Me and His Daughter

Sekali-sekali buat cerpen ibu-ibu boleh lah.

“Tempat ini calon mama kamu yang memilih. Kamu suka kan Kiki ?”

“Tidak,” jawab Kiki ketus dengan pandangan ketidaksukaan padaku.

Aku selalu bertanya dalam hati, apa sebenarnya arti pandangan anak perempuan itu kepadaku. Dari matanya seperti ada luka yang membutakan matanya akan niat baikku kepada keluarganya. Apapun yang aku lakukan adalah simfoni yang menenggelamkannya dalam aura kebencian. Sungguh, aku tak punya maksud buruk apapun untuk menjadi ibu tirinya.

“Kiki, tolong kamu tunjukkan hormatmu pada calon ibu kamu,” hardik Toni.

“Nggak apa-apa mas. Sabar mas, jangan kamu marahi anak kamu” kataku pelan pada calon suamiku sambil menggenggam tangannya yang bergetar karena emosi.

“Kiki, kiki mau pesan makanan apa ? Tante tahu kamu suka seafood. Ini restoran seafood terbaik di Jakarta. Mau pesan apa ? Ikan gurame bakar, kepiting telur asin, atau apa ?” kataku sambil membalikkan buku menu.

“Terserah tante saja,” ia berkata ketus sambil melihat ke pemandangan laut di seberang. Memang restoran ini adalah restoran elit yang juga menjual pemandangan laut selain makanannya yang bintang lima.

“KIKI…,”Toni berkata dengan cukup kencang.

     Aku menenangkan Toni agar ia menahan emosinya. Bulan depan aku dengannya akan menikah namun aku masih belum bisa memenangkan hati Kiki, anaknya. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya menerimaku. Apakah karena aku ini janda ? Aku memang penah menikah selama 2 tahun. Pernikahanku dengan mantan suamiku kandas tanpa menghasilkan buah cinta.

     Setelah 8 tahun sendiri aku bertemu Toni, seorang duda sukses yang telah sendiri selama 5 tahun. Penyakit kanker rahim merenggut nyawa mantan isterinya. Kiki adalah buah cinta pernikahannya dulu. Ia berusia 12 tahun sekarang, usia krusial dimana seorang anak perempuan mulai mencari jati dirinya.

     Makan malam usia tanpa keberhasilan yang kuinginkan. Ia masih berlaku seakan aku wanita yang akan merusak cinta Toni kepada mantan isterinya. Sepertinya hubungan emosional Kiki dengan ibu kandungnya sangat kuat sehingga ia sulit menerimaku walaupun 1001 cara telah kulakukan untuk memenangkan hatinya. Kami sampai di depan rumah besar Toni. Kiki langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan salam perpisahan kepadaku.

     “Tolong maafkan kelakukan Kiki ya.”

     “Tak apa-apa mas. Kamu juga tolong jangan marah kepadanya. Mmm, mas selama seminggu kedepan izinkan aku menjemput Kiki sepulang sekolah.”

     “Loh kamu memang tidak kerja ? Tak perlulah seperti itu segala.”

     “Aku sudah mengajukan cuti. Aku ingin lebih dekat dengannya. Bulan depan aku akan menjadi ibunya. Aku ingin benar-benar menjadi ibunya bukan sekedar ibu tiri.”

     “Baiklah aku mengerti sayang. Terima kasih.”

*

     “Loh kenapa tante yang menjemputku ? Mana mang Ujang ?”

     “Selama 1 minggu ini tante yang akan menjemputmu pulang Kiki. Ayo naik.”

     Dengan tampang kesal Kiki naik ke mobil. Hening, ia sama sekali tak menganggap aku ini ada. Inilah alasan aku cuti, untuk memenangkan hatinya.

     “Gimana tadi sekolahnya ?” aku membuka perbincangan

     “Ya begitulah,” ia menjawab dengan singkat.

     “Eh Ki, kan tante seminggu ini cuti nih. Kamu nggak keberatan kan kalau tante yang masak di rumah ? Kamu nanti malam mau dimasakin apa ?”

     “Keberatan.”

