Jakarta Macet Itu Salahku

Hanya ingin mengutarakan pendapat disertai fakta. Tak ada unsur iklan dalam post ini.

Hari Jumat kemarin pulang kerja dan seperti biasa menghadapi yang namanya macet. Sebenarnya aku malah heran bila tiba-tiba jalanan yang tidak macet. Namun aku merasa Jumat kemarin macet di Jalan Gatot Subroto lebih parah dari biasanya. Mungkin karena faktor genangan akibat hujan yang baru saja terjadi. Oke, kalau mau mengharapkan kapan tidak macetnya ya kapan mau pulang ? Tengah malam ?

Namun yang paling kubenci dari macet Jumat kemarin adalah banyaknya mobil dan motor pribadi) yang melewati jalur busway sampai-sampai jalur busway tidak berbeda macetnya dengan jalur lain. Secara personal, aku juga mau lewat jalur busway, tapi hati nurani mengatakan kalau itu tidak benar. Ketika melewati salah satu haltenya, terlihat banyak sekali yang mengantri untuk masuk. Dan ketika melihat salah satu busway (yang terjebak kemacetan diantara mobil dan motor pribadi)…, penuh dan sesaknya…. (FYI : aku naik motor dan tidak masuk jalur busway ya)

Yang ingin aku katakan adalah…, come on para pemilik mobil pribadi, kalian sudah cukup nyaman duduk lega dalam kondisi sejuk dan nyaman. Come on para pemilik motor pribadi, kalian punya kendaraan kecil yang bisa menyalip dijalur lain sehingga bisa lebih cepat sampai. Masa sih kalian (pemilik mobil & motor pribadi) masih mau mengambil hak para pengguna busway.

Kalau melihat daerah perkantoran Gatot Subroto, pemilik mobil dan motor itu adalah orang berpendidikan yang gajinya lumayan sampai berlebihan. Kalian mungkin belum pernah merasakan desak-desakan dan pegal dalam busway. Aku pernah merasakan dan itu capek tahu nggak sih. Dengan masuk ke jalur busway itu, kalian sama saja dengan memakan tulang saudara kalian sendiri. Naudzubillah.

Kan lagi macet, jadi wajar masuk jalur busway ? Berpikir demikian ? Semoga tidak ya karena kalian orang berpendidikan yang pintar. Justru dengan macet itu busway harusnya bisa menunjukkan kelebihannya yaitu mempunyai jalur sendiri yang bebas macet. Daya tarik itu lah yang seharusnya menarik para pemilik kendaraan pribadi untuk beralih ke busway. Ini kok malah terbalik. Well dunia memang sudah terbalik-balik sih.  Yang lain juga masuk jalur busway kok ? Berpikir demikian ? Kalau yang lain masuk ke jurang, apakah kamu juga mau ? Mulailah berpikir untuk menjadi pelopor bukan pengekor.

Tanggal 1 November kemarin pemerintah memberlakukan peraturan denda bagi pengendara pribadi yang masuk jalur busway. Untuk pengendara motor dendanya Rp 500.000 sedangkan untuk mobil Rp 1 juta. Personally aku setuju dengan peraturan itu untuk memberikan efek jera pada makhluk-makhluk pencuri jalur itu. Bahkan kalau misalnya pemerintah membuat peraturan ekstrem seperti mempersenjatai busway dengan bor di bemper depanya untuk menyeruduk mobil/motor yang masuk jalur busway, aku juga setuju. Di zaman reformasi kebablasan ini, orang Indonesia kalau tidak dikerasin ya bakal ngelunjak. Namun aku tidak tahu apakah implementasi peraturan denda itu sudah berjalan atau belum, kalau sudah berjalan seharusnya ratusan juta rupiah sudah tumpah ke Jalan Gatot Subroto Jumat kemarin.

Well, aku yakin semua ingin sampai rumah dengan cepat. Tak ada yang salah dengan tujuan itu, namun ada yang salah bila caranya menggunakan cara yang haram. Aku percaya rakyat Jakarta masih memiliki hati nurani, hanya saja masih terhalang oleh nafsu. Saat melihat jalanan macet dan jalur busway kosong…, percayalah pada hati nurani kalian.

Oke, cukup dengan prolognya. Berbicara tentang kemacetan di Jakarta…, Komentar ah. Jangan no comment dong, soalnya macet itu kan karena aku yang tidak mau berpindah ke public transport. (Sebelum menyalahkan pemerintah atau mengutuk kemacetan, bercermin dulu deh). Kenapa salah aku ?

