Blinded

i’m 22 years old now. Waktu berjalan cepat. So scared of being older, coz i’m only good at being young. Kalau mendengar potongan lagu John Mayer ini, pasti membuat gw takut untuk berulang tahun. Semoga di usia 22 ini, gw bisa meraih satu mimpi gw yang sudah menjadi resolusi tahun ini. One thing that miss today is my mom’s cooking. Hew macet mengurung gw tetap di cilegon. Anyway, thanks ya Allah sudah memberiku kesempatan untuk melihat dunia selama 22 tahun. Semoga usia 22 membawa berkah. Amin.

enjoy…. Baca cerpennya sambil denger lagu galau melow ya.

Awalnya hubunganku dengan suamiku begitu indah. Kami bagaikan adam dan hawa, dua pasang manusia yang sudah pasti ditakdirkan bersama. Namun, kejadian itu bagaikan tuba yang tumpah ke danau, memudarkan cintaku padanya.

Suamiku adalah seorang pemilik restoran sedangkan aku adalah seorang arsitek. Suamiku tidak memiliki jam kerja pasti karena dia hanya menjalankan fungsi kontrol di restorannya. Jam kerjaku terkadang lebih menyita waktu dibandingkan suamiku. Dari segi ekonomi, aku dan suamiku tidak memiliki masalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kami tinggal di rumah yang besar dan memiliki dua buah mobil.

Setelah beberapa bulan kami menjalani bahtera rumah tangga, aku menyadari kalau aku bukanlah satu-satunya dihatinya. Kejanggalan dalam sikapnya membuatku berpikir demikian. Aku curiga dan menyelidikinya sampai aku mengetahui kalau ada duri di pernikahan kami. Janji setia telah dilanggar. Memang, dimana-mana pria selalu sama, berengs*k. Aku kecewa dan menginginkan perceraian. Ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku terima permintaan maaf itu karena saat itu aku sedang mengandung buah pernikahanku dengannya.

Anak pertama kami lahir. Dia sangat cantik, mirip denganku. Anak itu kami beri nama mutiara karena kulitnya yang putih mulus. Kupikir kehadiran mutiara bisa membuatnya lebih dewasa dalam mengarungi hidup bersamaku, namun ia mengulangi kesalahannya lagi. Lagi-lagi ia terjatuh ke dalam jurang yang sama. Apa sebenarnya kesalahanku kepadanya ? Aku sudah menjadi isteri yang diharapkannya. Belum genap 2 tahun usia Mutiara, aku sudah hendak mengajukan cerai kepadanya. Panas rasanya hati ini jika melihatnya melakukan pengkhianatan cinta yang sama kepadaku.

Malam itu suamiku menjemputku sepulang kerja. Aku baru saja mempresentasikan proyek besar bagi karirku. Suamiku minta maaf dan memintaku mengurungkan niat untuk menceraikannya. Tidak. Bagiku sudah mantap untuk berpisah dengannya. Cerai adalah harga mati. Pertikaian keras terjadi. Masing-masing dari kami tak ada yang mau mengalah. Sebuah kesalahan membiarkan pertengkaran terjadi di dalam mobil. Suamiku kehilangan konsentrasi atas kemudinya dan kami mengalami kecelakaan.

Ketika aku sadar dari kecelakaan tersebut, hal pertama yang aku sadari adalah duniaku gelap. Semua geometri dan warna hanya direpresentasikan dengan ruang hitam pekat. Tuhan mengambil indera penglihatanku. Sulit untuk menerima kenyataan ini. Seorang arsitek kehilangan matanya sama saja dengan penyanyi yang kehilangan pita suaranya. Karirku tamat. Sekarang aku hidup dalam kebencian terhadap suamiku. Aku menyalahkannya untuk kejadian ini. Karenanya aku tak bisa berkarir lagi. Kebutaan bukan alasan untuk berubah pikiran dalam bercerai. Ia bersujud di depanku agar aku mengurungkan niat. Dia menyesal dan berjanji akan terus merawatku. Untuk kedua kalinya aku menerima permintaan maafnya. Alasan terkuatku untuk menerima permintaan maafnya adalah karena Mutiara. Ia baru berusia 2 tahun dan masih butuh kasih sayangku sebagai seorang ibu.

