Naik Transportasi Publik Yuk

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Oxfam. FYI, Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. info klik disini

“Huh panas banget ya hari ini. BIasanya nggak sepanas ini.”

Seberapa sering kalian berkata hal tersebut ? 1 kali, 2 kali, 3 kali ? Apa yang membuat cuaca bisa sepanas itu ? Apakah matahari mendekat ? Ataukah bumi yang memanas ?  Yang jelas terjadi perubahan suhu udara bukan ? Kira-kira siapa yang bisa disalahkan ya ?  Janganlah kalian salahkan alam, salahkan manusia yang merusak keseimbangannya.

Perubahan iklim adalah peristiwa perubahan pola distribusi cuaca selama beberapa periode dimana pola cuaca sebelum perubahan telah berlangsung selama jutaan tahun. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan dalam distribusi cuaca seperti suhu dab curah hujan di suatu wilayah, bisa menjadi lebih ektstrem atau tidak lebih ekstrem. Jadi sebagai contoh misalnya suatu daerah yang biasanya bersuhu relatif dingin, misal suhu ruangannya 29 oC. Hal ini sudah berlangsung semenjak beberapa dekade. Namun lama kelamaan suhu udara rata-rata daerah tersebut meningkat menjadi 31 atau 32 oC. Itu hanya contoh sederhananya saja. Mungkin beberapa dari kalian sudah mulai mengalami peristiwa yang saya sebutkan ini.

Sebenarnya apa yang menyabkab perubahan iklim ini bisa terjadi ? Beberapa sumber menyatakan perubahan iklim terjadi karena fluktuasi yang bersifat ilmiah dan tak bisa kita hindari. Namun ada pula yang berpendapat bahwa perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia. Memang, perubahan iklim disebabkan oleh faktor alam seperti aktivitas lautan, aktivitas matahari, ledakan gunung berapi, dan lain-lain. Namun hal tersebut juga diakselerasi dengan perbuatan manusia. Jadi bila dianalogikan dengan mobil, alam sudah menekan gas dengan kecepatan 5 km/jam, namun manusia memberikan tekanan pada pedal gas dengan percepatan 2 km/jam2. Tinggal tunggu waktu saja sampai mobil itu menabrak.

 Secara ilmiah, perubahan iklim global dipicu oleh akumulasi gas-gas rumah kaca di atmosfer terutama karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan klorofluorokarbon (CFC). Yes, i’m talking about efek rumah kaca. Aku percaya kalian semua sudah tahu apa itu efek rumah kaca. Sebenarnya, efek rumah kaca adalah sebuah proses alami yang penting untuk membuat kehidupan di atas bumi menjadi mungkin.  Tanpa efek rumah kaca, bumi akan menjadi sebuah tempat yang tak mungkin ditinggali oleh sebagian besar makhluk hidup yang ada sekarang.

Oke, aku akan jelaskan sedikit mengenai efek rumah kaca. Prinsip gas rumah kaca mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup. Secara singkat prinsip efek rumah kaca adalah panas matahari yang berupa radiasi gelombang pendek masuk ke bumi dengan menembus tabir gas rumah kaca tersebut. Sebagian panas diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke luar angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dipantulkan kembali ke luar angkasa menyentuh permukaan tabir dan terperangkap di dalam bumi. Seperti proses dalam pertanian rumah kaca, sebagian panas akan ditahan di permukaan bumi dan menghangatkan bumi.

Efek Rumah Kaca

Efek Rumah Kaca

 Permasalahan muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bertambah. Dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, maka akan semakin banyak panas yang ditahan di permukaan bumi dan akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.  Apabila melihat aktivitas industri yang berkembang pesar setelah masa revolusi, maka tak heran bila konsentrasi gas rumah kaca meningkat secara eksponensial. Aktivitas manusia yang seperti apa memang ? Pembakaran bahan bakar fosil, pembalakan hutan, aktivitas peternakan, dan masih banyak lagi.

 Berdasarkan data world bank, emisi CO2 yang dihasilkan perkapita cenderung meningkat. Dari tahun 1960 sampai tahun 2009, emisi CO2 perkapita meningkat hampir 1,5 kali.

