Florist ( Penjual Bunga )

Wah udah lamaaa banget rasanya nggak buat cerpen, sekarang lagi keasyikan buat cerita yang lebih panjang. Well hari ini aku luangkan untuk membuat cerpen sebagai selingan. Hidupku sedang masuk ke tahap baru i mean aku memasuki dunia emas hitam. Hmm, engineering again. Well, disela-sela waktu aku pasti nulis untuk menghapus hasrat passion. Enjoy cerpennya dan resapi maknanya ya.

Matahari sudah terbit di ufuk timur. Sudah pagi, namun jam masuk orang kantor dan anak sekolah sudah tiba dari tadi. Sebuah rumah di jalanan yang cukup ramai. Lalu lalang kendaraan yang sudah padat merayap selalu mewarnai pagi di hari kerja. Tak lupa pejalan kaki yang setengah berlari karena terlambat ke tujuan mereka.

Yang akan aku lakukan sekarang sama seperti mereka semua, mencari rezeki. Namun aku tak perlu menghabiskan waktu untuk berstress ria seperti mereka. Aku menaikkan pagar putih yang menutup tokoku. Aroma wangi disertai semerbak yang wangi langsung memenuhi sekitar jalan. Pejalan kaki tak ada yang tidak menyempatkan matanya untuk melihat ke warna warni yang ada di tokoku.

Rainbow Florist. Sebuah toko bunga yang kurintis sendiri semenjak aku lulus SMA bermodalkan warisan dari kakekku. Walaupun aku pria, aku sangat suka dengan bunga semenjak kecil. Menurutku bunga adalah cerminan keindahan dari sebuah tanaman. Warna, bentuk, dan aromanya semua adalah keindahan. Aku senang menanam bunga, melihat prosesnya tumbuh, dan merawatnya.

Sebenarnya aneh juga sih, ketika kecil aku ditanya apa cita-citaku. Lalu aku menjawab menjadi seorang penjual bunga. Beberapa ada yangmenertawakan. Aku tak peduli apa yang dikatakan orang lain, yang penting aku menjadi diriku sendiri. Untunglah kedua orang tuaku membiarkanku menjadi diriku sendiri.

Bagiku pekerjaan ini adalah sesuatu yang membuatku merasa hidup dua kali lipat. Aku sangat senang menjalaninya. Alhasil usahaku tumbuh dan makin tumbuh. Dari sebuah toko yang sangat kecil, dan sekarang tokoku sudah pindah ke tempat yang lebih besar dan strategis. Dari dulu yang hanya aku sendiri, sekarang aku sudah memperkerjakan 3 karyawan. Aku yakin suatu saat tokoku akan terkenal seantero Jakarta.

Oke aku sudah siap berbisnis. Mau mencari bunga apa, semua ada. Mau dibikinkan buket cantik, tinggal pesan. Kebanyakan orang mencari bunga untuk acara tertentu seperti nikahan, tunangan, atau hajatan lain. Atau juga sebagai tanda permintaan maaf atau pernyataan cinta. Well that’s the power of flower. Dibalik kelopak berwarna itu, bunga memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Ia bisa membawa kebahagiaan, maaf, dan cinta.

Pelanggan pertama datang, seorang pria dan wanita. Dari gesturenya aku yakin mereka adalah pasangan. Terlihgat juga dari cincin yang melingkar di jari manis mereka. Tujuan mereka datang ? Pasti ingin membeli bunga untuk pajang dirumah atau diberikan kepada seseorang.

 “Ada yang bisa kubantu ?”

 “Ya…, kami lagi nyari bunga untuk diberikan ke mamaku,” kata sang pria.

 “Tapi kami bingung nih mau bunga apa,” kata sang wanita.

 Inilah salah satu fungsi florist, menjadi konsultan bagi pembeli yang masih bingung.

“Memangnya kenapa berpikir untuk membelikan bunga ?”

“Soalnya mama suka berkebun.”

“Ooh. Emm, kalau begitu di rumahnya ada taman yang cukup luas ?”

“Ya lumayan lah, tapi terawat sekali.”

 “Sudah ada bunga apa saja disana ?”

“Mawar, melati, kertas, dan sepatu.”

“Baiklah. Kalau begitu aku sarankan anggrek bulan saja. Ini pas untuk melengkapi keindahan taman mama kalian,” aku menunjukkan sebuah pot berisikan tanaman anggrek bulan. Mereka berdua mengangguk.

