Emas Untuk Ibu (PART III)

        Hari-hariku berikutnya sungguhlah suram. Aku berada di lingkungan yang benar-benar bukan dil lingkunganku. Orang-orang brutal dan licik berkumpul di satu tempat. Aku takut sekali bersosialisasi disini. Teman-temanku yang dulu saja aku anggap teman berani menjerumuskanku secara tidak langsung, apalagi dengan orang yang ada disini.

        Aku masih tenggelam dalam keterpurukan. Apa yang akan aku lakukan setelah keluar dari sini ? Aku tidak kuliah lagi. Aku tidak punya bekal ijazah untuk melamar kerja. Apa yang akan aku lakukan untuk membuat ibu bangga padaku ?

        Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah janjiku pada ibu. Janji untuk membelikan emas pada ibu. Sekarang emas yang dulu ibu jual sudah tidak berharga, dijual untuk suatu hal yang tidak berarti lagi. Bagaimana aku bisa menepati janji itu pada diriku sendiri ? Rasanya tidak ada hal dapat aku lakukan jika pernah menyandang gelar tahanan.

        “Hey kamu, kamu dijenguk oleh ibumu.”

        Aku baru berada dua minggu disini. Aku sudah tidak betah disini. Ingin aku segera keluar untuk menghirup udara bebas. Aku berjalan meuju ruang pertemuan. Ibu…, hanya dia yang mau menjengukku disini. Tak ada satupun teman yang menjengukku. Apakah aku hanya menjadi aib bagi mereka sekarang.

        Aku masuk ke sebuah ruangan. Sudah ada ibu diruangan itu.  Aku duduk di depan ibu. Ibu tersenyum padaku.

        “Gimana kabar kamu Dimas ?”

        “Dimas nggak betah disini bu, Dimas mau pulang aja.”

        “Kamu yang sabar, kamu sekarang sedang diuji. Kamu memang tidak bersalah dan tidak pantas berada disini. Pasti ada maksud Tuhan memberikan kamu ujian ini. Setelah ini pasti kamu akan menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya.”

        “Dimas hanya khawatir dengan masa depan Dimas. Apa yang harus aku lakukan ?”

        Senyum ibu tidak pudar.

        “Kamu yang harus membangun harapan dalam diri kamu sendiri Dimas. Ibu tidak bisa membantu banyak, ibu hanya bisa membantu doa untukmu. Khawatir tidak akan meyelesaikan masalah, lakukan sesuatu untuk masa depanmu.”

        Aku tersenyum kecil. Rasanya aku berhutang terlalu banyak pada ibu. Aku selesai bertemu dengan ibu. Aku kembali ke penjara. Penjara terletak di Jakarta, ibu harus bolak balik Bandung Jakarta jika ingin menjengukku.

        Aku berpikir sejenak. Aku merencanakan hidupku kedepannya. Buntu. Ambil sisi positifnya, mungkin bukan sekarang aku bisa mendapatkan jawabannya. Yang jelas pasti ada yang bisa aku lakukan untuk membangun masa depanku. Mimpi dan harapanku akan kubangun. Aku sekarang memang terjatuh, namun enam bulan lagi aku akan bangun dan menatap dunia dengan semangatku. Ibu, lihatlah aku akan membelikan emas untukmu, aku akan tepati janji itu.

*

        Sudah tiga bulan aku menetap dipenjara. Sudah setengah jalan aku berada di tempat tertutup ini. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menatap dunia luar. Tiga bulan terasa sangat lama, mungkin karena setiap hari pekerjaanku hanyalah menghitung hari.

        Siang ini aku memandangi langit yang mendung. Berpikir sejenak mengenai rencana-rencana yang bisa aku lakukan setelah ini. Aku tidak mau kuliah lagi, rasanya buang-buang waktu dan uang. Mungkin setelah ini aku akan bekerja saja. Bekerja dimana ya ? Bengkel atau perusahaan otomotif sepertinya menjanjikan.

        “Dimas, ibu kamu mau bertemu kamu.”

        Aku langsung bersemangat. Ibu selalu datang minimal tiga minggu sekali. Aku langsung menuju ke ruang pertemuan. Ibu sudah duduk di sana, penampilannya jauh lebih cantik dari biasanya. Aku langsung duduk di depan ibu.

        “Ibu cantik sekali hari ini.”

        “Selamat ulang tahun Dimas.”

        Ibu menyodorkan kue ulang tahun kecil untukku. Ya ampun aku bahkan lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Ibu memang selalu ingat, tak pernah lupa. Ibu meletakkan kue itu, aku mencium tangan ibu. Tak terasa usiaku sudah 20 tahun, aku sudah berkepala dua.

        “Semoga kamu panjang umur, sehat selalu dan bisa memperoleh cita-cita kamu. Ibu akan selalu doakan untuk kamu.”

