Emas Untuk Ibu (PART I)

Lebih ke cerber daripada cerpen. Wooow, sebentar lagi satu resoulsi tahun ini akan terlaksana. Apakah itu ? Nanti akan aku beritahu. Sebentar lagi aku akan mengubah jawaban questuion of my life. New day will come. Salah seorang temanku pernah bertanya, kenapa cerpen yang kamu buat tidak dikirim ke majalah, kok malah dipublish di blog ? Kamu menerima apa yang kamu beri, jadi banyak-banyaklah memberi tanpa mengharapkan imbalan. That’s why.

Ibu…, kasihmu sepanjang jalan, tak pernah terputus ataupun termakan waktu. Bagiku ibu adalah sosok yang selalu bisa memberiku kasih kapapun aku butuhkan. Ibu adalah malaikat yang selalu menjaga tidurku. Ia selalu ada untukku disaat suka dan disaat aku merasa tidak ada siapapun yang berdiri di sampingku untuk mendukungku.

Sebelumnya aku akan menceritakan terlebih dahulu mengenai siapa diriku. Namaku adalah Dimas, aku adalah anak tunggal di keluargaku. Keluargaku adalah keluarga kecil yang bahagia walaupun bapak sudah pergi dalam kehidupanku. Bapak meninggal ketika aku berusia 10 tahun. Dulu bapakku bekerja sebagai supir truk untuk menghidupi keluargaku. Namun karena sering bepergian malam hari, bapak menderita penyakit paru-paru basah dan meninggal. Semenjak bapak meninggal, ibu yang bertugas untuk menjagaku dan memberiku nafkah.

Aku tinggal di kota Bandung, kota yang penuh dengan gemerlapnya factory outlet. Ibuku memiliki warteg yang berada di dekat kampus yang cukup ternama di Bandung. Aku ingin sekali masuk ke kampus itu, menimba ilmu di sana dan mengabdi untuk negara dan yang terutama mengabdi untuk ibuku. Semenjak bapak meninggal, warteg itulah yang menjadi tempat ibu menghasilkan uang untuk menafkahiku.

Warteg buka setiap hari dari pagi sampai sore. Setiap pagi ketika subuh ibu sudah harus pergi ke pasar yang sangat jauh untuk mendapatkan bahan mentah yang murah. Setelah itu, ibu harus berkutat dengan panasanya api kompor agar masakan bisa masak sebelum jam 7 pagi. Ibu tidak bekerja sendiri, ibu mempunyai teman yang membantunya di warteg. Akupun sering membantu ibu di warteg.

Aku salut dengan semangat ibuku. Semua ia lalui tanpa pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum dikala aku melihatnya sedang berkutat dengan kompor, dikala jarinya teriris karena terkena pisau, dikala ia harus melawan kantuknya karena harus ke pasar. Tak ada raut capek, semua ibu lakoni dengan ikhlas.

Sekarang aku sudah beranjak remaja, sudah saatnya aku kuliah. Sudah menjadi mimpiku untuk bisa berkuliah di universitas yang selalu aku lihat sejak kecil itu. Aku selalu menagung-agungkan gedung yang terlihat megah dari luar itu. Aku sering melihat mahasiswanya makan di warteg ibu. Rasanya senang jika aku bisa membuat ibu bangga jika melihatku kuliah di situ. Semenjak kecil aku jarang bisa membuat ibu bangga, aku hanyalah anak nakal yang selalu menyusahkan ibu.

Aku tak mau menyerah. Aku belajar keras untuk masuk ke universitas itu. Aku sangat sedih ketika mengetahui peraturan baru yang di tetapkan universitas itu. Semua tentang biaya. Aku yang hanya anak pemilik warteg mana mungkin bisa memperoleh uang puluhan juta rupiah untuk bisa masuk ke universitas ini. Harapan pupus, mungkin kuliah di universitas itu hanyalah mimpi dan terus akan menjadi mimpi.

