Balada Rumah Tangga

Sebuah cerita sederhana tentang cinta yang sedang diuji. Enjoy….

Sudut pandang suami. Pagi hari, di dalam busway.

Haduuuh. Aku mengeluh dalam hati. Bagaimana tidak, ini sebenarnya busway atau toples. Biasanya sih toples isinya kacang tapi ini isinya manusia. Mau maju tidak bisa, mundur tidak bisa. AC yang dingin sudah hampir kalah oleh banyaknya manusia yang bersuhu 37 derajat.

Haha, apalah gunanya mengeluh. Sudah hampir 2 tahun aku melakukan hal ini. Berdesak-desakan bak cendol ini sudah menjadi minumanku setiap pagi dan sore. Awalnya terasa begitu menyiksa, namun lama kelamaan tetap menyiksa sih namun dengan dosis yang sudah berkurang. Aku yakin semua penumpang busway ini merasakan hal yang sama denganku.

Pagi ini tak beda dengan pagi weekdays lainnya. Berangkat  pagi, kerja, pulang sore, berkumpul dengan keluarga dan selesai. Rutinitas yang terlihat membosankan namun aku senang menjalaninya. Suasana pagi ini begitu cerah. Aku melihat keluar jalanan melalui jendela. Rasakan kau mobil pribadi yang berkerumun dalam kemacetan sedangkan aku lancar jaya.

Busway berhenti di halte setiabudi. Aku menerobos kerumunan orang menuju pintu keluar. Kenapa tidak sekalian ada backsound lagu “sure you can do” ya. Huah, akhirnya menghirup udara segar juga. Kalau dulu sih keluar busway pasti keringatan, namun sekarang sudah tidak. Paling hanya butuh semprot parfum dan sisiran sedikit and i’m ready.

“Dret-dret”

Ponsel disakuku bergetar. Sebuah pesan masuk. Siapa ini pagi-pagi sudah SMS. Malas aku kalau misalnya bos tiba-tiba SMS dan mengharuskanku mengerjakan sesuatu dengan deadline hanya 1 jam semenjak SMS  dikirm. Paling tidak aku ingin bernafas dulu lah. Ternyata SMS dari nomor tidak dikenal.

“Sayang, ini nomor baru aku. Tolong transfer ke rekening aku yah (no rekening) 1 juta ajah.”

Haduuh, masih ada aja maling-maling tidak kreatif yang menggunakan modus bodoh seperti ini untuk menipu. Siapa sih yang akan tertipu dengan cara ini ? Mungkin manusia purba kali. Aku kerjai saja deh maling ini.

“Oke, nanti siang aku kirimin ya.” Haha biar lumutan dia menunggu di ATM.

Akhirnya sampai juga ke kantor. Pukul 7.15, 15 menit sebelum jam masuk kantor. Oke saatnya mencari nafkah untuk anak dan isteriku.

*

Sudut pandang isteri. Pagi hari di gerobak tukang sayur.

“Haduuh, masa sih naik lagi bang harganya,” aku mengeluh sambil memilah-milah sayur yang akan aku beli.

“Ya mau gimana lagi bu. Darisananya harganya naik.”

“Ya nggak segitu juga dong bang harganya. Kita udah langgananan lama nih,” kata ibu yang lain.
“Pasnya udah segitu bu.”

 Aku dan 2 ibu-ibu yang lain kembali memilah bahan makan untuk keluarga. Kedua ibu-ibu itu lebih tua beberapa tahun dariku. Anak mereka sudah sekolah, sedangkan anakku masih bayi. Kalau pergi belanja ke tukang sayur, anakku selalu kubawa dalam kereta bayi.

“Jadi bingung nih. Padahal pendapatan suami nggak naik tapi harga sembako naik semua.”

 “Iya bingung mau masak apa.”

  “Eh jeung-jeung. Udah denger berita terbaru tentang si ce’ Ana belum ?”

 Aku memasang kuping dalam-dalam untuk acara infotainment pagi yang rutin diadakan ketika belanja di gerobak sayur.

“Kenapa ? Perceraiannya udah dikabulin hakim ?” tanyaku.

“Bukan itu Jeung. Tahu nggak ini hot gossip loh. Ternyata suaminya si Jeung Ana itu punya wanita idaman lain.”

