Misteri Dibalik Pintu

Happy new year 2013. Terima kasih ya Allah, Engka masih mempertemukanku dengan tahun ini. I’m sure tahun ini akan lebih baik dari tahun 2012. Aku yakin akan banyak perubahan dalam hal positif yang terjadi di tahun 2013 ini kepadaku. Ada satu resolusi besar yang ingin aku wujudkan di tahun ini. What is that ? Later i’ll tell you if i have done it. Inspirasi sedang tidak benar, jangan kecewa dengan ending cerpen ini ya.

Sudah 1 tahun aku menetap di kos-kosan ini, namun sebuah tanya terbenak jelas di otakku. Ruangan itu ? Apa isi ruangan itu. Perlahan aku mendekati ruangan itu, memastikan tak ada yang mengintipku. Pemilik kos-kosan melarang semua penghuninya untuk mendekati ruangan itu. Pintu tralis yang terletak di tengah tangga menjadi penghalang pertama untuk mencapai ruangan. Makin dilarang dan disembunyikan ya makin penasaran, ditambah sifatku yang kepo-an. Akhirnya pintu putih itu berdiri tepat di depanku. Pintu yang terletak di lantai paling atas menyembunyikan sebuak ruangan yang cukup misterius. Debar jantung makin kencang, bercampur antara takut dan excited.

Perlahan aku membuka gagang pintu itu, namun terkunci. Aku sudah menduga kalau pintu ini dikunci. Sebuah  kunci ada ditanganku. Aku mendapatkannya setelah menduplikat dari kunci asli bergantungan kunci etnik. Dari gantungan kuncinya saja sudah etnik seperti itu. Well kunci pintu itu aku temukan, atau tepatnya aku ambil secara diam-diam dari penjaga kos. Ceklek. Kuncinya pas. Aku membuka pintu itu secara perlahan.

*

Semua berawal dari aku menginjakkan kaki di kosan ini. Kampusku yang jauh dari tanah kelahiran membuatku harus merantau ke pulau seberang. Kos-kosanku adalah kos bertipe lorong dengan kamar berjejer. Ada tiga lantai di sini, satu lantai terdiri dari kurang lebih 8 kamar. Tiap lantai memiliki 3 kamar mandi yang berfungsi dengan baik. Yang disayangkan adalah tak semua penghuni kos kenal satu sama lain. Namun so far aku enjoy tinggal di kos-kosan ini.

Ibu kos tinggal di rumah induk di sebelah kos-kosan. Harus aku akui, ia kelewat baik untuk ukuran ibu kos. Terkadang ia membagikan kue gratis atau sarapan gratis untuk anak kos. Kalau anak kos ada yang sakit, langsung diantar ke dokter tanpa neko-neko. Ibu kos memang sudah tua, kedua anaknya yang semua wanita sudah pergi keluar kota mengikuti suaminya. Yah dia menjadi figur ibu untuk semua anak kos. Kami semua memanggilnya mak kos.

Selain mak kos ada penjaga kos yang tinggal di lantai tiga. Kalau yang ini tugasnya bersih-bersih kos dan mengawasi keamanan kos. Dia bernama ujang, usianya sudah sekitar 40 tahunan, masih lebih muda 10 tahunan dari mak kos. Mang Ujang adalah orang yang…, sulit untuk menjelaskannya. Terkadang dia baik dan ramah namun ada waktu tertentu dia galak. Yah anak-anak kos disini menganggapnya lagi PMS kalau misalnya ia sedang galak.