        Aku tersentuh saat doa-doa itu membanjiri hatiku. Aku memakan satu slice kue yang ibu bawa untukku. Polisi memberikan keleluasaan karena ibu memohon kepada mereka. Ibu berdalih kalau hari ini hari ulang tahunku.

        “Ini buat kamu, makanan wajib kalau ulang tahun kamu.”

        Ibu menyodorkan tempat makanan kepadaku. Nasi kuning. Setiap tahun ibu memang selalu memasak nasi kuning di hari ulang tahunku. Nasi kuning buatan ibu adalah nasi kuning terenak yang pernah aku makan. Aku menyantap nasi kuning itu dengan lahap. Rasanya lebih enak dari sebelumnya. Baru kali ini aku merasakan kebahagiaan hari ulang tahun yang sebenarnya.

        “Dimas, apa resolusi kamu tahun ini ?”

        Aku bepikir sejenak. Yang jelas aku ingin melanjutkan tabunganku untuk membelikan emas untuk ibu, namun aku tidak tahu dariumana bisa memperoleh uang banyak setelah keluar dari sini. Bagaimanapun aku tidak akan menyerah.

        “Mungkin Dimas akan langsung cari kerja setelah keluar dari sini.”

        “Kamu yakin ? Kamu tidak mau kuliah dulu.”

        “Kuliah dimana ? Memangnya ada universitas yang mau menerima mahasiswa yang punya riwayat narapidana.”

        Ibu tersenyum kecil, senyum manis yang selalu memancarkan cinta kepadaku.

        “Pasti ada Dimas. Jangan pernah rasa takut menghalangi langkahmu. Kalau kamu punya keyakinan bisa berkuliah lagi, kenapa tidak ? Oya ibu punya hadiah untuk kamu.”

        Ibu menyodorkan sebuah kotak berbungkus kado batik kepadaku. Aku mengambil bungkusan itu. Jarang ibu memberiku kado ulang tahun. Bagiku, kehadiran ibu adalah kado terindah yang diberikan di hari ulang tahunku hari ini.

        “Apa ini bu ?”

        Aku menilik kertas kado tersebut, menerka-nerka apa isinya. Cukup berat. Aku langsung membuka kertas kado tersebut dengan pelan, mencegah sampul batiknya robek. Aku mengambil barang yang tersembunyi di balik kain pembungkus itu. Sebuah buku, buku pelajaranku. Ini buku pegangan untuk mahasiswa jurusanku. Aku menatap ibu, bertanya maksud ia memberikan ini.

        “Walaupun kamu tidak berkuliah, bolehkan kamu belajar,” kata ibu

        “Memangnya ini boleh dimasukkan ke sel bu ?”

        “Ibu sudah memohon izin pada dan boleh.”

        Aku membaca judul buku itu, nampaknya menarik. Memang kewajiban belajar tidaklah ketika hanya berstatus mahasiswa. Biasanya aku alergi dengan buku setebal ini, namun kali ini aku punya semangat untuk melahap buku ini. Terima kasih ibu.

        Siang malam diwaktu kosong, aku belajar dari buku ini. Ini adalah buku pegangan untuk jurusanku. Semua ilmu yang diajarkan di kelas terangkum dalam buku ini. Memang tebal, bahkan sangat tebal. Setidaknya hari-hariku tidak terasa ketika aku mempunyai kesibukan yang harus aku lakukan, melahap buku ini.

*

        Sudah lima bulan aku terkurung disini. Terkurung karena ketidakadilan. Aku dihukum atas pasal yang jelas, namun mereka tidak mendengarkan alasanku sebenarnya. Apa hanya karena aku tidak bisa menyewa pengacara. Apa hanya karena aku adalah orang miskin ? Ups, mengapa aku selalu mengeluh, biarlah ini menjadi cobaan dalam hidupku. Setelah ini aku akan bangkit dari cobaan ini dan menatap masa depanku yang cerah.

        Aku senang sekali hari ini. Aku bisa bebas hari ini. Baru lima bulan dan aku mendapat remisi. Aku bisa menghirup udara bebas hari ini. Kelakukan baikku selama dipenjara bisa membuatku mendapat satu bulan remisi, memberiku kunci untuk bisa melihat dunia yang luas.

        Ibu sudah datang untuk menjemputku. Aku sudah berpakaian normal, tidak menggunakan baju rutan yang terkutuk itu. Aku menghampiri ibu yang berdiri di depanku. Aku mencium tangan ibu. Ibu tetap tersenyum kepadaku.

        “Bu maafkan aku,” kataku sambil mencium tangan ibu.

        “Kamu tidak bersalah Dimas, kamu adalah pemenang. Ayo sekarang kita pulang. Ibu akan buatkan masakan untukmu.”

