Disadap

Wuiih nulis cerpen lagi…, well akhir-akhir ini banyak kasus penyadapan petinggi-petinggi negara.  Jadi terinspirasi buat nulis tentang itu. Enjoy….

Di kantor seorang menteri pertahanan….

“Selamat pagi Pak,” sang sekertaris itu menyapa sang menteri yang baru saja datang ke kantornya.

“Selamat Pagi.”

“Apakah ada yang mencariku ?”

“Tidak Pak. Saya mau mengingatkan akan ada rapat dengan Pak Presiden hari ini….”

“Ya tentu aku ingat, mana mungkin aku bisa lupa dengan rapat sepenting itu.”

Sang menteri masuk ke dalam ruangan dan meletakkan tas kerjanya. Dua ajudan yang mengiringinya berada di luar ruangan. Keamanan orang penting sepertinya merupakan satu hal yang harus di prioritaskan walau sebenarnya dia tak suka dibatasi ruang geraknya seperti itu. Belum satu menit dia ada di dalam ruangan, dia sudah mengambil langkah lagi keluar ruangan.

“Anda mau pergi pak ?” kata salah satu ajudan yang bersiaga di luar ruangan.

“Saya hanya mau ke toilet.”

Sang menteri menuju ke toilet. Di dalam toilet ada Ujang, si OB kantor, yang sedang membersihkan toilet. Ujang langsung menunduk, menunjukkan rasa hormatnya.

“Tak perlu seperti itu lah Jang. Saya bukan orang yang gila hormat. Sudah belikan pesanan saya ?”

“Tentu Pak. Ini…,” kata Ujang menyodorkan sebuah persegi panjang tipis berukuran 10 kali 15 centimeter.

“Terimakasih, ini,” kata sang Menteri sambil menyodorkan uang 50ribu. Nominal yang terlalu besar untuk benda itu.

“Kamu boleh ambil kembaliannya.”

“Terimakasih pak.”

Ujang buru-buru keluar toilet sambil membawa perlengkapan bersih-bersihnya. Dia agak bingung, secara sang menteri punya banyaka ajudan yang bisa disuruh untuk membeli barang tersebut. Kenapa harus menyuruh OB seperti dia. Ah masa bodoh, Ujang tak mau ambil pusing.

Setelah buang air, sang menteri kembali ke ruangannya. Dia mengeluarkan benda yang dia titip ke Ujang tadi. Sebuah kartu perdana dengan nomor yang antik. Mana mungkin ada orang yang mengira, seorang menteri akan menggunakan nomor cantik seperti itu. Sang menteri mengeluarkan sebuah ponsel, memasukkan sim card ke ponsel itu dan langsung menelpon.

*

Di kantor yang berjarak ribuan mil dari kantor sang menteri di waktu yang sama….

“Lihat sang menteri pertahanan itu sedang melakukan panggilan,” kata seorang pria sambil melihat layar komputernya. Pria lain langsung mendekati layar computer dan fokus dengan apa yang akan didengarnya.

“Dia pikir dia pintar untuk mengelabuhi kita. Negara kita tak seperti negaranya yang kuno. Kita punya 1000 mata-mata yang membuat kita bisa tahu kalau dia menyuruh OB-nya untuk membelikannya nomor baru dengan tujuan untuk mengelabuhi inteligen kita. Dia pikir kita hanya akan memata-matai Ajudan dan Sekertarisnya apa. Nampaknya dia sadar kalau dia adalah posisi empuk untuk disadap.”

“Ssst. Aku tak bisa mendengar apa yang akan dia rencanakan kalau kamu berisik seperti itu.”

Kedua pria itu fokus dengan pembicaraan sang menteri di ribuan mil jauhnya.

“Halo Pak Guru.” Kata sang menteri.

“Oh kau muridku. Cantik kali nomormu.”

“Catat itu, kata Sandinya adalah Pak Guru dan Murid. Sang menteri itu menjadi muridnya.”

“Baik Pak.”

“Jadi…, pak Guru sudah mendapatkannya ?”

“Ya muridku. Aku sudah mendapatkan apa yang kamu pesan.”

“Sempurna.”

“Hanya saja aku butuh….”

“Ya tentu aku mengerti…, aku akan paketkan ceknya ke Pak Guru siang ini.”