Semua berjalan baik-baik saja sampai aku menyadari ada sesuatu yang janggal di kos-kosan ini. Sebuah tangga ada di ujung lorong lantai tiga. Dari kamarku yang terletak di lantai dua, aku bisa melihat dengan jelas kalau ada jalan keatas, menuju ke lantai 4. Kemana jalan itu ? Sewaktu aku melihat kos-kosan ini, aku ingat sekali kalau mak kos bilang kalau disini hanya ada 3 lantai yang diperuntukkan untuk kos-kosan. Kalau di lihat dari luar, ada tembok yang mungkin muat untuk 1-2 kamar di lantai 4. Lumayan kan kalau misalnya disewakan. Anehnya tak ada konstruksi jendela di tembok itu, hanya tangga di ujung lorong lantai 3 yang menjadi jalan masuk ke tembok itu. Aku jadi makin penasaran, apa sebenarnya itu.

Teman-teman satu kos tak ada yang tahu apa itu dan kemana tangga itu. Mereka juga penasaran apa sebenarnya yang berada di lantai 4. Mereka pernah bertanya ke ibu kos namun jawaban ibu kos tak bisa membuat mereka puas. Kenapa emang tidak puas ? Later i tell you.. Aku pernah bertanya kepada mang Ujang, kemana tangga itu ? Mang ujang langsung PMS ketika ditanya itu. Oke, aku tak bertanya lagi kepadanya. Aku bertanya kepada ibu kos. Beliau hanya menjawab kalau itu gudang, jawaban yang sama ke anak-anak. Namun kenapa mang ujang tak mau bilang itu gudang ? Ah jadi makin kepo.

Aku pernah menaiki tangga itu, namun langkahku terhenti di depan pintu tralis hitam. Tulisan ‘dilarang naik’ menempel di tralis. Di ujung tangga ada lorong kecil yang mengarahkan ke sebuah pintu. Kalau hanya gudang kenapa harus ditralis dan ditulis dilarang naik segala ? Kamar yang terletak di bawah lantai 4 itu sengaja tak disewakan, khusus untuk kamar mang ujang.  Apa yang ada di balik pintu itu ? Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Satu hal yang makin membuatku kepo adalah jika sudah malam purnama. Aku selalu mengintip ke arah tangga jika malam sedang purnama. Pak Ujang naik ke ruangan lantai 4 melalui tangga itu. Ia membawa sebuah bungkusan kresek hitam yang lumayan besar. Tak lama kemudian mak kos juga naik dengan membawa bungkusan yang lain. Setelah kurang lebih 1 jam mang ujang turun sedangkan mak kos tetap di atas selama semalaman. Sesekali mang uijang naik ke kamar itu. Hal ini rutin dilakukan hanya ketika purnama saja.

Keesokan harinya, ketika matahari telah terbit, biasanya mang Ujang PMS. Memangnya kenapa sih ? Apa sebenarnya yang merusak moodnya sampai dia kesal sendiri seperti itu ? Sudah 3 kali aku terjaga di malam purnama untuk menunggu kapan mak kos turun dari lantai 4. Dia turun tepat ketika kokok ayam pertama terdengar. Mang ujang juga keluar dengan tubuh penuh noda merah di bajunya. Noda apa itu ? Apakah itu darah ? Aku makin bertanya-tanya dalam hati. Aku pernah menyindir ibu kos mengenai kejadian ini. Beliau hanya menanggapi dengan kalimat ‘kami sedang berberes-beres gudang.”

Ketika malam purnama terakhir, aku memutuskan untuk memerogoki ibu kos yang ingin naik ke lantai 4 sembari membawa bungkusan hitam itu. Aku pura-pura bertanya sembari mencuri-curi kesempatan untuk mengintip apa isi kresek hitam itu.

“Mau beresin gudang bu ?”

“Eee, iya.”

“Mau saya bantuin bu ?”

“Nggak usah. Biar saya sama mang ujang aja. Kamu mending istirahat aja. Besok kamu kuliah kan ?”

“Nggak apa-apa bu. Besok saya kuliahnya masuk siang. Mari sini saya bantu bawakan.”

Aku langsung meminta kresek yang mak kos bawa untuk aku bawakan. Mak kos bersikeras untuk tetap melakukannya tanpaku. Ih bikin makin kepo aja sih. Mang Ujang turun dari tangga dan menghampiriku dan mak kos.