        Aku berjalan keluar rutan itu. Para polisi mengiring kepergianku. Aku meninggalkan rumahku selama lima bulan terakhir. Berbagai pengalaman pahit disini sekarang hanya akan menjadi sebuah lembaran hitam yang sudah aku tutup. Saatnya aku membuka lembaran baru yang masih putih.

        Aku menghirup udara luar yang segar. Serasa angin dingin berhembus, menyambutku yang sudah bisa menapakkan kaki keluar rutan. Ibu berjalan di sampingku. Ia mengelus kepalaku. Aku sudah memiliki sebuah gelar, gelar yang sama sekali tidak aku inginkan. Mantan narapidana.

        Aku menuju ke terminal untuk pulang ke Bandung. Aku naik ke bis yang bertuliskan Bandung di kaca depannya. Aku duduk di sebuah bangku, ibu duduk di sebelahku. Pulang…, setelah enam bulan merantau ke negeri hitam, akhirnya aku pulang.

        “Dimas, setelah ini apa rencanamu ?”

        “Dimas ingin cari kerja saja Bu.”

        “Cari kerja dimana ?”

        Aku terdiam, tak tahu mau menjawab apa. Bis berjalan pelan, meninggalkan terminal yang sedang ramai. Derungan halus bus mengiringi kepergianku dari ibu kota.

        “Entahlah bu, Dimas juga masih belum kepikiran.”

        “Kenapa kamu tidak kuliah lagi saja ?”

        “Dimas ingin cari uang saja bu untuk membantu ibu. Dimas akan terus belajar, namun belajar tidaklah harus dengan kuliah.

        Aku memandang keluar jendela. Mobil-mobil lalu lalang, silih berganti. Pemandangan pepohonan dan bukit-bukit mulai terlihat, menandakan aku semakin dekat dengan rumahku yang sebenarnya.

        “Ibu mau kamu pergi ke kampus hari senin besok.”

        “Untuk apa bu ? Dimas bukanlah mahasiswa di universitas itu lagi. Lagi pula Dimas malu, Dimas adalah mantan narapidana.”

        “Itu yang ibu tidak suka. Kamu malu dengan dirimu sekarang ini. Ibu tidak mau kamu malu dengan keadaanmu yang sekarang. Narapidana bukanlah gelar yang harus membuatmu menutup muka dari dunia. Ibu mau datang ke kampusmu senin depan.”

        Aku tak enak menolak keinginan ibu. Baiklah aku turuti keinginan ibu. Aku akan ke kampus hari senin depan. Walaupun aku sebenarnya sedikit malu dengan gelar mantan narapidana ini, namun aku tidak mau menolak keinginan ibu.

        “Jika kamu tidak sanggup, ibu akan temani kamu. Bagi ibu kamu adalah anak kebanggan ibu tak peduli kamu bergelar mantan narapidana.”

        Betapa besar pengorbanan ibu padaku untuk membuatku bisa terbiasa dengan gelar baruku ini. Aku tak mau ibu menanggung malu juga. Jikalau aku harus kekampus, aku akan kekampus sendiri

        “Baiklah bu. Dimas akan ke kampus hari senin, ibu tak perlu ikut.”

        Aku sampai di kota Bandung, kota kelahiranku. Factory outlet berjejer, bagaikan prajurit yang berdiri di antara karpet merah. Pohon-pohon menari karena hembusan angin, betapa segarnya bisa bebas. Aku sudah tidak sabar tertidur kembali di kamarku.

        Aku turun dari bisa dan langsung naik angkot yang menuju ke rumahku. Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya mencekoki mataku dengan pemandangan sekitar yang begitu bebas. Memang kebebasan itu indah.

        Aku sampai di rumah. Malam ini aku habiskan malam berdua dengan ibu. Biasanya juga demikian, namun malam ini terasa lebih syahdu. Mungkin karena aku bisa kembali menikmati makanan di meja makan ini setelah lima bulan terkurung. Makanan yang ibu masak terasa lebih nikmat. Aku sampai nambah sampai tiga kali. Ibu, terima kasih, kamu bisa selalu ada kapanpun untuk menemaniku.

*

        Hari Senin tiba, aku sudah berjanji pada ibu untuk pergi ke kampusku. Hari ini masih dalam masa libur kuliah, minggu depan baru masuk semester baru. Seminggu sebelum kuliah berarti dalam masa registrasi pendaftaran kuliah. Aku menyelesaikan makan pagiku dan langsung meluncur ke kampus.

        Sepanjang perjalanan aku berpikir, apa reaksi teman-temanku ketika melihatku ? Apakah mereka mau menganggapku teman mereka. Teman-temanku yang terbukti positiv mengonsumsi narkoba masih di penjara. Apakah mereka menganggap aku sama seperti teman-temanku itu ? Gosip apa yang berkembang di telinga mereka tentangku ?

