Wedding Organizer (PART III)

and the story goes. Anyway, sebentar lagi memulai sesuatu yang baru. Well i beleive Allah always give the best for me.

Keesokan harinya aku tidak bisa terlalu fokus bekerja. Pikiranku sudah menuju ke jam 19.00 saat aku janjian dengan Ashanti. Aku menerka-nerka apa yang ingin dibicarakannya padaku.

      “Kamu kenapa sih Ika, kok daritadi ngelamun terus, ada yang kamu pikirkan ?”

      “Tidak ada, mau tahu aja sih.”

      “Aku kan bos kamu.”

      Aku mengumpulkan fokusku kembali, ternyata Bu Yuanita yang memergokiku sedang melamun. Gawat bisa kena omel. Aku langsung meminta maaf pada Bu Yuanita dan langsung fokus dengan apa yang aku kerjakan. Gawat, aku tidak boleh tidak fokus lagi, bisa-bisa dipecat lagi.

      Malam tiba, saat yang aku tunggu akhirnya tiba juga. Aku melirik jam tanganku sudah pukul 19.10. Aku sudah menunggu di sebuah kafe. Terlihat Ashanti masuk dari ke dalam kafe. Ia melirik ke sekeliling mencari tempatku duduk. Aku melambaikan tanganku padanya. Ia langsung menuju ke mejaku.

      “Sebenarnya ada apa ?” aku langsung menanyakan to the point

      “Kenapa kamu jadi antusias begitu ?” tanya Ashanti yang menatapku bingung.

      “Oh maaf jika saya terlalu ingin tahu. Apakah ini tentang konsep pernikahan, apakah ada yang tidak sesuai ?”

      “Bukan. Semua ini mengenai calon suamiku. Sebelum saya mengatakan ini, saya ingin kamu berjanji tidak akan berkata kepada siapapun ? Ini hanya akan menjadi rahasia diantara kita berdua ?”

      Nampaknya ini bukan masalah konsep pernikahan atau sejenisnya.

      “Baiklah saya berjanji tidak akan memberitahukan pada siapa-siapa.”

      “Saya ingin pernikahan ini batal dengan cara yang menyakitkan untuk Nikki, calon suami saya,” Ashanti berkata dengan pelan.

      “Saya tidak mengerti maksud kamu.”

      “Saya akan ceritakan pada kamu. Saya pikir hanya kamu yang bisa membantu saya melakukan rencana saya. Nikki, ia pertama kali datang ke Amerika dan bekerja di perusahaan papa saya. Ia sangat berbakat. Papa kagum dengan hasil kerjanya. Saya jatuh hati kepada Nikki. Ia pintar, tampan, baik, bisa mengerti diri saya. Sebuah kesalahan untuk jatuh hati kepadanya. Ia memanfaatkan perasaanku padanya. Sebagai seorang wanita yang sedang jatuh hati, saya berusaha mendekatinya. Ia sepertinya mengerti apa alasan saya mendekatinya. Akhirnya kami bertunangan setelah 2 setengah tahun menjalin kasih. Betapa disayangkan, ia membalas perasaan saya namun dengan tujuan untuk pekerjaannya. Jika saya dengannya menjalin hubungan cinta, akan mudah baginya untuk makin naik ke jabatan yang lebih tinggi. Saya tidak pernah melupakan hari itu, hari dimana saya mengetahui semuanya. Kala itu ia sedang di kantor, duduk bersama teman kepercayaannya. Saya mendengarkan secara diam-diam dari balik pintu apa yang sedang diomongkannya. Hati ini sakit rasanya ketika ia berkata pada temannya : ‘dasar wanita bodoh, bisa saja ia terperangkan ke dalam pesona saya. Jika saya sudah berhasil mendapatkannya sangat mudah bagiku untuk bisa menjadi orang nomor satu disini.’ Ia memang orang yang ambisius, ia rela memakan temannya sendiri untuk mewujudkan mimpinya. Wanita mana yang tidak sakit jika dibilang seperti itu oleh tunangannya. Ia memang penjahat cinta. Awalnya saya tidak terlalu menganggap perkataan itu, namun saya penasaran. Saya minta bantuan teman saya untuk membuka diari elektronik Nikki dan membaca semua yang telah ia lakukan kepada saya. Saya sedih, marah dan murka. Saya menyusun sebuah rencana untuk menghancurkannya. Saya biarkan ia melamar saya dan saya menerimanya. Saya akan naikkan dia agar ia semakin sakit ketika ia terjatuh nanti.”