“Mau apa kamu ?” kata mang ujang sangar.

“Mau ngebantuin ngebersihin gudang,” jawabku.

“Nggak perlu. Udah sana masuk ke kamar dan belajar.”

“Tapi pak, niat saya bener-bener ikhlas mau ngebantuin ngebersihin gudang,” padahal dalam hati ada niatan lebih yaitu untuk tahu apa yang ada di ruangan itu.

“Udah sana. Biar saya yang bersihin. Kamu ini….”

Pak Ujang sudah memasang wajah sangar. Aku takut dengan pak ujang kalau sudah seperti itu. Akhirnya kandas sudah kesempatan purnama kali ini untuk tahu isi gudang dengan dalih membantu bersih-bersih. Masih ada kesempatan besok untuk memergoki mang ujang yang turun dengan penuh noda merah. Aku menunggu keesokan harinya sampai senja hampir terbit.

“Pak, itu noda apa ?” tanyaku seakan tak pernah melihat ia dalam kondisi ini sebelumnya.

“Ini cat.”

“Cat ? Bapak baru ngecat gudang ?”

“Iya.”

“Temboknya bapak cat merah ?”

“Memangnya kenapa ? Tidak boleh ?” mang ujang mulai mengluarkan sikap kasarnya.

Hah aneh juga ngecat tembok dengan warna merah. Biasanya kan cat tembok warnanya putih atau cream, masa sih merah darah. Lagipula ia sama sekali tak mengeluarkan bau cat. Biasanya kan cat baunya menyengat. Jawaban itu sama sekali tak membuatku puas. Satu-satunya hal yang bisa menghapus kepoku adalah dengan mengintip ruangan itu.

Dan sekarang aku sudah didepan ambang pintu untuk menjawab rasa penasaran ini. Malam ini bukan purnama, aku tak tahu apakah sesuatu yang akan aku temukan di dalam kamar ini akan sama jika purnama. Well setidaknya ada bekas atau petunjuk yang bisa menjawab ritual purnama yang mak kos dan mang ujang lakukan.

Tentunya aku juga sudah mempunyai hipotesis sendiri mengenai misteri dibalik pintu yang akan kubuka ini. Teori yang paling pas untuk ini adalah ibu kos memelihara sesuatu seperti manusia serigala yang hanya aktif di malam purnama. Manusia serigala itu butuh makanan darah segar agar tidak mengamuk dan mencari mangsa diluar kamar. Kantung kresek itu adalah botol yang berisi darah untuk makanan manusia serigala. Yang memberi makan adalah mang ujang, oleh karena itu mang ujang selalu keluar dengan noda merah dibajunya.

Teori yang pertama itu memang terlihat mustahil. Manusia serigala ? Bahkan aku tak tahu apakah makhluk dalam negeri dongeng itu sebenarnya ada atau tidak. Jadi aku juga memikirkan teori lainnya. Mungkin mak kos menganut semacam ilmu hitam atau pesugihan dimana ritualnya dilakukan setiap purnama. Dan kersek itu berisi botol darah manusia yang digunakan sebagai sesembahan. Ya, inilah teori yang paling masuk akal.

Dari kedua teori itu, berarti yang seharusnya ada dibalik pintu ini adalah anak manusia yang sebenarnya manusia serigala atau perlengkapan dupa untuk pesugihan. Apapun isinya itu, sebentar lagi akan aku ketahui. Aku membuka pintu kamar tersebut. Derit kecil terdengar memecah keheningan. Kamar gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Kamar cukup pengap dengan bau melati yang membuatku merinding. Atmosfir kamar ini berbeda. Jantungku berdebar kencang saat aku mencari tombol lampu.

