Balada Pacaran

Kemarin  nulis balada rumah tangga, sekarang nulis balada yang masih pacarannya. Hehe. Anyway bisa nulis lagi. Sibuknya akhir-akhir ini. Masalah datang silih berganti seperti air yang mengalir. Alhamdulillah lah daripada datang tapi tidak mengalir. Enjoyy

 *

Tatkala ada sepasang kekasih yang sedang berkuliah di satu kota. Mereka satu kampus namun berbeda jurusan.

Dari sudut pandang cewek. Di kos-kosan cewek.

Sabtu pagi ini seperti biasa Vivi menelpon Didi, pacarnya.  Untuk apa ? Biasalah orang yang sedang kasmaran, hanya untuk berhaha hihi melepas kangen. Tidak bertemu semalaman saja rasanya dunia sudah mau runtuh. Tuuut tuut. Panggilan masuk ke ponsel namun tidak ada yang mengangkat.

“Biasanya si Didi jam segini udah bangun. Dia biasanya jam segini lagi baca Koran sehabis lari pagi,” gumam Vivi dalam hati.

Vivi mencoba satu kali lagi. Kali ini telepon diangkat namun bukan suara Didi yang ada di balik speaker, melainkan suara perempuan.

“Halo Didi.”

“Halo.”

“Loh siapa kamu ?”

“Halo, suaranya pu…us…tus”

“Halo, kok kamu bisa ada di kamarnya Didi ?”

“Hah, aku mah udah sering ada di kamarnya Mas Didi.”

“APA ??? Siapa kamu ? Ada hubungan apa kamu dengan Didi ?”

“Apa ? Tidak je—as”

Nampaknya sinyal sedang tidak bagus disana.

“Mana Didi ?”

“Mandi.”

“Hah mandi ? Emang kalian habis ngapain ?”

“….”

“Hei jawab pertanyaanku wanita.”

“Handuk…, lepas…., jatuh….”

“Apa ??? Handuknya siapa yang lepas ? Halo…, halo….”

“Aaaa,” terdengar teriakan wanita.

Vivi langsung geram.

*

Dari sudut pandang cowok. Di kos-kosan cowok.

Terdengar suara dering ponsel diatas meja makan. Nama Vivi terlihat jelas di layar ponsel. Seorang wanita yang sedang membawa sapu melihat hal itu. Dia adalah Bi Sari, pembantu di kos-kosan itu. Dia tahu ini ponsel Didi, salah satu penghuni kos disini. Sepertinya ponsel ini tertinggal karena Didi sedang membeli sarapan di warung sebelah.

Bi Sari yang terkenal gaptek bermaksud mengangkat ponsel itu dan mengatakan kepada yang menelpon Didi kalau Didi sedang keluar dan ponselnya tertinggal. Answer. Bi Sari menekan layar itu, walau dengan sedikit gambling karena tidak tahu apakah ini tombol yang benar. Sepertinya sinyal disini sedang tidak bagus karena suara yang terdengar putus-putus.

“Mana Didi ?”

“Mandi ?” Suara yang diucapkan adalah Mana Didi malah jadi terdengar Mandi.

“Hah mandi ? Emang kalian habis ngapain ? Hei jawab pertanyaanku wanita.”

Saat itu ada angina kencang berhembus dan membuat gantungan handuk di lantai dua terjatuh.

“Handuk…, lepas…., jatuh…,” kata Bi Sari sambil mengamati hal itu. Dia langsung menaruh ponsel itu dimeja dan berlari ke TKP di lantai dua.

Tak lama kemudian Didi datang dengan Eko, salah satu teman kosanya sambil membawa plastic berisi nasi uduk untuk sarapa.

“Ini dia ponsel gw.” Kata Didi ke Eko. Dia kelupaan untuk membawanya setelah tadi baca Koran di meja makan. Didi menyantap sarapan ditemani dengan Eko. Setelah sarapan dan sedikit ngorbol santai mereka sampai ke topik tentang rencana malam ini.