Barang diambil, transaksi dilakukan, dan hati senang. Kesenangan karena telah bisa membuat orang lain senang karena bunga inilah sesuatu yang tak bisa digantikan oleh profesi lain yang bergaji lebih tinggi.

Pembeli mulai berdatangan. Karyawan yang lain melayani. Karyawan yang kurekrut adalah orang yang harus memiliki visi sama sepertiku. Mereka harus mengerti bunga dan nilai magis yang terkandung di dalamnya. Jam paling sibuk adalah jam pagi dan sore hari. Tokoku buka dari jam 9 sampai jam 7 malam.

Seorang pelanggan datang. Pria yang…, kalau kata kasanya kutu buku. Ia berkacamata besar, celana bahan, kemeja lengan panjang dengan kancing sampai ke kerah, rambutnya klimis bahkan mengkilap, dan sepatu pantofel hitam yang tak kalah mengkilap dengan rambutnya. Mungkin usianya 25 an. Siapapun dia, aku menyebutnya pelanggan. Dan semua pelanggan harus dilayani.

“Ada yang bisa saya bantu pak ?”

“A-aku mencari bu-bunga.” Ternyata dia gagap.

“Bunga, bunga apa ?”

“A-aku juga masih bi-bi-bi-bingung. Kira-kira bu-bunga apa ya ?”

“Coba ceritakan pelan-pelan. Bunga ini untuk siapa dan keperluan apa ?”

“Untuk wa-wa-wanita aku su-suka. Dia su-suka sekali dengan bunga. A-aku ingin bunga itu di-diantar ke-kepadanya.”

“Untuk wanita ya ? Aku sarankan sebuket mawar merah. Mawar merah kan tanda cinta.”’

“Ya itu i-ide yang ba-bagus.”

“Oke sekarang ceritakan kepadaku….”

“Ardhi.”

“Ya ceritakan padaku Ardhi, strategi apa yang akan kamu gunakan untuk mengirimkan bunga ini kepada wanita yang kamu sukai itu.”

“A-aku i-ingin membuat pe-pengirim bunga ini mi-mi-misterius.”

“Kamu ingin membuat dia bertanya-tanya siapa yang mengirim bunga ini ?”

“Ya.”

“Memang sudah seberapa dekat kamu dengan wanita itu ?”

“Sudah cu-cukup dekat. A-aku ingin menyatakan ci-ci-cinta kepadanya di a-akhir rencana i-i-ini.”

“Oke, oke, bisa aku atur untuk itu.”

Melihat pria kuper seperti ini, aku membayangkan seperti apa wanita yang sudah dekat dengannya itu. Mungkin wanita yang sama kupernya-dikuncir dua dengan kacamata besar, jerawatan, dan baju yang sangat old fashon.

Pria bernama Ardhi ini adalah pelanggan yang telah memesan. Nanti sore aku harus mengantar bunga pesanannya ke wanita idamannya yang bernama Sari. Aku harus diam-diam mengantarnya karena Ardhi tak ingin aku ketahuan oleh Sari. Oke, apapun keinginan pelanggan aku adalah jin pengabul keinginannya.

*

“Aku mengantar pesanan dulu ya,” kataku pada karyawan yang lain.

Ada beberapa pesanan bunga yang harus aku antar. Untuk pekerjaan mengantar, aku ingin mengantar sendiri agar pasti sampai ke pelanggan. Bagiku pelanggan adalah raja yang harus dipuaskan. Jangan sampai mereka lari ke jin botol lain.

Satu jam berkeliling dan aku sampai ke destinasi terakhir. Ini pesanan dari Ardhi, sebuket bunga mawar merah yang bermekaran. Tak ada tanda pengenal pada bunga ini. Hanya ada kertas bertuliskan sebuah kalimat. ‘Mawar ini tak seindah dirimu – penggemar rahasia’. Kalimat ini dariku, dia sangat tidak kreatif dan romantis untuk mengarang kata.

Rumahhnya besar, bertingkat dua dengan halaman yang cukup luas. Di halaman rumahnya banyak terdapat bunga. Sedang tidak ada orang di halaman. Ardhi bilang letakkan saja bunga itu ke dalam rumah. Hanya ada Sari dan pembantu-pembantunya di rumah. Mereka pasti tahu kalau bunga itu untuk Sari. Aku menekan tombolnya dan melempar buket itu ke dalam rumah. Ketika pintu depan dibuka, aku langsung tancap gas. Oke lancar.

