Gara-Gara Hipnotis

First post di 2014. Gilaaa, belakangan ini sibuk banget sampe nggak sempet nulis. Ayo Widi Wake up dan atur waktumu dengan baik. I just need to be more discipline. Well, untung skill nulis cerpen nggak ilang dengan bergantinya tahun dan kesibukan di kantor. Enjoy

Jalan berdua dengan pacar di malam minggu. Apa yang tak lebih menyenangkan selain itu. Masa sih udah umur 26 masih aja menjomblo, kalah sama truk gandeng yang punya gandengan. Ya malam minggu ini aku jalan berdua dengan Jenifer, pacarku. Mall yang cukup mewah di Jakarta menjadi tempatku menghabiskan waktu dengan Jenifer.

Jenifer…, wanita yang sempurna. Dia cantik, baik, pengertian, dan everything deh. Dia anak dari seorang pengusaha sukses. Rumahnya saja sudah seperti istana. Belum lagi vila-vilanya yang juga tak kalah mewah. Mobil Jenifer berjejer di garasi bagaikan showroom mobil. Baju dan perhiasan Jenifer juga pasti punya label yang membuat harganya mahal walaupun di ada yang persis di ITC dengan harga yang murah.

Berpikir aku cowok matre yang hanya ingin harta Jenifer ? Tidak lah. Aku juga terlahir dari keluarga yang cukup kaya. Mana mau Jenifer sama pria yang kere. Yang menjadi keuntunganku bila, seandainya, aku dan Jenifer menikah adalah masa depan karir yang begitu cemerlang. Huaa, aku akan menjadi CEO dari banyak perusahaan. Tapi aku memacari Jenifer bukan karena itu, tapi karena cinta.

“Say, mau kesitu yuk. Aku mau cari sepatu.”

“Oke say.”

Aku menggandeng tangan Jenifer memasuki sebuah toko. Aku membantu memilihkan sepatu yang ingin Jenifer beli walaupun sebenarnya sepatu Jenifer masih banyak berjejer di lemarinya. Sebagai cowok, aku wajib membayarkan belanjaannya walaupun sebenarnya saldo tabungannya unlimited.

Aku dan Jenifer sudah 2 tahun jalan bersama. Pertama kali kami bertemu dulu ketika aku dan bapak Jenifer menjalankan sebuah projek bersama. Kala itu aku dan bapak Jenifer meeting di sebuah restoran dan kala itu ada Jenifer. Aku berkenalan dengannya dan berlanjutlah sampai ke tahap pacaran ini.

Jenifer tidak bekerja. Sebenarnya harta orang tuanya tak akan habis tujuh turunan jadi mau dia nganggur juga tidak akan kekurangan. Keseharian Jenifer dihabiskan dengan ke mall, salon, dan bersosialisasi. Dasar cewek sosialita.

“Nit-nit.”

Ada Whatsapp masuk ke ponselku. Dari seorang wanita bernama Casandra.

“Lagi sama di Jenifer ya ?”

“Iya.”

“Kapan aku dapat jatah jalan bareng ?”

“Minggu depan deh say. Aku akan bilang ke Jenifer kalau ada tugas kantor keluar kota satu minggu.”

“Kalau begitu satu minggu ya jangan satu malam doang. Haha.”

“Sip.”

Itu adalah pacar keduaku. Yes, i’m cheating. Casandra tahu kalau misalnya aku sudah memiliki pacar. Dia tak keberatan menjadi yang kedua. Kalau dibandingkan dengan Jenifer…, tentu Casandra lebih cantik dan bahenol. Masa sih selingkuhan lebih jelek dari yang official ? Casandra masih kuliah semester akhir di jurusan kedokteran. Lumayan lah dapet serep seorang calon dokter.

Sebenarnya kalau disuruh memilih antara Casandra dan Jenifer aku juga bingung. Mereka berdua memliki kekurangan dan kelebihan yang bisa aku terima. Mereka berdua juga menerimaku apa adanya. Aku cinta dua duanya, mau tidak ya mereka berdua dimadu ? Yang jelas Casandra tak mau, dia hanya mau dengan kondisi seperti ini jika pacaran. Jenifer juga pasti ngamuk kalau tahu aku ada WIL. Ya lihat nanti saja lah.

“Yuk say.”

Kami berdua berjalan keluar toko itu dan kembali berjalan di lorong mall yang lumayan ramai.

“Papi lagi di Kanada nih sekarang. Disana lagi musim salju.”

“Sampai kapan papa kamu disana ?”

“Minggu depan pulang. Mami lagi di Paris. Berangkat tadi pagi.”

“Ngapain mama kamu ke Paris ?”

“Lagi shopping. Dolce lagi ngeluarin koleksi terbarunya.”

“Kok kamu nggak ikut ?”

