Emas untuk Ibu (PART IV)

This is only fiction story. I love u mom. hehe

            Aku masih berjanji, membelikan ibu emas. Kenangan tempo dulu masih terbayang jelas, saat ibu menjual harta berharganya untuk memenuhi uang kuliahku. Beasiswaku dicabut, namun aku mencari beasiswa lain. Banyak jalur beasiswa di unversitas ini. Aku berhasil memperoleh beasiswa uang kuliah lagi, bahkan kali ini aku diberi tambahan beasiswa uang saku. Aku juga memulai bekerja menjadi guru privat dan asisten untuk menambah tabunganku. Tunggulah ibu, aku akan membalas jasamu waktu itu.

            Aku memasuki semester akhir kuliahku. Teman-temanku sudah lulus, aku terhitung cuti satu semester ketika dipenjara, namun itu tidak akan mematahkan semangatku. Aku akhirnya kembali menjadi diriku, seorang Dimas yang sedang ingin mengejar mimpinya.

            Aku terpilih sebagai perwakilan untuk mengikuti karya kreatifitas mahasiswa. Aku bekerja keras dengan dua orang temanku untuk menyusun sebuah mesin berteknologi baru yang ramah lingkungan. Setelah melewati tahap seleksi yang ketat, akhirnya aku bisa lolos. Aku akan mempresentasikan karyaku dua minggu lagi di Jakarta. Dan tentunya jika aku menang, aku akan memperoleh kesempatan menjadi perwakilan Indonesia di kancah internasional dan memperoleh uang, beasiswa SII, dan kontrak kerja. Aku tak menyangka, mantan narapidana bisa memperoleh kesempatan ini.

            Aku melihat buku tabunganku. Sudah satu setengah tahun aku berkerja keras dan nominal uang pada buku tabunganku sudah nyaris 10 juta rupiah. Memang hidup adalah roda, terkadang kau diatas, terkadang kau dibawah dan sekarang aku sedang berada diatas mungkin sebentar lagi aku akan berada dibawah lagi. Tidak ada yang tahu mengenai takdir tersebut.

            Aku pergi ke sebuah toko emas, melihat-lihat harga perhiasan yang mungkin ibu suka. Cincin, gelang, kalung yang berlapiskan emas 24 karat, semua mengkilap, memantulkan cahaya neon, membuat tinggi derajat perhiasan ini. Aku melihat ke sebuah gelang, gelang yang mirip dengan gelang ibu dulu.

            “Mbak coba boleh lihat yang ini,” kataku sambil menunjuk ke kaca.

            Pelayan toko itu mengambil gelang yang aku tunjuk. Aku menilik gelang tersebut. Betapa indah, namun ini tidak seindah gelang yang waktu itu ibu jual. Aku yakin ibu suka gelang ini.

            “Ini berapaan mbak ?”

            “Itu emas 24 karat, ada batu gioknya. Sebentar saya lihat sertifikatnya dulu mas.”

            Pelayan itu mengambil secarik kertas dan menunjukkannya padaku. Ternyata harganya 7 jutaan. Tabunganku sudah cukup untuk membeli ini. Mungkin besok aku akan membelinya. Aku tidak mau menunda-nunda janjiku pada ibu. Pasti ibu akan sangat senang.

            Aku pulang ke rumah, kembali ke realita. Malam sudah terbit, dewi malam sedang berkuasa di langit yang hitam. Bandung sangat dingin malam ini. Aku merapatkan jaketku. Aku sampai di depan rumah.

            “Ibu…, Dimas pulang.”

            Ibi tidak membalas. Aku masuk ke dalam rumah. Rumah sangat sepi. Aku memanggil ibu, namun tidak ada balasan apa-apa. Aku menuju ke kamar ibu, ibu tidak ada di kamar. Apakah ibu masih di warteg ? Kalau malam, ibu biasanya mempercayakan pada Bu Inah. Aku menuju dapur. Betapa kagetnya aku melihat ibu yang terbujur pingsan di sana. Aku langsung berlutut di samping ibu, mengecek denyut nadinya.

            “Ibu, ibu kenapa ?” aku langsung panik.

            Ibu tidak membalas, namun denyut nadi masih ada. Aku harus membawanya ke rumah sakit. Aku menggendong ibu keluar. Saat ini perasaanku tidak lebih dari kekhawatiran. Seseorang yang telah menjagaku selama 21 tahun sekarang terbaring tak berdaya. Keringat mengalir deras dari dahiku.

