Emas untuk Ibu (PART II)

Masa kuliahku tiba. Aku resmi menjadi mahasiswa teknik mesin di universitas itu. Ibu selalu membangga-banggakanku di depan tetangga. Senang rasanya bisa menjadi kebanggaan ibu. Aku tidak mau terlena dengan pujian ibu dan para tetangga. Memang sudah menjadi suatu hal yang hebat bagi orang-orang di lingkunganku jika bisa mausk ke universitas itu. Maklum lingkunganku kebanyakan berisi orang yang berada di bawah garis kemiskinan.

        Tahun pertamaku, aku mulai merasa kalau kuliah itu merupakan hal yang sangat sulit. Pelajaran yang berbeda dari di SMA. Tingkat kesuliatan memang tinggi namun aku tidak menyerah, aku belajar sungguh-sungguh. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan padaku. Terlebih lagi, aku tidak mau mengecewakan ibu.

        Aku berhasil, aku mendapat beasiswa uang kuliah selama aku kuliah disini namun IP-ku harus naik terus dan tidak boleh turun. Aku sanggupi itu, bagiku ini merupakan anugerah. Aku senang sekali karena bisa mengurangi beban ibu. Ibu tersenyum bangga padaku saat aku memberitahu kalau aku mendapat beasiswa uang kuliah dari salah satu lembaga.

        Tahun pertama berhasil aku lalui dengan sukses. Tidak ada halangan yang berarti pada hidupku. Bisnis warteg ibu juga lancar-lancar saja. Aku behasil meraih IP yang lumayan dan menanjak. Aku menyerahkan transkripku dengan penuh percaya diri pada ibu. Baru kali ini aku merasa bisa menjadi anak yang berguna untuk ibu.

        Tahun kedua di masa perkuliahanku. Aku mulai mencari pekerjaan sambilan, hitung-hitung untuk uang jajanku. Aku bergabung dengan salah satu lembaga bimbingan belajar dan menjadi guru panggilan di sana. Walaupun tidak seberapa yang dihasilkan, setidaknya aku bisa membagi ilmuku dan mendapat tambahan uang jajan.

        Teman-temanku tahu kalau aku hanyalah anak pemilik warteg di depan kampus. Mereka tak peduli. Mereka memang kebanyakan berasal dari orang yang berpunya, namun mereka tidak sombong. Aku kira orang kaya pasti sombong dan selektif dalam memilih teman, sepertinya asumsiku salah. Terkadang aku iri dengan kehidupan mereka yang bergelimang harta, namun bagiku aku adalah orang kaya karena aku memiliki orang yang mencintaiku, yaitu ibu.

        Aku masih memegang janjiku, membelikan emas untuk ibu namun aku tidak punya penghasilan yang besar untuk mewujudkan itu. Aku mulai menabung dari tingkat kedua, saat aku mempunyai penghasilan sendiri. Setidaknya aku ingin mewujudkan janjiku dari sekarang.

        Tahun kedua aku lewati dengan sukses. IP ku bagaikan grafik yang mendaki bukit, terus naik, membuat beasiswaku tidak dicabut. Aku sudah mulai merasakan betapa sulitnya kuliah, mempelajari ilmu-ilmu baru yang membuatku pusing kepala. Aku tahu ini konsekuensi kuliah disini dan aku tidak mau dikalahkan oleh tantangan itu.

        Aku memasuki tahun ketiga masa perkuliahanku. Sudah setengah jalan aku meniti jalan menuju mimpiku yang sebenarnya. Ritme perkuliahanku semakin menjadi-jadi, aku sering tidak tidur karena harus mengerjakan tugas yang super banyak. Semua aku lalui dengan ikhlas, ibu selalu mengajariku untuk bisa ikhlas menghadapi setiap cobaan dan tantangan.

        “Eh, kamu baru pulang Dimas jam segini. Ada acara apa si kampus ?”

        “Habis ngerjai tugas bu.”

        Aku langsung menuju kamarku. Malam sudah gelap, hanya bulan yang masih kuat bersinar di  langit yang gulita. Aku ngantuk, namun aku masih harus menyelsaikan beberapa pekerjaan. Aku mengambil handukku dan mandi. Selepas mandi aku langsung bergabung dengan ibu yang sedang menonton di ruang tengah.

        “Kamu istirahat yang bener, jangan kecapekan nanti kamu sakit.”

        “Tugasnya banyak bu, harus dicicil kalau tidak nanti kuwalahan di akhir,” aku mengelak.