“Ntar jalan lo sama si Vivi ?”

“Au deh. Apa gw ajakin aja ya. Tapi gw lagi bokek nih.”

“Baru tanggal segini masa uang bulanan udah mau abis sih ?”

“Habis gw kebanyakan jalan ama dia kemarin-kemarin. Setiap jalan gw yang bayarin.”

“Sekali-kali dia dong yang bayarin. Masa lo mau dijadiin ATM berjalan kayak gitu.”

“Emmm…..”

“Apa ? Mau pinjem duit gw. Nih,” kata Eko menyodorkan kepalan tangan kepada Didi.

Ah kangen, rindu, cinta, semua bergejolak. Masa bodoh lah, yang penting jalan aja deh entah walau Cuma makan di pinggiran yang murah. Didi mengambil ponselnya dan menelpon Vivi.

“Halo Vi.”

“Halo…,” terdengar suara cowok dari balik speaker. Suara pria dewasa. Loh Vivi kan tak punya kakak cowok. Apa ini bapaknya ?

“Siapa ini ?”

“Kamu yang siapa ?”

“Aku ini pacarnya Vivi. Ini siapa ya ?”

“Vivi sekarang berada di tangan saya. Siapkan uang 10 juta maka dia akan saya kembalikan dengan selamat. Temui saya satu jam lagi di tanah merah. Ingat datanglah sendiri kalau kamu bawa polisi maka yang akan kamu dapatkan adalah Vivi yang sudah tak bernyawa. Tuuut panggilan terputus.

Didi kebingungan dengan panggilan itu. Apakah benar demikian ? Ataukah itu hanya telepon iseng ? Jantung Didi berdebar kencang.

“Kenapa lo kayak habis ngeligat setan aja ?” Tanya Eko.

“Vivi dalam bahaya.”

“Hah maksud lo ?”

*

Dari sudut pandang cewek. Di kos-kosannya.

 

“Aaaaaaaa,” Vivi teriak setelah panggilannya ke Didi yang membuatnya geram tadi. Seorang wanita masuk ke kamar Vivi tanpa mengetuk pintu dulu. Dia adalah Nia, sebelah kamar Vivi.

“Kenapa lo ?”

“Didi, Didi….”

“Iya kenapa Didi ?”

“Dia…, selingkuh.”

“Hadeeh gw kira lo melahirkan atau kesurupan, nggak tahunya pagi-pagi udah kena sengatan cinta aja.”

“Dunia gw serasa mau runtuh,” Vivi menangis.

“Ah lebay loh. Yakin dia selingkuh ? Tahu dari mana ? Dia ngaku sendiri ?”

“Tadi gw telepon terus yang ngangkat cewek. Dia lagi di kamar Didi dan….”

“Dan ?”

“Gw nggak bisa bilang. Terlalu menyakitkan.”

“Udah deh daripada lo gitu mending lo pergok aja di kosannya sekarang. Kalau benerkan bakal lebih yahud tuh adegan yang lo lihat nanti.”

“Kok lo gitu sih ??? Tapi emang bener sih. Temenin gw dong Ni.”

“Iya-iya, bentar gw ganti baju dulu. Dasar lo ya pagi-pagi udah biking gw susah aja.”

Setelah 10 menit ganti baju dan dandan seperlunya mereka berangkat. Dari kos Vivi ke kos Didi dicapai dengan naik angkot 2 kali. Angkot yang dinaiki Vivid an Nia cukup ramai. Untung jalanan tidak macet. Formasi 4-6-2-2 sudah tercapai. Setelah 15 menit perjalanan, Vivi dan Nia turun untuk naik ganti angkot.

“Loh Ni…,” kata Vivi merogoh-rogoh kantungnya.

“Kenapa ?”

“HP gw ga ada. HP gw ilang.”

“Ah yang bener. Coba di cek dulu.”