Masih ada kesempatan. Beasiswa. Aku mencari banyak lembaga-lembaga yang bisa memberiku beasiswa masuk ke universitas itu. Aku ingin sekali tidak menjadi beban untuk ibu. Semenjak SD sampai SMA aku tak pernah bisa menghasilkan uang agar bisa membantu beban ibu.

Gagal, aku gagal mendapat beasiswa penuh. Rasanya aku sudah belajar sungguh-sungguh untuk bisa mendapat beasiswa itu, namun aku gagal. Rasanya tanganku gemetaran saat aku membaca surat yang mengumumkan kegagalanku. Harapan putus, mungkin lebih baik aku mencari beasiswa di universitas lain. Tapi aku ingin sekali kuliah di universitas teknologi itu. Aku ingin sekali bisa belajar ilmu teknik, aku ingin memajukan teknologi Indonesia dan kampus itu adalah tempat yang tepat dimana aku bisa menemukan jawabannya. Apakah mimpi ini lebih baik aku kubur saja ? Aku tak mau membebani ibu lebih banyak dari sekarang.

“Dimas, bagaimana tes beasiswa kamu ?”

Ibu mendatangiku yang sedang duduk di teras rumah. Rumahku sangat sederhana. Terletak tidak terlalu jauh dari universitas impianku. Hanya satu tingkat dan ada dua kamar. Perabot elektronik hanya ada televisi, kulkas, dan radio. Semua aku syukuri. Aku belajar banyak dari ibu agar selalu bisa mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya, bukan untuk merengek atas apa yang belum di dapatkan.

“Dimas gagal bu,” rasanya berat mengatakan itu.

“Kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Kan masih ada tes beasiswa yang lain ?” ibu melihat surat pengumuman beasiswa yang aku pegang.

Aku menunduk. Tes beasiswa memang ada, namun aku tidak akan mendapat beasiswa penuh. Pasti aku akan kena beberapa puluh juta sebagai uang masuk. Aku mencaci maki diriku sendiri, menganggap diriku bodoh.

“Dimas mau kuliah di universitas lain aja bu.”

“Loh kenapa, bukannya kamu pingin kulah disitu ? Kamu kan selalu bilang sama ibu kalau sudah menjadi mimpi kamu ingin kuliah disitu. Kamu kan pingin masuk jurusan teknik mesin disitu. Kenapa sekarang berubah pikiran ?”

Aku hanya menunduk sambil tesenyum paslu. Aku berusaha tegar, mencoba menyembunyikan alasanku sebenarnya untuk mempupuskan harapanku. Aku memandang jauh ke halaman rumah yang kosong. Langit belum pernah segelap ini. Tak ada bintang ataupun bulan. Semua penunggu angkasa seakan pergi dari singgasananya. Angin dingin berhembus, membelai tubuhku dan tubuh ibu.

“Ibu tahu, kamu pasti kepikiran masalah dana kan.”

Sepintar-pintar aku menyembunyikan perasaanku, ibu pasti mengerti apa yang ia rasakan. Sudah terjalin kontak batin yang kuat  antara aku dengan ibu.

 “Nggak kok bu. Dimas pikir…,”

“Udah kamu nggak usah bohong. Bohong itu nggak baik, apalagi sama orang tua. Dosanya berkali-kali lipat. Ibu nggak pernah mengajari kamu untuk berbohong. Sekarang kamu jujur sama ibu, apa alasan kamu nggak mau kuliah disitu ?”

        Aku menggigit bibirku. Kejujuran memang tidak selamanya menyenangkan namun aku tak mau membohongi ibuku.