Satu hal yang berubah setelah kecelakaan yang merenggut mataku satu tahun lalu itu adalah sikap suamiku kepadaku. Ia menjadi orang yang penyabar dan mau melayani semua permintaanku. Walaupun aku menggaji suster untuk melayaniku dan Mutiara, tetap saja suamiku yang aku suruh-suruh. Dendam ini membuatku tega melakukannya. Terkadang dimalam hari aku memintanya untuk membuatkanku makan atau mengambilkan air. Jika Mutiara menangis di malam hari, aku selalu menyuruh suamiku untuk menenangkannya. Kemanapun aku pergi, suamiku selalu mengantar. Mungkin itu dia lakukan untuk membayar rasa bersalahnya, menjadikanku bagai seorang ratu.

Aroma kopi yang harum menyadarkanku dari lelapnya tidur. Setiap pagi suamiku selalu membuatkan kopi untukku. Mentari pagi menyapaku dari kegelapan abadi yang terpancar dari mataku. Aku menuju ke meja rias tempat biasa aku menikmati kopi pagiku. Suamiku berdiri di sampingku, sedang bersiap untuk pergi kerja.

“Aku punya kabar baik untukmu sayang. Kamu akan bisa melihat lagi.”

“Apa ?” aku terkejut karena berita gembira ini terlalu mendadak.

“Selama satu tahun ini aku berusaha mencari pendonor mata dan aku berhasil. Sebentar lagi kamu akan mempunyai bola mata baru sayang.”

“Benarkah itu? Namun bukan kamu kan yang akan mendonorkan mata ? Kamu tak perlu sok pahlawan. Aku tak mau punya suami buta. Jijik aku.”

“Tentu saja tidak. Pendonor ini telah setuju untuk mendonorkan matanya setelah ia meninggal dan dia meninggal minggu kemarin.”

“Bukankah biaya operasi ini mahal ? Memangnya kita punya uang ?”

“Kamu tak perlu mempermasalahkan biayanya. Aku sudah mengumpulkan uang untuk operasi ini. Kamu harus ke dokter hari ini untuk berkonsultasi.”

“Baiklah. Namun kutekankan lagi, pendonor ini bukan kamu yang sok pahlawan kepadaku kan ? Aku bersumpah akan langsung menceraikanmu jika ketika nanti aku membuka mata dan mendapati kamu buta.”

“Sudah aku bilang bukan aku pendonornya, kamu bisa pastikan hal ini ke dokter nanti. Aku sudah menghubungi ibumu untuk menemanimu ke dokter hari ini.”

*

Makan malam yang hening. Hanya suara denting sendok dan garpu yang menjadi gambaran di benakku. Ibu sudah pulang, hanya ada aku dan suamiku di meja makan. Aku meraih sendok di depanku untuk mengambil lauk. Tangan suamiku menuntunku untuk mengambil lauk itu dan meletakkannya di piringku.

“Bagaimana, tadi sudah ke dokter ? Kapan kamu operasi ?”

“Sudah. Operasi akan dilaksanakan 5 hari lagi. Kondisiku sedang fit saat ini.”

“Baguslah kalau begitu. Oya apakah besok kamu ada acara sayang ?”

“Tidak, namun dokter menyuruhku untuk banyak istirahat. Ada apa memang ?”

“Rencananya besok aku akan mengenalkanmu dengan temanku. Ia sedang membutuhkan seorang arsitek. Aku merekomendasikanmu padanya. Apakah kamu mau menemuinya ? Ia sudah bersedia untuk bertemu dengamu besok.”

“Baiklah. Mmm, Mas katakan, apa yang kamu menyembunyikan dariku ?”

Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan dariku selama ini. Namun aku tak bisa tahu karena kebutaanku. Aku yakin ada suatu misteri yang tak kuketahui. Memang tak ada bukti, hanya firasat yang begitu kuat.

“Sembunyikan apa ?”

Aku punya perasaan kuat kalau suamiku adalah donor mata itu. Walaupun dokter menyanggah kecurigaanku, tetap saja ada yang mengganjal. Malas aku punya suami buta, makanya aku mewanti-wantinya untuk tidak sok pahlawan.

“Sesuatu yang pastinya tidak bisa aku sadari karena aku tidak bisa melihat.”

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Yasudah lupakan saja. Aku ingin berbicara suatu hal yang penting.”

“Ada apa ?”

“Kita sudah hampir 4 tahun menikah. Aku pikir rumah tangga kita akan berjalan harmonis, namun ternyata itu salah. Kurasa kita sudah tak ada kecocokan lagi mas. Aku ingin kita bercerai.”

“HAH, kenapa ?” aku mendengar penekanan di kata-katanya.