“Ah yang bener Jeung ? Jeung tahu dari mana ?”

“Dari pembantuku. Pembantuku tahu dari pembantunya jeung Ana.”

“Oh jadi itu penyebab perceraian mereka. Emang selingkuhan suaminya itu cantik ?”

 “Katanya sih model gitu.”

“Wah pantes tergoda lah suaminya. Secara Jeung Ana itu badannya udah melar.”

 “Gosipnya siiih….”

Aku makin memasang kupingku.

“Gosipnya siih si Jeung Ana mergokin suaminya selingkuh sama tuh cewek di hotel.”

“Kok si Jeung Ana bisa tahu suaminya lagi beduaan di hotel ?” tanyaku.

 “Dia diam-diam denger pembicaraan suaminya malam-malam. Mereka janjian di hotel. Nggak bisa ngebayangin kerusuhan yang terjadi di tuh hotel.”

 “Ih sekarang kita kudu hati-hati nih, kudu ekstra ketat menjaga suami-suami kita biar nggak jatuh ke wanita lain. Mau jadi apa kita kalau diceraiin sama suami-suami kita. Kalau perlu gembok aja tuh peluru kendalinya. Haha.”

 “Iya tuh Jeung.”

“Loh kok aku ?” aku bingung ketika ibu-ibu itu memperingatiku.

“Suami jeung kan mantan model. Cewek mana yang nggak tertarik. Saya aja ngiler loh.”

 “Apasih ibu ini.” Kataku tersinggung.

“Saya sih Cuma memperingatkan aja. Kalau misalnya suami jeung udah mulai pulang telat, suka ketawa sendiri sambil mainan HP, atau pergi-pergi di weekend dengan alasan kerja…, nah itu tanda-tandanya.”

Acara infotainment pagi selesai. Kalimat tadi terngiang di benakku. Iya sih, daya tarik suamiku memang masih kencang. Namun tak ada tanda-tanda dia macam-macam. Sudahlah percaya saja dengan suamiku. Tapi…, kok aku jadi kepikiran ya. Bisa saja dia diam-diam menghanyutkan.

 *

 Sudut pandang Suami. Tengah hari di ruangan dalam gedung kantor.

“Sabtu depan kita Dinas ya. Kamu siapkan adminsitrasinya untuk kita.”

“Sip bos.”

Haduuuh males banget deh weekend kerja. Aku harus pergi ke Bandung untuk rapat. Workaholic banget deh hari Sabtu rapat. Namun aku tak bisa menolak. Nanti dia malah mengira kalau aku itu malas dan sulit dapat promosi lagi.

“Yasudah, pertemuan selesai. Kamu boleh makan siang. Siapkan presentasinya untuk sabtu ya.”

“Oke bos.”

Aku keluar ruangan bos dan langsung menuju kubikalku. Perut sudah sangat lapar.

“Gimana, jadinya lo yang berangkat ?”

“Iya. Males deh weekend kerja,” kataku pelan-pelan.

“Salah sendiri pinter, penampilan oke lagi.”

“Yaudahlah. Jangan salahin gw ya kalau gw duluan yang dapet promosi.”

“Ya salahin lah. Makan yuk.”

Kalau siang aku biasanya makan di kantin kantor yang terletak di lantai paling bawah. Makanannya enak dan harganya juga bersahabat. Aku duduk di kursi untuk enam orang walaupun hanya makan berdua. Kantin sedang ramai-ramainya dan hanya bangku ini yang tersisa. Belum semenit duduk ada tiga wanita yang menghampiri.

“Hei boleh gabung nggak guys.”

“Duduk aja Ran,” kataku. Mereka adalah rekan kerjaku juga, tipe wanita muda rempong.

“Sabtu depan yang ikut ke Bandung siapa ?”

“Gw. Kenapa ?” kataku

“Gw juga nih.”

“Lo juga Ran ? Haha bakal ada romansa di kota kembang nih.”

“Apaan sih lo,” kata Rani dengan wajah sedikit memerah. Aku menanggapi dengan tampang polos sambil melanjutkan makan.

Ada gosip yang mengatakan kalau Rani itu menyukaiku. Dia memang masih jomblo. Dasar wanita zaman sekarang, sudah tahu pria beristri masih saja diincar. Memang tak ada potongan model sepertiku yang bekerja disini. Ah, aku anggap saja itu gosip bercandaan.