        “Oya bu, Dimas mau izin pergi Sabtu besok boleh bersama teman-teman ?”

        “Kamu mau kemana emang ?” ibu mengecilkan volume suara televisi.

        “Ini bu, teman-temanku mau refresing ke vila teman yang berada di puncak. Yah hitung-hitung jalan-jalan habis pekan UTS. Boleh tidak bu ?”

        “Berapa orang ?”

        “Mungkin berdelapan. Cowok semua bu. Nanti naik bis berangkat bareng-bareng.”

        “Oh yasudah hati-hati. Sekali-sekali ibu juga pingin kamu menikmati yang namanya vila. Ibu izinkan kok.”

        Aku mempunyai teman-teman yang akrab denganku di angkatanku. Aku merasa nyaman berteman dengan semua teman-temanku, namun tetap saja ada kelompok dimana aku merasa paling nyaman. Besok Sabtu aku dan gengku akan pergi ke puncak, ke vila salah satu anggota geng. Setelah pekan UTS memang paling enak melepas lelah. Aku belum pernah pergi ke villa, mungkin aku akan menjadi yang paling kampungan disana.

        Hari Sabtu tiba, sudah saatnya aku pergi ke puncak. Pagi masih kental, suasana dingin masih menyelimuti kota Bandung. Aku sudah mempersiapkan beberapa stel pakaian ke dalam tas ranselku. Saatnya berangkat. Aku menuju warteg terlebih dahulu untuk pamitan dengan ibu.

        Ibu sedang melayani pembeli. Aku menunggu sesaat sampai pelanggan selesai dilayani. Ibu melihatku yang sudah siap dengan jaket dan ransel.

        “Bu, aku berangkat dulu ya,” kataku sambil mencium tangan ibu.

        Cinta ibu memang besar, namun raga ibu semakin menua. Keriput di tangannya sudah menelan semua kehalusan masa mudanya. Uban-uban juga sudah mulai terlihat menggores rambut hitamnya. Andai ibu pergi, siapa yang akan memberiku cinta dan doa lagi ? Aku hanya bisa berdoa agar ibu diberi umur panjang agar bisa melihat kesuksesanku.

        Aku berangkat dari warteg menuju ke pintu gerbang kampus. Teman-temanku sudah berada di sana. Aku melambaikan tanganku pada mereka.

        “Nah udah lengkap yuk berangkat,” kata salah seorang temanku.

        “Loh nggak jadi naik bis ?” tanyaku melihat dua buah mobil sudah menangkring di depan kampus.

        “Nggak, naik mobil aja biar disananya enak kalau mau mobile.”

        Tanpa banyak basa basi, kami semua langsung menyebar di dua mobil dan langsung menuju puncak. Karena bukan sedang dalam masa libur sekolah atau hari raya, kemacetan di puncak masih dalam taraf wajar. Kami semua melepas canda dan tawa di sepanjang perjalanan. Mobil ini enak, empuk dan adem. Beruntung sekali mereka bisa mempunyai mobil mewah seperti ini.

        Kami sampai di sebah vila yang cukup besar. Vila putih bertingkat dua. Halaman vila cukup besar dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Aku turun dari mobil. Udara yang dingin dan asri. Pepohonan menjadi elemen yang tidak bisa dipisahkan dari pemandangan sekitar. Bukit-bukit teh berjejer di balik bukit tinggi yang terlihat dari villa. Tetap saja terik matahari menusuk kulit.

        Nampaknya malam ini akan banyak kegiatan yang meyenangkan. Aku melihat ke halaman belakang, ada kolam renang yang cukup besar. Ada juga meja biliard dan meja pingpong. Temanku yang satu ini memang kaya, namun ingat, aku juga kaya, aku memiliki ibu yang menyayangiku. Itulah harta paling berhargaku.

        Hari sudah siang. Aku langsung berselonjor di sofa, berniat memejamkan mata. Tunggu, sudah jauh-jauh ke puncak masa hanya pindah tidur. Aku beranjak ke meja biliard, bermain permainan ini. Aku sama sekali belum pernah bermain biliard sebelumnya, jadi aku masih berada di tahap pemula.

        Siang sampai senja kami habiskan dengan bermain, menikmati semua fasilitas vila yang megah. Kami bermain biliard, kartu, pingpong. Memang enak jika kita mempunyai harta untuk membeli semua kesenangan seperti ini, namun tak selamanya kesenangan bisa dibeli dengan harta. Kebersamaan seperti inilah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Apa gunanya uang jika semua fasilitas yang dibeli dengan uang ini dinikmati sendiri.