“Minggu depan aku nyusul. Jadi mungkin minggu depan kita nggak bisa ketemu deh.”

Okeee, kesempatan bagus. Jadi aku nggak perlu alasan macem-macem untuk bisa beralih ke Casandra.

“Kenapa kamu senyam senyum sendiri ?”

“Nggak kok. Aku senyum karena kamu malam ini lebih cantik dari biasanya.”

“Ah masa sih ?”

“Iya.”

“Kamu ikut aja yuk ke Paris.”

“Eeee. Kayaknya nggak bisa say. Aku lagi ada kerjaan yang nggak bisa aku tinggal.”

“Oh yaudah nggak apa-apa.”

Aku melihat ada kerumuman di kejauhan. Seorang pria menjadi pusat kerumuman itu. Dia mengenakan baju dengan warna yang ngejreng. Wajahnya tak asing lagi. Dia sering muncul di TV, tepatnya di acara reality show. Kameramen menyorot ke arahnya dan juga kesekliling, lengkap dengan mik tenteng.

“Eh itu bukannya si Aya Kuya ya ?” kata Jenifer.

“Iya. Kayaknya dia lagi shooting disini.”

Aya Kuya sepertinya melihat kearah kami berdua. Dia berjalan dengan agak cepat kearah kami  berdua sambil bercuap-cuap ke arah kamera.

“Dia mau kesini ya ?” tanya Jenifer sambil menatap ke arah Aya Kuya.

“Kayaknya iya. Muter yuk.”

“Oke.”

Belum sempat kami berputar, Aya Kuya sudah memanggil kami berdua.

“Tunggu dulu mbak, mas. Boleh minta waktunya sebentar.”

Kami berdua salah tingkah. Bagaimanapun ini pengalaman pertama disorot kamera seperti ini. Ditambah lagi semua mata tertuju kepada kami. Kami berdua hanya diam.

“Dengan Mbak dan Mas siapa ?”

“Eee. Michael.”

“Jenifer.”

Aku dan Jenifer sama-sama gugup.

“Jadi Mbak Jenifer dan Mas Michael sudah tahu siapa saya ?”

Aku mengangguk pelan.

“Mbak Jenifer sama Mas Michael ini apa ? Pacaran ?”

“Iya,” jawab kami berdua secara bersamaan.

“Mbak Jenifer punya uneg-uneg nggak ke Mas Michael ? Begitu juga sebaliknya ?”

Aku dan Jenifer saling lepas pandang tanpa bisa mengucapkan maksud yang ada di hati.

“Diem berarti iya. Mbak Jenifer dan Mas Michael mau nggak ngelepas uneg-uneg itu ?”

Waduh gawat nih. Konsep acara si Aya Kuya ini kan hipnotis dan luberlah itu semua isi hati. Kalau misalnya Jenifer tahu aku selingkuh bagaimana nih. Oke bilang tidak mau.

“Eee, kebetulan saya dan Jenifer sedang terburu-buru.”

“Memang mau kemana ?”

“Eeee,” kami berdua bingung.

“Mau, mau, mau,” penonton yang seharusnya kamu tajir dan berpendidikan ini berubah menjadi orang kamseupay yang menyorak-nyorak seperti di pasar. Aku dan Jenifer terjebak ke situasi yang tidak bisa menolak.

“Oke…,” Aya Kuya menjentikkan jarinya, memberi kode pada kru untuk mempersiapkan logistik.

Aku dan Jenifer hanya diam saling lepas pandang selama 5 menit. Wajah Jenifer jauh lebih tenang dariku. Haduh dag dig dug. Pokoknya jangan cerita aku selingkuh, jangan cerita aku selingkuh, jangan cerita aku selingkuh. Bisa hancur hubunganku dengan Jenifer.

Dalam dua menit, tiga kursi sudah siap, lengkap dengan kerumuman yang mengelilinginya. Aku berusaha tenang. Aya Kuya menggiring kami untuk duduk. Penonton sudah siap untuk mengetahui rahasia kami…. Tidaaak, pokoknya tidak boleh cerita kalau aku selingkuh. Kamera menyorot dan mik menjulur. Si Aya Kuya memberikan intro standar untuk memulai penghipnotisan.

“Jadi siapa duluan ?”

“Eee,” kami berdua hanya bergumam.

“Masnya dulu aja deh.”

Haduh kenapa harus aku duluan ? Aduh bagaimana ini ? Semua mata tertuju padaku. Harus tenang, kalau gugup kan kelihatan sekali kalau aku menyembunyikan sesuatu. Siapa tahu aku berhasil untuk tidak cerita dalam kondisi tidak sadar nanti.

“….Jangan ceritakan apa yang memang tidak ingin diceritakan. Jika melihat api, kamu akan tertidur.”

