Inner Beauty

Cerpen yang dibuat ketika galau. What is love ? Cinta bukan nafsu, bukan pula kebaikan, bukan pula balas budi, lalu apa itu cinta ? Apakah seseorang bisa jatuh cinta jika ia tak tahu apa itu cinta ? Well, jangan hiraukan intro galauku ya.

Namaku Ilma, aku adalah gadis yang sangat cantik. Dimana-mana aku selalu menjadi kembang perawan yang memukai semua pria. Kecantikan ragaku adalah anugerah yang diinginkan setiap hawa. Aku selalu bersyukur Tuhan menganugerahkan kecantikan raga itu padaku. Kulitku putih, rambutku panjang, tubuhku ramping, semua nilai plus yang dimiliki wanita menjadi ciri khas perawakanku. Aku selalu tersenyum ketika melohat ragaku di cermin. Namun setiap anugerah pasti diiringi dengan cobaan dari-Nya. Dan aku rasa aku telah gagal melewati cobaan ini.

Aku bekerja sebagai model, profesi yang sangat cocok dengan ragaku. Dengan kecantikan ragaku aku bisa memperoleh pekerjaan dengan mudah di bidang ini. Karirku berjalan dengan lancar, sepertinya tak ada kerikil yang cukup kuat untuk menyandung langkahku. Aku sering muncul di majalah-majalah, menghiasi cover mereka dengan kesempurnaan ragaku. Hartaku semakin banyak, semua jerih payahku menghasilkan uang yang cukup banyak untukku. Betapa sempurna hidupku. Aku bersyukur pada Tuhan atas takdir manis yang ia berikan padaku.

Kecantikan ragaku mengundang banyak kaum adam untuk menjadi seseuatu yang spesial di hatiku. Banyak pria yang terpanah kecantikanku. Tatapan penuh cinta dari para pria selalu menyertai hari-hariku. Banyak yang sudah menyatakan cintanya padaku. Banyak pria yang datang kepadaku membawa cinta mereka untuk diberikan padaku. Mulai dari teman, fans fanatik sampai sampai ke pejabat.

 Love become more complicated to understand. Makna cinta menjadi blur dihadapanku. Semua cinta yang selalu terarah padaku menjadi sesuatu yang makin membuyarkanku tentang makna cinta sebenarnya. Kata orang cinta adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada manusia. Kata orang cinta adalah sesuatu yang dapat membuatmu menerima pasanganmu apa adanya. Cinta ? apa itu cinta ?

Aku makin tenggelam dalam kebutaan akan cinta. Namun pria itu menunjukkan jalan untukku, pria itu menyelamatkanku dari kesesatan. Aku bisa melihat kembali, pikiranku kembali jernih. Aku berterima kasih pada pria itu. Pria itu setiap hari memperhatikanku. Ia memberikan segala perhatiannya kepadaku. Pria itu selalu tersenyum melihat kesibukanku yang menyita segala waktuku. Pria itu adalah temanku, ia juga seorang model, sama sepertiku. Namanya Darius.

Pria itu tampan. Raganya sempurna. Wanita manapun pasti dengan mudah terpanah kesempurnaan fisiknya. Ia senasib denganku. Setiap hari ia selalu mendapat tatapan hangat dari wanita yang ingin menjadi bagian hatinya. Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan saat semua mata tertuju padanya.

”Kamu udah makan ?” Darius bertanya padaku melalui SMS.

”Udah. Kamu udah makan ?”

”Udah. Kamu lagi ngapain ?”

”Aku lagi di jalan mau pulang ke rumah.”

”Semalem ini ? emang kamu habis ngapain ?”

”Aku habis jadi MC di acara peluncuran buku.”

“Oh, besok kamu ada acara ?”

“Besok aku dari pagi sampe siang ada pemotretan buat majalah. Malemnya ada dinner sama redaksi.”

“Oh semangat ya Ilma.”

Aku senang ia selalu perhatian seperti itu padaku. Perhatian itulah yang menyadarkanku tentang arti sebuah cinta. Jika bersama Darius aku bisa merasakan sesuatu yang hangat pada diriku. Hangat yang menyapu hati dengan kedamaian. Aku rasa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku meraa nyaman dengannya.