        Malam telah tiba. Kami semua bersantai di ruang tengah. Malam sangat dingin. Uap tipis berhembus dari nafasku, menandakan suhu udara yang rendah. Aku kenakan jaketku, menghindari pori-pori kulit untuk terus menutup.

        Aku melihat kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri. Aku tak pernah menyangka kalau teman-temanku adalah orang yang sesat. Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat dan apa yang mereka tawarkan kepadaku malam itu. Haram, racun, itu adalah racun bagi masa depan.

        “Eh Dimas mau coba nggak lu ?”

        Aku mengambil bungkusan putih dari tangan mereka. Serbuk putih ada di dalam bungkusan itu. Aku mulai curiga dengan isi bungkusan itu.

        “Ini apa ?”

        “Udah lah coba ada enak kok, bisa membuat lo melupakan hidup lo selama sesaat. Ni lihat cara gw menikmati bungkusan ini ya.”

        Aku melihat temanku membuka bungkusan itu. Ia menghisap dengan menggunakan hidungnya. Aku melihat ke teman-temanku yang lain mereka melakukan hal yang sama. Ada juga yang menggunakan suntikan. Terlihat wajah mereka berbeda dari biasanya ketika serbuk putih itu masuk ke tubuh mereka.

        “Kalian pengguna narkoba ?”

        “Ini bukan narkoba, ini surga dunia.”

        Gila, mereka semua sudah gila. Aku tak mungkin meminum barang haram itu. Aku berada dimana ini ? Aku tak mau berada di lingkungan ini. Aku tidak mau terjerumus ke lembah hitam ini. Aku seperti berada di tengah-tengah api yang sedang mejalar, mecoba menyambar tubuhku.

        “Udah dim, coba aja.”

        Tawar salah satu temanku. Aku menepis bungkusan putih itu. Gila, aku tak mau. Aku tak mau mengecewakan ibu. Ini akan merusak semua mimpi dan masa depanku. Ternyata teman-temanku selama ini sudah gila.

        “Kalian gila ya. Kalian harus berhenti. Narkoba itu merusak masa depan kalian. Gw tidak pernah menyangka kalian ini semua sinting seperti ini,” aku berteriak kepada mereka semua.

        “Eh denger tu semua, kita ini sinting, hahahaha.”

        Teman-temanku yang lain malah tertawa. Ini sudah benar-benar keterlaluan. Kesenangan yang aku kira akan didapat berubah menjadi malapetaka seperti ini. Aku harus segera pergi dari sini. Aku tidak mau ikut pesta setan ini, namun mereka adalah teman-temanku, aku tidak mau teman-temanku terjerumus lebih dalam lagi.

        “Guys, gw ini teman kalian. Gw peduli dengan kalian. Kalian harus berhenti. Gw akan laporkan kalian ke orang tua kalian agar kalian di rehabilitasi.”

        Semua hanya tertawa mengolok-olok ucapanku.

        “Baik, gw akan pulang sekarang dan melaporkan kalian ke orang tua kalian.”

        Aku langsung menuju kamar, merapikan koperku. Gila, mereka adalah pengguna narkoba. Itu adalah barang haram menawarkan kesenangan yang fana. Aku tak sanggup melihat temanku seperti itu. Shock, aku tak pernah menyangka ini sebelumnya. Jantungku masih berdebar saat barang haram tadi berada di genggaman tanganku. Yang jelas aku harus keluar dari tempat ini sekarang.

        Aku sudah selesai berkemas saat aku mendengar suara gaduh di ruang tengah. Apa yang sedang mereka lakukan ? Aku langsung menuju ke ruang tengah.

        “Ada apa lagi sih ?”

        Aku terbelalak. Empat orang berjaket hitam sudah masuk ke dalam vila. Pria itu berbadan besar. Penampilan mereka sangar. Teman-temanku sudah berlutut di hadapan ketika pria itu. Salah seorang pria sedang menilik bungkusan putih, pil-pil dan suntikan yang tercecer di lantai. Mereka adalah polisi. Mereka tertangkap basah. Aku berada dalam masalah besar.

*

        “Sungguh pak, aku tidak ikut-ikutan seperti mereka, aku bahkan tidak tahu kalau mereka semua adalah pengguna narkoba,” aku mencoba mengelak.

