What’s Your Hidden Passion ?

artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Acer Aspire P3. Info disini

Well, kalau membaca judul diatas…, gimana ya ? It’s a simple question but not all people can answer it. Coba tanyakan hal tersebut ke dirimu sendiri, apakah kamu dapat menjawabnya dengan cepat ? Jika kamu bisa, maka beruntunglah dirimu sudah menemukan passion-mu.

Passion, passion, passion, apa sih sebenarnya passion itu ? Apakah passion sama dengan hobi ? Apakah passion sama dengan pekerjaan ? Tidak selalu. Menurut wikipedia, passion adalah perasaan yang begitu kuat terhadap sesuatu. Passion melibatkan perasaan, antusiasme, dan hasrat terhadap sesuatu. Untukku sendiri, passion adalah panggilan jiwa untuk melakukan suatu hal yang memberikan kesenangan jiwa, manfaat, dan kepuasan batin.

Passion memberikan energi tak terbatas dan kebebasan berekspresi bagi kita.  Ketika melakukan passion (termasuk saya sendiri), kita tak akan mengeluh karena lelah atau hilang semangat. Alangkah bahagianya apabila passion itu adalah pekerjaanmu sehari-hari, pekerjaan primer yang kamu lakoni dari pagi sampai sore. Itulah hidup yang sebenarnya

And then what’s my passion ? Tak perlu banyak berpikir untuk menjawabnya. My passion is writting. Menulis apa ? Apapun, menulis cerpen, novel, artikel, atau review. Why writting ? Aku juga nggak tahu kenapa. Tapi yang jelas ketika menulis aku merasa menjadi diriku sendiri. Aku senang bermain dengan kata dan mengolahnya menjadi kalimat yang bermakna untuk orang lain.  Aku nggak pernah merasa lelah atau bosan ketika menulis. Inspirasi juga tidak pernah mandek ketika aku sedang menulis. Hanya berbekal laptop, alunan musik, dan teh hangat maka aku bisa membuat sebuah karya. Maybe i consider it as a gift. Thanks ya Allah.

Lalu kenapa sekarang aku berkutat di dunia pabrik yang notabennya jauh sekali dari dunia tulis ? Kenapa aku berkuliah di jurusan teknik yang sama sekali tidak menitikberatkan menulis ? Well i’m going to tell you a little part of my life.

Passion in tersembunyi sampai aku berusia 19 tahun. Kehidupan masa kecilku tak jauh beda dengan anak lainnya. Ketika kecil aku di doktrin atau mendapat kesimpulan dari lingkunganku kalau hidup itu adalah siklus seperti ini : Lahir – bayi – balita – TK – SD – SMP – SMA – Kuliah – Kerja – Menikah  – Pensiun – Hari tua. Dari kecil, aku selalu tak mempunyai jawaban konsisten bila ditanya ‘apa cita-citamu’. It feels that when i woke up, what i would do is just following that cycle. My passion is still hidden.

Ketika SMA, aku senang sekali dengan pelajaran kimia dan fisika. Learing chemistry and physics is like learning God’s arm for the nature. Lalu aku memutuskan untuk kuliah di jurusan teknik kimia. Saat itu aku yakin sekali kalau kimia merupakan hidupku dan passionku. But i realized that this is not what i searched for. Aku merasa lelah dan jenuh ketika kuliah. Bukankah passion memberikan kekuatan tak terbatas ? Bukankah passion tak mengenal kata jenuh ? This is not my passion.

Namun sudah kepalang menyebur, mau bagaimana lagi. Aku jalani kuliahku di teknik kimia sebaik mungkin. Aku sudah menyingkirkan ratusan kepala yang ingin menadapat nomor induk mahasiswaku. Bersyukur atas apapun pilihan yang telah kuambil, insyaallah aku akan mendapat jalan yang terbaik nanti. Again, follow cycle of life without knowing what is my role for this world. I’ll do it for my lovely parents.

Ketika kuliah aku tergabung di sebuah organisasi jurusan, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITB (HIMATEK ITB). Kala itu aku tergabung di divisi informasi dan komunikasi. Ada salah satu program kerja yang kala itu menggugah hatiku, membuat buletin himpunan. Kala itu aku diminta menulis sebuah artikel. Oke, done.