        “Iya bu, Dimas tidak enak sama ibu. Masuk situ kan biayanya besar sekali. Aku nggak mau ibu terus terbebani kayak begini. Aku mohon ibu jangan bekerja lebih keras lagi agar bisa memenuhi biaya masuk di sana yang puluhan juta itu. Kalau aku lihat juga, mahasiswa yang sering makan di warteg ibu itu semuanya orang-orang kaya dan berpunya. Nampaknya sudah bukan takdirku untuk bisa berkuliah disitu.”

Ibu tersenyum kecil. Keriput-keriput yang menggores wajah ibu terlihat makin jelas saat senyum manis ibu terlukis di wajahnya. Ibu, ia sudah tidak muda lagi, kecantikannya sudah mulai luntur termakan usia.

 “Sekarang ibu tanya sama kamu. Menurut kamu apa defisini kaya ? Apakah kekayaan hanya dilihat dari harta saja ?”

Aku tidak menjawab. Diam, tertampar oleh pertanyaan ibu. Ibu memang paling pintar dalam mempengaruhi orang. Ibu melanjutkan ucapannya. Aku tahu sebentar lagi pasti pemikiranku akan berubah.

“Bagi ibu kita adalah orang kaya. Ibu memiliki harta yang sangat berharga, lebih berharga dari emas ataupun berlian. Kau tahu itu ?”

Aku menyipitkan mataku menatap ibu.

 “Tidak, memang bapak meninggalkan warisan apa untuk kita ?”

“Kamulah harta ibu yang paling berharga. Apapun akan ibu lakukan untuk membuat harta ibu lebih bersinar dari sebelumnya. Kamu pikir ibu tidak memiliki rencana mengenai kuliahmu. Kamu jangan pikirkan masalah biaya Dimas. Kamu pikir tabungan ibu sekarang ada berapa ? Ibu mampu kok membiayai kuliah kamu terutama biaya masuknya. Ibu sudah bekerja sekeras ini semenjak dulu kan untuk keperluan ini juga.

“Tapi bu, bukankah lebih baik uangnya ditabung untuk keperluan yang lebih urgen.”

“Inilah keperluan terurgen bagi ibu. Jika kamu berpikir kamu ini beban untuk ibu, biarlah ini yang terakhir kali kamu merasa menjadi beban untuk ibu. Ini pengorbanan terakhir ibu untuk mewujudkan mimpi kamu. Ibu akan merasa sangat sedih jika kamu dengan mudahnya mempupuskan harapan dan mimpi kamu. Sekarang belajarlah yang tekun agar bisa meraih potongan biaya masuk.”

“Tapi bu.”

Ibu melihatku dengan tulus. Aku menghentikan kata-kataku

“Ini terakhir kali Dimas, terakhir kali untuk kamu membebani ibu. Apakah setelah ini kamu masih mau menjadi beban ibu, itu semua terserah kamu. Yang ibu inginkan adalah melihat kamu meraih mimpi mulia kamu. Namun satu hal yang musti kamu tahu. Bagi ibu, kamu itu bukan beban, kamu adalah harapan ibu. Kebahagiaan kamu itu kebahagiaan ibu juga, kesedihan kamu itu kesedihan ibu juga. Jika kamu merasa sedih dan menyesal karena membuang mimpi kamu karena masalah biaya yang sebenarnya sudah bisa ibu penuhi ini, ibu akan merasa lebih tersakiti dari ini.”

Ibu tersenyum padaku. Aku tersenyum balik pada ibu. Baiklah, aku akan tunjukkan yang terbaik pada ibu. Aku berjanji, ini terakhr kalinya aku membebani ibu. Setelah aku kuliah dan lulus kuliah nanti, aku akan tunjukkan pada ibu kalau aku adalah anak yang bisa berguna untuknya. Terima kasih ibu.

*

Aku belajar mati-matian, siang malam aku menghadapi soal-soal yang harus aku hadapi untuk masuk ke universitas itu. Tak lupa aku selalu berdoa untuk keberhasilanku. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Dadaku berdebar, rasanya semua pemikiran di otakku bagaikan berlari ke segala arah, tak bisa fokus ke satu tujuan.

