Wedding Organizer (PART I)

Waaa, udah lama nggak ngepost. Aku sekarang jadi lebih fokus ke buat novel jadi jarang nyerpen lagi. Ngubek-ngubek laptop dan menemukan sebuah file berjudul wedding organizer. Wah ini kan tulisan yang aku buat 2 tahun lalu. Oke, dulu niatnya mau dipost disini tapi kelupaan. Enjoy this cerpan.

      Aku duduk di sebuah kursi, tanganku bersandar diatas meja bertaplak putih. Aroma wangi menyeruak dari lilin merah yang menyala terang di depanku. Api di lilin itu menari, terkena hembusan angin malam yang berderu hangat di kulitku. Ini restoran favoritku, dan suasana malam minggu ini semakin sempurna dengan dia yang duduk di depanku. Ia adalah pria yang akan segera menikahiku minggu depan.

      Langit malam gelap, makin membuat suasana malam makin kental. Ada sesuatu yang ingin ia ucapkan kepadaku malam ini. Pasti sesuatu yang membuat hari pernikahanku yang tinggal menghitung jari semakin sempurna. Aku dengannya akan menikah satu minggu lagi. Semua telah dipersiapkan, gedung sudah dipesan, gaun sudah siap, undangan sudah disebar, semua tinggal menunggu waktu.

      Aku mencintai pria itu. Ia adalah pria yang Tuhan ciptakan untukku. Pria itu menatapku dengan halus. Aku melihat cincin tunangannya yang sama dengan cincin yang melingkar di jari manisku. Aku menatapnya, menunggunya mengutarakan maksudnya mengajakku makan di restoran ini.

      “Ada apa sebenarnya. Apa yang ingin kamu bicarakan padaku ?” aku membuka kebisuan diantara kami berdua.

      “Ika, kamu adalah wanita yang cantik. Kamu juga mandiri, baik hati, suka menolong dan perhatian. Aku beruntung mendapatkanmu sebagai calon isteriku.”

      Aku mulai menyipitkan mataku. Aku pernah mendengar kalimat-kalimat semacam ini. Ini adalah kalimat yang digunakan pria untuk mengakhiri sebuah hubungan. Tunggu, apa yang aku pikirkan ? Aku sudah tinggal seminggu lagi menyandang gelar gadis. Pria yang berada dihadapanku adalah suamiku seminggu lagi.

      “Namun…,  maafkan aku Ika harus mengatakan ini.”

      “Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan ?”

      Ia menunduk sejenak, melepaskan tatapan matanya dariku. Ia lalu memandangku kembali. Aku belum pernah melihatnya melayangkan padandang ini sebelumnya kepadaku.

      “Pernikahan kita harus batal.”

      Kata itu bagaikan petir di siang bolong. Kaget setengah mati. Bagaimana tidak ? Tunggu, aku sudah mengenal pria ini selama 6 tahun, ia adalah pria yang penuh dengan kejutan. Ini pasti salah satu triknya untuk mengejutkanku dan aku memang sangat terkejut. Aku tersenyum kecil, mengolok apa yang ia katakan barusan.

      “Aku tidak bercanda. Aku tidak bisa menikahimu. Pernikahan kita batal. Ini bukanlah salah satu kejutan yang aku persiapkan untukmu.” ia berkata dengan serius.

      “Bohong. Aku tidak mau termakan keromantisanmu kali ini,” aku masih menganggap perkataannya hanyalah sebuah kebohongan.

      “Apa yang harus aku lakukan untuk menunjukkan kalau aku tidak bohong ?”

      Aku mulai berpikir ia berkata jujur. Pernikahan batal ? Atas semua persiapan yang telah dilakukan, undangan yang telah disebar, gedung yang sudah disewa dan yang terpenting atas cintaku kepadanya.

      “Apa alasanmu ?”

      “Aku harus pergi Ika. Aku harus keluar negeri untuk mengejar karirku. Aku telah dikontrak dua tahun untuk menjadi kuasa hukum oleh sebuah perusahaan. Aku tak tahu apakah aku akan kembali ke Indonesia atau tidak.”

      “Aku mau ikut bersamamu keluar negeri.”

      “Kau sendiri yang bilang kepadaku Ika, kamu masih mau berkarir disini. Wedding organizer tempatmu bekerja adalah passion-mu. Aku tak ingin kamu mengubur mimpimu untuk membahagiakan orang melalui pernikahan mereka.  Aku akan sangat sibuk disana.”