Well, loh kok menulis tuh asyik ya ? Kok menulis itu tidak membuat aku jenuh ya ? Kok menulis itu bisa membuat aku begitu ekspresif ya ? Well, menulis disini adalah makna peluasan. Aku tak menulis dengan tangan seperti makna denotasi menulis, melainkan dengan menggunakan komputer. Apakah ini passionku yang sebenarnya ? i was 18 years old when that question came into my mind.

Aku terus simpan pertanyaan itu sampai aku menjadi ketua divisi komunikasi dan informasi. Hal itu membuatku lebih banyak berkutat dengan dunia jurnalistik. Aku tak pernah menyangka kalau menulis itu begitu menyenangkan. Is it my passion ? Well i still don’t have idea about that. Maybe yes but only 30 % yes.

Aku mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menulis sebuah cerita panjang. Wow, i can’t beleive i can did it. Aku berhasil menulis sebuah cerita sepanjang 150 halaman di microsoft word. Aku mencoba menulis lagi dan lagi…, aku berhasil membuat dua cerita lagi sepanjang 100an halaman.  Sampai saat ini cerita itu masih ada di laptopku dan menjadi konsumsi pribadiku. Aku menulis sepulang kuliah, ketika sedang lelah-lelahnya. But writing become remedy for my energy. Is writting my passion ? Yes for 50 %.

Aku mencoba menjawab pertanyaan itu dengan membuat blog. Again, thanks to HIMATEK, tempat dimana aku belajar mengelola blog. Widikrisna.wordpress.com. Apa yang kutulis disitu ? Mostly cerpen, artikel lomba, atau sekedar celoteh. Aku tantang diriku sendiri untuk menulis cerpen dari berbagai genre, mulai dari romance, misteri, horor, science fiction, teenlit, dan lain-lain. I can do it. Hanya dengan berbekal laptop, ide cerita, dan mood, maka cerita akan mengalir dengan sendirinya. You can check by yourselves by searching in this blog.

Aku mencoba mengikuti lomba-lomba blog. I can’t  belevie i can win. Bukan bermaksud sombong, namun aku berhasil memenangkan mulai dari sams*ng, Aipod, berihitam, tiket ke sidang paripurna DPD RI, dan uang. Dari ratusan peserta lomba, kenapa aku yang terpilih ? Aku tak menyangka orang menyukai dan menilai tulisanku layak untuk semua itu.

Ketika di hotel sultan sebagai 20 besar lomba blog seandainya saya menjadi anggota DPD

Ketika di hotel sultan sebagai 20 besar lomba blog seandainya saya menjadi anggota DPD

Ketika mengambil hadiah runner up lomba blog VOA

Ketika mengambil hadiah runner up lomba blog VOA

So, is writing my passion ? Yes 100 % yes. Aku ikhlas menulis semua cerpen di blogkku tanpa perlu bayaran sepeser pun. Hanya dengan satu kalimat komentar di blog, itu sudah menjadi bayaran yang tak ternilai untukku.  Aku senang ketika orang senang, sedih, tertawa, kecewa, kesal, karena dia membaca tulisanku. Hati ini rasanya dipenuhi oleh energi ketika orang mengomentari dan berekspresi karena tulisanku. Aku tak pernah lelah atau bosan ketika menulis, bahkan ketika itu kulakukan tengah malam ketika yang lain sedang tertidur. As i said before, passion give infinite energy for your body and soul.

Lalu tibalah masa lulus kuliah…., well i came to crossroad of destiny. Passion memang menulis namun gelar sarjana teknik. My father already passed away. As the only son, i have to prepare for the worst if something happen to my mother and sister. Prepare i mean for financial aspect. I cann’t only depend on what my father left for my family (baca : warisan). Aku sadar sebagai penulis yang hanya berbekal passion tak akan bisa membuatku hidup untuk saat ini. I have to be realistic. Aku memutuskan untuk menjalani kehidupan sebagai engineer.