Aku bersyukur ketika aku dinyatakan di terima di universitas itu, jurusan teknik mesin. Jurusan yang aku inginkan. Dan aku mendapat potongan biaya masuk sebesar 50 %. Walaupun begitu ibu masih harus mengeluarkan kocek 20 juta. Entahlah, walau ibu sudah berkata bahwa ia mempunyai uang cukup untuk membiayaiku masuk, namun tetap saja aku merasa tidak enak dengan ibu.

Aku mendatangi warteg ibu. Warteg sedang tidak ramai karena belum jam makan siang. Matahari pagi masih bersinar anteng, tidang menyengat. Ibu sedang di dapur warteg, memasak sayur ikan tongkol. Harus aku akui, masakan ibu memang jempolan, jadi warteg ibu memang lumayan laris.

Ada wanita lain yang sedang melayani pembeli. Wanita itu lebih gemuk daripada ibu. Ia adalah Bu Warsinah, semua memanggilnya ibu Inah. Ia adalah tetangga rumah yang membantu ibu menjalankan warteg ini. Aku langsung berdiri di belakang ibu yang sedang sibuk dengan kompornya.

“Bagaimana kamu keterima ?” kata ibu

Aku berdiri di belakang ibu. Aku memasang raut sedih, mencoba mengelabuhi ibu. Nampaknya ibu belum pernah aku beri kejutan belakangan ini. Aku menundukkkan kepala, membuat aura gelap menyerubungi tubuhku.

“Dimas yang tabah ya, kegagalan itu adalah…,”

Aku langsung memotong perkataan ibu.

“Dimas keterima bu, jurusan teknik mesin,” kataku sambil mengubah ekspresi wajahku seratus persen. Aku tersenyum pada ibu.

Ibu tersenyum padaku, menunjukkan raut bangga padaku. Aku langsung mencium tangan ibu. Ibu selalu berdoa siang malam untukku, keberhasilanku juga berkat doa ibu. Ibu mengelus-elus kepalaku.

“Selamat Dimas, kamu sudah meraih mimpi kamu. Semoga kuliah kamu benar, kamu bisa menjadi mahasiswa yang teladan. Semoga setelah lulus nanti, kamu bisa menjadi insan yang bisa memajukan negara ini.”

Ibu…, terima kasih kamu selalu bisa mendukungku, memberiku kekuatan untukku bisa melewati keputusasaanku. Ibu, kamu adalah ibu terbaik yang pernah aku punya. Aku berjanji akan membuatmu bangga suatu hari nanti.

*

Ibu pernah berkata kalau ia sudah mempunyai dana yang cukup untuk membiayai biaya masuk kuliahku. Aku tak tahu apakah itu sebenarnya ibu berbohong ataukah berkata jujur. Rutinitas ibu tetap sama, tidak mengambil pekerjaan tambahan, tak ada juga perabot rumah yang menghilang. Berarti ibu tidak berusaha lebih untuk memenuhi nominal 20 juta uang masuk kuliahku.

Sudah saatnya pelunasan uang biaya masukku namun ibu belum sama sekali menunjukkan gerak-gerik akan melunasi biaya masukku. Aku ingin menanyakannya namun aku tidak enak untuk berkata. Aku sedang diwarteg, membantu ibu melayani pembeli. Sekarang sedang masa liburan sehingga warteg tidak sedang ramai walaupun jam makan siang.

Ibu dan Bu Inah sedang memasak di dapur warteg. Aku duduk di salah kursi belakang kaca makanan. Warteg ibu terdiri dari dua bangku panjang yang berjejer mengelilingi tempat makanan yang disajikan di dalam kaca. Bulan depan aku sudah akan berkuliah di universitas impianku tersebut. Senang rasanya aku bisa meraih mimpiku. Untuk masuk ke situ aku harus menendang beberapa kepala orang, ini merupakan kompetisi yang sulit. Aku akan tunjukkan kalau aku tidak akan mengecewakan ibu.

