah sakit. Ini pasti rumah sakit tempat kelahirannya. Suasana hening dengan bau khas rumah sakit langsung menyapaku ketika aku masuk ke rumah sakit itu. Aku masuk dengan wajah yakin agar tak dicurigai. Aku menuju ke kamar tempat inkubasi bayi yang baru lahir. Bayi-bayi berjejer bagaikan katalog barang di sebuah lorong. Aku memandangi bayi-bayi itu dari luar kaca. Mereka semua sama, tertidur dengan tampang tak berdosa.

Itu dia. Itu bayi yang aku cari-cari. Dia sedang tertidur. Wajahnya sangat lucu dan tanpa dosa. Who knows di masa depan dia akan menjadi seroang destroyer. Aku tak sanggup, benar-benar tak sanggup untuk menghabisi nyawa bayi seperti itu. Tak semua orang bisa menjadi pembunuh bukan ? Dan aku termasuk orang seperti itu. Namun ini tuntutan pekerjaan, aku harus profesional. Seluruh dunia bergantung kepadaku sekarang.

Sigh, sebelum sempat melangkah masuk, seorang suster sudah masuk terlebih dahulu dan membawa bayi itu. Sepertinya bayi itu akan dibawa pulang sekarang. Ah jangan bodoh, mana mungkin aku membunuh disini, di rumah sakit kan ada kamera pengintai. Aku harus lakukan ini secara diam-diam. Walaupun aku kebal hukum, bukan berarti bisa sembrono bukan ? Berarti sekarang aku harus menunggu sampai dia keluar bersama orang tuanya.

Sekitar 1,5 jam aku menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Sembari menunggu aku menghafalkan wajah orang tuanya yang kudapat dari database masa depan. Seorang time traveller memiliki akses penuh ke file-file top secret dan database manusia. Aku sudah tahu alamat dan wajah kedua orang tuanya. Saatnya menjalankan rencana.

Aku menaiki kapsul mobil menuju ke alamat yang aku tuju. Aku sampai di depan sebuah rumah standar manusia tahun 3450. Sebuah rumah yang bertingkat dua. Diatap rumah itu tertanam tumbuhan hijau yang merambat, berfungsi sebagai peneduh. Aku berhenti di depan pintu rumah dan mengeluarkan benda mirip pena. Selain sebagai laser, pena ini adalah kunci universal untuk membuka semua pintu rumah. Sebagai time traveller ini adalah benda wajib untuk bisa masuk ke tujuan tanpa perlu permisi. Aku masuk ke dalam rumah itu dan menunggu kedatangannya disini.

Setengah jam lebih aku menunggu. Sebuah suara terdengar dari lantai satu. Pasti mereka sudah sampai. Gemerisik dibawah terasa karena euforia mendapat momongan baru. Aku menunggu sampai bayi itu ditidurkan di kamarnya. Mereka sudah mempersiapkan kamar bayi yang lucu. Warna tembok yang warna warni lengkap dengan mainan dan kasur bayinya. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu tiba.

Aku keluar dari persembunyianku dan mengendap-endap ke kamar bayi itu. Aku tak boleh ketahuan, kalau ketahuan aku pasti dikira maling. Walaupun aku kebal hukum tetap saja judulnya gagal kalau sampai ketahuan dan harus mengakui jati diri di depan polisi dan orang tua si destroyer. Bayi itu sedang sendiri di kamar bayi yang bersebelahan dengan kamar utama. Aku menutup pintu kamar bayi itu dengan perlahan. Kedua orang tuanya sedang berada di ruang keluarga. Bayi itu sedang tertidur pulas di atas ranjang bayi.

Aku mengeluarkan pena ajaibku. Satu jentikan jari maka nyawanya akan menghilang dan misiku selesai. Namun begitu sulit melakukan ini. Bagaimanapun dia adalah bayi yang tidak bersalah sekarang. Penjahat macam apa yang tega melakukan hal keji seperti ini. Tanganku gemetar karena tak sanggup melakukan yang sudah menjadi kewajibanku. Pembunuh, pembunuh, pembunuh, kalimat itu menggema dibenakku. Pena yang kupegang terjatuh ke lantai.