      Nikki, ternyata kamu memang benar-benar pria yang tidak punya perasaan. Dasar, dulu kamu telah mempermainkanku dan sekarang kamu menyalahgunakan perasaan Ashanti kepadamu untuk tujuan karirmu.

      “Lalu apa rencana kamu ?” tanyaku.

      “Rencana saya adalah ketika hari pernikahannya saya akan mengumumkan orang yang akan menggantikan posisi wakil direktur. Nikki sudah menduga kalau dialah yang akan menjadi orang nomor dua diperusahaan setelah papa, namun ternyata bukanlah dia. Saya akan bocorkan kebusukkannya kepada papa dan kepada semua hadirin yang ada. Saya akan jatuhkan dia ketika malam resepsi pernikahannya. Dia akan dipecat dan memulai semuanya lagi dari nol. Dia akan menyesal pernah mempermainkan perasaan saya.”

      “Lalu apa peran saya dalam rencana ini ?”

      “Kamulah bidang terpenting saya dalam menjalankan rencana ini. Kamu pikir saya tidak tahu apa yang dilakukan Nikki kepadamu ?”

      Aku menyipitkan mataku, heran. Ashanti tahu apa yang pernah terjadi antara aku dengan Nikki dulu ? Bagaimana mungkin, Nikki tidak mungkin menceritakannya pada Ashanti. Jadi ini alasan Ashanti memilih wedding organizer tempatku bekerja, untuk menggunakanku sebagai salah satu bidaknya.

      “Saya tidak mengerti.”

      “Kamu tidak perlu menyembunyikannya. Sebagai sesama wanita, saya tahu apa yang dia lakukan kepadamu jauh lebih menyakitkan dari apa yang ia lakukan kepada saya. Kamu tidak pernah membaca buku diarinya kan ?”

      Buku diari ? Aku tahu Nikki suka menulis buku diari. Buku itu berbentuk file elektronik dan dipassword. Itu satu-satunya hal privasi yang tidak pernah aku tanyakan kepada Nikki. Aku memang penasaran apa yang ditulis Nikki di buku diari itu.

      “Ini bacalah, maka kamu akan mengerti,”

      Ashanti menyerahkan sebuah flashdisk kepadaku. Aku mengambil benda hitam kecil itu. Rasanya tidak enak jika aku membaca privasi orang. Aku tahu pasti Nikki tidak ingin aku membaca ini.

      “Terlalu bodoh jika menulis buku diari di file elektronik sementara aku mempunyai banyak teman yang jago di bidang komputer. Kamu jangan merasa tidak enak karena telah melihat privasi orang. Kalau kamu membaca masa akhir pacaran kalian, kamu tidak akan pernah menyesal karena telah membaca buku diarinya.”

      “Jadi alasan sebenarnya kamu menggunakan bride wedding organizer adalah untuk bertemu dengan saya dan membantu rencanamu ?” tanyaku.

      “Lebih dari itu. Saya meminta pindah ke tanah kelahiran saya dan menikah disini hanya untuk menjalankan rencana ini. Nikki bahkan tidak tahu saya menggunakan jasa bride wedding organizer. Ia tidak peduli dengan pernikahan ini, ia hanya peduli dengan kuasa yang akan ia dapatkan dengan menikahiku. Kamu pasti mengerti perasaan saya, kamu juga wanita.”

      Aku memasukkan flashdisk Ashanti ke tasku. Baiklah, aku juga ingin tahu apa sebenarnya yang ia tulis mengenaiku. Ia anggap siapa diriku sampai bisa mencampakkkanku dengan mudah. Dasar Nikki pria hidung belang.

      “Lalu apa yang harus saya perbuat untuk membantu rencanamu ?”

      “Ini yang terpenting. Kamu masih menyimpan foto atau video kenanganmu bersamanya ?”

      “Masih, semua masih ada.”

