Wedding Organizer (PART II)

Nikki berusia 29 tahun sekarang, 2 tahun lebih tua dariku. Sudah 3 tahun aku tidak melihatnya. Ia pernah bilang akan kembali 2 tahun lagi, namun kenyataannya sudah 3 tahun pun ia tidak datang. Toh dia datangpun aku tidak peduli. Dulu, aku dan Nikki menjalin kasih selama kurang lebih 5 tahun sampai ia melamarku dan akhirnya mecampakkanku. Harus aku akui, aku belum menemukan pria yang lebih bisa mengerti aku dibandingkan Nikki.

      Nikki…, aku akan ceritakan sedikit bagaimana awal pertemuanku dengannya. Aku bertemu dengan Nikki ketika kami kuliah dulu. Aku kuliah mengambil jurusan ekonomi sedangkan Nikki mengambil jurusan hukum. Kami kuliah di satu universitas yang cukup terkenal di Indoensia. Aku dengannya pertama kali ketika kami bergabung di unit yang sama di universitasku.

      Hobiku adalah bermain piano, sejak umur 4 tahun aku sudah diajarkan bermain piano oleh ibuku. Aku memang senang dengan suara yang dihasilkan oleh alat musik ini. Aku mengeksplor sendiri alat musik ini dan aku berhasil dikatakan jago bahkan ketika aku masih duduk di bangku SMP. Oleh karena itu aku bergabung di unit yang mewadahi hobiku ini.

      Awal pertemuanku dengan Nikki adalah ketika pertemuan perdana unit musik ini. Kala itu aku pikir kalau aku adalah anggota baru yang paling jago dalam bermain piano dan itu memang benar. Semua terkesan dengan permainan piano tingkat tinggi yang aku mainkan.

      Kalau kata pepatah, diatas langit masih ada langit. Aku sudah besar kepala saat itu. Lalu Nikki sebagai senior naik dan memainkan pianonya dihadapanku, membalas pandangan sombongku. Aku terkesima oleh penampilannya, sungguh permainan piano yang sangat merdu. Baru kali ini aku melihat seseorang yang begitu menyatu dengan pianonya. Aku mengaku kalah, ia lebih jago daripada diriku. Itulah awal pertemuanku dengannya.

      Lama kelamaan aku menjadi mengidolakannya. Ia tampan, romantis, lucu dan pintar. Aku mencoba memperdalam permainan pianoku untuk bisa menandingi tarian jarinya ketika menekan tuts piano. Singkat kata akhirnya aku dengannya jadian. Nikki, ia pria yang begitu dewasa dan baik hati. Aku beruntung memilikinya sebagai pacarku. Aku yakin Nikkilah yang akan membahagiakanku sampai akhir nanti.

      Satu hal yang aku suka dari Nikki adalah ia penuh dengan kejutan. Kejutan yang bisa membuat diriku luluh.  Pernah ketika aku ulang tahun ia datang jam 12 malam ke rumahku membawakan bunga kelewat banyak untukku. Itu hanya satu contoh, masih banyak kejutan lain yang ia buat untukku yang bisa membuatku terkejut.

      Sebelum kepergiannya, Nikki bekerja sebagai pengacara. Otaknya yang cemerlang membuat karirnya melesat bagaikan roket yang sedang menuju bulan dan sekarang ia telah berada di bulan itu. Karena inilah, ia membatalkan pernikahanku dengannya. Ia masih ingin mengejar karirnya.

      Nikki berasal dari keluarga yang sangat sederhana, bukan orang yang berpunya. Terkadang aku tak enak jika ia mentraktirku. Aku tahu uangnya harus ia berikan kepada kedua orang tuanya untuk biaya hidup. Oleh karena itu ia sangat giat bekerja.

      Aku terduduk di kursi kerjaku, menunggu waktu yang berdetik tanpa arti. Sedang tidak ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Telepon berdering, aku tersentak kaget. Pikiranku langsung kembali ke ruang kerjaku. Aku meliaht ke sekeliling, Beberapa meja tersusun rapi, berjejer bagaikan prajurit di pinggi karpet merah. Di belakang meja terdapat rekan-rekan kerja satu timku. Semua meja selalu ada peralatan standar; telepon dan komputer. Telepon kembali berdering, aku langsung mengangkat telepon itu.