*

“Gi-gimana kemarin mas ?”

 “Lancar kok Dhi. Nanti juga ?”

“Iya. Se-selama sa-satu minggu ini ha-harus me-mengirim bu-bunga dengan kalimat yang berbeda-be-beda. To-tolong buatkan ka-kalimatnya ya..”

Selama dua hari belakangan ini, aku melakukan hal ini, mengirim bunga tanpa identitas ke rumah itu. Kenapa harus sok romantis, kalau dia bukan orang yang romantis. Si Ardhi menggunakan cara ini, cara yang membuat wanita penasaran. Tiap hari ia menggunakan bunga dan kalimat yang berbeda.

 Semua berjalan lancar sampai hari ketiga. Aku berada di depan rumahnya. Kesempatan, sedang sepi. Aku turun dari motor dan bersiap menekan bel dengan sebuket bunga mawar putih di tanganku. Tiba-tiba ada dua orang yang memegang lenganku dari belakang dengan kencang. Aku tak bisa melepaskan diri.

“Eh apa-apaan ini.”

“Kamu yang apa-apaan. Jadi kamu yang mengirim bunga ini ke aku.”

Seorang wanita muncul ke depanku. Pria yang memegangi tanganku adalag satpam kompleks. Jadi ini yang namanya Sari ? Wah cantik sekali, rambut panjang, kulit putih, tubuh ramping, dan wajah blasteran. Pokoknya dia berbeda jauh dari kesan nerd untuk menandingi si Ardhi.

“Sudah lepaskan dia,” kata wanita itu.

“Siapa yang mengirim bunga itu kepadaku ?”

“Aku tak tahu. Aku hanya ditugaskan oleh bosku untuk mengirim bunga ini tanpa boleh ketahuan. Aku juga bertanya-tanya siapa yang mengirimkan bunga ini.”

“Jadi kamu juga tak tahu ?”

“Tidak,” kataku berbohong.

“Kamu dari toko bunga mana ? Aku akan tanyakan langsung kepada bosmu.”

“Wah tolong kasihani aku. Bosku sudah menggarisbawahi kalau aku tak boleh ketahuan. Aku takut dipecat.”

“Emm, karena aku baik. Baiklah aku tak akan mengadu. Oh bunga mawar putih ya.”

Sari mengambil bunga yang ada di tanganku.

“Putihnya mawar ini melambangkan tulusnya cintaku kepadamu. Oh si Robby memang romantis.”

Robby ? Waduh dia salah mengira. Yang mengirim namanya Ardhi. Kalau aku berada di posisinya pria nerd seperti Ardhi akan ada di urutan terakhir dari daftar orang yang kucuriga. Bagaimana ini, sebenarnya ini bukan urusanku sih, tugasku hanya mengantar bunga namun aku kasihan dengan mereka berdua yang salah sangka.

*

“Ke-kemarin lancar kan ?”

“Eee, ya. Eh kenapa sih kamu suka dengan Sari ?”

 “Di-dia cantik, baik ha-hati, pintar, dan kei-ibuan. Aku ingin bu-bunga lili u-ungu untuk ha-hari ini.”

“Baiklah. Tapi kurasa…, dia tak cocok denganmu.”

Ardhi melihatku dengan pandangan miring.

“Oh aku tak bermaksud begitu. Maaf aku salah. Kalau memang cinta memang patut di perjuangkan. Oke aku akan membantumu dengan bunga-bungaku.”

Sementara itu Sari masih mengira kalau yang memberinya bunga adalah pria bernama Robby. Mulai hari ini dia menungguku mengantarkan bunga di depan rumahnya.

“Wah dari Robby lagi. Hari ini kalimatnya apa ya ? Ooh bisa membuatku meleleh.”

“Kenapa kamu yakin sekali kalau yang mengirim bunga ini pria yang bernama Robby ?”

“Habis kalau ada pria yang ingin menjadi pacarku, dialah orangnya. Tak mungkin salah. Aku tak tahu dia punya sisi keromantisan seperti ini. Kapan ya kira-kira menembakku ?”

“Emm, kalau misalnya bukan dia yang berada di balik semua ini bagaimana ?”

“Tergantung siapa dulu orangnya. Namun seleraku tinggi. Memangnya bukan dia ?”