      “Aku mau kamu memberikan itu pada saya. Saya akan buat sebuah video. Video yang menunjukkan hubungan kalian berdua. Nanti video itu akan saya gabungkan dengan video lain yang telah aku buat. Saya akan tunjukkan betapa bersengseknya Nikki, saya akan bongkar semua kebusukkannya melalui video itu. Apa yang ia telah perbuat kepadamu, kepada saya, dan kepada orang lain yang disakitinya. Saya mau kamu bersaksi nanti kepada semuanya atas apa yang telah ia perbuat kepadamu. Saya yakin papa akan sangat murka kepadanya. Kamu juga harus persiapkan segala logistiknya. Dan yang terpenting tidak boleh ada orang lain yang tahu mengenai rencana ini. Apakah kamu mau membantu saya ? Saya sudah jauh-jauh pindah dari Amerika ke sini bukan untuk mendengar jawaban tidak.”

      Aku terdiam. Berpikir sejenak. Ternyata ada juga wanita yang mengalami hal yang sama denganku. Dan semua ulah Nikki. Inilah waktu untuk balas dendam kepadanya. Dendam ? Aku tidak sebegitu dendam dengan Nikki. Aku memang marah, namun sudah menjadi prinsipku untuk tidak terlalu bergantung dengan orang lain, jadi masa bodoh dengan Nikki. Tapi ini keterlaluan, Nikki sudah tidak bisa dimaafkan.

      “Baik, kamu saya beri waktu sampai besok. Lihatlah apa yang tertulis di buku diarinya, saya yakin kamu akan berkata ya. Buka tanggal 9 Maret 2009. Kalau kamu tidak sanggup menjalankan rencana ini, kontrak batal. Mana mau saya menikah dengannya. Saya akan langsung menjatuhkannya. Memang banyak cara untuk menjatuhkan Nikki, dan rencana ini adalah cara yang paling menyakitkan. Saya tunggu sampai besok.”

      Aku mengakhiri pertemuanku dengan Ashanti. Aku pulang dengan menggunakan mobil. Ben menjemputku. Kata-kata Ashanti masih terngiang ditelingaku. Nikki, tak kusangka kau adalah pria yang begitu kejam. Dulu ketika aku menjalin kasih dengannya, ia tak pernah menunjukkan sisi gelapnya seperti ini.

      Pernikahan adalah hal yang sakral. Selama ini aku selalu semangat menjadi wedding organizer agar bisa membuat orang puas dengan pernikahannya, namun sekarang, aku harus menyakiti seseorang dengan pernikahan. Dan orang itu adalah mantan calon suamiku sendiri. Aku bingung, apakah aku bantu Ashanti atau tidak.

      “Coba lihat dari dua sisi, jangan dari sisi kakak saja.”

      Benar. Aku harus melihat dari sisi Ashanti. Aku salut dengan tekad buruknya itu. Ia sampai rela pindah ke Indonesia        hanya untuk membalas apa yang telah Nikki perbuat dengannya. Kalau dipikir kasihan juga Ashanti, diperlakukan seperti itu oleh Nikki. Sebagai wanita aku mengerti mengapa Ashanti melakukan ini. Apakah lebih baik aku bantu saja ya ?

      Tunggu, tadi siapa yang mengatakan lihat dari dua sisi ? Pasti Ben.

      “Apa sih kamu kok mau nyambung aja,” pandangku kesal pada Ben.

      “Habis ngelamun begitu. Ngelamunin apa sih ?” Kata Ben sambil memutar kemudi.

      Apa lebih baik aku cerita saja ke Ben ya. Ia kan kelewat pintar, siapa tahu ia punya solusi yang cerdas. Ah, aku tak mau, Ben kan orangnya iseng. Lebih baik aku rahasiakan dari dia.

      “Anak kecil nggak usah tahu.”

*

      Aku sampai di rumah. Aku sudah sangat penasaran dengan isi buku diari Nikki. Apa sebenarnya yang ia tulis denganku. Aku duduk di depan laptopku dan langsung mencolokkan flashdisk hitam itu ke laptop. Aku membuka file yang ada disitu.

      Buku harian Nikki. Aku menilik lembar demi lembar. Ini dimulai ketika ia kuliah dulu sampai kepergiannya ke Amerika. Lengkap sekali buku harian ini, walaupun tidak setiap hari menulis, tetap saja ini sangat lengkap. Aku mencari-cari lembar-lembar dimana aku dengan Nikki akan menikah. Aku membaca ke sebuah hari.