        Air mata mengalir dari pelupuk mataku, sekarang semua masa depanku sedang dipertaruhkan. Yang paling terpikir olehku saat ini adalah ibu. Apa reaksi ibu jika mengetahui hal ini ? Aku tak mau menyia-nyiakan semua pengorbanan ibu padaku. Aku tak mau ibu kecewa padaku, ibu menaruh semua harapannya padaku.

        “Iya pak, saya juga tidak terlibat, saya juga bukan pengguna.”

        Salah seorang temanku juga mengelak. Jelas-jelas tadi aku melihatnya menghisap serbuk haram tadi. Sial, aku benar-benar tidak berada dalam posisi yang bisa membela diri. Teman-temanku ternyata begitu licik, tak ada yang mau membelaku. Semua berbaris berderet. Aku harus bisa membela diri.

        “Pak, saya sungguh-sungguh pak, saya tidak ikut-ikutan. Saya hanya berlibur bersama mereka. Saya…,”

        “Sudah cukup…, bukti sudah ada di tangan. Kalian sudah tidak bisa mengelak lagi.”

        Polisi itu bertampang sangat sangar. Kumisnya menyembunyikan semua kemarahannya. Ia menatapku dengan tajam. Aku balik menatapnya. Mungkin dari semua teman-temanku, akulah yang paling banyak mengelak. Aku tak takut. Asalkan aku benar, aku tak perlu takut.

        “Sudah pergi kalian. Hotel rodeo sudah menunggu.”

        Kami semua digiring menuju ke sel. Rasanya setiap langkah yang aku tapaki terasa lebih berat. Aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi padaku. Rasanya semua harapanku sudah pupus. Aku takut dengan masa depanku jika aku sudah pernah menyandang gelar tahanan.

        “Ini semua gara-gara kalian tahu nggak ?” aku berkata pada semua teman-temanku di dalam sel.

        “Apa sih lo. Kalau mau ribut, ribut deh.”

        Aku langsung berdiri, emosi sudah menguasai tubuhku. Aku tak takut dengan mereka. Bagiku rasanya tali pertemanan ini sudah rusak. Aku tak percaya lagi dengan mereka. Polisi yang mejaga penjara langsung menghampiri kami yang sudah mengambil kuda-kuda untuk berkelahi.

        “Kalian mau ngapain ? Kamu sini.”

        Polisi itu memanggilku. Aku memandang jijik temanku. Mereka juga melakukan hal yang sama denganku. Aku menuju ke pintu sel. Poisi itu langsung mengcengkrang lenganku dengan keras. Aku dibawa keluar sel dan dimasukkan ke sebuah sel lain.

        “Kamu ini bandel banget, udah kamu malam ini nginep disini.”

        Aku didorong masuk ke sel itu. Sel yang lembab, bau dan gelap. Sendiri disini. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis. Aku tak punya uang untuk menyewa pengacara atau semacamnya. Aku takut akan masa depanku. Aku takut dikeluarkan dari universitasku, aku takut semua harapan yang sedang aku susun ini kandas.

        Ibu, aku merasa sangat bersalah padamu. Walaupun aku tidak melakukan hal terlarang yang teman-temanku lakukan, pasti keadaan akan berubah setelah ini. Apakah setelah ini ibu akan berhenti mendoakanku dan akan mengutukku ?

*

        Aku berada di sebuah meja. Ibu duduk di depanku. Meja ini hanya ada aku berdua dengannya. Ibu tak mau menatapku, ia lebih memilih menatap kosong ke arah tembok yang berada di sampingnya. Mungkin bagi ibu aku tak lebih dari sekedar aib saja. Aku adalah anak yang paling durhaka bagi ibu sampai-sampai ibu jijik untuk menahanku.

        Aku tak punya waktu banyak, para polisi sudah menjatah waktu pertemuanku dengan ibu. Disampingku ada beberapa meja, namun pembicaraan dimeja lain jauh lebih luwes daripada dimejaku. Aku bagai membisu, dibungkam oleh kekecewaan dan penyesalan.

        Aku telah mengecewakan ibu. Aku sudah tidak mempunyai masa depan seperti dengan apa yang aku harapkan lagi. Aku berharap ini hanyalah mimpi buruk saja, lalu aku akan terbangun menjalani hari-hariku sebagai seorang mahasiswa biasa.

        Akhirnya ibu menatapku. Raut wajah penuh kekecewaan, kesedihan dan kegundahan. Aku menunduk, malu melihat wajah ibu. Aku menangis, tak tega melihat kekecewaan itu mengalir dari wajah ibu.