      “Ika, cepat keruangan saya,” kata suara wanita yang terdengat di balik gagang telepon iu.

      Itu adalah Bu Yuanita, bos besar di sini. Ia adalah General Manager disini. Mendengar perintah itu, tanpa pikir panjang aku langsung beranjak dari kursiku dan langsung menuju ke ruangan Bu Yuanita yang terletak di lantai satu. Suara dentuman kecil terdengar saat sepatu hak tinggiku menyenuh lantai kayu ini. Aku sampai di depan pintu bertuliskan General Manager. Aku mengetuk pintu itu.

      “Masuk.”

      Aku masuk ke ruangan itu. Ruang kerja yang cukup luas, lantai kayu, sofa merah darah, meja besar dengan laptop dan hiasan bunga mawar diatas meja. Aroma ruangan ini berbeda, lebih wangi dari ruangan di luar. Semua keindahan yang sempurna ini dirusak oleh lemari di pojok yang berisi map-map arsip. Walau tersusun rapi, tetap saja kumpulan kertas yang superbanyak itu membuatku sedikit mual.

      Seorang wanita duduk di kursi putar di belakang meja. Di bajunya tersemat tanda pengenal bernama Yuanita. Ia berusia 37 tahun, sudah menikah dan memiliki 3 orang anak. Ia adalah General Manager yang cukup tegas dan berwibawa. Untunglah dulu aku dididik dengan keras, sehingga aku bisa mengikuti ritme kerja Bu Yuanita.

      “Ibu memanggil ?”

      “Duduk Ka.”

      Aku duduk di sofa kecil berwarna merah yang berada di depan mejanya. Dari sorot mata Bu Yuanita, sudah pasti kami mendapat klien yang cukup penting. Sekarang adalah titik awal untuk pengonsepan. Aku melihat ke arah tangan Bu Yuanita, gelang emas dengan hiasan berlian putih menempel di pergelangan tangannya. Cincin pernikahannya kelewat indah dan berkilau di jemari manisnya. Make up mahal yang memoles wajahnya membuat derajat sosialnya makin tinggi.

      “Ada apa bu ?”

      “Hari ini akan ada klien, nanti tolong kamu temui bersama di Kania di apartemennya. Biasa kamu tanya-tanya aja dia maunya kayak gimana. Karena ini klien yang cukup penting, saya menunjuk kamu sebagai keua tim konseptornya.”

      Akan ada klien baru hari ini. Tak sabar aku menanti apa angan-angan yang ingin di sampaikan klien. Rasanya senang memvisualisasikan apa yang diucapkan klien mengenai pernikahan ideal menurutnya. Biasanya wanita yang mempunyai banyak keinginan untuk pernikahannya, sedangkan pria hanya terima jadi saja.

      “Memangnya siapa bu kliennya ? Apakah dia artis atau pejabat ?”

      “Dia bernama Ashanti. Dia anak seorang pengusaha kaya. Dia orang Indonesia, tapi dari kecil tinggal di Amerika Serikat jadi bahasa Indonesianya nggak begitu bagus.”

      Tantangan baru, pikirku. Biasanya klien yang dihadapi orang Indonesia, jarang ada orang yang berbudaya luar negeri apalagi Amerika. Aku ditunjuk sebagai ketua tim konseptor, suatu kehormatan bagiku.

      “Memangnya sejak kapan dia di Indonesia ?”

      “Sejak beberapa bulan lalu. Nanti kamu ngobrol-ngobrol sama dia saja, bangun hubungan emosional dengan klien kita seperti biasanya. Kamu kan paling bisa bersosialisasi dengan orang asing.”

      “Ok, saya mengerti bu.”

      Aku keluar dari ruangan Bu Yuanita, kembali ke meja kerjaku. Entah mengapa aku teringat dengan Nikki. Ia sekarang berada dimana ya sekarang ? Apakah ia sudah sukses dengan pekerjaannya ? Apakah ia sudah menikah ? Aku benci mengatakan ini namun aku rindu dengannya.