            “Ya ampun Dimas, ibu kamu kenapa ?” tanya tetanggaku yang kebetulan lewat.

            “Nggak tahu pak, pas Dimas pulang udah kayak begini. Tolong bantu Dimas. Bapak tolong panggilkan taksi.”

            Malam itu ibu langsung dibawa ke rumah sakit. Apa sebenarnya yang terjadi pada ibu ? Ibu dibawa masuk ke dalam ruangan UGD. Aku hanya bisa menunggu diluar dengan penuh ke khawatiran. Sepertinya ibu tidak pernah menunjukkan gejala penyakit apa-apa. Ibu Inah datang ke rumah sakit.

            “Ada apa Dimas. Ibu kamu kenapa ?” Ibu Inah khawatir.

            “Nggak tahu Bu. Pas Dimas pulang udah kayak begitu.”

            Dokter keluar dari ruangan itu. Ia membawaku dan Bu Inah ke ruanganya. Deg-degan, aku takut sesuatu terjadi pada ibu. Kalau tidak terjadi apa-apa mengapa aku dibawa ke dalam ruangan segala. Aku duduk di ruangan dokter yang memiliki bau khas itu. Ia menatapku dengan Bu Inah dengan wajah serius. Aku berdoa, sesuatu tidak terjadi pada ibu

            “Sebenarnya ibu saya terkena penyakit apa dok ?”

            “Saya belum bisa memastikan. Harus dilakukan cek lebih lanjut terlebih dahulu. Namun ini bukan gejala penyakit yang sederhana.”

            Seminggu berlalu. Aku memaksa ibu untuk tes kesehatan. Awalnya ibu menolak. Ia berdalih sakit karena kecapekan, namun aku tak mau main-main dengan kesehatan ibu. Aku gunakan uang tabunganku untuk medical check. Aku tak peduli harus menunda membelikan emas untuk ibu. Bagiku kesehatan ibu lebih berharga dari sekedar emas.

            Aku berada di ruangan dokter ini bersama Bu Inah. Jantungku berdebar, aku berdoa dalam hati, meminta kesehatan ibu. Dokter itu memasang wajah penyesalan. Aku tahu ini bukanlah pertanda yang baik. Aku tarik nafasku, mendengarkan diagnosa dokter, mempersiapkan mentalku.

            “Ibu saya sakit apa dok ?”

            “Saya menyesal mengatakan ini. Ini sudah terlalu terlambat. Ibu kamu menderita kanker otak stadium 4. Memangnya tidak pernah ada gejala sebelumnya yang terlihat, seperti pusing atau migrain ?”

            Aku kaget mendengar itu. Bagaikan mendengar petir di siang bolong. Kanker, stadium 4. Mengapa mendadak sekali. Lalu ibu…, apakah ia akan segera meninggalkanku ? Kumohon Tuhan jangan ambil ibu dariku.

            Aku melihat ke arah Bu Inah. Ibu Inah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ibu memang selalu terlihat sehat, tak menunjukkan gejala apa-apa. Dingin, aku langung merasakan tanganku merinding dan gemetar, takut akan kehilangan.

            “Tidak dok. Lalu apakah kanker ini bisa di sembuhkan ?”

            “Penyakit ini memang tidak selalu menunjukkan gejala yang signifikan. Banyak pasien yang datang dan mengetahui kalau ia sudah menderita penyakit ini saat sel kanker sudah parah. Kanker yang ada pada kepala ibu saudara tergoolong kanker yang ganas. Untuk dapat sembuh, pasien harus menjalani pengobatan secara intensif. Memang ini sudah agak terlambat, namun asalkan ada niat pasti bisa.”

            Aku keluar dari ruangan dokter. Ingin menangis rasanya. Tak sanggup aku melihat ibu harus berjuang melawan penyakit ini. Aku menaiki kendaraan umum. Bu Inah duduk di sampingku. Siang yang panas, namun aku merinding karena takut.

            “Bu Inah nggak menyangka Dimas. Belakangan ini, Ibu memang sering mengeluh pusing, namun Bu Inah kira juga cuma sakit kepala biasa.”

            “Saya takut kehilangan ibu. Saya sayang ibu.”

            “Kamu belum tahu seberapa besar pengorbanan ibu kamu ke kamu.”