        “Dimas…,”

        Aku memberanikan diri melihat wajah ibu. Raut kekecewaan itu telah sirna, ibu tersenyum padaku. Senyum halus yang selalu menemani hariku. Senyum tulus tanpa ada noda kesedihan ataupun nada jijik kepadaku. Dari sorot matanya, aku yakin ibu memaafkanku, betapa mudahkan aku dimaafkan ? Aku bahkan belum mengatakan apa-apa pada ibu.

        “Bu…,” aku mengucapkan satu kata.

        “Sudahlah Dimas, ibu percaya kamu tidak melakukannya. Kamu hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.”

        Ibu.., ia memang malaikat untukku. Disaat semua teman-temanku tak ada yang mau membelaku, hanya ibu yang bisa berdiri disampingku. Terima kasih Tuhan, Engkau menghadirkan sosok ibu dalam kehidupanku.

        “Dimas minta maaf bu.”

        “Kau tak bersalah nak, tak ada yang perlu dimaafkan. Jangalah kamu bersedih. Sekarang kamu sedang terjatuh namun kamu akan bisa bangun kembali. Sekarang hapus air matamu. Kamu ini anak laki-laki, kamu harus kuat.”

        Aku menarik nafas, mencoba menguatkan diriku. Ibu masih tersenyum padaku. Senyum yang memberiku kekuatan untuk melawan cobaan ini. Jujur, di dalam lubuk hatiku aku merasa sangat bersalah kepada ibu.

        “Kamu jangan merasa bersalah pada ibu. Ibu baik-baik saja.”

        “Bagaimana dengan kuliah Dimas bu, sudah seminggu semenjak kejadian ini. Apakah Dimas dikeluarkan ? Pihak kampus tahu bukan ?”

        Aku menunggu ibu mengeluarkan kata-katanya. Inilah penentuannya. Sudah bisa dipastikan kalau aku dikeluarkan dari kampus. Mana ada kampus yang mau menerima mahasiswa yang pernah diduga pengguna narkoba.

        “Dimas, kamu tenang. Tidak selamanya impian akan terwujud melalui jalan yang kamu pikirkan. Mungkin kampus memang bukan jalan yang akan membawamu untuk mewujudkan mimpimu…,”

        “Jadi Dimas dikeluarkan ?” Aku memotong perkataan ibu.

        “Dimas kamu yang tabah ya. Kamu memang dikeluarkan namun…,”

        Aku kaget mendengar kalimat itu.. Dikeluarkan ? Lalu bagaimana dengan masa depanku setelah ini ? Aku langsung mengeluarkan air mata. Nafasku sesak, tak kuat menahan beban ini. Lalu bagaimana dengan masa depanku setelah ini ? Ini tidak adil, aku kan bukan pengguna narkoba seperti teman-temanku.

        “Apakah kamu mengizinkan ibu melanjutkan yang ingin ibu katakan kepadamu ?”

        Aku mengangguk. Ingin rasanya aku berteriak karena ketidakadilan ini, namun aku tidak punya tenaga untuk menggetarkan pita suaraku. Ibu tetap terdiam, menungguku menguatkan diriku sendiri. Aku membuka mata, menatap ibu.

        “Dimas, kamu memang dikeluarkan, namun kamu masih mempunyai harapan kamu kan ? Jangan pikir harapan kamu sudah menguap karena kamu dikeluarkan. Banyak jalan menuju roma. Masih banyak cara yang dapat kamu lakukan untuk mengejar mimpimu. Kamu adalah mahasiswa yang pintar, cerdas dan ulet, tak perlu gelar atau ijazah untuk bisa mengabdi pada negara. Asalkan kamu punya semangat dan harapan, kamu masih bisa mewujudkan mimpi kamu. Sekarang bangkitlah dari keterpurukanmu. Jangan biarkan cobaan ini melumpuhkanmu. Kamu harus bisa berdiri dengan kakimu sendiri. Ibu mungkin bisa membantu memapahmu, namun kamu harus punya kekuatan untuk berdiri di atas kakimu sendiri.”

        Ibu memang benar, namun tetap saja ini masih masa tersulitku. Tak semudah itu aku bisa bangkit. Ibu tetap tersenyum padaku. Aku harus kuatkan diriku, namun aku tidak sekuat ibu yang selalu bisa terbangun setiap batu menyandungnya.