Seketika bayi itu bangun. Ia kemudian melihatku dengan mata bulatnya. Betapa tak berdosa mata bayi itu, makin tak sanggup bagiku melakukannya. Ia tak menangis melainkan tertawa melihat wajah panikku. Tawanya begitu polos di wajah mungilnya. Aku tak bisa melakukan misi ini. Killing people is not exist in my dictionary. Aku menekan kupingku, menghubungi scientist yang berada di tahun 3500.

“Aku tak bisa melakukannya,” bisikku.

“Kenapa ? Kamu sudah berada di rumahnya kan ?”

“Ya dia sudah berada di hadapanku sekarang namun aku tak bisa. Aku tak bisa membunuh bayi yang tidak berdosa.”

“Lakukan sekarang. Pertahanan gedung ini sudah hampir hancur. Jika dia menghancurkan mesin waktu, maka kamu tak akan bisa kembali.”

“Siapa bilang, mesin waktu kan sudah ada tahun ini. Aku bisa kembali dengan mudah ke tahun 3500.”

“Dengar sebenarnya aku mau menggantikanmu berdiri disitu, namun tak bisa. Tak ada orang lain yang bisa menjelajah waktu selain dirimu. Hanya kamu yang bisa melakukan ini.”

“Tetap saja. Aku ini bukan pembunuh.”

“Lalu apa maumu sekarang ?”

“Aku juga tak tahu.”

“Aku mengerti perasaanmu. Aku akan bawa kamu ke tahun 3457 saat usianya 7 tahun. Ia sudah tidak bayi lagi. Jika kamu tak bisa membunuh bayi, mungkin kamu bisa membunuhnya ketika ia anak-anak.”

“Tetap saja aku tak bisa.”

“Lalu maumu bagaimana ?”

“Aku tahu apa maumu. Kamu hanya mau agar aku membunuh bayi itu agar kamu bisa mendapatkan jawaban akan paradoks itu kan ?”

“Bukan begitu….”

Aku mendengar suara ledakan yang amat kencang dari tahun 3500. Aku yakin itu bukanlah ledakan yang tidak berefek. Terdengar suara rintih ketakutan dari lawan bicaraku. Aku bisa membayangkan apa yang terjadi disana. Pastilah dia sudah berhasil menembus ke dalam gedung dan waktu yang tersisa tinggal beberapa menit lagi. Aku makin bingung harus berbuat apa.

“Apa yang terjadi ?”

Tak ada jawaban dari lawan bicaraku. Apakah mesin waktu sudah dihancurkan ? Tak mungkin secepat ini untuk menghancurkan mesin waktu. Aku mengarahkan kembali pena laserku ke bayi itu. Oh tidak, tolong jangan tatap aku dengan mata seperti itu. Aku tak bisa melakukan ini. Aku bukan dilahirkan untuk menjadi pembunuh. Terdengar suara samar dari lawan bicaraku di tahun 3500.

“Pertahanan kita hampir runtuh. Sudah tinggal sekali serangan nuklir maka habislah sudah.”

Aku mengurungkan niatku untuk mengasihi anak ini. Aku menarik nafas panjang dan mengarahkan pena laserku kepadanya. Aku meyakinkan diriku sendiri untuk bisa melakukan ini. Kuhilangkan getaran di tanganku. Bayi ini tidak menangis walaupun aku ingin membunuhnya. Well sebentar lagi jawaban akan paradoks kakek akan terungkap. Aku memejamkan mata dan menghitung dalam hati, 3,2….”

“Lemah.”

Sebuah kalimat melayang ke telingaku. Aku melihat ke sumber suara itu. Tak mungkin. Destroyer sudah berada di dalam ruangan ini. Ia tersenyum mencemoohku. Ia sudah berada dalam sosok dewasanya. Ia berdiri tepat dibelakangku. Bukankah pertahanan gedung belum jebol. Kenapa dia bisa berada di ruangan ini bersamaku. Ia berjalan pelan ke salah sudut ruangan, aku mengancamnya dengan pena laser itu mengacung ke arahnya..