 Kesibukan ini mulai membuatku gila. Aku lelah, ditambah gosip-gosip miring tentangku. Gosip-gosip yang dilayangkan oleh orang yang tidak menyukai kesuksesanku. Kupingku terasa merah saat mendengar setiap kata kebohongan mengenaiku. Aku tahu ini memang risiko pekerjaanku. Aku hanya bisa bersabar menghadapi risiko yang mulai menggerogoti kewarasanku.

”Hei Ilma, kamu yang sabar ya. Aku juga sering kok digosippin yang miring-miring. Aku ngerti kok perasaan kamu. Met tidur ya.”

Lagi-lagi Darius menghiburku. Aku tersenyum melihat deretan kata itu tertera di layar ponselku. Malam semakin kelam, aku tidak bisa tidur. Aku butuh refresing, melepas penat yang selama ini mengurung keseharianku. Aku bangun dari kasurku dan langsung menuju ke tempat yang aku tidak tahu. Yang jelas keluar dari rutinitas.

”Malem-malem nggak baik buat wanita cantik seperti kamu untuk keluar sendirian.”

Aku memandang heran layar ponselku. Mengapa ia bisa tahu aku sedang diluar ? Aku sedang berada di kafe favoritku. Kafe ini selalu menjadi tempatku untuk melewati malam jika aku sedang gundah. Aku masih ingat ketika dulu aku sering sekali melamun di kafe ini ketika aku sedang hilang arah. Pelayan disini juga sudah banyak mengenalku, jadi mereka sudah mengerti maksud kedatanganku malam-malam kesini, untuk keluar dari rutinitas.

”Kok kamu tahu aku lagi diluar ?”

”Coba tengok ke belakang.”

 Aku menengok kebelakang dan kulihat sosok pria tampan itu. Ia tersenyum sampai melambaikan tangannya kepadaku. Aku melambaikan tangannya juga. Ia menuju tempat aku duduk.

“Boleh aku duduk sini ?”

“Boleh.”

“Kamu lagi ngapain malam-malam disini ?” tanya Darius padaku.

”Aku lagi nggak bisa tidur aja, aku sering kok kesini kalau lagi bosen. Kamu sendiri ngapain disini malem-malem.”

”Aku baru aja ada kerjaan, baru selesai, tempatnya nggak jauh dari sini. Ya aku lagi menunggu pagi aja disini. Kamu bilang kamu lagi bosen tadi, bosen sama apa ?”

”Lagi boring aja sama kehidupan aku. Biasa lah lagi sumpek aja.”

”Kamu harusnya bersyukur banyak wanita yang menginginkan posisimu. Hargailah kehidupanmu jika kau mau dihargai dikehidupanmu,” Darius tersenyum.

Malam sudah sangat larut, keberadaan Darius sedikt menghilangkan kegundahan pada hatiku. Aku kembali ke rumah. Sudah tinggal 2 jam sebelum aku kembali ke jadwal yang telah disusun managerku. Aku langsung tertidur. Namun dunia mimpi, dunia yang sepenuhnya milikku, tidak dapat aku nikmati lama-lama. Aku sudah harus kembali menjadi seorang Ilma.

”Cie, semalem jalan berdua ya sama Darius,” managerku berkata padaku.

Managerku sama-sama wanita dan berusia tidak jauh berbeda denganku. Ia sudah aku anggap seperti kakak sendiri, ya karena ia memang kakakku. Kesibukanku seakan membuyarkan garis darahku padanya.

”Kok kamu tahu ?”

”Ada tuh di infotainment.”

            Aku sudah kebal dengan semua berita infotainment yang selalu memberitakan setiap detik dari hariku. Entah mengapa aku malah senang, jadi biar seluruh Indonesia tahu kalau aku sedang dekat dengan seorang pria. Mungkin setelah ini pria yang mengejarku jadi berkurang.

”Menurutmu ia menyukaiku ?” tanyaku pada kakak.

”Entahlah, kau yang seharusnya lebih tahu dariku. Kau yang mengalami.”

”Kalau menurutmu ?”