Aku melayani mahasiswa yang ingin membayar ketika Ibu keluar dari dapur dan meletakkan piring berisi tumpukan telur ceplok ke dalam kaca saji. Ibu duduk di sebelahku.

“Besok ibu akan ke bank untuk memasukkan uang ke rekening kamu.”

“Bu, memangnya penghasilan warteg itu seberapa, 20 juta kan bukan nominal yang kecil.”

Ibu tersenyum padaku. Senyum yang begitu ikhlas dan tulus. Senyum itu selalu bisa menghilangkan rasa tidak enakku.

 “Ibu sudah tahu kamu ingin kuliah disini sejak dulu. Ibu menabung sejak dulu.”

Aku mengangguk. Memang masih ada rasa tidak enak karena aku menghabiskan uang ibu dalam waktu sekejab. Namun ibu selalu bisa meyakinkanku kalau ini adalah pengrobanan terakhir untukku dalam hal biaya. Aku harus bisa memanfaatkan kesempatan kuliah disini.

Ibu kembali kedapur. Aku kembali membantu ibu melayani pelanggan yang bergerombol datang. Entah mengapa aku penasaran, rasanya ibu berbohong tadi. Aku ingat dulu ketika aku mau masuk SMA dan harus membayar uang masuk 1 juta, ibu sampai harus bekerja sambilan untuk memenuhi biaya masuk sekolahku. Sekarang, dua puluh juta dan ia bilang sudah ada simpanan. Kurasa ibu merencanakan sesuatu.

Sore hari tiba. Senja bagaikan pemandangan indah yang mendegradasi seluruh warna jingga dan biru ke dalam sebuah kanvas. Warteg sedang sepi. Bu Inah menjaga warteg sendirian, ibu sedang pergi. Aku pulang ke rumah, dimasa pengangguran seperti ini tak banyak yang bisa aku lakukan.

Aku masuk ke rumahku. Tepat sekali ibu sedang berada di depan pintu. Ibu kaget melihatku. Penampilannya sederhana, membawa tas hitamnya.

“Ibu mau kemana ?” tanyaku.

 “Ibu mau ke…,   pasar dulu ada yang harus dibeli.”

Gerak gerik yang mencurigakan. Ibu langsung mengubah ekspresi gugupnya dengan ekspresi tulus seperti biasa. Aku menyipitkan mataku.

 “Beli apa bu ?”

“Tisu, persediaan tisu di warteg udah mau habis. Udah ya keburu tokonya tutup.”

Ibu pergi meninggalkanku. Aku memang penasaran. Ibu pasti berbohong tadi. Aku tunggu semenit berlalu, memastikan kalau ibu sudah keluar dari halaman rumah. Aku keluar rumah, melihat ke gang. Ibu sedang berjalan. Aku mengikuti ibu dari belakang. Aku berjalan mengendap-endap, tak mau diketahui kalau ibu sedang dikuntit olehku.

Awan hitam sudah mulai menjamah langit, membuat udara semakin dingin. Apa mungkin ibu jujur mau membeli tisu. Ibu memang berjalan menuju pasar namun aku yakin tadi menangkap raut gugup dan kaget, seakan sedang merencanakan sesuatu. Aku ikuti ibu dari belakang memasuki pasar. Pasar sedang tidak ramai, karena sudah sore.

Ibu berjalan menuju ke sebuah toko. Aku melihat plang toko itu, toko emas. Aku memfokuskan pandanganku. Ibu melihat ke sekeliling memastikan kalau sedang tidak dilihat siapapun. Aku langsung bersembunyi di balik tembok menghindari pandangan ibu. Aku kembali melihat ibu, ia sedang berbicara dengan penjual di situ.