Trend Emisi CO2 Perkapita di Dunia

Trend Emisi CO2 Perkapita di Dunia

 Hmmm, sebagai manusia, sudah sebaiknya kita tak saling menyalahkan atas perubahan iklim yang telah terjadi. Kita semua punya andil dalam menyumbang emisi karbondioksida. Yang lalu sudah terjadi dan kita tak bisa kembali ke masa lalu. Jadi pertanyaannya bagaimana mengubah masa depan ? Bila kita semua mempunyai andil dalam perubahan iklim, kita juga pasti punya andil untuk mencegahnya. Ya kita bisa.

 Tak perlu hal besar  yang memerlukan banyak dana atau tenaga besar, kita bisa melakukan dari hal kecil. Salah satu hal kecil yang sudah saya sendiri lakukan adalah menaiki public transport jikalau sedang di Jakarta. Saya bekerja di Cilegon, setiap akhir pekan 2 minggu sekali saya selalu pulang ke Jakarta. Ketika saya harus bepergian keluar daerah bintaro, saya lebih memilih menggunakan angkutan umum (feeder busway dan busway) alih-alih mobil pribadi, terutama untuk menuju daerah  segitiga emas ibu kota.

 Mengapa ? Bukankah lebih enak naik mobil ? Menurut saya, itu adalah langkah kecil yang bisa saya lakukan untuk mencegah perubahan iklim. Satu mobil yang seharusnya saya gunakan tidak akan menghasilkan emisi CO2 yang mencemari atmosfir. Pasti dari kalian berpikir, ‘untuk apa, hanya 1 mobil doang tidak akan berpengaruh’. Aku tak setuju dengan hal itu.

Saya yakin kalian semua menggunakan transportasi untuk bepergian kemanapun. Ada yang menggunakan sepeda motor, mobil sedan pribadi, mobil minibus, bus kota dan semacamnya. Ya transportasi yang paling nyaman memang mobil pribadi dengan AC yang dingin, kursi yang empuk, dan derung yang halus. Well, senyaman atau sesumpek apapun mode transportasinya, semua alat transportasi membutuhkan bahan bakar dan mengeluarkan emisi. Jenis mobil yang berbeda, maka jumlah emisi yang dikeluarkanpun berbeda. Tabel dibawah ini menunjukkan faktor emisi dari berbagai macam kendaraan.

Faktor emisi

(1)

Sebagai contoh, kendaraan penumpang jenis mobil sedan mengeluarkan 329,66 gram CO2 gram per kilometer perjalanan.

Mari berhitung kasar. Jika saya ingin pergi dari Bintaro ke daerah Sudirman / MH Thamrin, jaraknya adalah 15 km. Jika saya menggunakan mobil pribadi (sedan) maka, emisi yang akan saya hasilkan dari perjalanan saya adalah

  • Emisi CO2 = 329,66 gr / km x 15 km = 4944,9 gr = 4,9 kg CO2

Seberapa ngefek kah 4,9 kg CO2 ? Sebagai gambaran Satu 1 ton emisi CO2 akan meningkatkan temperatur global kurang lebih sebesar 0,0000000000015 oC (3) . Jadi kalau 4,9 kg CO2 memang tak akan mempengaruhi apa-apa secara signifikan. Namun semua berawal dari hal yang kecil, (Tubuh kita saja adalah kumpulan elektron yang bermasa hanya 9,31 x 1031 kG). Apa ya yang terjadi pada emisi CO2 bila semua warga menggunakan transportasi umum ?

Berdasarkan data Ditlantas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta hingga pada 2011 mencapai 13.347.802 unit. Jumlah tersebut terdiri dari mobil penumpang sebanyak 2,54 juta unit, mobil muatan atau truk sebanyak 581 ribu unit, bus 363 ribu unit, dan sepeda motor sebanyak 9.861.451 unit. Ditlantas melaporkan prediksi pertumbuhan kendaraan pada 2012 sekitar 10-12 persen. (2).  Hmm, akan semakin banyak emisi yang akan terjadi.