Tapi passion adalah panggilan jiwa dan panggilan jiwaku adalah menjadi seorang penulis. I kind of become traitor for my selves. I cannot lie to my heart that i want to be a writer. Tapi aku juga butuh penghasilan tetap yang stabil ? Aku tak bisa melamar menjadi copywriter atau semacamnya karena gelarku bukanlah gelar mahasiswa sastra ? Should i burry down this passion ?

Lalu suatu hari di kantorku diadakan sebuah seminar tentang motivasi. Saat itu aku diperkenalkan dengan sebuah buku yaitu The Master Key System. I read that books twice and i realized something. Then i read again The Secret book which i’ve own for many years. I hadn’t satisfy yet. I read the Science of Getting Rich and Quantum Ikhlas twice. All of those books teach me to beleive my dream.

Aku coba ikuti apa yang diajarkan buku itu. Mimpiku adalah menjadi penulis terkenal. Then selepas kerja aku mulai mengerjakan sebuah naskah. Sebenarnya aku lebih menganggap ini iseng-iseng berhadiah, just somehing which nothing to lose. Dalam waktu satu bulan aku berhasil menyelesaikan naskah berjudul 7 checks. Aku kirimkan naskah itu ke Grasindo.

Ask, beleive, receive.Yang aku lakukan setelah itu adalah yakin kalau naskahku keterima. Emang bisa ya ? Aku ini penulis baru yang tidak punya nama apa-apa. Just beleive and act like you have received it. And miracle happen. Satu bulan aku menunggu sampai aku mendapat kepastian kalau naskahku diterima dan akan diterbitkan. Alhamdulillah….

Memang benar apa yang dikatakan buku-buku tersebut, ikuti passionmu, percaya 100 % dan rasakan keajaibannya. Sekarang novel perdanaku sudah terbit. (sinopsis disini *iklan). Dulu aku selalu bertanya dalam hati ‘kapan ya bisa nerbitin buku sendiri’. Mimpi hanya akan menjadi angan yang lewat bila kamu terus terbawa arus siklus itu. Wake up guys ! For me, ini bukanlah akhir perjuangan melainkan awal dari memperjuangkan passion yang sebenarnya.

Cover depan fix

Now i’m both writter and engineer. Aku tak menjalankan apa yang dikatakan buku-buku itu (the secret dll) yaitu fokuslah pada mimpimu. Aku mencoba realistis kalau aku butuh penghasilan tetap saat ini. Namun rutinitas 8 am – 4 pm bukanlah halangan untukku. Aku menulis setelah pulang kerja dan di masa senggangku. Do i need rest ? Aku tak lelah walau menulis selepas kerja, ketika badan lelah dan pikiran mumet. Passion gives infinite energy. Walaupun bisa dikatakan waktu luang yang bisa kuhabiskan untuk leha-leha hampir tak ada, aku ikhlas melakukannya. Passion itu memang harus diperjuangnkan, pilihan yang kupilih ini butuh pengorbanan yaitu waktu. Maybe, later, bila penghasilan penulis bisa membiayaiku atau ketika aku sudah benar-benar tak bisa menahan berontakan hati ini, aku akan keluar dari zona nyamanku dan fokus mengejar passion. Well, lihat nanti saja lah.

Salah satu hambatan dalam menjadi writer disela-sela kesibukan kantor adalah waktu. Aku harus bisa memaksimalkan waktu senggangku. Dan ini terhambat oleh media menulis yang kugunakan. Sudah tidak zaman lagi menulis di buku menggunakan pensil, toh nanti juga pasti harus dipindahkan ke bentuk softfile. Jadi aku sudah seharusnya membawa laptop kemana-mana. Tapi baterai laptopku bocor.

Terkadang aku kesal kalau lagi menunggu atau dijalan hanya kuhabiskan dengan bengong dan ngelamun padahal inspirasi bisa datang kapan dan dimana saja. Hal ini pernah kuakali dengan menggunakan ponsel untuk menulis. Well layarnya kekecilan, jadi kesal sendiri. Aku juga pernah mengakali dengan menggunakan komputer tablet, namun kurang nyaman, jadinya gregetan sendiri. The problem is, i comfort with physical keyboard but i need something simple and easliy carry out.