*

      Aku menunggu mobil dilobi. Seorang wanita dengan usia 2 tahun lebih muda dariku mendampinginku. Ia adalah Kania, rekan kerjaku di wedding organizer ini. Kania, untuk ukuran wanita ia termasuk wanita tomboy namun rambut panjang dan penampilannya yang selalu mengenakan rok, menyembunyikan sifat tomboynya.

      Aku menaiki mobil sedan kantor menuju apartemen klien baruku. Kania duduk di sebelahku. Aku memandang keluar melalui jendela. Pemandangan Jakarta di siang hari yang dipenuhi kemacetan. Masih satu jam lagi sebelum jam janjian.

      “Kliennya siapa sih ?” tanya Kania

      “Yang aku tahu dari Bu Yuanita sih anak pengusaha kaya. Orang Indonesia tapi dari kecil tinggal di Amerika. Namanya Ashanti.”

      Aku mengobrol dengan Kania disepanjang perjalanan. Mobil memasuki kawasan apartemen mewah. Bukan orang sembarangan yang bisa memiliki apartemen disini. Aku turun di lobi bersama Kania. Aku janjian dengan Ashanti di bar di pinggir kolam renang. Aku sempat tersasar juga mencari bar tempat janjian.

      Sebuah kolam renang yang cukup besar, sungguh mewah apartemen ini. Klienku memang bukan orang sembarangan. Di sekitar kolam renang banyak gazebo dengan payung hijau dan meja kayu. Aku melihat ke deretan gazebo. Pandanganku tertuju ke seorang wanita yang sedang duduk sendiri.

      “Kayaknya itu deh,” Kania juga menunjuk wanita yang aku kira klienku.

      Aku langsung menghampiri wanita itu. Ia sedang memainkan ponselnya. Ia wanita yang cantik, berkulit putih dan berambut panjang. Ia mengenakan baju hijau terusan. Baju itu menyembunyikan tubuh rampingnya. Aromanya wangi, mengenakan parfum bermerek.

      “Selamat siang,” aku menyapa wanita itu.

      “Dari Bride Wedding Organizer ya ?” kata wanita itu.

      “Iya, perkenalkan saya Erika dan Ini Kania ?”

      “Saya Ashanti.”

      Kami berkenalan dengan wanita itu. Jelas sekali ia baru di Indonesia, aksen amerika masih kental dari gaya bicaranya. Aku duduk di kursi yang berseberangan dengan wanita itu dan Kania duduk di sebelah kiriku. Ashanti memanggil pelayan agar kami memesan minum. Aku memesan jus jeruk, begitu juga dengan Kania. Akhirnya kami masuk ke inti pembicaraan.

      “Jadi begini, yah saya sudah banyak mensearch di Internet dan menemukan bahwa Bride Wedding Organizer ini adalah Wedding Organizer yang cukup ternama dan sudah profesional. Saya juga banyak dapet rekomendasi dari teman-teman saya untuk menggunakan jasa kalian. Sebenarnya saya agak buta juga bagaimana cara memilih tipe pernikahan yang bagus itu kayak gimana, maklum saya orang awam. Kalau yang udah-udah itu bagaimana ya ?”

      Aku menjelaskan beberapa konsep pernikahan yang biasanya dipilih oleh klien-klien. Ashanti terlihat antusias. Aku menyelipkan beberapa bahasa inggris untuk mempermudahnya mencerna apa yang aku ucapkan.

      “Nah kalau dari Ashanti sendiri ingin pernikahannya yang seperti apa ? Kalau dari calon suaminya inginnya seperti apa ?”

      “Kalau dari calon suami saya sih menyerahkan sepenuhnya kepada saya. Saya sebenarnya ingin pernikahannya dilakukan di gedung. Karena saya ingin menyenangkan suami saya, saya ingin lebih menonjolkan nuasna Indonesia. Walau saya tidak terlalu banyak tahu tentang negara ini, namun calon suami saya sangat cinta dengan negara ini.”

      Aku terhenyak sejenak. Aku ingat saat aku dengan Nikki pernah membicarakan tentang pernikahanku dengannya. Memoriku kembali membawa pikiranku ke masa 3 tahun lalu. Saat itu aku sedang dimobil bersama Nikki. Nikki baru saja melamarku.

      “Nanti kamu mau pernikahan kita kayak bagaimana ?” tanya Nikki kepadaku.