“Jangan lupa ntar rakor ya jam 2.”

Oh ya aku sampai lupa. Berarti aku harus percepat makan untuk mempersiapkan dokumen.

 *

 Sudut pandang isteri. Sore hari di depan rumah.

Ponselku tak berdering-berdering. Sudah 2 jam aku menunggu balasan SMS dari suamiku. Sebenarnya sih bukan SMS penting, hanya SMS yang menanyakan sedang apa. Kenapa ya SMS seperti itu tak dibalas ? Padahal dulu ketika pacaran selalu dibalas. Aku jadi makin kepikiran.

“Serius amat nyiram tanamannya Jeung ?”

Itu ibu tetangga depan yang juga sedang menyiram tanaman.

“Nggak kenapa-kenapa Jeung.”

“Jeung ngikutin telenovela  Maria, puteri cinta yang tertukar nggak ?”

“Ngikutin Jeung.”

“Nggak nyangka ya. Kalau Hose Fernambo selingkuh sama teman dekatnya sendiri, si Barbarong.”

“Iya. Si Armanbang selingkuh sama  Esperanyem. Emang ja*ang si Esperanyem” kataku terbawa emosi atas telenovela yang baru aku tonton.

“Iya. Kalau sampe Esperanyem lewat depan jalan sini, bakal saya siram dan bejek-bejek sampe jadi sambel.”

“Kalau saya sih. Biar saya lindes pake traktor,” kataku kesal.

“Masak apa Jeung hari ini ?”

“Oh masak sayur lodeh sama ayam bakar. Kesukaan suami saya,” kataku. Aku yakin makanan enak dari tanganku adalah salah satu rantai terkuat untuk keharmonisan keluarga.

“Wah kayaknya enak tuh. Kalau suami saya mah lebih seneng makan diluar jadinya jarang masak.”

“Loh kenapa lebih seneng makan diluar ? Jeung nggak bisa masak ?”

“Ya bisa. Tahu deh tuh. Udah setahun belakangan ini jadi nggak setiap hari masak.”

Aku jadi teringat dengan kasus perceraian jeung Ana. Dari acara infotainment pagi kemarin, dibilang kalau awalnya seperti ini. Keharmonisan berkurang karena tak ada sesi makan malam bersama keluarga. Aku harus memperingatkan ibu tetangga depan.

“Oh, hati-hati aja Jeung,” kataku.

“Hati-hati apa ?”

“Si Jeung Ana….”

*

 Sudut pandang Suami. Sore hari di dalam busway.

Hari ini aku pulang telat karena ada rakor berjalan lebih alot. Jam puncak keramaian sudah lewat, namun tetap saja tetap macet dan desak-desakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Untungnya rapat alot sampai lewat magrib adalah ada konsumsi untuk makan malam. Mana aku makan dua porsi lagi. Setidaknya desak-desakan dalam kondisi perut sudah kenyang.

“Dret-dret.” Sebuah pesan masuk ke ponsel.

Dari isteriku. Oh ya tadi siang dia SMS ya. Tumben sekali SMS menanyakan keadaan, seperti orang pacaran saja. Tadi tidak sempat aku balas karena sedang rapat.

“Dimana mas ?”

“Di busway. Tadi rapatnya lama.”

Aku memasukkan ponselku dan kembali fokus berdiri. Ingin deh bisa tidur sambil berdiri di dalam busway yang berdesak-desakan ini. Ciiiit. Busway tiba-tiba mengerem dari kecepatan yang lumayan sampai kecepatan 0 km/jam. Hampir semua penumpang yang berdiri kehilangan keseimbangan. Aku berpegangan erat pada pegangan. Oke, aku tak jatuh.

Bruk. Nampaknya embak-embak yang berdiri di depanku tidak bisa mempertahakan keseimbangannya. Iya menubrukku tepat ke dada. Huuh, lagian sudah tahu desek-desekkan, masih aja memakai high heels. Untung aku tidak malah jadi jatuh.

Ups. Maaf-maaf mas.”

“Nggak apa-apa mbak.”

Setelah satu jam perjalanan, aku sampai rumah. Lelahnya hari ini.  Pikiran tentang pekerjaan masih terngiang- ngiang di otakku. Besok akan menjadi hari yang hectic sepertinya.