Kalau menurutku, macet itu karena perbandingan jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan. Rasio jalan di Jakarta tahun 2012 adalah 6,2  % (1) yang berarti jika luas jakarta itu 660 kilometer persegi, luas jalan adalah 6,2 % x 660 samadengan 41 km2 (41.000.000 m2). Sebagai perbandingan, di Singapura yang memiliki luas hampir sama dengan Jakarta memiliki rasio jalan 12 %.  (2). Menurut Data Pemrov DKI Jakarta, jumlah kendaraan roda empat di Jakarta adalah 2.541.351 unit, roda dua 9.861.451 unit, bus 363.710 unit, dan mobil beban 581.290 unit. (3).

Bingung ? Sebagai gambaran, kalau misalnya semua mobil roda empat, mobil beban, dan bus itu seluas mobil Avan*a generasi kedua yang memiliki panjang 4,14 meter dan lebar 1,66 meter sehingga luas 1 mobil samadengan 6,87 m2. Dan kalau semua motor itu seluas motor honda b*at yang memiliki panjang 1,86 m dan lebar 0,68 meter sehingga luasnya 1,26 m2. Jadi kalau misalnya semua kendaraan di Jakarta itu turun kejalan….

dimensi mobil

dimensi motor

–         Luas seluruh mobil = (2.541.351+363.710+581.290) unit x 6,87 m2 = 23.951.231 m2

–          Luas seluruh motor = 9.861.451 unit x 1,26 m2 = 12.425.428 m2

–          Luas total = 36.376.659 m2 (36,4 km2)

Memang luas seluruh kendaraan masih belum melewati luas jalan tapi kan luas jalanan vital itu kan hanya beberapa persen dari luas jalannya, jadinya pasti macet seperti yang dirasa sekarang ini. Perhitungan diatas juga mengabaikan sela-sela jalan yang tidak dimuati mobil serta mobil-mobil besar yang ukurannya lebih besar dari mobil Avan*a.

Pertumbuhan mobil dan motor di Jakarta jangan dianggap remeh ya. Berdasarkan riset Indonesia Effort for Environtment, pertambahan kendaraan di Jakarta tahun 2013 men capai 1.600-2.400 unit perhari dengan 16,5 % mobil dan sisanya motor, bus, dan truk. (tempo.co.id). Kalau diambil rata-rata pertambahan kendaraan 2000 unit perhari berarti dalam satu tahun bertambah 730.000 unit.

–          730.000 unit à 120.450 unit mobil, 609.550 unit motor dll

–          Luas pertambahan oleh mobil =120.450 unit x 6,87 m2 =827.491,5 m2 (0,83 km2)

–          Luas pertambahan oleh motor = 609.550 unit x 1,26 m2 = 768.033 m2 (0,77)

–          Luas pertambahan total  pertahun = 1,6 km2

Sedangkan pertumbuhan jalan jakarta hanya 0,01 % pertahun (3) atau

–          Luas pertambahan jalan 0,01 * 660 km2 = 0,066 km2

Jelas sekali pertumbuhan jalan tidak sebanding dengan pertumbuhan mobil di Jakarta. Well, itu hanya angka-angka berdasarkan perhitungan saja, yang penting adalah bagaimana aktual yang akan terjadi nanti di Jalan. Kembali ke topik, macet ini karena aku karena aku (dan mungkin kalian) ikut menyumbang angka pertumbuhan mobil dan motor di Jakarta tiap harinya.

Pemerintah memang sudah membuat banyak alternatif solusi mengatahu kemacetan seperti busway, 3 in 1, nomor genap ganjil, dan lain-lain. Pemerintah DKI Jakarta juga akan segera membangun MRT dan monorail.  Tapi semua kembali ke kita sebagai masyarakat. Apakah kita mau berpindah dari kenyamanan di mobil atau motor ke moda transportasi umum. Mau sampai ada permadani terbang atau baling-baling bambupun, kalau kita tidak mau menggunakannya, Jakarta akan tetap macet.