      “Aku mau resepsi pernikahan kita pake adat Jawa. Aku kan orang jawa, nah aku mau semua dekorasi dihias dengan adat jawa, makanannya juga makanan jawa. Nanti aku mau ada dekorasi batik-batiknya. Aku mau ada gamelannya juga.”

      “Kok kamu maunya kayak yang begitu, emangnya kenapa ?”

      “Aku cinta dengan negara ini, aku cinta dengan adat aku sayang, jadinya aku mau pernihakahan kita mengikuti adat jawa. Kamu kan orang jawa juga”

      “Aku ngikut kamu aja deh sayang.”

      “Ika…,” Kania memanggilku.

      Aku menggelengkan kepalaku, aku terlalu terbawa ingatan masa laluku.

      “Maaf-maaf, saya tiba-tiba terpikir sesuatu. Oya, memangnya Ashanti sama suaminya orang mana ?”

      “Saya kelahiran jawa, begitu juga dengan calon suami saya.”

      Aku menjelaskan tentang konsep dan dekorasi yang biasanya digunakan untuk adat jawa. Inilah konsep pernikahan yang aku inginkan bersama Nikki dulu. Andai dulu aku jadi menikah dengannya, aku pasti punya kenangan pernikahan manis ini. Setelah deal dengan konsepnya, Kania langsung memberitahu mengenai harga yang ditawarkan.

      “Oh bagi saya uang segitu tidak masalah. Buat sebagus mungkin. Jika saya perlu menambah uang, saya akan tambah asalkan pernikahannya megah.”

      Aku tahu ia pasti orang kaya. Tinggal di apartemen ini sudah membuktikan kalau ia orang yang kaya. Kania menyerahkan beberapa formulir kepada Ashanti, urusan adminsiratif. Aku menyipitkan mata melihat nama calon suami yang ia tuliskan. Nama yang tak asing bagiku.

      “Maaf Ashanti. Kalau boleh tahu nama calon suaminya ?”

      “Oh, ini Nikki Nouval,” kata Ashanti menunjuk deretan sebuah deretan tulisan di formulir yang Kania beri.

      Shock. Nikki Nouval, benar-benar Nikki mantan calon suamiku. Jantungku langsung berdegub kencang. Ia sudah berada di Indonesia rupanya dan ia akan menikah dengan wanita ini. Ia benar-benar pria berengsek. Tunggu, aku dengannya sudah tidak ada hubungan apa-apa masa bodoh ia mau menikah atau apa. Namun…, perasaan apa ini, seakan ada perasaan cemburu. Seakan ada emosi yang membakar hatiku ketika mendengar nama itu lagi. Apakah ini cinta ? Ataukah Ambisi ? Ataukah ini hanyalah amarah ? Aku juga tidak tahu.

      Aku bertukar pandang dengan Kania, ia tahu semua tentang yang dilakukan Nikki padaku. Kania mengangguk, mengisyaratkanku untuk tenang. Apa maksud Nikki menggunakan jasa Bride Wedding Organizer. Apakah hanya untuk membuatku cemburu ? Seharusnya ia bisa menjaga perasaanku.

      “Sudah selesai,” Ashanti menyerahkan formulir itu pada Kania.

      Aku dan Kania langsung berpamitan dengan Ashanti. Aku langsung menuju mobil, agak tergesa-gesa. Tenang, aku harus tenang. Aku dan Nikki tidak ada hubungan apa-apa lagi. Seharusnya aku senang ia akan menikah.

      “Kamu baik-baik aja kan Ka ?” tanya Kania.

      “Entahlah, aku juga nggak ngerti apa yang sedang aku rasain, semua bercampur jadi satu. Di satu sisi aku kesal, marah dan emosi, namun disatu sisi aku juga masih ada perasaan rindu.”

      “Kamu mau kita ngebatalin ini ? Aku akan bilang ke Bu Yuanita sama ke Ashanti kalau kamu keberatan.”

      “Jangan Kania. Aku nggak mau mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Aku harus profesional. Aku nggak mau ngebatalin kontrak dengan mereka.”

      Nikki kurang ajar, namun di antara kekalutan hati ini dan rasa kekecewaanku pada Nikki, aku masih bisa merasakan cinta kepada Nikki.