“Wah mana aku tahu.”

Dan selama 3 hari belakangan ini kedua orang tersebut pada salah sangka. Ardhi menyangka kalau Sari akan menyangka kalau bunga ini dari dia sedangkan Sari menyangka bunga ini dari Robby.

Besok adalah penentuannya. Ardhi tahu kalau Sari akan pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk makan malam. Dia akan melakukan penembakan di halaman pusat perbelanjaan itu. Dibutuhkan banyak bunga untuk membuat acara sempurna. Ardhi sudah lama merencanakan ini dan membooking tempatnya. Semua perizinan dan administrasi telah beres.

“Kamu yakin dia akan menerimamu ?”

“Ya-yakin dong.”

“Apa yang membuatmu yakin ?”

“Perasaanku ke-kepadanya,” kata Ardhi dengan senyum penuh keyakinan.

Aku jadi tak tega kalau misalnya melihat besok Ardhi menahan malu karena dia akan ditolak. Bagaimana ini ? Ini bukan masalah bunga yang besok aku sediakan akan menjadi sia-sia, ini masalah perasaan. Selama ini yang aku tahu bunga membawa kebahagiaan untuk seseorang, namun kali ini akan berakhir berbeda.

*

Sari sedang menonton film bersama tetangga-tetangganya. Mungkin sebentar lagi film akan usai dan dia akan keluar untuk pulang. Mall sudah agak sepi karena sudah cukup malam, namun ada sesuatu yang berbeda di pintu depan. Ada karpet merah yang disekelilingnya terdapat bunga. Ada pula lilin-lilin kecil dan sebuah spanduk besar. Satpam berjaga di sekitar TKP penembakan.

“Menurut jadwal, film sudah selesai sekarang,” kataku kepada Ardhi.

“A-aduh a-aku gu-gu-gugup, tolong nanti yang benar ya bicaranya ?”

Dasar pemalu. Yang mau jadi pacarnya siapa yang menembak siapa. Rencananya dia akan menutup wajahnya dengan kantung cokelat agar Sari tak tahu siapa yang menembak. Aku yang akan mendubber Ardhi. Dasar tidak romantis, aku juga yang disuruh membuat dialognya. Kalau begitu si Sari malah akan makin mengira yang menembak orang lain dong, secara aku tidak gagap. Yasudahlah ikhlaskan saja. Siapa tahu dengan membantu orang mendapatkan kekasih, aku diberi kekasih juga. Walaupun sebenarnya aku pesimis dia akan diterima.

Rombongan wanita keluar. Sari berjalan bersama lima orang temannya. Mereka terkejut melihat halaman depan mall yang sudah berubah. Spanduk itu membuat jelas kalau ini ditunjukkan untuk salah satu dari mereka. Lampu sorot langsung menyala dan menyorot ke mereka.

  Aku berdiri di belakang tembok agar tak terlihat sambil memegang mik. Ardhi berdiri di ujung karpet merah dengan wajah ditutup kantung plastik hitam yang sudah dilubangi untuk mulut dan mata. Dia juga memegang mik. Akan terlihat seakan-akan dia yang berbicara.

Sisa pengunjung yang lain terlihat meniknati pertunjukkan ini. Tak kelupaan para satpam juga.

“Sari selama beberapa hari ini aku selalu mengirimu bunga. Aku tahu bunga itu tidak seindah dirimu. Namun aku bingung apa yang harus kuberikan karena tak ada satupun benda yang bisa terlihat indah bila disandingkan denganmu….”

Dan setelah beberapa kalimat gombal yang kubungkus secara romantis, aku sampai di puncak kalimat. Aduh aku tak tega nanti kalau Ardhi ditolak. Ah apa yang terjadi, terjadilah.

”Sari…, bila kamu mau menerimaku menjadi pacarmu, majulah kearahku dan ambil bunga mawar merah yang ada di tangan kananku. Bila kamu menolakkku ambil bunga mawar hitam yang ada di tangan kiriku. ”

Rombongan yang terdiri dari lima wanita itu terlihat kebingungan. Mereka saling lihat-lihatan.

“Ya kamu Sari.”

Salah seorang wanita maju. Loh kok kenapa wanita lain yang maju ? Wanita yang maju kali ini…, hmm bagaimana ya. Penampilannya mirip sekali dengan Ardhi, berkaca mata besar, rambut talang air super rapi, kawat gigi, agak gemuk, dan baju kemeja dengan rok kotak-kotak. Secara penampilan dia old fashion, seperti melihat Ardhi dalam bentuk wanita. Nah kalau wanitanya seperti ini, cocok sekali. Tapi kok Sari jadi seperti ini ?