“Aneh. Kenapa harus dipaketkan ? Kenapa tidak transfer saja ? Apa yang dia pesan ke si Pak Guru ini ?”

“Entahlah pak”

“Segera setelah itu, tolong Pak Guru urus semua sesuai rencana.”

“Tentu muridku. Jika waktunya telah tiba…, kita akan kejutkan mereka semua.”

“I’m so excited about this.”

“Oke aku tunggu paketnya.”

Panggilan terputus.

”Apa yang menteri pertahanan itu rencanakan ? Sebuah agresi milterkah ?”

“Aku tak tahu. Yang jelas kita harus tetap pantau ini.”

 *

Dikantor sang menteri

“Sari, tolong ke ruangan saya sebentar,” kata Sang menteri melalui teleponnya.

“Baik Pak.”

Tak lama kemudian Sari, sang sekertaris, masuk ke dalam ruang sang Menteri.

“Tolong ketika kamu pulang, kamu poskan ini…,” kata Sang menteri sambil menyodorkan sebuah amplop.

Sari mengambil amplop itu dan membaca nama dan alamat tujuannya. Di sebuah kota yang jauh dari sini, hanya sebuah kota kecil yang jauh dari kata metropolitan.

“Tak perlu bingung. Hanya surat untuk sahabat lamaku di kampung. Disana tak ada jaringan internet.”

“Baik akan saya kirimkan nanti sore Pak.”

“Kamu pulang saja jam 2,  bukankah kantor pos tutup kalau sore-sore. Tolong ini dikirim kilat.”

“Baiklah Pak.”

Sebenarnya Sari masih bingung dengan perintah ini. Sepenting itukah surat ini sampai-sampai dia disuruh pulang sebelum jam kerja.Surat ini di lem rapat, tak bisa mengintip apa isinya. Tapi ah masa bodohlah. Cuma mengepos surat ke tukang pos saja tak perlu diambil pusing.

Jam tiga sore Sari telah berada di daerah dekat rumahnya. Sebelum pulang ke rumah, Sari harus ke kantor pos dulu yang terletak beberapa ratus meter dari kediamannya. Ini dia… Sari melangkah masuk ke dalam kantor pos yang sedang sepi, hanya ada dua orang yang sedang berkepentingan disini.

Sari mengeluarkan amplop dari dalam tasnya. Bruk. Tiba-tiba dia di tabrak oleh seorang pria. Surat itu jatuh dari genggamannya. Untung Sari bisa mempertahankan keseimbangannya.

“Ini…,” pria yang menabrak itu mengambil amplop Sari yang jatuh dan menyodorkan ke Sari.

“Terima kasih.”

Sari langsung mengeposkan surat itu dan pulang ke rumah.

*

Dikantor penyadapan berribu mil jauhnya.

“Pak, kata mata-mata kita, cek itu ditujukan ke desa ABC atas nama Agus.”

Mereka mencari di internet tentang daerah yang dimaksud.

“Itu adalah daerah pedesaan yang tidak ada apa-apanya. Apa yang mereka rencanakaan disana ?”

“Apapaun itu, sang menteri tak ingin ada yang tahu jadinya dia merencanakan di tempat yang jauh dari kota.”

“Oke, tugaskan mata-mata kita untuk menyelidiki siapa itu Agus.”

“Baik Pak. Eh lihat, sang menteri menerima panggilan….”

“Halo Muridku….”

“Ya Pak Guru. Sudahkan kamu menerima cekku ?”

“Baru saja aku terima. Jumlahnya banyak sekali.

“Kau seperti tak tahu siapa aku saja.”

 “Haha…., setelah ini akan langsung aku eksekusi.”

“Kau tak lupa dengan senjata pamungkasnya bukan ?”

“Tentu. Aku yakin senjata pamungkas itu akan memakan korban jiwa. Hahaha.”

Bagus-bagus. Kamu tak lupa tanggalnya bukan ?”

“Tentu. Tepat tiga hari lagi.”

“Keburu kan ?”

“Tentu. Serahkan saja kepada Gurumu ini Muridkuu.”

“Baiklah.”

Panggilan terputus. Mereka berpikir sejenak.

“Sir, bukankah tiga hari lagi ada kunjungan dari perdana menteri kita ke Negara itu.”

“Ya. Kau benar, dia berkunjung ke kota XYZ.”

Kedua pria itu fokus ke layar computer, melihat peta Negara sang menteri pertahanan.