“Assalamualaikum.”

“Waalikum salam mas. Kok pulangnya lama ?”

“Tadi rakornya alot.”

“Biasanya rakor Cuma sampai jam 4.”

“Iya tadi lagi ada masalah pelik jadinya lama.”

Aku masuk ke kamar, diikuti isteriku. Aku membuka kemeja dan kausku, hendak mandi sore.

“Nasi sama sayurnya udah aku panasin.”

“Aduh aku sudah makan malam pas rapat tadi.”

“Tapi aku masak lodeh sama ayam bakar kesukaan Mas.”

“Tapi aku sudah kenyang sekali,” kataku sambil masuk ke kamar mandi.

 *

Sudut pandang isteri. Malam hari di dalam rumah.

Kenapa ? Kenapa suamiku dingin sekali ? Kenapa dia tak mau menikmati masakanku. Padahal kan ini makanan favoritnya. Pandangan matanya tadi kosong, seperti memikirkan sesuatu. Biasanya tidak begini.

 Suara air terdengar dari dalam kamar mandi. Aku merapikan baju suamiku. Apa ini ??? Ada bekas lipstik di kemeja putihnya ? Kalau pikiran positif sih ini pasti lipstik ini berasal dari wanita di busway tak sengaja mencium dada suamiku karena berdesak-desakan. Tapi kan dia pulang agak malam, pasti tak sedesak-desakan itu lah. Jadi lipstik ini berasal dari… ???

Aku terduduk di tempat tidur. Shock. Yang terjadi pada jeung Ana dan dalam telenovela yang kutonton terjadi padaku. Suamiku selingkuh ? Apa iya ? Apakah aku harus mempercayai tingkah lakunya yang biasa saja atau percaya pada bukti yang kutemukan ? Oya, ponsel.

Aku langsung mengambil ponselnya yang ada di meja. Pasti ada sesuatu disini. Sayang, ini nomor baru aku, tolong transfer ke rekening aku yah (-no rekening-) 1 juta ajah.  Siapa ini ? Seenaknya saja meminta uang ke suamiku. Memang tak semua gaji diberikan oleh suamiku kepadaku. Oke, nanti siang aku kirimin ya. Katanya untuk tabungannya. Jadi uang itu untuk wanita ini ? Tapi nomor tak dikenal. Wanita ini baru mengganti nomornya, pasti belum dia save.

Aku meletakkan ponselnya. Hatiku tersayat, sakit sekali. Jadi dia selingkuh ? Kenapa Tuhan ? Apa jadinya rumah tanggaku kalau dia berpaling dariku ? Bagaimana jika dia memintaku cerai ? Bagaimana nasib anakku ? Dia butuh kasih sayang seorang ayah.

Suamiku keluar dari kamar mandi. Aku melihat dirinya. Memang sih…, wanita mana yang tak tertarik dengan potongan model sepertinya. Sedangkan aku, tubuhku sudah mulai melar setelah melahirkan. Apakah dia tak tertarik lagi padaku sehingga mencari wanita lain ?

“Oh ya. Hari Sabtu ini aku ada dinas.”

“Apa ???”

“Kenapa kamu kaget begitu ? Aku ada dinas hari Sabtu ini di Bandung. Ada rapat.”

“Rapat kok hari Sabtu ?” aku curiga.

“Maunya klien begitu. Ya diikutin aja,” kata suamiku sambil memakai baju.

“Makan yuk mas. Aku lapar.”

“Aku sudah kenyang. Aku menemanimu makan saja ya.”

“MAS.”

“Kok kamu membentak-bentak begitu.”

“KATAKAN SIAPA ? SIAPA WANITA ITU.”

“Wanita apa ? Kamu kenapa sih, nyebut-nyebut.”

“KAMU JAHAT, KAMU TIDAK SETIA,” kataku sambil memukul dada suamiku, meluapkan emosi.

“APA SIH ? AKU INI CAPEK PULANG KERJA MALAH KAMU MARAH-MARAHIN.”

“Kamu udah berani bentak-bentak aku mas ? Pasti karena wanita itu kan ? Keluar kamu keluar.”

Aku mendorong suamiku keluar kamar dan kemudian mengunci kamar.