Pada tahun 2002, Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mencatat, dari jumlah penduduk Jakarta, pengguna kendaraan roda dua adalah 21,2 persen, roda empat 11,6 persen, dan kendaraan umum 38,3 persen, sisanya sepeda atau jalan kaki. Namun sangat disayangkan pada tahun 2010, dengan estimasi jumlah penduduk Jakarta pada tahun 2010 sebanyak 9,5 juta, terjadi penurunan penggunaan kendaraan umum hingga menjadi 12,9 persen sedangkan pengguna roda dua dan empat naik menjadi 48,7 persen dan 13,5 persen. (13)

Berdasarkan data tersebut maka pada tahun 2010,

Pengguna kendaraan

Persentase (%)

Jumlah Penduduk

Roda dua

48,7

4.626.500

Roda empat

13,5

1.282.500

Angkutan umum

12,9

1.225.500

 Anggap saja, jumlah ini tak berubah jauh dari tahun sekarang. Kembali ke pertanyaan awal, apa ya yang terjadi pada emisi CO2 bila semua warga menggunakan transportasi umum ? Berapa emisi yang bisa dihemat ? Asumsi yang digunakan adalah semua warga menggunakan minibus dan rata-rata perjalanan warga adalah 15 km dalam 1 hari.

Pengguna kendaraan

Jumlah

Faktor emisi (gr/km)

Emisi CO2 yang dihemat

(gr)

Roda dua

4.626.500

122,19

8.479.680.525

Roda empat

1.282.500

346,3

6.661.946.250

Total

5.909.000

Total

15.141.626.775

 Jika 5,9 juta penduduk tersebut beralih ke bus dengan kapasitas bus 40 orang, maka akan digunakan 237.500 bus yang menghasilkan emisi

Pengguna kendaraan

Jumlah

Faktor emisi (gr/km)

Emisi CO2 yang dikeluarkan

(gr)

Angkutan umum

237.500

703,19

2.505.114.375

 Jadi penghematan emisi adalah 12.636.512.400 gr CO2 atau 12.636.512,4 kg CO2 atau 12.636,5 ton CO2. Seberapa ngefek kah 12.636,5 ton ? Satu 1 ton emisi CO2 akan meningkatkan temperatur global kurang lebih sebesar 0,0000000000015 oC. Jadi jumlah kenaikan suhu yang bisa dicegah dengan jumlah emisi tersebut adalah 0,0000000189 oC.

 Ini memang perhitungan kasar dan jumlah tersebut memang kecil. Namun ingat, lingkup yang saya gunakan hanya Jakarta. Masih banyak sumber emisi CO2 yang setiap hari mengotori atmosfir. NASA pun mengatakan bahwa tingkat suhu pemanasan global 2 derajat celcius merupakan “batas aman”. Kenaikan suhu bumi 2 derajat, menyebabkan beruang lapisan es di greeenland mulai menghilang dan terjadi kenaikan air laut 7 meter secara global.

Ini seperti bom waktu saja. Jika 2 derajat adalah batas aman, berdasarkan berhitungan yang terlah dilakukan diatas, maka waktu untuk mencapai 2 derajat adalah

  • 2oC / 0,0000000189 oC = 105820105,8 hari = 289918 tahun

Memang dari perhitungan kasar ini akan lama sekali, namun sekali lagi, emisi ini hanya dari kendaraan bermotor dan hanya berlingkup di Jakarta. Masih banyak lagi sumber emisi yang tak dihitung dan masih banyak lagi jumlah manusia dibumi. Berdasarkan data yang saya peroleh, pada tahun 2011 rata-rata manusia dunia menghasilkan emisi CO2 sebesar 4,9 ton/orang /tahun (5) yang berasal bukan hanya dari nafas melainkan semua jejak karbon. Jumlah warga dunia tahun 2011 adalah 6,97 miliar juta jiwa. Maka…

  • Kenaikan suhu akibat emisi CO2 pertahun = 4,9  x 6.970.000.000 x 0,0000000000015 = 0,051 oC
  • Timer bom waktu = 2oC/0,051 oC = 40 tahun.