Uya Kuya mengeluarkan sebuah tisu dan pemantik. Dia membakar tisu itu dengan api dari pemantik. Sekelbat api lumayan besar menyala. Akupun tak sadar.

Beberapa menit kemudian.

Aku membuka mata ketika ada intuisi yang memasuki kalbuku. Aku sedang berada di mall, duduk di sebuah kursi dengan kerumuman yang mengamati. Aku mengucek mata agar pemandanagn sekitar terlihat lebih jelas.

“Woo, wooo, wooo,” kerumuman menyorakiku.

Waduh gawat nih. Aku ngomong apa barusan. Aku melihat ke arah Jenifer. PLAK PLAK. Dia menamparku bolak balik. Kerumuman itu berhanyut. Wajah Jenifer jutek dan kesal. Aduh celaka 12 nih.

“Kamu kenapa nampar ?”

“HABIS….”
“Udah-udah-udah,” Uya Kuya memotong ucapan Jenifer.

“Kan Masnya udah nih. Ntar mas boleh lihat rekamannya. Sekarang giliran mbaknya biar semuanya clear. “

“Tapi kan….”

“Loh ini biar adil mbak. Habis ini mas sama mbak bisa menyelesaikan permasalahannya.”

Haduh…, dari tampangnya yang kayak mau makan orang kayaknya aku ngomong masalah selingkuh nih. Aargh masa sih ?

“….kalau melihat api kamu akan tidur.”

Dalam sekejab api menyala dan Jenifer tertidur. Aku fokus memikirkan alasan untuk mengcounter keselingkuhanku.

“Mbak siapa namanya ?”

“Tukiyem.”

Aku langsung terkaget mendengar ucapan Jenifer.

“Siapa namanya ?” kata Aya Kuya yang sama-sama kaget sepertiku.

“Tukiyem,” kata Jenifer dengan ucapan datar dan mata tertutup.

“Loh bukannya Jenifer ?”

“Nggak lah bang. Nama Aye mah Tukiyem. T-U-K-I-Y-E-M,” dia berkata dengan logat betawi yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

“Terus Jenifer itu siapa ? Coba ceritakan.”

“Jenifer mah Cuma nama boongan aye buat menarik perhatian Mas Michael. Aye kan boong ke mas Michael.”

“Bohong apa ?”

“Bohong kalau Aye itu anak orang kaya. Orang Aye Cuma pembantu di rumah Nyonya.”

“Oh jadi kamu itu Cuma pembantu di rumah itu ?” Refleksku kaget bercampur kesal.

“Bentar-bentar mas.  Biar saya selesaikan,” kata Aya Kuya pelan.

“Biar saya luruskan. Jadi kamu itu bukan anak pemilik rumah tapi Cuma pembantu disana ?”

“Iya. Aduh aye harus ngomong berapa kali si ?”

“Kenapa kamu bohong ?”

“Biar menarik perhatian mas Michael. Masa cowok kayak Mas Michael mau sama pembantu kayak Aye. Ya makanya Aye boong.”

“Bearti pas dulu ketemu sama mas Michael di rumah kamu ? Kan kamu lagi jadi pembantu disitu.”

“Nggak bang. Aye dulu ketemu pertama kali sama Mas Michael di Mall. Ceritanya Aye lagi nemenin Nyonya belanja. Pas Mas Michael nanya, ya Aye bilang aja aye anaknya nyonya. Kayaknya dia suka sama Aye. Untung pas dia nanya itu nyonya lagi nggak denger.”

“Oh jadi begitu. Terus  kamu sebenarnya suka nggak sih sama Mas Michael.”

“Ya aye sih cinta sama Mas Michael. Dia itu ATM berjalan Aye.”

“ATM berjalan gimana ?”

“Ya kapan lagi Aye bisa dapet barang- barang mahal kalau bukan Mas Michael yang beliin. Tas, sepatu, HP, aduh kapan lagi ini bang.”

“Woooo,” kerumuman itu menyoraki.

“Kamu kan udah 2 tahun jadian sama Mas Michael ni. Emang nggak pernah ya kamu terjebak ya kestiuasi dimana  kamu itu harus ngaku kamu pembantu ? Emang Michael nggak pernah ke rumah kamu ?”

“Nggak. Aye selalu bilang aja kalau orang tua ngelarang aye ngebawa cowok ke rumah. Ya kalau mas Michael ke rumah ya bubar lah semuanya mas. Masa aye ngaku anaknya nyonya di depan nyonya sendiri. Bisa dipecat ini aye.”

“Terus kamu keluar rumah bilang apa ke majikan ?”

“Ya bilang aja aye malam mingguan sama si cecep, pembantu sebelah rumah. Gampang lah itu bang. Orang nyonya juga jarang di rumah.”