        Yang jelas aku tidak boleh malu dengan diriku sendiri. Aku tak peduli apa reaksi teman-temanku asalkan aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku memasuki halaman kampus. Sudah lima bulan, wajah kampus tidak banyak berubah. Biasanya aku selalu masuk dengan semangat dan tanpa beban, namun sekarang terasa sangat berat.

        Aku menapaki tanah kampus ini. Tak ada pandangan aneh dari orang yang berpapasan denganku. Kampus memang sepi, tidak banyak aktivitas mahasiswa yang sedang dilakukan. Aku menuju gedung jurusanku. Jantungku berdebar, adrenalin sedikit terpacu. Aku menarik nafas panjang. Mantan narapidana hanyalah titel tak tertulis, aku tidak boleh kalah dengan titel itu.

        Aku bertemu dengan salah seorang temanku. Ia sedang berkumpul dengan lima orang temanku lainnya. Mereka melihatku, menyipitkan matanya. Tak ada raut jijik atau benci, tatapan biasa seorang teman. Aku senang mereka tidak mengacuhkanku.

        “Ya ampun Dimas, lo udah bebas ?”

        “Udah. Gw dapet remisi satu bulan, jadi bisa langsung bebas.”

        Hening. Canggung. Pembicaraan tidak seluwes biasanya. Aku memandang teman-temanku tanpa mengucapkan sepatah katapun.

        “Tenang aja Dim. Kita tahu lo nggak bersalah. Lo nggak perlu sampai ngerasa nggak enak sama kita. Lo itu teman kita.”

        Aku tersenyum kecil. Mereka memang teman-temanku yang baik.

        “Kalian lagi ngapain ?”

        Aku melihat temanku yang sedang asyik dengan laptopnya. Pasti sedang mengisi rencana studi. Iri aku melihatnya. Andai aku masih berkuliah disini, satu setengah tahun lagi aku pasti bisa lulus, menyandang gelar sarjana teknik.

        “Gw lagi ngisi rencana studi. Lo dah ngisi ?”

        Aku menyipitkan mataku, bingung dengan pertanyaan yang diajukan temanku.

        “Gw kan udah di DO.”

        “Hah di DO ?” Temanku memandang bingung kearahku. Loh mengapa kami jadi sama-sama bingung ?

        “Lah kan lo nggak jadi dikeluarin. Emang nyokap lo nggak ngasih tahu ?”

        Aku menggeleng. Aku tidak jadi dikeluarkan ? Apakah ini hanya mimpi ataukah ini benar-benar kenyataan. Aku melotot kaget mendengar perkataan temanku. Apakah aku sedang dikerjai ?

        “Lo nggak bohong kan ?”

        “Seriusan. Lo nggak jadi dikeluarin.”

        Temanku sepertinya tidak bohong. Wajahya serius. Aku langsung tersenyum gembira. Aku masih bisa menggunakan mimpi yang lama. Aku tidak dikeluarkan dari kampus, tak apa jika harus menunda satu semester lebih lama. Senang, rasanya semua harapan langsung bisa aku susun dengan mudah. Aku langsung sujud syukur.

        “Memangnya kenapa gw nggak jadi dikeluarin.”

        “Nyokap lo yang bela-belain lo sampai lo nggak jadi dikeluarin. Bilang makasih sama nyokap lo. Yang kita tahu sih gitu. Nyokap lo sering kok dateng pas kesini buat ngurus administrasi lo.”

        Ibu…, lagi-lagi kau berkorban untukku. Rasanya menggendongmu keliling duniapun tidak akan bisa membalas semua budimu. Jadi selama ini ia memberiku buku hanya untuk memotivasiku, membuatku belajar sungguh-sungguh tanpa suatu targetan nilai yang harus dicapai.

        Aku langsung keluar kampus, berlari saking senangnya. Aku harus berterima kasih pada ibu. Aku sampai di depan warteg ibu. Ibu sedang di dapur warteg, menumis capcay yang akan dihidangkan. Aku menunggu dibelakang ibu, tak mau mengganggu pekerjaannya. Aku tatap sosok ibu dalam-dalam, betapa mulia hatimu. Ibu mematikan kompor, menuangkan capcay ke atas piring saji. Aku menunggu sampai ibu berbalik melihatku.

        “Dimas, kamu sejak kapan ada disitu ?” ibu kaget melihatku.

        Aku langsung memeluk ibuku. Ibu mengelus kepalaku.

        “Terimakasih bu. Dimas berhutang banyak sama ibu.”

        “Sekarang buat ibu bangga kembali padamu.”

        Aku melepas pelukan ibu. Saatnya aku membuat ibu bangga dengan harapanku.

still to be continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s