Berdasarkan hitung-hitungan kasar ini, waktu kita tinggal 40 tahun loh. Itu bukan waktu yang singkat. Terlepas dari apakah hitung-hitungan ini benar atau salah, satu hal yang pasti adalah bom waktu itu terus berjalan. Kita sebagai manusia, jangan sampai mengakselerasi timer bom waktu tersebut.

 Menurut saya, yang terpenting adalah berani memulai untuk mencegah perubahan iklim. Perubahan iklim itu nyata dan kita memiliki andil dalam penyebabnya, namun kita juga bisa berandil untuk mencegahnya dengan berbagai hal. Beralih ke transportasi publik adalah salah satu usaha kecil yang bisa kita lakukan dan akan langsung terlihat hasilnya yaitu tak ada satu mobil yang menyumbang emisi. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan untuk melawan perubahan iklim. Walaupun hal itu terkesan kecil dan sepele, lakukanlah. Hal-hal kecil yang digabung-gabungkan akan menjadi besar efeknya. Mau efek yang besar atau kecil ? Semua tergantung kepada kita.

Sumber

  1. http://www.ftsl.itb.ac.id/kk/air_waste/wp-content/uploads/2010/10/PI-AP2-Yusratika-Nur-15305026.pdf
  2. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/09/13/maa5px-pu-kemacetan-terburuk-di-jakarta-diprediksi-pada-2014
  3. http://blog.rojakstyle.com/?p=494
  4. http://www.tempo.co/read/news/2012/11/17/083442322/Pengguna-Kendaraan-Umum-Menurun
  5. http://edgar.jrc.ec.europa.eu/overview.php?v=CO2ts_pc1990-2011
  6. http://www.google.com/publicdata
Advertisements

4 comments on “Naik Transportasi Publik Yuk

  1. aku suka deh tulisanmu kalau sudah mulai ada perhitungannya, menujukan bukti kalau hal kecil yg kita lakukan untuk mencegah climate change pasti ngaruh

  2. assalamualaikum mas widi nama saya doddy, mahasiswa Ilmu komputer IPB angkatan 2009, saat ini sedang tugas akhir hehe

    mas, blog ini menginspiratif sekali bagi saya. jadi begini mas, sejujurnya saya beserta rekan saya total berjumlah 3 orang, sedang mengikuti lomba membuat aplikasi mobile yang diadakan oleh ITS mas. Alhamdulillah kami lolos mas, aplikasi mobile kami bernama SET (Smart Emission Tracker) dimana aplikasi tersebut dapat digunakan untuk mentracker kluaran emisi dari kendaraan pribadi. ketika saya baca blog post mas, mas dan saya mempunyai tujuan yang sama, bagaimana mengingatkan orang akan emisi yang dihasilkan oleh kendaraan pribadi mereka hehe. makanya saya sngat terinspiratif sekali.

    sebenarnya kami mempunyai permasalahan, bagaimana mendapatkan data emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan pribadi. saya sudah mencari ke menteri lingkungan hidup, sampai ke bengkel-bengkel, tidak mendapatkannya mas.. kira-kira mas widi tau dimana mendapatkan data tersebut? terima kasih sebelumnya mas 🙂

    NB: maaf tulisannya kepanjangan hehe

    • Makasih atas komentarnya. Thanks udah membaca.
      Selamat ya udah aplikasinya lolos.
      Aku kurang tahu dimana dapat datanya. Kalau di post aku data emisi bahan bakar kendaraan aku ambil dari makalah anak teknik lingkungan. Mungkin kamu bisa tanya ke anak teknik lingkungan di ITS dulu ada yang meneliti itu atau nggak. Biasanya kalau ada yang meneliti, dia data kayak begitunya lengkap. Atau kalau dulu aku mencari data penelitian yang aneh2, aku cari di jurnal internasional kayak sciencedirect, scopus, dll. Disitu lebih lengkap tapi nggak semua gratis.
      Maaf kalau kurang membantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s