Karena menurutku untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan menambah rasio jalan di Jakarta atau mengurangi jumlah kendaraan di Jalanan. Pilihan pertama nampaknya sulit. Jadi kitalah, masyarakat Jakarta, yang memiliki kunci mengataasi kemacetan. Gubernur Jokowi hanya akan memberikan fasilitas, namun keputusan tetap ada pada masyarakat. Kalau kalian bertanya padaku, apakah aku mau pindah ke mode transportasi umum entah itu busway, monorail, MRT atau permadani terbang ? Tentu aku mau asalkan transportasi itu bisa membuatku duduk nyaman, halteny ada di dekat rumah, dan sampai ke kantor dalam waktu 45 menit.

sumber

  1. http://www.sindonews.com/read/2012/09/13/31/672220/rasio-jalan-di-jakarta-baru-6-2-persen
  2. https://www.ipotnews.com/index.php?jdl=Rasio_Panjang_Jalan_dengan_Luas_Jakarta_Baru_6_2_Persen&level2=newsandopinion&id=1582812&img=level1_topnews_2&urlImage=
  3. http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/03/05/kendaraan-tumbuh-11-jalan-cuma-tumbuh-001.
Advertisements

6 comments on “Jakarta Macet Itu Salahku

  1. Bagiku cara denda it krang pas,baiknya klo bisa diusahakan,tiap jalur masuk kndaraan lain ke jalur bshway it diberi ptgas,dstop sblm msuk,dan 500mtr dr jalur msuk it dtempatkan ptgas pencegat,jd kndaraan yg trlanjur masuk jlur bushway bisa dpt mundur dan kluar,tentu dgn diberi peringatan yg sesuai,kalo denda apalgi bnyak,rasanya tidak adil,krn pamrentah blm menckupi sarana trnsportsi umum, skdar ide aja,bkn brmksud nyinggung, cmiiw, salam

    • Memang untuk pengaplikasian aturan denda akan sangat sulit. Namun menurut saya kalau hanya ditilang biasa dg menempatkan petugas di beberapa ratus meter jalur busway tidak akab membuat jera. Kalau misalnya aturan denda 500rb/1jt itu benar2 ditegakkan, maka akan membuat penerobos berpikir 3 kali untuk nerobos. Hari gini uang segitu kn lumayan buat belanja dapur. Soalnya udah busway kurang nyaman (desek2an & lama nungguny) masa harus kena macet juga. CMIIW.

      • Menurut saya yang lumayan penting adalah menindaklanjuti hasil denda secara realtime. Misalnya Pemerintah DKI mempersiapkan online pencatatan denda lalu terkoneksi dengan perusahaan bus dan pengelola bus. Bila uang denda telah mencapai nilai satu bis plus nilai operasional selama satu tahun, maka secara online sistem itu memesan bus. Demikian seterusnya…..efeknya tentu ada melihat bus banyak dan tidak sepenuh seperti saat ini maka dengan sukarela para bikers dan pengendara mobil meninggalkan kendaraan mereka …. Apa lagi selama setahun gratis naiknya krn sudah ditraktir pengendara mobil dan motor yang bandel…….gimana setelah setahun …..nah itu urusan Pemerintah DKI yang mikir….kita cukup sampe disini……

  2. He,he,he,ideku itu semirip anu mas,ibarat sakit gtu yaa upaya pncegahan lbh baik dr pd mengobati,denda kapok hnya bbrp org yg kena,ntar muncul lg,apalagi kita it biasanya anget2 tai kambing,eh..kucing, ntar bosen denda gnti mdel baru yg lbh plexibel,dan tdk sesuai smangat membngun lg,klo slalu ada ptgasnya,maka upaya pncgahan akan slalu terobati, salam sehat slalu,cmiiw

    • Btw thanks atas komennya ya.
      Saya setuju kalau pencegahan lebih baik drpd mengobati. Tapi yg udah sakit sekaranf juga harus diobati. Emang butuh komitmen dr pemerintah utk menjaga kesinambungan sebuahperaturan. Namun yang paling penting memang kesadaran dari para pengguna jalan kalau hal itu salah atau benar. CMIIw

  3. Sem sem mas, Ksdaran user jalan bisa diobati tp lama,cnto nyata buang sampah,,kan?ya to?sdh hmpir ke arah budaya,he,he,skdar ngbrol,nah,dgn mncegah otomat meminimalis bhkan bisa total g da yg sakit,utk next nya beri aja portal canggih dimana only busway dgn dberi tanda pembuka portal trsbt,tehcnol mahal memang,tp lbh mahal buat jln lg,dmana hmpir sdh tdk mngkin lg adany plebaran yg sigkinipan,eh signipikan, wkt lebaran aja bisa dpaksakan dgn bukatutup jlur utk daerah pncak bgor,klo cuma dberi tmbhan ptgas q yakin bisa, dan realistis,jg nambah incom ptgas jaga,ptgas di satu tmpat,satu sift ckp 1 policeman dbntu dr swasta yg brkaitan dgn busway,klo polis ny smua sibuk ambil dr tni,tentu dgn koordnasi yg tepat dan dsiplin, ha,ha,ha,…mngkin smua ini easy to talk but hard to act kali yaw…namax jg ide dr org biasa,salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s