     Aku mencoba segala pertanyaan untuk membuatnya menanggapiku namun ia hanya membalas dengan satu perkataan singkat. Dari pertanyaan mengenai sekolah, rumah, pacar, tak ada yang ampuh. Aku hanyalah sekedar wanita baginya.

     “Sudahlah tante. Seberapa keraspun tante mencoba, sampai kapanpun tante tak akan bisa menjadi mama buat Kiki dan mulai besok saya nggak mau dijemput tante.”

     Kalimat itu mengakhiri perbincanganku dengannya. Ia keluar mobil dengan sedikit membanting pintu. Sabar, butuh waktu untuk meluluhkan hati seseorang. Yang terpenting adalah tak boleh menyerah. Pasti ada sesuatu yang membuatnya begini. Malam ini aku makan bertiga dengan Kiki dan Toni. Butuh seribu bujukkan agar Kiki mau makan bersama di meja makan. Hari ini aku yang memasak untuk mereka semua. Seminggu ini aku fokus untuk benar-benar menjadi ibu dan isteri untuk mereka. Mungkin Kiki menganggapku akan menjadi ibu tiri jahat yang hanya ingin menguasai harta ayahnya padahal aku tidak punya maksud seperti itu.

     “Enak sekali masakan kamu. Kiki ayo dong dimakan. Kamu bukannya suka banget udang saus padang. Ini buatan restoran aja kalah loh,” kata Toni.

     Kiki hanya memakan dua suap kemudian pergi dari meja makan tanpa sepatah kata. Aku menenangkan Toni agar ia tak memarahi Kiki karena ketidaksopanannya. Bulan tersenyum bagaikan mutiara yang dipajang di atas kain yang hitam. Aku mengobrol dengan Toni di balkon depan sebelum pulang ke rumahku.

     “Sebenarnya sedekat apa hubungan Kiki dengan Ibunya dulu mas ?”

     “Ya dekat layaknya hubungan mama dan anak pada umumnya. Namun aku juga tak menyangka dia begitu seterikat dengan mamanya sampai sulit menerimamu. Aku salut denganmu yang pantang menyerah.”

     “Apakah ada pesan terakhir dari almarhumah mantan isterimu kepada Kiki ?”

     “Tak ada kejadian atau pesan yang membuat Kiki harus menutup mata akan kehadiran mama baru untuknya. Mungkin ia hanya butuh waktu yang lebih lama.”

*

     Jam pulang sekolah Kiki masih tersisa sekitar 30 menit. Aku keluar dari mobil dan duduk di salah satu tempat duduk di sekitar SD. Tak lama kemudian aku melihat Kiki di ujung lorong. Aku belum pernah melihat Kiki seceria itu. Ia tertawa begitu luwes dan tersenyum tanpa beban. Kata-kata yang ia keluarkan juga banyak, tak satu persatu seperti yang ia lakukan kepadaku. Guru itu begitu bisa memenangkan Kiki. Aku menunggu Kiki datang ke mobil. Wajahnya langsung berubah 180 derajat ketika melihatku. Kami langsung meluncur menuju ke rumah.

     “Tante masak ayam bumbu bali, enak deh. Kamu pasti suka Ki.”

     “Kan sudah aku bilang aku tak mau tante yang menjemput.”

     “Apa sebenarnya salah tante sampai kamu nggak bisa menerima tante ?”

     “Katanya mau menjadi ibu buat Kiki, tapi hal begitu aja tante nggak tahu.”

     Kiki mengeluarkan headphone dan memasangnya di telinga. Apapun yang aku katakan tak akan dihiraukannya. Kalimat terakhir yang diucapkannya membuatku sedikit tersinggung. Nampaknya mustahil aku menjadi ibu baginya.

*

     “Mas bagaimana jika ketika kita menikah nanti…, Kiki belum bisa menerimaku ?”

     “Aku yakin cepat atau lambat dia pasti menerimamu. Dia pasti akan luluh nanti.”

     “Pasti ada sesuatu mas. Aku yakin ada alasan dia tidak bisa menerimaku. Apakah ada sesuatu yang mas sembunyikan kepadaku ?”

     “Apa maksud kamu ?” Toni menaikan sebelah alisnya.

     “Lupakan pertanyaanku mas. Sudahlah, aku mau pulang dulu.”