            “Maksud Bu Inah ?”  Aku menyimak Bu Inah yang memandang kosong jalan tanpa berkedip.

            “Siang malam ibu kamu bekerja keras hanya untuk melihatmu sukses. Ibu kamu sering berkata pada Bu Inah, ia ingin melihat kamu suskses, tidak menjadi orang miskin seperti ibu, makanya ibu kamu mau berkorban banyak buat kamu. Ketika kamu mau masuk ke perguruan tinggi, ibu kamu menjual emas peniggalan neneknya untuk membiayai kamu. Ketika kamu dituduh menggunakan narkoba, ibu kamu yang berkoar-koar pada semuanya kalau kamu tidak bersalah. Ia tidak ingin nama kamu tercemar. Ketika kamu dipernjara, ibu kamu mati-matian bolak balik ke kampus untuk memperjuangkan nasib kamu. Ibu kamu tidak ingin kamu dikeluarkan karena kuliah disitu adalah mimpi kamu. Ibu kamu berjuang mati-matian, bersujud di hadapan rektor, memohon agar kamu tidak dikeluarkan. Ibu kamu sayang sekali sama kamu Dimas.”

            Aku pulang kerumah. Tak tahu bagaimana harus mengatakan ini pada ibu. Apakah aku harus bohong atau jujur. Warteg tutup hari ini. Ibu sedang menyajikan makan siang untukku. Ibu tersenyum melihatku pulang. Aku langsung duduk di ruang tengah, ibu duduk di sampingku.

            “Katakan Dimas, apa yang terjadi dengan ibu ? Apakah ibu terkena kanker otak ?”

            Aku menyipitkan mataku, kok ibu bisa tahu ? Ibu tersenyum kecil padaku. Senyum yang biasa ia lanturkan padaku.

            “Ibu sudah bisa mengira. Belakangan ini ibu sering sakit kepala, namun ibu kira itu hanya sakit kepala biasa.”

            “Ibu…, mulai besok ibu mau terapi ya di rumah sakit. Dimas nanti juga akan mencari obat herbal untuk ibu.”

            “Untuk apa Dimas, ibu akan baik-baik saja. Lagipula kita punya uang dari mana ?”

            “Dimas punya tabungan ibu. Walau tidak seberapa, ini bisa membantu,” aku berpikir sejenak, mungkin 10 juta hanya bisa untuk beberapa kali terapi saja namun masa bodoh, aku akan bekerja mati-matian untuk pengobatan ibu.

            “Dimas, untuk hari Senin depan kamu sudah siap ? Kamu akan ke Jakarta kan untuk mempresentasikan karya kamu di karya kreatifitas mahasiswa. Nanti ibu ikut ya.”

            Ibu mengalihkan topik. Aku tak mau teralih.

            “Ibu, ibu mau kan besok ke rumah sakit untuk memulai terapi ?”

            Ibu hanya mengangguk. Mengapa ibu seakan bertindak kalau semua baik-baik saja. Aku bahkan sudah sangat khawatir akan kesehatan ibu. Aku sayang ibu, aku tak mau ibu pergi dariku. Aku yakin ibu akan sembuh dari penyakit ini.

*

            Ibu memulai terapi minggu ini. Sedih rasanya melihat ibu harus berhadapan dengan peralatan medis yang menyiksa. Untuk sementara warteg di titipkan ke Bu Inah. Aku terkadang juga membantu-bantu di sana. Kami baru pulang dari terapi, sedang di angkot. Uang tabunganku sudah hampir habis. Aku tak tahu bagaimana minggu depan bisa mendapat uang untuk terapi. Janjiku untuk membelikan emas ? Nampaknya aku sudah tidak terlalu mempedulikan.

            “Dimas, besok Minggu kita berangkat ke Jakartanya jam berapa ?”

            “Jam 3 sore Bu, hari Senin acaranya jam 8 pagi,” aku mengingat kembali jadwalku besok. Aku akan presentasi keryaku di Jakarta. Ibu bersikukuh untuk ikut, aku tidak bisa melarang.

            “Ibu mau ke warteg habis ini. Ibu sudah lama tidak memasak di warteg.”

            “Ibu jangan terlalu capek dulu. Ibu istirahat saja di rumah. Kan sudah ada Bu Inah. Ini kan hari sabtu, warteg juga tidak terlalu ramai.”