Aku terus melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap sambil meraba dinding, mencari dimana tombol lampunya. Ada lampunya tidak sih, kok tidak ketemu-ketemu saklar untuk menyalakannya. Aku melangkah masuk ke dalam kamar itu. Brak. Seketika pintu kamar tertutup secara tiba-tiba. Aku terkurung dalam kegelapan. Jantungku berdebar disertai keringat yang mengalir deras dari tubuhku. Aku berjalan kearah pintu yang tertutup. Terkunci. Kunci tadi kutinggalkan diluar pintu. Siapapun yang menutup pintu pasti menggunakan kunci itu untuk mengunci kamar ini. Ah bodoh sekali aku, harusnya kunci itu aku ambil tadi.

“Buka, buka, ada orang didalam,” kataku sambil menggedor-gedor pintu.

Aku berteriak, namun tak ada respon. Aku berbali, bulu kudukku berdiri, takut kalau misalnya ada sesuatu yang muncul dihadapanku dan yang pasti sesuatu itu adalah hal yang tidak menyenangkan. Bisa mbak kunti, mas pocong, atau tante sundel atau…, ah jangan makin memperburuk suasana dengan pikiran yang tidak-tidak deh.

“Halo, ada orang di dalam kamar ?”

Tak ada jawaban, sepertinya aku sendiri di kamar ini. Aku meraba-raba dan berjalan kedepan. Lantai dan dinding kamar dilapisi karpet. Apakah karpet ini peredam suara ? Kalau iya berarti seberapa keraspun aku berteriak, tak akan ada yang mendengar. Merinding setengah mati. Aku menabrak sesuatu yang keras. Ini pasti meja. Meja ini dilapisi taplak. Aku meraba sesuatu yang ada di atas meja ini, sebuah kotak. Aku mengocok kotak itu, ada bunyi gemercik air. Apakah ini cairan merah itu aka darah ? Hiii, aku meletakkan kotak itu.

Dimeja itu masih ada benda lain. Sesuatu yang berambut. Aku mengangkat benda berambut itu. Lumayan berat juga. Tekstur yang tidak berambut ini kenyal seperti kulit manusia. Ada mata, hidung, dan telinga. Suhunya agak dingin. Ini… kepala manusia. Hiii, aku melempar benda itu ke samping. Bulu kudukku makin merinding. Aku berjalan mundur karena kaget dengan kepala itu.

Aku terjatuh, tersandung sesuatu yang ada di lantai. Aku meraba benda yang menyadungku ini. Hiii apa ini ? Seperti cawan yang terbuat dari kayu. Ada kurang lebih 5 cawan disini. Isinya kosong. Jangan-jangan ini cawan untuk pesugihan lagi. Hiii, aku segera berdiri dan meraba ke sisi lain kamar. Siapa tahu ada senter atau lilin atau saklar kamar atau…, telepon. Ya kalau ada telepon aku bisa menelpon teman kosku yang aku hafal nomornya.

Aku menuju berjalan ke satu arah sampai akhirnya menyentuh dinding. Aku terus berjalan di sisi dinding. Langkahku terhenti ketika aku meraba sesuatu yang aneh. Bentuknya seperti kepala hewan lengkap dengan telinga, hidung dan mata. Ada bulu yang tumbuh di benda ini. Ada taringnya juga. Seperti kepala hewan anjing yang sedang terbuka. Hiii, jangan-jangan ini serigala. Tapi benda ini sejajar dengan kepalaku, mana bisa hewan anjing atau serigala berdiri sampai sejajar denganku.

Seketika mulut binatang itu tertutup. Aku menarik tanganku dari benda itu. Aku mundur dengan cepat. Apapun itu, ia bergerak dan berarti dia bukan sekedar pajangan. Jangan-jangan manusia serigala. Aku bergerak dalam kegelapan menuju ke pintu. Apapun ruangan ini, yang jelas ini bukan ruangan biasa.

Aku berlari kearah pintu, berdasarkan naluriku. BRAK. Aku menabrak banyak beda yang sepertinya terbuat dari kayu. Ah masa bodoh benda apa ini, yang penting aku harus keluar dari ruangan aneh ini. Akhirnya aku menemukan gagang pintu.