Acer Aspire P3 hybrid ultrabook. Saat aku melihat konsep gadget ini…, hm kayaknya enak nih kalau punya satu. Desain ultrabook adalah menggabungkan laptop dan tablet. Look at the picture below

Acer-aspire-P3_1

Jadi ultrabook ini menjawab pertanyaan bagi yang memiliki tingkat mobilitas tinggi namun butuh tools untuk penunjang pekerjaan sehari-hati atau untuk mengisi waktu luang dengan fungsi multimedianya. Kalau aku punya gadget ini, so pasti waktu luang yang biasanya aku pakai untuk bengong atau ngelamun bisa kugunakan untuk menulis which is meningkatkan kinerjaku dalam mengejar passion.

Acer Aspire P3 Spesification

Kinerja gahar, baterai tahan lama, slim design, can be both tablet and netbook. Menurutku ini salah satu terobosan teknologi yang harus diacungi jempol. Aku paling senang dengan desain yang bisa jadi tablet bisa jadi net book. Love that.

This video shows how this gadget help someone named Vernon reach his dream to become a DJ. Vernon adalah asisten DJ terkenal, DJ Tiesto. Karena sebuah kesalahan, Vernon harus menggantikan Tiesto di meja DJ. Dengan bantuan Acer Aspire P3, Vernon berhasil menciptakan mix musik yang biasanya Tiesto ciptakan.

Well in my opinion, this is one of exmaple how Acer Aspire P3 can increase someone productivity. Aplikasi virtual DJnya keren. Yang paling aku suka dari video iklan ini adalah di kalimat-kalimat terakhirnya. “Nothing can stop you from realizing your dreams.” Well, aku yakin banyak sekali mimpi yang bisa diwujudkan dengan gadget multifungsi ini seperti desain2, IT, dll.

Oke Jadi apa kesimpulan tulisanku ini ?

Hidup ini Cuma sekali dan waktu tak akan kembali, jangan hidup hanya untuk menjalani siklus Lahir – bayi – balita – TK – SD – SMP – SMA – Kuliah – Kerja – Menikah  – Pensiun – Hari tua, tanpa mendapat makna kehidupanmu yang sebenarnya. Jangan sampai ketika dirimu sudah renta, kamu baru menanyakan kepada dirimu ‘apakah ini hidup yang aku inginkan ?’ You made your own life by your choice.

Temukanlah apa passionmu dan ikuti. Passion tidak datang dengan sendirinya melainkan harus dicari. Namun tak perlu jauh-jauh mencari, ia tersembunyi di dalam dirimu, menunggu untu kamu kuak. Bagi kamu yang sudah menemukan passion tersembunyimumu, jalanilah. Jangan pernah menyerah, passion memberikan energi tanpa batas. Kepuasan batin yang akan kamu peroleh atas kesuksesan passionmu itu tak ternilai dengan uang. Passion, that’s your key of life. And last but not least, thanks for reading my writing.

“Jika Hidup ibarat Mobil, maka Passion adalah GPS-nya”

Advertisements

8 comments on “What’s Your Hidden Passion ?

    • Nggak ada yang salah kok. Aku juga baru nemu passion pas kuliah tingkat 3.
      Mungkin bisa dimulai dengan menekuni hobi. Coba cari apa yang membuat kamu nggak capek bosen lelah walau kamu ngelakuin itu sepanjang hari. Pasti ktemu kok.
      Btw salam kenal & thanks for commentnya

    • Haha. Jalani aja keduanya bersamaan. Nulis kan waktunya fleksibel. Dan menurut aku semua profesi pasti butuh skill menulis baik untuk laporan, makalah, dll. Btw salam kenal

  1. Saya malah sebaliknya, kuliah di Jurnalistik, harusnya udah biasa sama yang namanya nulis. Eh saya malah gk ahli banget, Sebaliknya Sama Kimia saya juga gk berani suka karena dari dulu gk ahli sama yg namanya ilmu eksak huhuhu… Syurraaam….

    • Yah bro, emang senangnya di bidang apa ? Kuliah itu kayak udah memilih 1 jalan hidup diantara ribuan jalan lain. Nanti pas kerja, perusahaan lihat background kuliah lho. Kalau mau banting stir sih bisa tapi akan bersaing dg lulusan lain yg jurusannya emang sesuai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s