      “Sudah tinggal dua minggu sampai aku melepas status perjakaku. Ika, tak kusangka dirimu yang akan menjadi pendamping hidupku. Aku besyukur memilikimu sebagai calon isteriku. Aku adalah pria yang paling beruntung didunia yang berhasil mendapatkanmu. Aku percayakan semua konsep pernikahanku kepadamu. Aku yakin wedding organizer handal sepertimu mampu…”

      Aku kembali fokus, kalau dibaca satu persatu bisa minggu depan selesai. Aku membuka ke tanggal 9 Maret 2009, seperti yang telah diinstruksikan oleh Ashanti

      “Hari ini sudah mantap. Aku akan memutuskan Ika. Ika maafkan aku. Aku lebih memilih karirku daripada dirimu. Aku hanya ingin kamu tidak kecewa jika menikah denganku. Jujur, aku memilih karirku bukan karena aku tidak mencintaimu. Mungkin munafik bagiku, namun inilah aku. Aku memang orang yang ambisius, aku tidak mau ada yang menghalangi jalanku menuju impianku.

      Mungkin setelah ini Ika akan sangat membenciku. Aku memang merasa tidak enak dengan Ika, namun inilah pilihan saat dimana aku harus mengorbankan seseorang untuk menjalani pilihanku. Dan aku mengorbankan Ika. Ika, kamu pasti bisa menemukan pria yang lebih bisa mencintaimu dibandingkan aku.

      Karir ? Kenapa sih aku terlalu ambisius dengan satu hal yang ini. Sebenarnya kalau boleh dibilang aku adalah orang yang gila kuasa, dan keberhasilan karir adalah kunci menuju ambisi ini. Cinta…? Aku memang mencintai Ika, namun bagiku karir nomor satu. Aku pernah bilang ke Ika kalau dia adalah nomor satu, dan sekarang aku menyesal mengatakan itu. Kesempatan karir seperti ini sangat jarang dan telah kunomorsatukan. Maafkan aku Ika, aku menomorduakanmu, namun inilah aku. I love karir, i love karir, i love karir.

      Jadi karir adalah nomor satu baginya ? Aku takut setelah aku, Ashanti, bisa saja wanita lain yang ia sakiti. Aku memang sakit ketika ia memutuskanku dan aku terlalu lemah untuk mengubah prinsipnya dan sekarang ia mengulanginya lagi kepasa Ashanti. Aku tak mau hati wanita lain tersakiti lagi. Kurasa memberinya sedikit pelajaran boleh juga. Aku akan membantu Ashanti. Bagiku Nikki bukan siapa-siapa lagi. Nikki kamu memang pria kurang ajar walau aku benci mengatakan kalau aku masih menyayanginya.

*

      “Jadi kamu mau membantu saya ?” tanya Ashanti.

      “Iya, saya akan bantu kamu walau saya benci melakukan ini. Ini mempermainkan pernikahan. Namun saya mengeriti apa yang kamu rasakan dan saya tidak mau apa yang kita rasakan dirasakan oleh wanita lain. Dia memang pria berengsek.”

      “Baiklah, sebagai langkah awal tolong berikan semua file kenanganmu bersamanya. Hanya kamu yang menyimpan kenangan itu. Nikki sudah menghapus semua kenangan tentang kamu di laptopnya. Dan buatlah pernikahan ini pernikahan termegah untuknya agar ia makin sakit ketika jatuh nanti.”

      “Baiklah.”

*

      Aku bekerja mati-matian untuk membuat pernikahan ini sesempurna mungkin. Makin sempurna pernikahan ini makin sakit Nikki ketika dijatuhkan nanti. Aku akan buat pernikahan yang termegah, terbesar, termahal agar semua orang terkejut untuk apa semua perhelatan besar ini dibuat, yaitu untuk menjatuhkan Nikki. Aku memang masih sakit hati pada Nikki dan inilah satu-satunya kesempatan, namun masih ada yang mengganjal hatiku. Apakah ini ? Apakah ini cinta ?

      “Kamu semangat banget sih ngerjain pernikahan Ashanti,” Kania menanyaiku sembari makan siang.

      “Yah emang harus semangat kan.”

      “Aku bingung, kok harus nyiapin layar sama proyektor juga ya. Itu buat apa sih ?” tanya Kania sambil menyedot jus apelnya.

      “Oh itu…, nggak tahu Ashanti yang meminta.”

      “Kamu nggak sakit hati, calon suaminya itu mantan calon suami kamu ?”

      “Aku kan harus profesional, masalah pribadi harus dikesampingkan.”

      “Ok deh.”