*

Sudut pandang suami. Malam hari di dalam rumah.

“Sayang buka pintunya.”

“Pergi kamu sama wanita itu.”

Aku tak habis pikir dengan isteriku. Dia lagi kesambet setan apa sih ? Au ah. Aku capek, mau tidur. Yasudah tidur di sofa malam ini. Mungkin besok setan dalam dirinya sudah keluar.

Malam berlalu. Asalkan kantuk tidur dimana saja pasti lelap. Sudah jam 5 pagi, saatnya aku siap-siap untuk bekerja. Isteriku keluar dari kamarnya. Dia masih memasang wajah bertanduk. Sepertinya setan semalam masih belum keluar.

“Siapa yang masukin sayurnya ke kulkas ?” katanya ketus

“Aku. Tolong dipanasin ya. Ayamnya juga dipanasin.”

“Masih mau makan masakanku ?”

“Ya mau lah. Kamu ini aneh banget sih. Udah ah aku mau mandi.”

Aku langsung masuk ke kamar untuk mandi, takut terjadi perang lagi. Sebenarnya ada apa sih ? Aku  jadi bingung sendiri. Dia pikir aku selingkuh ? Bagaimana dia berpikir seperti itu ? Oh ya jangan-jangan….

Aku langsung mengambil kemeja yang kupakai kemarin di keranjang baju kotor yang ada di kamar mandi. Sudah kuduga. Ada noda lisptik mbak-mbak yang jatuh kemarin. Bodoh sekali aku. Dulu juga pernah nih kejadian seperti ini, tapi aku keburu nyadar dan menghapus nodanya sebekum sampai rumah. Dia pasti berpikir yang tidak-tidak deh.

Oh ya…, aku langsung keluar kamar mandi dan mengecek ponselku. Sudah kuduga. Aku membaca percakapan atas nomor tak dikenal itu.

“Sayang, ini nomor baru aku. Tolong transfer ke rekening aku yah (no rekening) 1 juta ajah.”

 “Oke, nanti siang aku kirimin ya.”

“Aku ini isteri sah dia. Jangan kamu ganggu lagi rumah tangga kecil kami yang bahagia.”

Dia pasti mengecek ponselku dan mengira yang tidak-tidak deh. Lalu dia membalasnya kemarin malam karena ponselku tertinggal di kamar. Haduuh bodoh sekali aku, harusnya tidak kubalas SMS si maling ini, bikin perkara saja.

Kesimpulannya adalah dia salah sangka. Pertanyaannya adalah bagaimana membuat dia berpikir kalau semua ini tak seperti yang terlihat olehnya. Dia sedang dalam mode senggol bacok lagi. Bisa pegal aku kalau nanti malam tidur di sofa lagi. Sisi positifnya kecemburuan itu adalah bukti kalau dia masih mencintaiku sebegitu besarnya. Ah ah, mandi dulu deh  biar segar.

*

Sudut pandang isteri. Pagi hari di dalam rumah.

      Aku memanaskan sayur dan ayam yang kemarin aku masak untuk suamiku. Ternyata dia memang masih ingin memakan masakanku. Dulu juga  pernah sih dia pulang malam dan tidak makan karena sudah dapat konsumsi makan malam. Sudah beberapa kali. Kenapa tadi malam aku tak percaya banget ya ?

      “Dret-dret”

Sembari menunggu makanan panas, aku membuka pintu depan dan mengambil koran pagi. Sebuah berita mengusikku. Aku membaca artikel itu dengan cepat.

Pelaku SMS Minta Duit tertangkap. Pernahkah Anda menerima SMS seperti ini ‘Sayang, ini nomor baru aku. Tolong transfer ke rekening aku yah’ ? Jika ya dan anda mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekening yang ada di pesan tersebut berarti Anda masuk ke jebakan tipuan….”

Ya ampuuun. Kenapa aku sama sekali tak berpikir kalau SMS itu SMS main-main dari maling. Suamiku pasti membalas hanya untuk mempermainkan si maling. Aku juga pernah dapat SMS main-main seperti itu yang menyatakan dia itu anakku yang sedang di kantor polisi. Hadeeh bodoh sekali sih aku.

Aku masuk ke dalam rumah dan menyiapkan botol minum untuk dibawa suamiku dalam tas. Sambil melakukan itu aku berpikir, sepertinya aku salah sangka. Namun masih sepertinya ya. Aku membuka tas suamiku untuk memasukkan botol minum.