”Entahlah, apakah ia sama saja seperti laki-laki lain yang ingin mendapatkanmu hanya karena kecantikan ragawimu, aku juga tidak tahu.”

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, aku menunggunya untuk mengatakan cintanya padaku. Sebagai wanita, aku menunggu ia untuk menyatakan cintanya padaku. Aku mencintai Darius, ia adalah pria sempurna yang akan menemani hari tuaku nanti. Segala perhatian dan waktu yang ia berikan padaku sudah cukup bagiku untuk menumbuhkan perasaan cintaku padanya.

Namun mengapa ? Mengapa sangat lama baginya untuk mengatakannya padaku. Apa yang membuatnya begitu lama menunggu. Aku ingin ia menjadi miliku dan aku menjadi miliknya. Kami akan menjadi pasangan yang serasi, kami memiliki kesamaan yang mendasar. Kami akan menjadi pasangan yang abadi. Bahkan sampai gosip mengenai kami sudah tenggelam, tertelan arus berita baru, ia masih belum mengatakan cinta padaku.

 Malam sangat gelap, purnama sedang bersinar terang di langit yang hitam. Aku sedang menikmati kopiku di kafe favoritku. Aku sedang gundah, gundah karenanya. Apakah ini hanyalah cinta semu, sama seperti cinta yang pria lain coba jajakan padaku. Cinta yang hanya didasarkan pada kecantikan raga semata. Aku mulai hilang arah, tengglam dalam kesesatan. Cinta membuyarkan pandanganku. Aku tak mau cinta ini makin menggerus kewarasanku. Sudah cukup hanya rutinitas super sibukku yang menggerogoti kewarasanku.

”Hei Ilma,” Darius duduk di depanku.

”Mau apa kamu datang kesini ?”

”Kok galak begitu ?”

”Aku sedang ingin sendiri. Kau hanya mengganggu waktu sendiriku.”

”Apa yang membuat puteri sedih seperti ini, mungkin pelayanmu yang setia ini bisa memberikan sesuatu yang bisa menghilangkan kesedihannya,” Darius menghiburku.

”Aku hanya butuh obat. Namun kau bukanlah obat untukku sekarang. Jadi lebih baik kau pergi.”

            Darius hanya tersenyum kecil padaku. Senyum yang mampu melumerkan isi hatiku. Aku sudah mulai kehilangan keyakinan akan cintaku padanya. Ada diapun disini, sepertinya tidak akan menjadi obat mujarab untukku..

”Maaf,” Darius hanya mengucapkan satu kata dan pergi dari hadapanku.

Sendiri. Aku menghabiskan malam ini sendiri. Subuh aku kembali ke rumahku. Kokok ayam mulai terdengar di lingkungan rumahku. Sebentar lagi aku akan menjalani rutinias. Pusing, kepalaku terasa berputar, bagaimana tidak, sudah hampir 48 jam aku belum tidur. Mengapa aku tidak tidur ? Aku sedang tidak bisa tidur karena aku sudah mulai kehilangan arah, kehilangan kewarasanku.

Aku menatap diriku dicermin. Sosok cantik wanita terpantul dari cermin itu. Sudah berapa pria yang terpanah karena kecantikan ini. Apakah Darius hanya seperti pria lain yang terpanah kecantikanku ini. Apa ia suka kepribadianku ? Apakah inner beauty dalam diriku telah terkalahkan oleh outer beauty yang aku punya ?

Aku tahu cara untuk mendapatkan jawabannya. Aku akan lakukan cara itu, walau itu akan mempertaruhkan karir dan semua yang aku punya. Kita lihat Darius, apakah kau akan tetap memberiku perhatian nanti. Aku bercermin, seakan bayangan yang terpantul adalah Darius. Pagi sudah tiba. Matahari telah terbit dilangit. Aku bersiap memulai rutinitas berbedaku pagi ini. Aku keluar kamarku. Kakak melotot melihatku, ia shock.

”Apa yang terjadi padamu ? Kenapa kau…. Kenapa kau mencukur habis seluruh rambutmu.”

”Aku melakukan ini untuk mendapatkan jawaban,” aku tersenyum.

”Apa kau sudah gila ?”

”Jika aku tidak melakukan ini aku akan menjadi tambah gila.”

”Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini.”

”Aku siap bekerja hari ini.”

”Apa kau pikir mereka semua akan mau menerima kau yang seperti ini ?”

”Itulah intinya, aku ingin tahu siapa yang sebenarnya berada di sampingku sekarang setelah kecantikan ragaku hilang.”

Aku bersikukuh untuk pergi kala itu walau kakak melarangku. Ia berkata, ia bisa membatalkan semua jadwalnya hari ini. Aku tahu ia mengkhawatirkan masa depan karirku. Namun aku juga punya masa depan lain selain karir. Akhirnya aku pergi, menunjukkan pada dunia tentang perubahan yang telah aku lakukan pada diriku. Kakak tetap mendampingiku.

Semua tercengang dengan yang terjadi padaku. Ilma yang selalu terlihat cantik dan anggun sekarang telah kehilangan mahkotanya. Mereka langsung mencampakanku. Ada yang langsung membatalkan kontrak denganku. Aku tahu, mereka itulah yang memanfaatkan kecantikanku untuk kepentingan mereka. Mereka pikir aku telah gila, melakukan hal bodoh namun aku bangga dengan itu.

Baru kali ini aku merasakan pandangan berbeda dari orang-orang, pandangan tanpa disertai cinta. Pandangan aneh, iba dan ketus. Aku baru merasakan rasa-rasa baru dalam hidupku. Wartawan mengerubungiku, menanyai motiv mengapa aku melakukan ini. Aku tersenyum pada kamera yang mengclose up diriku.

”Aku melakukan ini untuk menunjukkan diriku yang sebenarnya. Dan sekarang aku akan tahu siapa yang sebenarnya berada disampingku.”

Hari yang menakjubkan. Baru kali ini aku melewati hari yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Malam sudah terbit di langit. Aku sedang di kafe favoritku, menikmati kopiku. Pelayan yang sudah kenal denganku hanya bisa menatap miring diriku yang berbeda. Aku tidak tutupi perubahanku, kubiarkan semua tahu.

Malam semakin kelam. Apakah ia akan datang ? Harapan dihatiku semakin pudar, namun akhirnya aku melihat batang hidungnya. Ia menatap diriku yang telah berbeda. Ia berdiri di depanku. Aku berdiri dari kursiku. Tatapan matanya masih sama seperti dulu, tak ada perubahan. Ia lalu memelukku dengan hangat.

”Maafkan aku Ilma,” kata Darius.

”Aku yang seharusnya minta maaf karena meragukanmu.”

”Maafkan aku, maaf, karena aku terlalu lama menunggu untuk sebuah kepastian sampai-sampai kau harus melakukan semua ini. Kau… Kau rela mengorbankan kecantikan ragawimu. Maafkan aku Ilma, maaf, maaf”

Perkataan maaf itu ia ucapkan dengan sangat dalam. Darius melepaskan pelukannya. Ia menatapku tajam.

”Aku akan selalu berada disisimu, tak peduli apapun yang terjadi padamu. Dimataku kamu selalu memancarkan kecantikan yang tidak akan pernah pudar. Dan sekarang kau lebih cantik dari kemarin,” kata Darius sambil tersenyum.

Sudah setahun sejak kejadian itu. Sekarang rambutku telah tumbuh seperti dulu. Kecantikan ragawiku telah kembali. Namun bukan kecantikan inilah yang membuat Darius menikahiku. Ya, kami sudah menikah dan aku sedang mengandung anak pertama kami. Ia mencintaiku apa adanya. Terkadang aku sempat tertawa sendiri jika mengingat kembali malam itu. Ketika malam hari, sebelum tidur ia sering sekali mengatakan ini.

”Ilma, maafkan aku. Karenaku kau membuang setengah mimpimu. Maafkan aku.”

”Maaf, aku yang seharusnya minta maaf Darius. Aku meragukan cintamu.”

Aku telah memberikan sebuah pesan untuknya. Kecantikan hanyalah titipan dari-Nya. Selamanya kecantikan tidak akan menghiasi wajahku. Jika tua nanti hanya ada cinta yang bisa mengikat hubunganku dengannya. Aku takut jika menerima cinta yang juga akan pudar termakan waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s