      Aku kembali ke meja kerjaku. Satu hal yang kubenci adalah, harus berkutat kembali dengan file foto dan video kenangan aku dengan Nikki yang sudah lama sekali tidak aku buka. Aku harus menunjukkan kalau aku pernah ada hubungan dengan Nikki.

      Aku membuka file fotoku dengan Nikki. Ini seperti membuka kembali memori yang aku habiskan bersamanya. Aku membuka sebuah folder. Ini foto Aku dengan Nikki ketika sedang berlibur ke ddufan. Aku sedang berada di bianglala, berdua dengannya. Betapa mesra kala itu, naik bianglala, melihat matahari tenggelam di ancol.

      Aku hampir menitikkan air mata saat aku melihat video tunanganku dengannya. Aku sangat cantik, mengenakan gaun putih dan Nikki sangat tampan. Aku berdiri didepannya, ia melihatku dengan penuh cinta. Aku bisa merasakan kehangatan cinta dari sorot matanya. Ia menyematkan cincin pertunangan itu ke jari manisku. Hadirin semua terlihat senang dan merasakan kebahagiaan yang aku rasakan.

      “Aku mencintaimu Ika.”

      Aku masih ingat ia membisikkan kata itu ketika pertunanganku dengannya. Video ini tidak merekam semua kejadian, namun otakku merekam semua dan masih menyimpan memori itu. Aku sedikit bersafari dengan kenangan manis dulu.

      Video ini…,  ini resital piano Nikki yang pertama, ketika masa kuliah dulu. Ia pernah berkata padaku kalau lagu yang ia mainkan di resital ini ditujukkan kepadaku. Aku mendengar alunan piano itu lagi, begitu merdu dan indah. Nikki bermain dengan penuh penjiwaan.

      Betapa manis hubunganku dengannya dulu. Andai hubungan ini tidak berakhir dengan kehancuran seperti ini. Andai aku nomor satu dihatinya dan bukanlah karir yang ia nomor satukan. Aku rindu saat indah ini. Sampai sekarang aku tidak pernah menemukan pria yang bisa menggantikan Nikki dariku.

      “Ika, kamu kenapa ? Kamu nangis ?”

      Kania datang menghampiriku. Untung Kania yang datang bukan Bu Yuanita. Aku langsung mengusap air mata yang mengalir di pipiku. Aku terlalu terbawa memori dan emosi sampai membuatku menangis.

      “Kalau ada masalah apa kamu cerita ke aku. Ada apa sih ?”

      Aku langsung berdiri, takut Bu Yuanita memergokiku sedang tidak fokus dengan pekerjaanku. Aku menuju ke toilet, Kania mengikutiku dari belakang. Aku masuk ke toilet dan memandang cermin yang memantulkan wajahku. Kania berdiri di belakangku.

      “Ada apa sebenarnya ?” tanya Kania.

      “Walau ia pria berengsek, aku masih mencintainya Kan.”

      “Atas apa yang dia lakukan sama kamu ?”

      “Aku menerima dia apa adanya. Seorang pasangan harus bisa menerima kekurangan pasangannya dan aku menerima apapun pilihan dia. Aku masih belum bisa melepasnya bahkan setelah 3 tahun ia pergi tanpa kabar.”

      “Ia akan menjadi isteri Ashanti sebentar lagi. Apa yang kamu harapkan dari pria semacam dia.”

      Jelas Kania tidak mengetahui semua rencana Ashanti. Hanya aku dengan Ashanti yang mengetahui rencana ini.

      “Aku mengharapkan ia kembali padaku. Jujur aku masih mencintainya. Walau sekarang aku menganggapnya bukan siapa-siapa jauh di lubuk hatiku aku masih mengharapkannya. Tidak ada pria yang bisa menyayangiku seperti dia.”

      “Pikirkan Ika. Dia pergi mencampakkanmu, lalu tiba-tiba kembali dan ingin menikah dengan wanita lain. Cuci mukamu Ika, berpikir yang jernih. Ia adalah pria berengsek.”

      Aku mengambil air dari keran dan membasuhnya ke wajahku. Apa yang aku pikirkan ? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan Ashanti, atau orang lain yang ia telah sakiti dan AKAN ia sakiti jika aku tidak melakukan rencana Ashanti. Bayangkan sakitnya hatimu ketika dulu pernikahanmu batal. Aku tidak boleh mengharapankan apa-apa dari pria semacam Nikki. Aku harus fokus, aku harus beri Nikki berengsek itu pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.

*

to be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s