“Kurasa kamu tahu alasannya. Sampai kapanpun aku tak bisa memaafkan pengkhianatanmu. Kamu pasti tak akan mengerti karena kamu seorang pria”

“Maafkan aku jika kemarin aku menduakanmu. Namun aku sudah tobat dan tak akan mengulanginya lagi. Kumohon maafkan aku. Lihat Mutiara, ia masih butuh kasih sayang kedua orang tuanya,” aku mendengar nada bergetar dari mulutnya. Untunglah aku tidak bisa melihat matanya sehingga aku tidak bisa iba padanya.

“Sebenarnya kamu ada masalah apa ?” tanya suamiku.

“Kita bisa bergantian mengasuh Mutiara. Aku tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja aku…, sudah membencimu. Maafkan aku mas keputusanku sudah bulat.”

“Tak apa. Aku hargai kejujuranmu namun aku tak bisa menjawab sekarang.”

*

Hari ini aku akan melaksanakan operasi transplantasi korena mata. Hatiku berdebar sekaligus senang karena aku akan bisa melihat lagi. Beberapa hari lalu aku berkenalan dengan seseorang yang sedang membutuhkan arsitek untuk pembangunan gedungnya. Ia cukup antusias denganku karena pengalamanku cukup memuaskannya. Sebuah kesempatan emas bagiku untuk memulai karirku lagi. Dan masalah perceraian…, ia belum memberikan jawaban apa-apa. Bagiku cerai ini adalah sebuah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Makin hari aku makin malas satu ranjang dengan pria yang telah mengkhianatiku dua kali. Setelah aku bisa melihat dan bisa mandiri lagi, tak ada lagi yang harus dipertahankan darinya.

Semenjak kemarin aku sudah menginap di rumah sakit. Selalu ada risiko kegagalan dalam operasi pencangkokan mata. Aku berharap hal tersebut tidak terjadi. Ini bukan kali pertama dokter dan rumah sakit ini menangani operasi ini. Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Ibu dan bapakku mengucapkan seribu doa padaku. Aku hanya balas dengan sebuah optimisme akan keberhasilan. Suamiku berdiri di depan kasurku dan berbisik kepadaku.

“Sebentar lagi kamu akan bisa melihat kembali. Mmmm, aku sudah mulai mengurus perceraian kita. Semoga berita itu bisa membuatmu lebih tenang ketika operasi.”

Kalimat itu setidaknya bisa membuatku lebih rileks. Jam yang menegangkan, namun aku tak bisa merasakan dan menyadari apa-apa karena bius yang menyerang tubuhku. Aku bersyukur karena pperasi berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Butuh beberapa hari agar perban yang menutupi mata ini bisa dibuka. Aku menghabiskan hariku di rumah sakit. Suamiku setia menemaniku walaupun harus tidur di sofa. Besok adalah hari dimana perban akan dilepas.

“Kamu tahu pemandangan langit malam ini indah sekali,” suamiku membuka kebisuan diantara kita berdua. Aku hanya diam tak membalas ucapannya.

“Ada purnama yang sedang bersinar. Lampu kota juga terlihat indah.”

“Kenapa kamu tidak pulang saja mas ? Bagaimana dengan Mutiara ?” kataku mengabaikan intro rayuan romantisnya.

“Ada suster yang merawatnya. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.”

“Jadi kamu mengabulkan permintaan ceraiku ?”

“Iya. Kapanpun kamu siap setelah ini, kamu boleh mengurus ke KUA.”

“Lalu siapa yang akan mendapat hak asuh Mutiara ?”

“Biar kamu saja yang merawat. Ia masih lebih membutuhkan kasih seorang ibu. Namun izinkan aku untuk bisa menengoknya kapanpun aku mau.”

Suamiku mendekatiku dan duduk di sebelah ranjangku. Tangannya menggenggam tanganku dan mengelusnya. Dulu ketika aku masih mencintainya aku senang dengan perlakuan seperti ini, namun sekarang hal tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Kebencian dan pengkhianatan mengubah segalanya.

“Izinkan aku tidur disini malam ini.”

Aku hanya mengangguk kecil untuk membalas ucapannya.

“Kamu tahu sayang, apapun kondisi kamu, kamu tetap sempurna bagiku.”

*

Lembar demi lembar perban yang menutup mataku mulai berjatuhan. Jantungku berdebar…, sebentar lagi kegelapan ini akan sirna. Aku membuka mata amat perlahan sesuai instruksi dokter. Buram dan silau. Butuh penyesuaian beberapa jam sampai satu hari, namun ini bukanlah kegelapan abadi seperti dulu. Ranjang, jendela, TV, langit-langit, semua mulai terlihat walaupun masih samar.