      Atmosfir langsung berubah. Aku tak menyangka suasana romantis berubah menjadi malapetaka seperti ini. Aku memang mempunyai mimpi, namun aku juga wanita biasa yang membutuhkan seorang suami.

      “Kenapa kamu tidak membicarakan hal ini sebelum kamu menerima kontrak itu ? Kamu anggap apa aku ini ?”

      Ia hanya terdiam. Tak berani berkata sesuatu. Aku menatapnya dengan tajam, membuatnya harus berbicara.

      “Ika, aku akan kembali 2 tahun lagi ke sini, namun aku tak tahu apakah aku akan disini lama atau tidak yang jelas aku akan kembali 2 tahun lagi kesini.”

      “Kamu belum menjawab pertanyaan aku, kamu anggap apa aku ini ?” aku mulai kesal dengannya. Aneh sekali. Selama ini ia selalu bisa menjadi pacar yang setia, terbuka kepadaku, mengapa kali ini ia seakan menjadi diktator kepadaku.

      “2 tahun lagi aku akan menjawab pertanyaan itu ketika aku kembali.”

      “Mengapa keputusan ini diambil secara sepihak ? Ketika kita memutuskan untuk menikah, aku denganmu sama-sama setuju. Lalu ketika kamu mengatakan opsi ini, mengapa kamu tidak menanyakan dulu kepadaku apakah aku menerimanya atau tidak ? Mengapa kamu mengambil keputusan ini sendiri ?”

      “Kumohon mengertilah Ika. Sekarang karirku sedang lesu dan aku memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diriku. Aku tak ingin menyakitimu dengan menikahiku. Waktu yang akan kamu habiskan denganku tidak akan maksimal. Aku akan sangat sibuk. Aku tak mau kamu mengeluhkan hal itu nantinya. Semua ini aku lakukan untukmu juga.”

      Aku memandang cincin tunanganku. Kilau cincin ini sekaan tidak berguna lagi. Aku kesal dengannya. Pria berengsek, penjahat cinta. Aku mengerti alasannya, namun aku tidak bisa terima ia mengambil keputusan ini tanpa berkonsultasi denganku terlebih dahulu. Aku ini calon isterinya.

      “Lalu bagaimana dengan hubungan kita setelah ini ?”

      Ia hanya diam. Nampaknya ia belum memikirkan tentang ini. Sudah menjadi prinsipku untuk tidak terlalu bergantung dengan orang lain, bahkan dengan calon suamiku. Sekarang ia bukan calon suamiku.

      Kesal, marah, emosi, aku merasa dibuang dan dicampakkan olehnya. Aku menatapnya dengan penuh kedengkian. Aku dikuasai oleh emosi. Sebagai seorang wanita aku merasa harga diriku telah diinjak-injak olehnya. Ia tetap terdiam atas pertanyaanku. Akhirnya aku angkat bicara.

      “Kamu tak perlu bingung-bingung. Kali ini biar aku yang menentukan secara sepihak.”

      Aku mengambil selembar kertas undangan pernikahanku di tas. Namaku tertulis di undangan itu. Aku menunjukkan kertas undangan itu kepadanya. Kertas undangan yang indah, penuh ukiran dan ornamen yang pelik. Brak. Aku robek kertas undangan itu menjadi dua dan kurobek lagi menjadi empat. Aku meleparkan robekan kertas itu ke muka mantan calon suamiku.

      Ia terkejut dengan apa yang aku lakukan, begitu juga dengan orang-orang disekeliingku. Mereka mulai menerka apa yang sedang terjadi dimejaku. Aku menarik cincin tunangan yang melingkar di jari manisku.

      `”Kamu tidak perlu bingung-bingung untuk mejawap pertanyaanku. Mulai sekarang lupakan kalau aku pernah ada hubungan denganmu. Ambil cincin ini,” aku melemparkan cincin itu kearahnya. Cincin itu tak ia tangkap dan terjatuh ke lantai.

      “Sudah selesai kan ? Aku mau pulang dulu. Selamat tinggal berengsek,” aku berdiri dari kursiku dan beranjak pergi. Orang-orang disekeliling sepertinya sudah mengerti apa yang terjadi di mejaku.

      “Ika tunggu.”

      Ia memegang pergelangan tanganku. Untuk apa lagi sih pegang-pegang. Ia sudah bukan siapa-siapa lagi untukku. Aku membalikkan badan, melepas genggaman tangannya. Tanganku langsung menampar pipinya dengan keras. Biar tahu rasa dia, namun satu hal yang pasti, aku masih mencintainya.