            “Justru karena itu. Kan sedang tidak ramai, jadi ibu ingin kesana.”

            Ibu memang keras kepala. Siang ini aku temani ibu ke warteg. Aku harus pastikan ibu tidak kerja terlalu keras. Jika sesuatu terjadi pada ibu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Dan hari ini tidak terjadi apa-apa.

*

            Jakarta, ibu kota yang mewah. Gedung-gedung pencakar langit sudah menjadi bangunan yang biasa disini. Jemabatan tak bersungai menjadi pemandangan yang monoton disini. Aku berdiri di hadapan para juri yang menatapku dan kedua rekanku dengan tajam. Hanya ibu yang duduk di kursi penonton yang memandangku dengan pandangan sejuk. Semangatku naik, percaya diri tumbuh, aku bisa kalahkan juri ini.

            Aku selesai presentasi. Lancar. Ibu tak henti-hentinya menyalamiku, tersenyum bangga padaku. Ibu meyakinkanku kalau aku pasti menang. Pengumuman lomba akan di umumkan langsung siang ini. Hanya ada 5 kelompok dari seluruh Indonesia yang lolos seleksi yang superketat.

            Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Saatnya pengumuman pemenang. Jantungku berdebar-debar, namun aku yakin kalau aku adalah pemenangnya. Juri berdecak kagum saat aku presentasi tadi. Yak…, sudah aku duga timku menang. Aku senang sekali, aku menjadi perwakilan Indonesia untuk kancah internasional. Akhirnya, aku bisa membuat ibu bangga. Ibu langsung menitikkan air mata saat aku berdiri di depan memegang trofi juara satu.

            Selain uang tunai, bulan depan aku akan ke Jerman selama satu minggu, mewakili Indoensia untuk hadiah yang lebih mencengangkan. Aku bisa memperoleh uang untuk pengobatan ibu satu bulan kedepan

*

            Ibu sudah memulai kemoterapi yang lebih intensif untuk membunuh sel kanker di kepalanya. Aku juga mencoba obat herbal sebagai alternatrif. Aku tak peduli, yang jelas bagiku kesehatan ibu adalah yang nomor 1. Ada yang masih mengganjal hatiku, aku masih berjanji akan membelikan emas untuk ibu, namun tabunganku sepertinya hanya bisa untuk biaya pengobatan ibu.

            “Dimas, kamu terlalu banyak berkorban buat ibu. Lebih baik uangnya kamu simpan untuk masa depan kamu.”

            “Ibu ngomong apa sih. Bagi Dimas kesehatan ibu adalah prioritas Dimas.”

            “Kamu besok berangkat ke Jerman ya. Hati-hati disana. Ibu akan selalu mendoakan kamu agar bisa menang.”

            Tak terasa sudah satu bulan dan besok aku akan terbang ke Jerman, menjadi perwakilan Indonesia untuk kompetisi karya kreatifitas mahasiswa. Aku khawatir meninggalkan ibu selama satu minggu. Aku sudah titipkan semua ke Bu Inah, uang pengobatan ibu, obat ibu dan semua tetek bengeknya.

            “Terima kasih ibu. Kalau Dimas menang, Dimas bisa mendapat beasiswa kuliah SII di  Jerman. Dimas juga dapet kontrak kerja dari perusahaan nasional Bu…,” aku terhenti sejenak. Kalau aku menang aku akan kuliah di Jerman, lalu ibu ? Siapa yang akan menjaga ibu disini ? Ibu nampaknya mengerti arti raut wajahku.

            “Dimas…, kamu tenang saja, jangan terlalu mengkhawatirkan ibu. Ibu akan baik-baik saja disini. Ibu akan terapi terus dan akan melawan penyakit ini. Kamu tidak usah khawatir. Ibu janji sama kamu.”

*

            Pesawat yang membawaku pergi akhirnya mendarat, bersamaan dengan bunyi decitan roda yang bergesekan dengan landasan pacu. Jerman, negara yang sangat berbeda dengan Indonesia. Aku langsung terpana dengan pemandangan kota Berlin. Lingkungan yang bersih dan asri, tak penuh dengan polusi dan kemacetan.