“Buka-buka,” aku menggedor-gedor pintu.

Tak ada yang membukakan pintu. Pastilah karpet ini meredam suaraku. Bulu kudukku merinding saat aku menengok kebelakang. Rasanya tadi aku melihat sesuatu yang berjalan sangat cepat, sesuatu yang berwarna putih. Hiii, aku langsung berbalik menghadap kepintu. Aku mengumpulkan tenaga dan keberanian. Aku bersiap melakukan sebuah tendangan untuk menghancurkan pintu. Satu dua tiga.

BUG. Tendangan itu tak melesat ke pintu, melainkan ke perut mang ujang yang dengan sangat tepat membuka pintu dikala aku menendang. Mang ujang langsung terpental ke belakang karena tendanganku. Aduuuh, kenapa malah dibuka disaat yang tidak tepat. Aku langsung menolong mang ujang yang meringis kesakitan. Haduh semoga nggak sampe muntah darah deh. Mang Ujang berdiri sambil memegangi perutnya. Tampangnya langsung berubah galak, seperti penjaga pintu neraka saja.

“Ngapain sih kamu di dalam ?”

“Saya…., saya…,” aku bingung mau bilang apa.

“Tadi saya lihat pintunya terbuka, jadi saya tutup dan kunci saja. Saya tidak tahu kalau ada kamu di dalam. Saya baru sadar ketika mendapati kunci kamar ini bukan punya saya, karena tak ada gantungannya. Ini kunci punya kamu ?”

“Iya.”

“Kamu dapat darimana ?”

“Saya menduplikat punya bapak.”

“APA ? Lancang sekali kamu.”

“Habis saya penasaran pak. Tak mungkin membereskan gudang hanya saat bulan purnama saja. Apalagi bapak keluar dengan noda merah. Dan saya yakin di dalam bukan gudang.”

“Itu bukan urusan kamu.”

“Udah kasih tahu aja,” mak kos datang menghampiri kami berdua.

“Udah kepalang basah. Kalau misalnya nggak dikasih tahu nanti malah makin mikir yang enggak-enggak. Tapi dengan satu syarat. Kamu nggak boleh bilang ke penghuni kos yang lain. Janji ?”

“Janji bu.”

Mak kos menggandeng tanganku masuk ke dalam kamar gelap itu. Yes, aku akan tahu apa misteri kamar ini. Apakah pesugihan atau manusia serigala ? Mak kos mencari-cari saklar lampu yang terletak cukup tinggi dari biasanya. Ceklek, lampu menyala. Aku yang excited langung facepalm saat melihat isi kamar ini.

Ini tak lebih dari kamar biasa. Sebuah kamar dengan karpet merah di dinding dan lantainya. Ada dua buah meja, kursi kayu, lemari kayu dan beberapa kanvas. Tak ada jendela memang, namun ada ventilasi dan pendingin ruangan yang tak aktif. Aku menuju ke kepala manusia yang tadi aku lempar. Kepala manusia yang aku pegang tadi ternyata hanya patung kepala. Kulitnya memang terbuat dari bahan karet yang terasa seperti kulit manusia. Cawan-cawan tadi adalah cawan kayu biasa, masih tak tahu untuk apa. Dan kepala serigala tadi adalah pajangan yang ditempel di dinding rumah. Namun tetap saja aku masih ada beberapa pertanyaan.

“Ini kamar apa sih bu ?” aku berbalik dan mendekati ibu kos.

“Ini galeri ibu. Ini tempat ibu melukis. Melukis adalah hobi ibu.”

Mak kos menuju ke sebuah sudut kamar. Di sudut itu ada sebuah tumpukan yang ditutupi oleh kain hitam. Mak kos menyibak kain itu. Isinya adalah lukisan-lukisan yang sudah dibuat oleh mak kos. Bagus tidak, jelek juga iya, namun tak enak berkomentar seperti itu ke lukisan mak kos. Oh jadi kanvas, sandaran, serta kursi itu adalah perlengkapan mak kos untuk melukis.