3 TAHUN KEMUDIAN

 

      Namaku adalah Erika, namun semua teman-temanku memangguilku Ika. Aku berusia 27 tahun sekarang. Bapakku bekerja sebagai pegawai negeri sedangkan ibuku bekerja sebagai guru SMP. Aku mempunyai seorang adik laki-laki bernama Ben, ia terpaut 3 tahun dari usiaku. Aku tinggal di lingkungan keluarga yang harmonis. Kedua orang tuaku menyayangiku dan Ben. Tak ada noda hitam yang mengukir masa kecilku. Aku bersyukur pada Tuhan ia memberiku keluarga yang menyayangiku.

      Aku adalah wanita mandiri. Sejak kecil aku selalu dididik keras oleh kedua orang tuaku. Dibalik didikan mereka yang keras, aku tahu mereka menyayangiku. Mereka hanya menginginkan aku tidak tumbuh sebagai gadis yang manja. Didikan orang tuaku membuatku harus bisa berjuang dengan kekuatan sendiri unuk menghadapi tantangan dalam hidupku.

      Aku adalah wanita yang pintar, mungkin karena tuntutan bapak padaku untuk bisa selalu meraih juara kelas dan aku berhasil memenuhi tuntutan. Begitu juga dengan Ben, otaknya bahkan lebih cemerlang dariku. Ben, Iqnya nyaris menyentuh 150. Untunglah bapak tidak memaksakan cita-cita kepada aku dan Ben, kedua orang tuaku membebaskanku untuk menjadi apa di masa depan. Bagi mereka asalkan pekerjaan itu halal dan kami menkmatinya, kenapa tidak ?

      Aku sekarang bekerja di salah satu lembaga wedding organizer yang sangat terkenal di Jakarta. Aku berada di bagian tim konseptor, bagian inti dari lembaga wedding organizer tempatku bekerja. Aku sangat menikmati pekerjaan ini. Inilah pilihanku untuk masa depanku. Hampir setiap bulan aku melihat pasangan yang menyatukan cintanya karena jasaku. Sudah banyak pasangan yang bangga dengan hasil kerja wedding organizer-ku. Kami sudah banyak menangani klien, mulai dari artis, sampai pejabat.

      Aku senang ketika para klien mengatakan semua angan-angannya mengenai pernikahan ideal menurut mereka. Tugaskulah yang membuat semua angan-angan itu makin sempurna. Angan-angan itu adalah semangatku dalam bekerja, membuat semua mimpi dan angan-angan itu berubah menjadi kenyataan. Aku tidak pernah mau bermain-main dengan pekerjaanku, sudah menjadi passion-ku membuat orang lain bahagia melalui hari pernikahan mereka. Selalu ada kepuasan yang tidak tergantikan saat aku melihat kedua mempelai berdiri di pelaminan, memandang pernikahan mereka dengan penuh kebahaiaan.

      Aku sudah 27 tahun, sudah usia yang cukup mapan untuk menikah. Jangan dipikir kalau aku adalah wanita yang terlalu ambisius dalam pekerjaan. Aku tetaplah wanita normal yang ingin menikah dan membina rumah tangga. Semenjak kegagalan pernikahanku 3 tahun lalu, aku menjadi lebih selektif terhadap pria. Aku tak ingin kembali merasakan pahitnya sebuah perpisahan.

      Aku selalu mencari pengganti yang lebih baik dari Nikki. Nikki, pria berengsek yang membuatku harus menanggung semua beban atas keputusan sepihaknya padaku. Bagaimana tidak ? Seminggu sebelum pernikahan ia membatalkan perhelatan itu. Gedung, katering, baju, dan semuanya harus dicancel. Belum lagi aku harus memberitahu semua undangan kalau pernikahannya tidak jadi. Beban mental dan tekanan yang aku terima menjadi pelajaran berharga dalam hidupku. Yang paling aku sesalkan adalah cibiran yang mengatakan “Masa Wedding Organizer pernikahannya gagal.” Aku benci orang mencampur adukkan antara pekerjaan dan urusan pribadi.

      Nikki berusia 29 tahun sekarang, 2 tahun lebih tua dariku. Sudah 3 tahun aku tidak melihatnya. Ia pernah bilang akan kembali 2 tahun lagi, namun kenyataannya sudah 3 tahun pun ia tidak datang. Toh dia datangpun aku tidak peduli. Dulu, aku dan Nikki menjalin kasih selama kurang lebih 5 tahun sampai ia melamarku dan akhirnya mecampakkanku. Harus aku akui, aku belum menemukan pria yang lebih bisa mengerti aku dibandingkan Nikki.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s