Vivi menggerebek semua isi tasnya. Namun nihil ponselnya taka da, namun untunngnya dompet masih ada. Vivi mengingat kejadian di angkutan umum tadi. Memang pria-pria yang duduk di sebelahnya naik bersamaan. Dua orang pria memang ngobrol seru, pasti untuk mengalihkan perhatian.

“Aaah HP gw ilang. PAsti bapak-bapak yang duduk di sebelah gw tadi.”

“Haduuuh, lo ada-ada aja sih.”

“Terus sekarang gimana ?”

“Tuuuh,” tunjuk Nia ke sebuah pos polisi.

*

Dari sudut pandang cowok. Di kos-kosannya.

“Apa ??? 10 juta ??? Lo pikir gw pohon duit. Cek dulu, siapa tahu itu Cuma main-main doing. Coba lo telepon siapa gitu yang sekos ama Vivi buat ngecek bener atau nggak.”

“Oh ya bener juga.”

Didi langsung menelpon Nia, teman sekos Vivi. Tak diangkat.

“Nggak diangkat, gimana dong.”

“Ya mana gw tahu. Coba lo samperin aja di kosannya.”

“APA ???” Didi kaget saat melihat layar ponselnya.

“Kenapa lagi ?”

“Ini di Path si Nia baru check in di kantor polisi 10 menit lalu. Dia pasti dah lapor polisi. Aduh gawat pokoknya jangan sampai si Vivi kenapa-kanap. Kok si Nia gegabah banget sih.”

“Udah samperin aja ke kosannya. Susah amat sih.”

“Nggak. Gw yakin dia diculik. Gw mau ke tanah merah.”

“Lah 10 jutanya ?”

“Udah kalau gam au bantuin nambah ga usah nanya-nanya deh.”

*

Dari sudut pandang cewek. Di kantor polisi.

“Klaim Mbak akan kami proses. Bila ada perkembangan akan kami kabarkan. Lain kali Mbak harus hati-hati.”

Mereka keluar kantor polisi dengan perasaan sedih.

“Turut berduka deh atas hilangnya ponsel lo. Eh nih si Didi telepon gw beberapa menit lalu.”

“Jangan telepon balik. Dia pasti Cuma mau bilang…, aku bisa jelaskan semuanya.”

“Terus sekarang gimana ? Lanjut ke kosnyakah ?”

“Nggak ah. Gw BT.”

“Eh ni dia telepon lagi.”

Nama Didi terpampang jelas di ponsel Nia.

“Jangan diangkat. Dia Cuma mau ngegombal.”

“Terus kita kemana nih sekarang ?”

“Ke elektronik city aja yuk. Gw mau cari HP jelekan. Yang penting gw pingin bisa di hubungin dulu. Ntar kalau bonyok gw mau telepon gimana.”

“Emang udah buka jam segini ?”

“Udah lah. Dia kan buka dari jam 8. Yuk ah.”

*

Dari sudut pandang cowok. Di elektronik city

“Masa Cuma laku segini sih mas. Ni laptop masih baru. Naik dikit lah.”

“Wah nggak bisa mas 5 juta kontan saya mau kalau nggak ya udah.”

“Yaudah deh mas. Deal.”

Cring-cring. Laptop tercinta sudah berubah menjadi lembaran uang. Dia harus cepat tinggal 15 menit lagi menuju ke jam janjian. Namun uang yang ada baru setengah. Sebuah panggilan. Dari nomor Vivi.

“Halo,” suara pria yang tadi.

“Halo, Vivi masih baik-baik saja ?”

“Ya dan tak akan baik-baik saja bila kamu tak datang 15 menit lagi di tanah merah dengan membawa uang 10 juta.”

Panggilan terputus. Bagaimana ini ? Bagaimana mendapat 5 juta dalam waktu 15 menit ? Ponselnya. Ini ponsel mahal, bisalah kira-kira laku 5 jutaan. Didi segera menuju ke lantai yang menjual ponsel. Ah ini dia counter-counter ponsel. Didi menuju ke counter ponsel yang kata orang sih paling oke disini.