“Jadi kota XYZ  hanya berjarak 1,5 jam perjalanan ke desa ABC tempat menteri pertahanan itu mengeksekusi rencananya. Masalahnya apa rencana itu ?”

“Entahlah. Apapun rencana itu, perdana menteri kita bisa saja berada dalam bahaya besar.”

“Jadi rencana yang menteri pertahanan kita rencanakan itu berhubungan dengan kunjungan perdana menteri kita ?”

“Mungkin saja, hanya berjarak 1,5 jam perjalanan loh. Jadi bagaimana pak ?”

“Kita tunggu sampai hari H. Kuharap inteligen kita bisa menemukan sesuatu tentang siapa itu Agus dan apa senjata pamungkas yang dia buat.”

 *

 Dikantor Menteri Pertahanan 3 hari kemudian

“Sari, tolong batalkan semua jadwalku untuk hari ini dan besok.”

“Emmm…,” Sari terlihat bingung dengan perintah sang menteri.

“Rencana mendadak. Aku harus menemani presiden untuk kunjungan perdana menteri. Presiden memintaku kemarin.”

“Ba…, baiklah Pak.”

 *

 Dikantor penyadapan berribu mil jauhnya, dihari yang sama.

“Sir, inteligen kita gagal mencari tahu siapa itu Agus dan apa yang dia rencanakan.”

“Apa ??? Siang ini adalah kunjungan Perdana Menteri kita ke Negara itu. Bagaimana mungkin inteligen kita gagal ?”

“Pria yang bernama Agus itu tak berada di desa selama 3 hari belakangan ini. Penduduk desa bilang dia pergi ke kota XYZ.”

“Lalu siapa itu Agus  ?”

“Penduduk bilang dia hanya petani biasa.”

Sebuah bunyi telepon mengusik mereka. Salah seorang pria menekan tombol di depan speaker. Terdengar suara pria lain dari balik speaker.

“Pak, kita baru dapat infromasi kalau sang menteri pertahanan sedang melakukan perjalanan ke kota XYZ.”

“Oke terimakasih infonya,” panggilan singkat itu terputus.

“Jadi apa yang harus kita lakukan Pak ? Perdana Menteri kita bisa saja berada dalam bahaya besar ???”

“Tetap fokuskan pencarian ke pria yang bernama Agus di kota XYZ. Aku ingin kita mengerahkan semua inteligen terdekat kita untuk misi ini. Pokoknya sebelum Perdana Menteri kita sampai ke kota XYZ, kita sudah harus tahu apa yang mereka rencanakan.”

Fokus kedua pria itu terarah ke computer. Ada nofifikasi kalau sang menteri pertahanan sedang melakukan panggilan telepon.

“Guru.”

“Ya muridku. Kamu dimana ?”

“Aku sudah di bandara. Semua sudah oke ?”

“Oke, nanti malam kita akan berpesta. Hahaha.”

“Kita akan buat dia menyesal karena telah dilahirkan.”

“Baiklah. Perlukah aku menjemputmu dibandara ?”

“Tak perlu. Aku baru bisa bergabung denganmu sore hari setelah kunjungan kenegaraan. Setelah itu aku akan bergabung denganmu untuk menjalankan misi pembunuhan ini. Dia akan mati berdiri nanti. Tunggu aku ditempat biasa kita kumpul kalau di kota XYZ jam 6.”

Baiklah.”

Panggilan terputus

“Dia mau membunuh Perdana Menteri kita ???”

“Bisa jadi bisa jadi. Berapa lama lagi kira-kira Perdana Menteri kita sampai ke kota XYZ ?

“Sekitar tiga jam lagi Pak.”

“Apa rencana Perdana Menteri kita malam ini di kota XYZ ?”

“Makan malam bersama Presiden.”

“Oke, Jalankan rencana C jika rencana B gagal.”

“Baik Pak.”

 *

 Siang hari berlalu. Perdana Menteri aman-aman saja berada di kota XYZ. Tak ada insiden apa-apa selama kunjungan kenegaraan dari Perdana Menteri. Memang fokus pertahanan terhadap perdana menteri akan dilakukan pada malam hari.

“Sir aku sedang membuntuti sang menteri.” Seorang pria memandang mobil yang melaju di depannya. Dia adalah inteligen dari perdana menteri. Mobil yang dia buntuti berisi Agus dan menteri pertahanan.