            Lima hari aku akan berada di negara ini. Dua hari pertama dihabiskan untuk berjalan-jalan, tur negara. Aku senang sekali menikmati suasana yang berbeda dari biasanya. Aku tak menyangka, seorang anak penjual warteg yang bertitel mantan narapidana bisa meraih kesuksesan ini. Aku banyak berkenalan dengan perwakilan dari negara lain, menambah teman disini.

            Hari ketiga, aku mempresentasikan karyaku dihadapan banyak orang dengan menggunakan bahasa inggris. Ini pengalaman pertamaku tampil di depan orang asing yang tidak kukenal. Gugup rasanya, namun doa ibu selalu menyertaiku. Aku berhasil membuat juri terkagum-kagum denganku. Aku yakin aku bisa menang, aku akan buat ibu bangga dengan keberhasilanku. Pengumuman diumumkan 2 hari lagi

            Hari terakhir aku di Jerman. Aku sudah puas dengan segala kemegahan disini. Aku sudah duduk di kursi bulat, bersama perwakilan negara lain. Ruangan ini besar, ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan mewah. Taplak putih dengan renda berwarna emas, bunga mawar putih menjadi penghias meja. Saatnya pembacaan pengumuman. Jantungku berdebar, inilah saat penentuannya. Aku bersama kedua rekan timku saling berpegangan tangan.

            Juara 3…,  bukan dari Indoensia, juara 2…, bukan dari Indonesia. Juara satu…., aku memejamkan mata, hanya fokus dengan indera pendengaranku. Dari Indonesia. Aku menang juara satu, mimpiku menjadi kenyataan. Aku berhasil. Ibu…, lihatlah aku, aku berhasil. Andai ada ibu disini, aku akan langsung memeluknya dan bersujud di kakinya.

            Aku dan kedua rekanku naik ke atas panggung. Senang bukan main. Baru kali ini aku merasa sesukses ini. Rasanya air mata menetes karena bahagia. Setelah ini aku akan punya uang untuk pengobatan ibu beberapa bulan kedepan. Aku tak sabar pulang kerumah dan mengatakan kabar gembira ini pada ibu.

            Aku naik ke atas panggung, melihat ke seluruh hadirin yang bertepuk riuh padaku. Aku sebagai ketua tim, mengucapkan sambutanku pada semuanya. Yang dalam bahasa Indoensia :

             “Saya mau mengucapkan rasa terima kasihku kepada Tuhan yang Maha Esa, kepada teman-teman satu tim saya yang sudah bisa bekerja dengan sangat baik, kepada dosen pembimbing saya, kepada rekan-rekan saya di Bandung dan rekan baru saya disini. Dan tentunya kepada ibu saya.”

            Ibu berada di depanku, tersenyum padaku. Ia berada di ujung ruangan. Aku bisa merasakan senyumnya yang tulus menyapaku. Ibu…, terima kasih, engkau memang selalu ada untukku dimanapun aku berada.

*

            Aku menapakkan kakiku kembali di Bandung. Aku ingin segera pulang dan memeluk ibu. Sebuah kotak berisi perhiasan gelang emas sudah berada di tanganku. Rasanya aku ingin menepati janjiku pada ibu. Aku akan berikan emas ini selepas pulang. Aku yakin bisa memperoleh tambahan uang pengobatan ibu nanti ketika aku sudah SII, jadi lebih baik aku tepati janjiku sekarang.

            Aku menenteng koperku menuju ke rumah. Aku sampai di depan rumah, ramai. Tak kusangka bendera kuning berkibar di depan rumahku. Aku langsung terpikir Ibu…. Aku berlari menuju rumahku, berharap pemikiranku salah. Aku melihat ke sekeliling. Semua menatapku yang datang dari pintu depan.  Siapa yang meninggal ? Jiwaku tergores ketika melihat sosok yang tertidur kaku didepanku.

            Ibu sudah berada di balik kain kafan. Aku yakin ini hanya mimpi semata. Hati ini sakit melihat ibu yang sudah terbaring kaku, dan ini bukan mimpi. Kotak yang berisi emas yang aku bawa terjatuh. Aku langsung menuju ke tempat ibu dibaringkan. Semua memandangku dengan iba.

            “Ibu…, ibu bangun. Ini Dimas ibu. Lihat Dimas menang juara satu bu.”

            Tak ada senyum yang biasa terhias di wajah ibu. Wajah ibu tenang, tertidur dengan damai. Aku memeluk tubuh ibu. Tubuh ibu dingin, tidak bisa memberikanku kehangatan cinta seperti biasa. Aku menangis sambil memeluk ibu.