“Kalau aku jadi dirimu, aku akan turunkan senjata murahan itu.”

Aku sudah mengerti tentang senjata-senjata mutakhir yang dimilikinya. Memang sangat ketinggalan jika aku harus berduel hanya dengan pena laserku. Aku menurunkan pena itu namun tetap menggenggamnya. Aku melayangkan pandangan bingung sambil menyipitkan mataku kepadanya. Terdengar suara lain dari tahun 3500.

“Pertahanan sudah hampir runtuh. Apa yang sedang kamu lakukan ? Sudahkah kamu menyelesaikan misimu.”

“Kamu pasti bingung bukan ? Menurutmu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menghancurkan pertahanan gedung itu ? JAWAB.”

“15 menit ?”

“It’s too fast. Give me one more guess.”

“30 menit ?”

“You right. Lalu setelah itu apa yang akan aku lakukan ?”

“Menghancurkan mesin waktu.”

“Salah. Kalau mesin waktu kuhancurkan, kamu pikir bagaimana bisa aku disini.”

“Jadi kamu datang dari waktu 30 menit dari waktu sekarang ? Kamu menggunakan mesin waktu untuk datang kemari ?”

“Benar. Sampai pertahanan runtuh dan aku mencapai mesin waktupun, kamu belum akan membunuh tubuh bayiku.”

“Kamu tak bisa pergi menjelajah waktu tanpa chip time traveller.”

“Chip itu sudah ada lama pada diriku, sekitar 1 tahun yang lalu.”

“Hah ?” aku melayangkan pandangan bingung kepadanya.

“Kamu mengambil chip dari time traveller yang lain untuk kamu tanamkan pada dirimu ?”

“Tidak. Chip time traveler yang ada pada tubuhku ini sama dengan chip yang ada pada dirimu ?”

“Aku tak mengerti,” kataku yang makin bingung dengan pernyataannya.

“Satu tahun yang lalu seseorang mendatangiku dan memberiku chip ini untuk ditanamkan kepadaku.”

“Seseorang, siapa dia ?”

“Dia adalah diriku sendiri yang datang dari tahun 3500. Dia baru saja membunuh seorang time traveller dan mengambil chip yang tertanam pada diri time traveller itu.”

“Dan time traveller itu adalah…, aku ?” tanyaku dengan mata melotot.

Jadi dia satu tahun lalu pernah didatangi dirinya sendiri dari masa depan, tepatnya dari hari ini. Dia di masa depan itu baru saja membunuh time traveller untuk mengambil chipnya. Chip tersebut kemudian ditanam di dalam tubuhnya. Berarti untuk membuat skenario tersebut kenyataan, ia akan membunuhku sekarang dan mengambil chipku.

“Kurasa kamu mengerti apa maksudku.”

“Bagaimana jika kamu tak berhasil membunuhku. Bisa saja aku menghunus laserku ke tubuh bayimu sekarang.”

“Kamu berpikir akan menciptakan paradoks kakek bukan ? Paradoks kakek hanyalah sebuah kebohongan scientist belaka. Apa yang sudah terjadi di masa depan adalah hasil dari masa lalu. Seorang cucu kembali ke masa lalu untuk membunuh kakeknya. Itu adalah cerita terkonyol yang pernah aku dengar. Jikalau sang cucu berhasil kembali ke masa lalu, dia tak akan berhasil membunuh kakeknya bagaimanapun caranya karena sang cucu bisa hidup di masa depan. Sang cucu hidup karena lahir dari ibunya dan ibunya lahrir dari kakeknya bukan ? Kenapa aku masih hidup sekarang ? Karena kamu tak berhasil membunuhku. Bagaimanapun kamu tak akan berhasil membunuhku di masa lalu karena aku masih hidup di masa depan. Do you understand ?”

“Mengapa kamu bisa menjawab seperti itu ? Apa dasar atas jawabanmu ?”

“Kamu pikir time traveller tahu semuanya ? Ada database yang dikunci dari kuasa aksesmu yaitu database scientist. Banyak jawaban dari paradoks atau fenomena alam yang selama ini kamu kira masih misteri. Paradoks kakek ini sengaja di sembunyikan darimu agar kamu berhati-hati dalam tugasmu.”