“Dia menuju kemana ?”

“Nampaknya ke desa ABC.”

“Terus buntuti…, mereka punya senjata pelebur nyawa.”

“Apa itu sir ? Roket kendali jarak jauh ?”

“Bukan. Senjata ini tidak berbentuk kasat mata, ini secanggih HAARP milik kita. Mereka menyebutnya santet. Dari pembicaraan mereka, pasti mereka akan melancarkan santet terkuat yang Negara itu miliki. Santet tak meninggalkan bekas, jejak, atau bukti. Kamu harus cegah mereka.”

Sang menteri dengan Agus akhirnya sampai di bibir desa. Mereka memarkirkan mobilnya di lapangan dan berjalan kearah desa yang terletak beberapa ratus meter dari tempat parkir. Jalanan sudah cukup gelap.

“Kenapa kita lewat jalan ini sih Pak Menteri bukannya lebih aman lewat jalan biasa. Kan ada jurang maut disana ?”

“Udah kamu ikutin aja apa kataku.”

Inteligen Negara penyadap itu tetap membuntuti sang menteri dengan hati-hati. Dia mengendap-endap dibalik bebatuan dan gundukan. Di sebuah belokan tiba-tiba sang menteri dan Agus berlari. Sang inteligen kaget dengan apa yang dilakukan sang menteri. Dia ikut berlari mengejar sang menteri dengan temannya yang telah menghilang dibalik tanah yang lebih tinggi pada belokan itu.

Sang inteligen kaget dengan apa yang dihadapi setelah belokan itu. Ada jurang. Seharusnya langsung belok lagi ke jalan kecil agar tidak masuk jurang. Wuiiing. Inteligen itu terjun ke jurang. Sudah pasti dia akan mati atau paling tidak pingsan sampai besok.

“Kenapa kita lari sih ? Kan bahaya.”

“Udah, kamu ikutin aja apa kataku.”

“Oke deh. Eh kenapa sih pake guru murid segala pas teleponan kemarin ? Jelas-jelas kamu menteri dan aku petani bukan murid dan guru”

“Sengaja biar mengecoh.”

“Mengecoh siapa ?”

“Yang menyadap aku. Hahaha.”

“Sadap apa sih ? Aku ga ngerti ?”

“Udah kamu nggak perlu tahu.”

“Kenapa pake bilang kalau acara dangdutan di kawinannya sohib kita pake misi pembunuhan segala ? Kan serem jadinya.  Kan selama ini yang kita rencanakan itu acara dangdutan buat sohib kita yang nikahan. Kamu sponsor utama dangdutannya.”

“Ya kamu tahu sendiri lah. Kita bertiga udah sohiban lama banget. Aku tahu banget kalau si Jojon suka dangdut apalagi kalau penyanyinya bohai dan cantik. Bisa-bisa dia mati berdiri. Nah makanya aku bilang kalau ini misi pembunuhan.

“Oh begitu.”

Sebenarnya sang menteri sudah tahu kalau pasti dia akan disadap karena mau ada kunjungan perdana menteri itu. Kebetulan tanggal kunjungan sama dengan tanggal nikahan sohibnya ketika dia masih tinggal di kampung ketika kecil. Dia sengaja membuat seakan-akan dia akan melakukan sesuatu ke perdana menteri dengan tujuan agar mereka melaksanakan rencana C

*

Dikantor penyadapan beribu mil-mil jauhnya

“Sir, inteligen kita gagal. Terpantau dari satelit kita kalau kondisi desa ABC ramai. Ada panggung besar dan kerumunan orang disana.”

“Pasti itu bagian dari ritual santet yang mereka lakukan untuk membunuh Perdana Menteri kita.”

“Jadi sekarang kita harus bagaimana tuan ?”

“Laksanakan rencana C.”

*

Sementara itu di kamar hotel perdana menteri….

“Aku ini perdana menteri kenapa harus pakai kalung bawang putih, makan bawang putih, mandi kembang tujuh rupa, dan dikepret daun kelor semaleman begini sih ?”

“Ini sudah menjadi prosedur keselamatan tuan.”

“Tapi dari bahaya apa ? Aku bisa menggunakan rompi anti peluru atau apapun teknologi pelindung marabahaya”

“Kami tak bisa bilang tuan.”

 *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s