        “Menangislah Dimas, jika itu bisa membuatmu kuat dan bangkit kembali. Bahkan seorang priapun butuh menangis,” ibu tersenyum padaku.

        Aku menutup kedua mataku dengan tangan kananku. Seletika bertetes air mata mengalir dari mataku. Aku buang semua rasa sedih, takut dan kekecewaanku melalui air mata ini. Setidaknya ini bisa membuatku sedikit lebih lega. Aku merasa sangat durhaka pada ibu.

        “Dimas sekarang tatap mata ibu.”

        Aku menggeleng, tak kuasa menatap mata yang penuh kasih itu.

        “Dimas tatap mata ibu,” ibu mulai tegas.

        Aku melepaskan tanganku dari mata dan menatap ibu. Ibu terlihat berbayang oleh air mataku. Aku mengedipkan mataku dan mengusap air mataku. Ibu…, ia tersenyum kepadaku. Ia membasuh hatiku dengan cintanya yang tulus.

        “Dimas, apapun yang terjadi, kamu jangan pernah berhenti bermimpi untuk membangun harapanmu. Ibu akan selalu ada di samping kamu nak. Ayo sekarang berjanji pada dirimu sendiri kalau kamu akan bangun dari keterpurukanmu.”

        “Dimas takut bu, bagaimana jika sidang Dimas satu minggu lagi membuktikan kalau Dimas bersalah.”

        “Kamu tidak menggunakan narkoba kan ? Ya sudah jangan berpikir negatif. Kamu pasti bebas. Percaya pada ibu.”

        Waktu sudah habis. Saatnya aku kembali ke sel, ke dalam kesendirian. Aku berpisah dengan ibu. Walau ragaku jauh dari ibu, aku bisa merasakan cintanya menembus dimensi ruang dan menghangatkan jiwaku. Ibu…, terima kasih, kasihmu memang sepanjang jalan.

*

         Sidang sudah dimulai. Aku sudah duduk di kursi terdakwa. Aku takut. Semua memandangku jijik. Aku hanya bisa menunduk, tak sanggup mendengar apa yang akan dikatakan jaksa. Aku yakin akan bebas, aku yakinkan itu. Aku tidak ikut-ikutan mengkonsumsi narkoba, jadi mana mungkin aku ikut bersalah.

        Hakim itu mulai berkata. Sebuah kalimat yang menentukan masa depanku. Nafasku semakin tidak menentu. Aku tidak bisa fokus dengan apa yang dikatakan hakim. Aku hanya bisa berdoa dalam hati

        “…dijatuhi hukuman penjara selama 6 bulan.”

        Aku melotot. Aku dikenai hukuman enam bulan penjara ? Karena apa ? Aku tidak bersalah. Hanya karena aku tidak segera melaporkan pesta narkoba itu. Hey, aku bahkan tidak tahu kalau teman-temanku adalah pencandu narkoba. Aku menatap hakim itu, mengatakan ketidakadilan mellaui sorot mataku. Palu sudah diketuk, keputusan sudah bulat. Aku akan dipenjara.

        “Ini tidak adil. Anak saya tidak bersalah, mengapa harus dipenjara ?”

        Aku menatap ibu yang duduk di belakangku. Ia berdiri dari duduknya, berteriak pada seluruh hadirin yang datang. Wajah ibu begitu serius menatap hakim yang duduk di depan. Ibu…, hanya dia yang berani berdiri untukku, memperjuangkan masa depanku.

        “Keputusan sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.”

        Hakim mengacuhkan ibu, perlawanan ibu tidak ada gunanya. Ibu mencoba maju, sepertinya emaosinya sudah mulai memuncak. Bu Inah langsung menghalau ibu yang mau bertindak nekat. Ibu Inah mendorong tubuh ibu keluar ruang sidang. Aku malu pada diriku sendiri, bahkan aku tidak berani bertindak seperti ibu untuk masa depanku sendiri.

        Aku akan dipenjara 6 bulan, memang lebih ringan dari semua teman-temanku. Dari tes urin, aku tidak terbukti mengonsumsi narkoba, namun aku membiarkan pesta narkoba terjadi. Aku akan menghabiskan riawayat mudaku selama 6 bulan di balik terali besi. Aku melihat ke belakang. Ibu sempat melihat ke mataku sebelum ia dibawa keluar oleh Bu Inah dan beberapa tetanggaku. Mata ibu tetap tulus menatapku, tanpa ada noda hitam yang menggores cintanya padaku. Maafkan aku ibu….

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s