“Database scientist ?” jadi ternyata masih ada informasi yang tak bisa kuakses. Ternyata legitimasi sebagai time traveller tak cukup untuk mengetahui informasi dunia seutuhnya.

“Iya. Dan sekarang kemanapun kamu akan belari, kamu pasti akan mati ditanganku karena masa depan mengatakan hal demikian. Chip yang tertanam di tubuhku ini adalah bukti dari perkataanku. There’s no such thing like grandfather paradoks. Anggap saja informasi tadi adalah hadiah perpisahan dariku.”

Secepat kilat ia mengeluarkan senjata pembunuhnya. Aku melakukan hal yang sama untuk mempertahankan diriku, namun aku kalah cepat. Sebuah cahaya hijau dan cahaya merah bertempur di udara. Senjataku kalah darinya. Nampaknya aku memang harus mematuhi masa depan dimana aku harus terbunuh dan dia akan mengambil chipku. Hubungan sebab akibat. Dia ada dimasa depan dan punya chipku karena dia berhasil membunuhku dan mengambil chipku. Tak ada yang namanya paradoks kakek.

*

EPILOG : Tahun 3700 M

Dunia telah kembali damai, tak ada kekacauan atau ledakan. Keseimbangan dunia telah kembali. Teknologi masih menjadi budak umat manusia. Tumbuhan hijau yang asri menyibak udara segar ke lingkungan. Air jernih mengalir di sungai-sungai yang bersih. Gedung metal berdiri kokoh tanpa emisi. Dunia telah menunjukkan titik terindahnya kembali.

Scientist baru itu sedang menikmati salah satu keuntungan atas pekerjaanya. Menjadi seorang scientist berarti menjadi orang kasta nomor 1 untuk bank data informasi dari lingkup tahun sebelum masehi sampai detik ini. Ia memejamkan matanya dan melihat ke peristiwa dunia yang selama ini disembunyikan dari publik umum.

Letusan supervolkano sebelum masehi, asteroid yang pernah jatuh ke bumi, peradaban tahun 2000an yang begitu berantakanan, sebuah kejadian yang memusnahkan 70 % penduduk dunia, dan tahun dimana dunia porak poranda dan satu mesin waktu dihancurkan akibat kehadiran destroyer. Sang scientuist itu berfokus ke akhir dari peristiwa yang dikenal sebagai destroyer year itu. Akhir yang membawa dunia kembali ke dalam fasa kedamaian.

Destroyer sedang berada di sebuah ruangan berdindingkan metal, memikirkan kejayaan yang telah diraihnya. Dunia sedang berada di genggamannya. Tak ada satu teknologi dan manusia pun yang tak tunduk kepadanya. Bahkan dia menjadi satu-satunya time travller yang menguasai mesin waktu. He is the king of the world. Kala itu dia dikagetkan dengan kedatangan seorang pria yang tak dikenalnya.

Siapa dirimu ?” tanya destroyer.

“Aku adalah time traveller tahun 3612 masehi. Aku datang untuk mengambil chip time travellermu.”

“Kamu pikir kamu siapa bisa seenaknya mengambil chipku ?”

“Kamu tak bisa mengelak lagi. Chip time traveller yang ada pada diriku sama dengan yang ada pada dirimu.”

“Maksudmu ?”

“Aku datang ke tahun ini untuk membunuhmu dan mengambil chipku. Aku akan membawa chip ini ke hari upacara pengangkatanku sebagai time traveler. Selain itu aku melakukan ini dalam misi perdamaian dunia. Kamu sudah terlalu banyak merusak keseimbangan dan tatanan dunia.”

“Kamu tak akan bisa membunuhku.”

“Kamu tak akan bisa lari karena masa depan mengatakan kamu akan terbunuh hari ini dan aku akan mengambil chipmu. Jangan berpikir untuk menciptakan paradoks kakek karena tak ada yang namanya paradoks kakek.”

Advertisements

One comment on “Paradoks Kakek (PART II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s