Lima belas menit aku menunggu. Ibu sudah pergi dari toko itu. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri toko itu. Suara derung mobil sedikit membuyarkan fokus pemikiranku. Untuk apa ibu ke toko emas ? Ia ingin membeli perhiasan ? Ibu bukan orang yang konsumtif seperti itu. Atau ibu ingin menjual perhiasannya untuk membiayai kuliahku ? Daripada berasumsi sendiri, lebih baik aku datangi saja.

Aku sampai di depan toko itu. Pelayan toko langsung menghampiriku. Ia wanita muda, mungkin 4 tahun lebih tua dariku. Aku melihat ke kaca, tempat perhiasan ini di jajakan. Anting, kalung, cincin emas, berkilap terang, memantulkan cahaya senja yang kelam. Aku tidak pernah melihat ibu mengenakan perhiasan jadi tidak tahu apakah salah satu perhiasan ini milik ibu atau tidak

 “Ada yang bisa saya bantu mas ?”

“Mmm,” aku berpikir sejenak mencoba merangkai kata-kata.

“Saya mau ngasih hadiah untuk ibu saya, kira-kira yang bagus yang mana ya mbak. Saya kurang ngerti selera ibu-ibu yang kaya apa sih.”

“Wah kalau selera orang-orang beda-beda mas. Emang budgetnya berapa ?”

“Emm, uang nyesuain lah. Yang penting barangnya dulu yang kayak bagaimana.”

Pelayan itu men-scan semua barang yang dijajakan engan matanya.

“Ini bagus lo mas. Tadi baru saja dijual sama ibu-ibu yang tadi dateng. Katanya sih ini peninggalan turun temurunnya.”

Pelayan itu mengambil empat buah gelang. Aku pernah melihat gelang itu. Itu gelang ibu. Ibu pernah memakainya satu kali. Gelang yang begitu indah. Berwarna emas, begitu mengkilap. Gelang itu bertabur batu berwarna hijau, mungkin batu giok. Aku memegang gelang itu.

”Iya ini bagus sekali. Memangnya ini dijual berapa ?”

“Tadi sih saya ngejual ke ibu-ibu itu semuanya 22 juta. Ini emas 24 karat, ada batu gioknya juga. Ya buat mas saya jual satunya 4,6 juta deh.”

Hatiku rasanya tergores. Jadi ibu berbohong kepadaku. Ibu hanya ingin membuatku tidak merasa menjadi beban yang lebih. Aku merasa di tertampar. Ibu…, maafkan aku, aku selalu menyusahkanmu.

“Wah bagus ya gelangnya. Emangnya kenapa ibu itu mau ngejual gelang ini ?”

“Yah katanya sih buat ngebiayain anaknya yang mau kuliah. Maklum biaya masuk kuliah sekarang gedenya gila-gilaan. Jadi mas mau beli yang mana ?”

“Ntar deh mbak, saya lihat-lihat di toko yang lain dulu.”

Aku melangkah pergi, pulang ke rumah. Pandangan sinis sang pelayang toko ia layangkan padaku karena aku tidak jadi membeli. Adzan magrib berkumandang, mengiringi langkahku menuju rumah. Sedih rasanya, lagi-lagi ibu berkorban untukkku. Itu adalah gelang turun temurun. Aku jadi tak enak. Ini memang mimpiku bisa kuliah disana, namun aku juga tidak mau ibu selalu berkorban seperti ini.

Baik aku berjanji. Aku berjanji pada diriku. Jika aku bekerja nanti, hal pertama yang akan aku lakukan adalah memberikan perhiasan untuk ibu. Aku akan menabung, mungkin beberapa bulan untuk membelikan ibu perhiasan yang seindah perhiasan itu. Untuk itu aku harus kuliah dengan benar, aku harus belajar, aku harus menjadimahasiswa teladan. Ibu…, sampai kapanpun pengorbananmu akan selalu aku ingat dalam setiap nafasku.

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s