“Bu, aku bisa melihat lagi,” kataku pada ibu.

Aku melihat ke sekeliling, semua memang masih berbayang. Aku kembali membaringkan tubuhku di kasur. Beberapa jam berlalu dan pandangan semakin jelas. Suamiku berdiri di sampingku. Ia memandangku dengan sebuah senyum hangat. Aku memfokuskan pandanganku ke arah matanya. Ada sesuatu yang salah dengan matanya. Sudah kuduga, ia adalah sang pendonor mata ini. Kenapa dia sok pahlawan begitu. Ia membohongiku. Amarah mulai mengalir ke mulutku.

“Mas…, sudah aku bilang kan. Kenapa kamu mendonorkan matamu padaku ?”

“Sudah kubilang bukan aku pendonor matamu.”

“Kamu tidak usah bohong. Kalau bukan kamu siapa lagi. Lihat itu matamu buta begitu.”

“Dia benar. Bukan suamimu pendonor mata itu,” ibu berkata padaku.

“Lalu kenapa dengan matamu ?”

“Kecelakaan satu tahun lalu itu juga merenggut mataku.”

“Jadi selama ini kamu juga buta ?” aku terkejut.

“Iya,” jawabnya sambil mengangguk.

“Lalu bagaimana kamu menuntunku kalau perjalanan selama ini ?”

“Kemanapun kamu pergi bersamaku, aku berusaha untuk mengenali tempatnya terlebih dahulu. Aku sengaja datang ke rumah sakit ini sebelum kamu datang dan mempelajari tempatnya agar aku tak terlihat buta olehmu. Kita selalu menggunakan supir ketika pergi. Suster selalu diajak kalau kita pergi, untuk menuntunku sehingga aku bisa menuntunmu. Syukurlah aku bisa beradaptasi dengan cepat dengan kondisi ini. Aku bisa mengerjakan segala pekerjaan yang kamu suruh dengan kondisi seperti ini karena aku telah berlatih mengatasi keterbatasan ini.”

“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu ?”

“Aku belajar huruf braille dengan cepat. Toh pekerjaanku tak mutlak membutuhkan mata seperti pekerjaanmu.”

“Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya ?”

“Aku takut kehilanganmu lebih cepat. Kamu pernah bilang padaku tak mau punya suami yang buta kan ? Kamu selalu bilang jijik jika mempunyai suami buta. Aku takut kamu akan segera menceraikanku jika aku memberitahumu lebih awal. Aku menunjukkan kasih sayangku selama satu tahun belakangan ini hanya untuk menikmati saat terakhirku bersamamu sebelum kamu tahu kenyataan pahit ini. Aku hanya pria buta sekarang dan tidak pantas bersanding denganmu.”

Aku tak tahu apakah aku sudah mempunyai air mata untuk menangis, namun aku seperti ditusuk oleh cinta yang langsung menembus kebencianku padanya. Kebencian itu meleleh dan membuatku sadar akan cintanya kepadaku.

“Kenapa ibu dan orang-orang lain tidak memberitahuku ?”

“Itu karena aku yang meminta. Aku memohon pada siapapun yang berhubungan dengamu untuk menyembunyikan ini. Aku hanya tak ingin kamu kecewa kepadaku dan meninggalkanku cepat-cepat.”

“Lalu kenapa kamu memberikan mata ini kepadaku ? Kamu juga butuh kan ?”

“Ini sebagai permintaan maafku padamu. Karena aku kamu jadi mengorbankan karirmu selama setahun belakangan ini. Kurasa setelah kita bercerai, kamu akan bisa memulai karirmu kembali dengan orang yang aku kenalkan kemarin.”

“Kenapa…, kenapa kamu mampu merencanakan ini semua ?”

“Karena aku masih mencintaimu. Kuharap bola mata itu bisa membuatmu memaafkanku.”

Aku melihat sebuah senyum di balik wajahnya. Ia memang buta, namun cintanya padaku tidak lah buta. Kasihnya begitu sempurna dan bisa menghancurkan kebencian ini. Aku berdiri dan mendekat kepadanya. Aku mengelus pipinya, membalas senyumnya yang ia berikan kepadaku. Ia berkata pelan padaku.

“Setelah kamu tahu bahwa suamimu ini buta, kapan kamu akan menceraikanku ? Surat-surat sudah aku urus kemarin. Aku tahu kamu jijik denganku sekarang.”

“Tidak perlu. Kamu tidak buta karena mulai sekarang aku akan menjadi matamu untuk selamanya.”

*

Advertisements

2 comments on “Blinded

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s