Aku menemukan selembar kertas dalam map transparan. Ini adalah formulir dinasnya. Dinas hari Sabtu dengan tujuan Bandung untuk keperluan rapat. Dan ini sudah ditandatangani bosnya. Oooh, jadi benar-benar Dinas toh.

Nampaknya aku benar-benar salah sangka. Aku jadi tak enak dengan suamiku. Aku terlalu terbawa emosi kemarin. Padahal dia sedang capek-capeknya setelah kerja namun aku malah…, ah bodoh sekali aku. Aku ini wanita beruntung dapat suami yang sempurna dan mencintaiku, eh malah aku sendiri yang mencoba merusak keharmonisan itu. Kata maaf adalah hutangku kepadanya. Aku menunggu suamiku yang sedang mandi pagi. Hmm…, ngapain nungguin sampe selesai mandi. Maaf tak boleh ditunda-tunda walau hanya semenit. So minta maaflah detik ini juga.

*

Sudut pandang suami. Sore hari di coffee shop lantai dasar gedung kantor.

      Syukurlah konflik aku dengan isteriku sudah selesai. Komunikasi adalah kunci penting dalam rumah tangga. Biarlah ini jadi bumbu yang akan makin mempersedap rumah tanggaku.

“Tadi pagi kenapa telat ?” tanya Rani.

“Oh itu. Nggak tahu kenapa jalanan lebih macet.”

“Kok gw nggak ngerasa begitu ya.”

“Gw ngerasa tuh. Oh ya ada Ran, lo mau ketemu gw ?” kataku.

“Ini…,” muka Rani berubah kemerahan.

“Soal kerjaan ?”

“Eee, i love you,” katanya pelan.

“I beg your pardon ?” kalimatnya tak terlalu jelas masuk ke telingaku.

“I love you…r presentation slide for Saturday meeting.”

“Ooh, terimakasih. Terus ?”

“Itu aja kok. Yuk pulang.” Kata Rani merapikan barang-barangnya.

Aku menyipitkan mataku. Kenapa si Rani ini ? Kesambit setan apa sih ?

“Ini jaketnya,” kata Rani mengambil jaketku di meja.

“Terimakasih.”

Dia aneh sekali hari ini, semenjak tadi siang juga aneh. Au ah, aku mau cepat-cepat pulang saja, tubuh dan pikiran sudah lelah.

*

Sudut pandang isteri.  Malam hari di dalam rumah.

Assalamualaikum.”

“Walaikum salam. Tumben agak telat.”

“Tadi ada temen ngajakin ngobrol sebentar soal kerjaan habis pulang kerja.”

“Cewek atau cowok ?”

“Cewek, namanya Rani,” katanya sambil senyum.

Aku tersenyum manis ke suamiku. Aku percaya kalau Rani yang dia bilang itu hanya teman kerjanya saja. Aku tak boleh terbawa emosi.

“Mau makan mas ?”

“Iya dong. Aku mau mandi dulu.”

Sembari menunggu suamiku mandi, aku merapikan baju-bajunya. Ada sebuah amplop kecil di jaketnya. Mencurigakan. Aku membuka amplop itu. Sebuah surat dengan tulisan yang pasti tulisan seorang wanita.

Mas…, selama ini aku memendam perasaan cinta kepadamu. Selama ini aku senang dengan gosip-gosip yang mengatakan kita itu jodoh. Aku tahu kamu sudah memiliki isteri, tapi aku bersedia menjadi yang kedua. Aku bisa buktikan kalau aku bisa membahagiakanmu lebih daripada isterimu. Tolong jangan kamu abaikan perasaanku ini. Hari Sabtu nanti ketika di Bandung, aku akan siapkan kejutan yang tak akan kamu lupakan. With Love,Rani.

Aku yakin ini hanya akal-akalan suamiku untuk menguji ketulusan permintaan maafku kemarin. Aku tak terpengaruh. Lebih baik aku buang surat ini dan menganggapnya tak pernah ada karena aku yakin konflik yang hendak dia berikan kepadaku melalui surat ini juga tidak ada. I love him and he loves me, it’s more than enough for a reason.

Finish

 

      .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s