Karena saking cepat-cepatnya, Didi tersandung dan menabrak seorang wanita. Seorang wanita muda, cantik, dan bahenol. Mereka berdua terjatuh dengan posisi Didi berada diatas wanita itu. Dunia serasa berhenti sejenak saat wajah mereka sangat dekat ketika terjatuh.

*

Dari sudut pandang cewek. Di elektronik city

 “Yang itu aja deh mas. 300 ribu aja kan ?”

“Iya apa sih yang nggak buat mbak yang cantik ini.”

“Oke deal. Makasih mas yang ganteng.”

Transaksi selesai dan mereka bergegas pulang.

“Eh-eh, bukannya itu si Didi,” kata Nia menunjuk ke seorang pria yang sedang…, menindih wanita dengan wajah yang sangat dekat.

“Apa ??? Iya benar. Ya ampun ini kan tempat umum masa sih mereka berani begitu. Aku aja ditempat umum Cuma di….”

“Diapain ?”

“Udah ah ga penting. DIDI…..”

*

Dari sudut pandang cewek dan cowok. Di elektronik city.

Vivi berlari kearah Didi yang sudah berdiri dari insiden itu sambil meneriakkan nama Pacarnya. Didi kaget melihat Vivi yang sedang berlari kearahnya. Dia selamat, dia selamat, pasti Vivi hendak memeluknya dengan erat. Didi membuka tanganya, siap merangkul Vivi.

“PAR,” Gamparan keras kearah Didi. Skor 1-0. “BUG” Tendangan kea rah Didi tak lupa dilancarkan Vivi. Skor 2-0.

“Jadi cewek ini ya ? Kamu rela pergi dariku demi cewek ini,” kata Vivi menunjuk wanita itu.

“Dasar kamu cewek murahan.”

“HEH MBAK. Kalau ngomong jangan pake pantat ya, ucapan mbak tuh bau tahu,” wanita yang ditabrak Didi marah.

“Jelas-jelas tadi dia yang nabrak saya.”

“Udah deh nggak usah ngeles.”

Yak pertarungan kedua antara wanita yang ditabrak vs Vivi. Didi mencoba melerai namun tak bisa. Pengunjung lain menikmati pertandingan.

“BUG.” Bogem mentah kearah pipi Vivi dari sang wanita membuat skor menjadi 3-2 dan Vivi K.O. Dia pingsan.

*

Dari sudut pandang cewek. Di kos-kosan cowok.

“Iya mbak tadi pagi saya yang ngangkat telepon dari Mbak Vivi. Saya mau bilang kalau HPnya mas Didi ketinggalan. Tapi sinyalnya putus,” kata Bi Sari ke Vivi. Vivi sudah siuman dan mereka sedang konfrensi di kos-kosan Didi.

“Trus handuk gimana ? Mbak ngelihat Didi yang habis mandi handuknya lepas ?”

“Ih nggak mbak. Tadi ada angin terus gantungan handuknya copot.”

“Lo sih Vi, khawatiran banget,” kata Nia.

“Yah kan gw sayang sama cowok gw,” kata Vivi polos.

“Lo juga tuh Di. Khawatiran banget. Nenek gondrong juga tahu telepon gitu mah main-main doang. Pake acara gadein laptop segala. Senin tugas laboratorium harus kumpul loh.”

“Yah kan gw khawatir sesuatu yang buruk terjadi sama Vivi. Gw kan sayang sama dia.”

Hening selama 30 detik.

“Yaudah yuk kita tebus laptop kamu,” kata Vivi.

“Habis itu kita jalan-jalan ya,” kata Didi

“Mau jalan kemana. Lo kan bokek,” kata Eko. Didi hanya memandangi Eko dengan melotot.

“Kali ini biar aku yang traktir. Yuk.”

Pesan moral : Ada banyak cara menunjukkan untuk mengekspresikan cinta, kekhawatiran yang berlebihan hanyalah salah satu representasi dari ekspresi cinta yang mengarah ke hal negative. Fight that dengan kepercayaan.

Advertisements

5 comments on “Balada Pacaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s