Wanita itu berjalan di atas karpet merah itu dan akhirnya sampai di depan Ardhi. Aku masih bingung. Wanita yang selama ini kuberi bunga ada di belakang, bersama rombongan yang lain. Sepertinya dia juga bingung sepertiku. Ardhi memberikan mik kepada wanita yang bentukannya sama seperti dia.

“Mas Ardhi ? Mas Ardhi kan ? Kok Mas Ardhi nggak gagap begitu.”

Ardhi mengarahkan miknya ke arah mulut, itu kode untuk kalimat selanjutnya yang harus diucapkan olehku.

“Mana yang kamu pilih Sari, bunga merah atau hitam ?”

“Sebelumnya makasih banyak mas Ardhi atas semua ini. Sebelum aku milih, aku mau tanya dulu. Aku sama sekali nggak pernah terima bunga seperti yang dikatakan mas Ardhi. Yang terima bunga dari kemarin itu si Cassandra, tetangga sebelah aku.”

Hah jadi aku salah kirim ???  Seingatku aku sudah mengirimkan sesuai dengan alamat yang dia berikan. Kesalahan berarti ada di Ardhi yang salah menuliskan alamat rumah kalau begitu.

“Mas Ardhi buka dong penutup kepalanya. Tanpa dikasih bunga-bungaan pun aku tahu kalau ada pria yang mau nembak aku itu pasti mas Ardhi.”

Ardhi membuka penutup kepalanya. Wajahnya bingung sambil melihat kearahku. Aku keluar dari persembunyian dan berjalan kearah mereka. Wanita yang bernama cassandra, orang yang aku beri bunga selama ini, juga ikut maju kedepan.

“Sebentar, jadi yang namanya Sari tuh yang ini ?” tanyaku.

“I-iya. Ka-kamu nga-ngasih ke si-siapa ?”

“Ke aku,” kata Cassandra.

“Katanya alamatnya itu di rumah nomor 16 ?” elakku.

“Kata siapa, aku nulisnya di nomor 15.”

Haduh, bukti tulisan yang diberikan Ardhi kepadaku juga sudah hilang lagi dengan kata lain tak ada barang bukti untuk menunjukkan siapa yang salah.

“Ka-kamu su-sudah me-merusak rencanaku,” kata Ardhi kesal.

“Mas Ardhi,” kata Sari sambil mengambil bunga yang merah.

“Mas Ardhi nggak perlu menjadi orang lain untuk merebut hati aku. Aku sudah mendengar cerita dari Cassandra kalau dia mendapat kiriman bunga itu. Kalau aku membayangkan aku yang mendapat bunga itu, dan ternyata memang seharusnya aku yang mendapatkan, aku pasti akan kecewa. Kenapa ? Karena pria yang selama ini dekat denganku itu Cuma Mas Ardhi dan aku tahu banget Mas Ardhi itu bukan tipe pria romantis yang bisa merangkai kata dan misterius seperti itu. Aku juga nggak suka ketika bukan Mas Ardhi yang ngomong tadi, aku suka Mas Ardhi yang gagap. Pasti dia kan yang membuatkan kalimat-kalimat itu dan berbicara puitis tadi ?” Sari menunjukku. Aku mengangguk pelan. Sari melanjutkan

“Aku suka Mas Ardhi apa adanya. Aku nggak mau Mas Ardhi menjadi orang lain, jadilah diri sendiri.”

 Aku sedang membereskan bunga-bunga yang berserakan disekitar karpet. Oke akhirnya tak seperti yang kukira. Haduh siapa sebenarnya yang bodoh sih ? Aku atau dia, masih penasaran aku. Tapi yang lalu biarlah berlalu. Ternyata kebodohan itu malah membongkar segalanya. Memang yang terpenting adalah menjadi diri sendiri. Oke sekarang yang penting klienku senang walaupun bayarannya tidak seperti yang kubayangkan. Ikhlaskan saja, membantu itu tak boleh mengharapkan imbalan.

“Jadi kamu ya, sang romantis yang berada dibalik semua ini ? Kenalin, Cassandra,” katanya sambil menjulurkan tangan.

 *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s