“Kenapa Cuma melukis pas bulan purnama ?”

“Habis cuma pas bulan purnama mak kos punya inspirasi.”

“Terus kresek yang dibawa sama mang ujang ?”

“Itu isinya palet, kuas, cat, kanvas, dan lain-lain.”

“Cawan itu buat apa ?”

“Itu buat naro air kalau lagi ngecat. Kenapa pake cawan unik kayak gitu, biar makin terinspirasi aja.”

“Kenapa harus dikasih peredam suara sih bu ?” kataku menunjuk karpet yang menutupi seluruh ruangan.

“Biar sunyi. Kalau berisik inspirasi ibu buyar.”

“Kalau kepala manusia itu ?”

“Ibu terakhir kali sedang melukis manusia. Nah butuh contoh untuk bisa jadi bagus.”

Aku menuju ke patung kepala serigala yang menempel didinding. Mulut serigala itu menganga, tadi aku yakin sekali ini menutup ketika aku pegang. Sret. Ada percikan air yang keluar dari mulut serigala itu. Percikan itu wangi, wangi bunga melati. Jadi wangi ini berasal dari serigala pajangan ini. Aku meletakkan tanganku di dekat mulut serigala pajangan.

“Hati-hati, Kalau mulutnya dipegang dia bakal nutup sendiri. Itu pengharum ruangan plus pajangan berbentuk kepala serigala yang ibu beli di toko barang antik. Itu barang langka loh.”

Aku berbalik karena penasaranku sudah terjawab. Mak kos memandangku, mengharapkan pertanyaan lain yang bisa membuatku makin puas.

“Oh ya, kamar ini tak ada jendelanya. Bagaimana bisa melihat bulan untuk mendapat inspirasi ?”

“Yah ibu juga nggak tahu. Mood ibu baru ada kalau lagi malam purnama. Dilihat dikit langsung bawannya pingin ngelukis. Yang penting pas ngelukis ada purnamanya walau nggak kelihatan.”

“Kenapa yang belepotan merah Cuma mang ujang ?”

“Soalnya ciri khas ibu adalah menamai lukisan dengan tinta merah muda. Nah untuk mendapat merah muda harus dioplos antara warna merah dengan putih. Yang mengoplos itu mang ujang, jadinya dia yang kena warna merah. Gimana, ada lagi yang mau kamu tanyakan ?”

“kenapa ibu nggak ngasih tahu aja hal ini ke semuanya ? Kenapa ibu mesti bilang bersihin gudang ?”
“Habis ibu malu. Udah tua kok masih doyan ngelukis nggak jelas.”

Oh jadi begitu, masuk akal juga sih semua alasannya. Dasar nenek-nenek, ada saja kelakukannya, bikin penasaran anak muda. Well seperti inilah kalau misalnya aku terlalu berkonspirasi. Apa yang dilihat dalam kegelapan, pasti akan berbeda jika dilihat dalam kondisi terang. Ini sama saja dengan mempercayai sebuah fakta yang bersubjek katanya. (contoh Katanya tanggal 21 Des kiamat loh). Well jangan terlalu suka percaya atau berasumsi tanpa fakta dan data yang cukup. Aku turun ke kamar dengan nafas lega. Huaaah, aku tahu fakta yang anak kos lain tidak ketahui. Sudah menjadi sifatku yang ingin tahu dan ketika sudah tahu jadi merasa paling tahu.

Sementara di lantai dua mang ujang dan mak kos berbincang sembari melihat ke arah kamarku.

“Untung dia percaya akal-akalanku,” kata mak kos.

“Mak kos memang paling pintar mengarang.”

“Untung dia tak bertanya apa yang ada dibalik lemari itu.”

* Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s