            “Ibu bangun, ini Dimas.”

            Bu Inah menarik mundur tubuhku. Aku menatap Bu Inah, Ibu Inah menggeleng padaku. Ibu sudah meninggal. Rasanya semua usahaku terasa hampa tanpa bisa melihat senyum ibu terlukis diwajahnya.

            Aku melihat sosok ibu, sosok yang menjagaku selalu dalam setiap nafasku. Sosok yang selalu ada untukku dalam suka dan duka sekarang sudah menghilang. Tidak ada lagi senyum penuh cinta dari ibu dalam keseharianku. Mengapa Engkau mengambil ibu dariku ? Aku bahkan belum sempat menepati janjiku pada ibu. Aku bahkan belum memberikan hadiahku pada ibu, namun mengapa Engkau ambil ibu terlebih dahulu.

            Siang itu adalah siang terberat dalam hidupku, saat dimana aku harus mengantar orang yang paling aku cintai ke peristirahatan terakhirnya. Kepergian ibu sudah menjadi takdir yang harus aku terima. Berat rasanya kaki ini ketika aku menggotong keranda ibu ke kuburan. Semua tetangga memberiku semangat agar bisa tabah.

            Aku terduduk di pinggiran makam ibu. Aku menabur bunga terakhirku diatas makam yang masih basah ini. Semua pelayat telah pergi. Harusnya ini merupakan hari paling bahagia dalam hari ibu, namun takdir berkata lain. Aku terus memandangi nisan ibu. Emas yang aku beli seakan tidak bermakna lagi, hanya doa yang bisa aku berikan pada ibu. Bu Inah duduk di sampingku. Ia menabur bunga kemboja di atas makan ibu.

            “Dimas, kamu tahu apa yang terjadi pada malam terakhir ibu kamu hidup ?”

            Aku menggeleng kepala. Rasanya semua kesedihan masih menumpuk di pita suaraku. Ibu Inah melanjutkan kata-katanya.

            “Ibu kamu mencoba berjuang nak menunggu kamu untuk pulang. Baru kali ini Bu Inah melihat ibu kamu mengeluh karena sakitnya. Malam itu, ibu kamu terbaring di kasur, berdoa untukmu. Bu Inah ada disitu. Tiba-tiba ibu kamu tersenyum dan berkata : “Dimas menang.”  Entah darimana ibu kamu bisa tahu hal itu. Ibu kamu tersenyum, ini senyum terindah yang pernah terlukis di wajah ibu kamu. Ibu kamu lalu berkata lagi pada Bu Inah : “Inah, saya bangga dengan Dimas. Saya senang bisa memberikan kesempatan padanya untuk hidup melalui rahim saya. Setelah ini dia sudah mempunyai jalan untuk meraih mimpinya. Mungkin perjuangan saya sudah berakhir sampai sini. Saya sudah tidak kuat lagi melawan penyakit ini. Selama dua tahun terakhir ini saya sudah mengira kalau ada sesuatu yang tidak beres pada tubuh saya, namun saya mencoba kuat, saya tidak mau lemah. Dimas masih butuh saya sebagai sumber kekuatannya. Terkadang saya merasa sangat sakit di kepala saya, namun saya hiraukan sakit itu untuk membuat Dimas tidak khawatir. Namun sekarang, saya sudah tidak kuat lagi melawan sakit ini. Saya juga tidak mau membebani Dimas lebih jauh lagi. Saya tidak enak dengannya. Saya tidak mau menghalangi jalannya setelah ini. Biarlah setelah ini ia bisa terbang untuk membangun mimpinya. Bu Inah jika saya dipanggil sebelum Dimas pulang, tolong titip ucapan selamat saya untuk dia. Katakan saya sangat bangga dengannya. Buat dia berjanji akan terus berjuang dan tidak menyerah untuk mewujudkan mimpinya. Raga saya memang akan pergi darinya, namun senyum saya akan selalu ada di dalam hatinya.”

            Aku termenung. Aku memandang makam ibu. Ibu…, betapa besar cintamu padaku. Betapa besar pengorbananmu padaku. Aku berjanji bu, aku akan buat dunia bangga kepadamu karena telah melahirkanku. Engkau memang telah tiada, namun kasihmu masih akan terus hidup di semangatku.

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali…”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s