     Hari berganti. Aku sudah kehabisan cara untuk mendapatkan hati Kiki. Apakah lebih baik aku menyerah saja. Tidak, aku yakin Kiki pasti akan luluh, yang terpenting aku tak boleh menyerah. Aku mencintai Toni dan Kiki. Akan kuperjuangkan cinta ini.

     Guru itu berjalan menuju ke arahku. Usianya sepertinya lebih muda 1-2 tahun daripadaku. Ia adalah guru yang kemarin aku lihat bersama Kiki.

     “Selamat siang,” aku menyapanya.

     “Siang. Anda siapa ya ?”

     “Saya orang tuanya Kiki, kelas 6. Anda gurunya bukan ?”

     “Iya. Orang tuanya ? Bukankah Ibu Kiki sudah meninggal ?”

     “Saya calon ibu tirinya. Bisakah kita bicara sebentar ?”

     “Boleh, ada apa ya ?” kami berdua duduk di sebuah bangku.

     “Kalau saya lihat kemarin, Anda begitu bisa dekat dengan Kiki. Saya iri dengan Anda. Sudah setahun ini saya berusaha untuk dekat dengannya namun nihil. Saya bingung bagaimana menanyakannya kepada Anda.”

     “Saya mengerti permasalahan Anda. Sulit bagi Kiki yang baru berusia 7 tahun untuk kehilangan seorang ibu kandung. Itu adalah saat-saat terberat baginya. Sebenarnya Kesalahan yang membuat Kiki tak bisa menerimamu bukan ada pada Anda melainkan…, pada saya.”

     “Saya tak mengerti.”

     “Ketika mama Kiki sakit, saya yang menjadi mama pengganti baginya. Saya berikan kasih sayang seorang Ibu kepadanya. Bahkan setelah mama Kiki meninggal, saya yang menjadi ibu baginya. Mas Toni mengetahui kedekatanku dengan Kiki yang sudah melebihi hubungan guru murid. Mas Toni menyukai sikapku yang keibuan kepada Kiki. Singkat kata kami menjalin kasih selama 4 tahun. Bagi Kiki akulah ibu tiri yang akan menggantikan ibunya. Sayang, takdir hubunganku dengan mas Toni berkata lain. Apakah mas Toni pernah cerita mengenaiku kepadamu ?” Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

     “Aku mengerti kenapa ia begitu.”

     Bel pulang berbunyi. Lorong yang kosong mulai dipenuhi murid yang berlarian pulang. Aku melihat Kiki berjalan di koridor menuju ke tempat kami berdua. Aku masih ingin mengobrol lebih banyak namun tak etis sekali kalau perbincangan ini di dengar Kiki. Setidaknya aku dapat alasan Kiki tak bisa menerimaku.

*

     Aku menunggu sampai Kiki naik ke kamar untuk tidur. Aku tak ingin pembicaraan ini sampai didengarnya. Aku menyajikan teh hangat untuk menemani malam ini.

     “Mas, satu bulan lagi kita akan menikah. Sudah sepantasnya tak ada rahasia antara suami dan isteri. Kumohon mas jujur atas hubungan mas dengan dia. Kurasa kita berdua tahu siapa ‘dia’ yang aku maksudkan ? Aku tak akan marah mas.”

     “Sepertinya kamu sudah bertemu dia di sekolah ya. Sebelum bertemu denganmu aku memang menjalin hubungan dengan dia. ‘Mama’, itulah panggilan kiki kepadanya karena saking dekatnya hubungan emosional diantara mereka. Harus kuakui dia memang keibuan dan mirip dengan almarhumah mantan isteriku dulu.”

     “Lalu kenapa kamu memilihku dan bukan memilihnya ?”

     “Itu juga masih menjadi tanda tanya bagiku. Ia menolak kujadikan isteri tanpa menyebutkan satu alasanpun. Kuhargai keputusannya. Bagiku dia hanyalah masa lalu yang tak bisa aku dapatkan. Kamu tak perlu khawatir, aku lebih mencintaimu.”

     Aku melihat air di mata mas Toni yang membendung. Pastilah perpisahan hubungan itu bukan suatu hal yang manis. Dari raut matanya aku bisa melihat kalau Toni masih menyimpan perasaan pada dia.