*

      “Aku pulang.”

      Aku masuk ke rumah, duduk di sofa ruang keluarga. Ben sedang duduk di sampingku. Ia sedang menonton televisi. Hari telah malam, sudah pukul 19.00. Ben sekarang berprofesi sebagai konslutan. Ia memang adiikku, namun gajinya lebih besar dariku.

      “Gimana hari ini ada klien ?” tanya Ben.

      “Nggak tuh Ben. Eh, maksud kakak ada,” aku masih tidak bisa terlalu fokus karena nama Nikki kembali singgah dalam hidupku.

      “Loh kok bingung. Ada apa nih, lagi galau ya ?” Goda Ben.

      Sebenarnya aku tidak enak juga dengan Ben. Aku harus segera mencari pasangan hidup atau aku akan dilangkahi olehnya. Ia sudah berusia 24 tahun sekarang. Mungkin dua atau tiga tahun lagi ia akan menikah. Dua atau tiga tahun ? Ah masih lama. Aku menghibur diriku sendiri.

      “Udah ah, kakak mau mandi dulu.”

      Aku meninggalkan Ben di lantai satu. Aku menuju lantai dua, tempat kamarku berada. Ibu dan bapak sedang di kamar. Aku langsung mandi, membasuk seluruh tubuhku dengan air, mencoba menghapus kegundahan hati yang dari tadi hinggap.

      Aku turun ke lantai satu. Terdengar suara piano yang mengalun indah. Ben sedang bermain piano. Lagu ini…, ini lagu yang sering dimainkan Nikki kepadaku. Indah, aku kembali mengingat saat-saat aku bersamanya dulu, ketika ia menekan tuts piano untuk memberiku sebuah lagu cinta. Sial, Ben, kenapa kamu memainkan lagu ini, seperti tidak ada lagu lain saja sih.

      “Berisik ah, kakak mau nonton televisi,” kataku pada Ben yang bermain piano di sudut ruangan.

      “Aku baru bisa nih lagu ini susah banget,” kata Ben.

      Ibu keluar dari dalam kamar. Ia menghampiriku yang sedang duduk di ruang keluarga. Ibu…, wanita yang sudah mendidikku dengan penuh kasih. Terima kasih ibu.

      “Kamu udah makan ? Makan dulu sana. Nanti lauknya sekalian dimasukkin kulkas aja. Kamu kenapa kok tampang kamu kecut begitu ?” Tanya ibu sambil menilik wajahku.

      “Kak Ika lagi galau ma,” Goda Ben. Aku memang tidak bisa mengelak kalau aku sedang galau. Aku langsung menuju meja makan sebelum Ben makin membuli-buliku.

      Malam yang tenang. Aku sedang dikamarku. Nikki telah kembali, namun dengan membawa maksud lain. Aku melihat fotoku dengan Nikki. Masa indah yang aku lalui bersamanya seperti menjaga perasaanku padanya. Aku pandangi foto itu. Aku sentuh foto wajah Nikki dengan tanganku.

      Aku masih menyimpan semua kenanganku bersama Nikki. Foto, video, puisi, semua masih tersimpan rapi di laptopku, namun aku biarkan itu hanya menjadi file yang tidak pernah aku putar. Bagiku ia tak lebih dari seorang pria berengsek sekarang, menlantarkanku begitu saja.

      Sebuah suara mengagetkanku. Aku mengambil ponselku yang berdering. Siapa yang malam-malam begini meng-SMS. Aku membuka pesan singkat tersebut. Dari nomor tak dikenal.

      “Maaf malam-malam mengganggu. Ini Ashanti. Saya mau bertemu denganmu besok malam. Ini mengenai pernikahan saya dengan Nikki. Hanya 4 mata. Mohon dibalas. Terimakasih.”

      Aku berpikir sejenak. Berbicara 4 mata ? Mengenai pernikahannya dengan Nikki ? Ada apa ? Yasudah, aku setujui saja pertemuan dengan Ashanti besok malam. Sial, aku penasaran bukan main dengan apa yang ingin Ashanti bilang padaku. Malam ini aku tidak bisa tidur senyenyak biasanya. Nampaknya ritme kehidupanku akan segera bergetar, setelah 3 tahun ritme ini datar.

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s