“Kalau misalnya Mas Michael jatuh miskin, kamu masih mau sama dia ?” Jreng ini pertanyaan simpel yang ngena banget. Aku memasang kupingku.

“Ya gimana ya…., harusnya sih sepaket dong biar cinta aya juga sepaket.”

“Sepaket gimana sih ?”

“Ya mas Michael harus Michael yang kaya nanti cinta aye ke dia juga bakal sepenuhnya.”

“Jadi kalau Michael jadi miskin kamu nggak bakal secinta sekarang ini.”

“Ya iya sih. Udah ah nggak mungkin Mas Michael jadi miskin.”

“Kalau misalnya kebohongan kamu terbongkar terus ada Mas Michael di depan kamu. Kamu mau ngomong apa ?”

“Mas…, maapin Aye ya udah bohong ke Mas Michael soalnya Aye yakin Mas Michael nggak akan tertarik sama Aye kalau Aye bilang aye Cuma pembantu di rumah nyonya. Maapin Aye ya. Yang jelas Aye cinta dan sayang banget sama Mas. Pinginnya sih Aye ngelanjut terus.”

“Loh kamu masih mau lanjut setelah denger apa yang Michael sudah lakukan pas dihipnotis dulu.”

“Mau. Aye terima mas Michael apa adanya. Ya paling tuh cewek habis ini aye labrak sama jambak sampe botak.”

Aya Kuya melirikku dengan pandangan takut.

“Oke sekarang kembali tidur makin dalam. Ketika kamu mendengar tepuk tangan, maka kamu akan bangun dan sadar. 1,2,3 bangun.”

Penonton di sekeliling memberikan tepuk tangan. Jenifer aka Tukiyem membuka mata. Woooo. Sorakan penonton bergema diantara tepuk tangan. Jenifer terlihat bingung dengan wajah yang masih setengah sadar. Aku memandangnya dengan kesal.

“Kenapa kamu mandang aku gitu ?” kata Jenifer dengan ketus.

“Kamu tuh yang kenapa.”

“Sebentar…,” Aya Kuya memotong pembicaraan kami.

“Mbak, namanya siapa mbak ?”

“Jenifer.”

“Yakin ?”

“Iya Jenifer,” dia berkata dengan tegas.

“Kalau Tukiyem siapa mbak ?”

Jenifer terlihat kaget dan memandangku setelah itu selama beberapa detik. Aku  balas dengan pandangan kesal.

“Yaudahlah. Kita putus.”

Setelah mengatakan itu, Jenifer langsung bangkit dari kursi, mengabaikan kondisi bahwa saat ini sedang shooting dan ditonton banyak orang. Ia menerobos kerumunan disertai sorakan wooo dari penonton. Oke jika itu maunya.

“Sebentar….,” Aya Kuya langsung mengejar Jenifer.

Aku melihat dia bergumam cepat kepada Jenifer dari kejauhan. Tak lama kemudian Jenifer kembali.

“Mas sama Mbak belum lihat kan masing-masing ngomong apa pas dihipnotis dulu. Ntar dulu…., lihat dulu.”

Baiklah. Aku juga penasaran apa sih yang aku ucapkan tadi. Kru Aya Kuya mempersiapkan TV Kecil untuk memutar rekaman tadi. Aku menyaksikan diriku yang sedang berbicara sambil tertidur. Oke…, dengan blak-blakan aku mengatakan tentang selingkuh dan segala borokku.

“Kalau ada kalimat yang ingin Mas Michael katakan pada Mbak Jenifer, apa itu mas ?”

“Jen, maafin aku ya aku selingkuh. Itu bukan karena kamu jelek, hanya karena…, aku khilaf. Kamu tahulah aku masih muda. Tapi aku janji kalau misalnya hubungan kita lanjut aku akan putusin selingkuhan aku. Aku juga nggak akan lagi lihat kiri kanan lagi. Aku cinta banget sama kamu Jen.”

“Apa sih yang membuat mas cinta sama Mbak  Jenifer ?”

“Aku juga nggak tahu. Cinta nggak perlu alasan. Aku cinta sama Jenifer apa adanya.”

Setelah itu aku dibangunkan. Jenifer melihat rekaman dirinya. Ekspresinya berubah ketika ia mendengar perkataan alam bawah sadarnya terhadap pertanyaan Kalau misalnya kebohongan kamu terbongkar terus ada Mas Michael di depan kamu. Kamu mau ngomong apa ?.

Aku dan Jenifer saling lepas pandang sambil tersenyum.

“Mbak Jenifer dan Mas Michael, apakah mau rekaman ini diputar di televisi ?”

“Tentu,” kataku dan Jenifer berbarengan.

Pesan moral : Kejujuran itu bisa pahit namun pasti berakhir dengan keindahan. Tak perlu hipnotis untuk mengatakan kejujuran,  yang diperlukan hanya keberanian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s