*

     “Kiki, guru itu baik ya ? Dia keibuan.” Kiki hanya membalas dengan diam.

     “Kalau misalnya dia yang menjadi Ibu kamu…, pasti kamu seneng kan ?”

     Baru kali ini Kiki tersenyum di depanku. Hubungan Kiki dengan dia pastilah sudah sangat dekat, sampai bisa membuat Kiki tersenyum hanya dengan membayangkannya. Kurasa kehadiranku di keluarga mereka bukanlah untuk menjadi bagian dari mereka namun menjadi kunci di masalah mereka.

     Satu jam sebelum kelas berakhir, aku sudah janjian untuk bertemu dengan guru itu. Aku menunggunya di bangku sekolah. Ada yang harus kuselesaikan dengannya.

     “Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya minta kepada Anda ?” kataku.

     “Apa ya ?”

     “Saya ingin Anda menjadi Ibu tiri secara sah untuk Kiki. Saya belum melihat cincin di jari manis Anda. Andalah orang yang tepat untuknya bukan saya”

     “Hah ? Kenapa Anda begitu mudah menyerahkan…, ‘tahta’ Anda ?”

     “Mas Toni masih mencintaimu. Kiki juga sudah menganggapmu sebagai ibu sendiri. Tak ada alasan bagimu untuk menolak. Cinta tak selamanya harus memiliki. Walaupun saya menyayangi mas Toni dan Kiki, Anda adalah orang yang lebih tepat untuk berdiri di posisi saya.”

     “Saya tak bisa.”

     “Kenapa ? Apa alasan Anda ? Sikap menggantungkan Anda seperti itu yang membuat mas Toni masih memendam perasaan cintanya. Apa kamu akan terus membiarkannya tenggelam dalam ketidaktahuan. Anda mau atau tidak, saya akan mundur setelah ini. Saya yakin sikap keibuan Anda akan membuat Anda bisa menerima lamaran dari Mas Toni.”

     “Jangan…, kumohon jangan membatalkan pernikahan Anda. Baiklah saya akan beritahu alasannya. Sebenarnya saya sudah menikah.”

     “Anda jangan mengarang-ngarang alasan. Anda tak memakai cincin kawin.”

     “Suami saya meninggal 2 tahun setelah pernikahan kami karena sakit. Semua harta benda termasuk cincin pernikahan telah saya jual untuk biaya pengobatan namun Tuhan berkata lain dengan memanggilnya. Ketika masa-masa terakhir bersamanya, saya merasakan apa itu cinta sejati. Cinta yang membuat saya bisa begitu sabar untuk mengurusnya, menemaninya tidur, dan bekerja keras demi pengobatannya. Dia adalah cinta sejatiku. Di depan makamnya saya berjanji untuk tetap setiap kepadanya bahkan setelah dia meninggal. Saya berjanji bahwa dia adalah suamiku dan selamanya suamiku, yang pertama dan terakhir. Memang saya pernah berpikir untuk memulai kembali rumah tangga ketika Toni dan Kiki datang ke kehidupan saya. Namun bahkan setelah 4 tahun kami menjalin kasih, saya masih tak bisa melupakan suami saya. Cintaku pada suamiku masih jauh lebih besar dibandingkan kepada Toni. Mungkin sampai mati nanti, aku akan tetap mencintai almarhum suamiku. Mustahil untuk membangun rumah tangga baru bagi saya. Dengar…, Anda sudah berhasil memenangkan hati Toni. Sebentar lagi Kiki akan lulus SD dan tak akan berjumpa lagi dengan saya. Anda bisa mengisi kekosongan itu dengan figur keibuan Anda. Saya yakin waktu akan bisa membuat Kiki menerima Anda. Saya akan bantu Anda untuk mendapatkan hati Kiki. Saya yakin…, Anda adalah wanita yang tepat untuk menjadi isteri Toni dan Ibu tiri Kiki.”

     “Terima kasih. Saya mengerti sekarang. Saya tak akan menyerah, saya berjanji akan menjadi ibu dan isteri yang terbaik bagi mereka.”

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s