Koper Trouble

Well, another short story. Hope you like it.

“Ayo cepet bro. Jadwal kita ketat nih.”

“Tuh tas kita yuk ambil terus chao.”

Well, I’m in holiday. Capek nggak sih lo senin sampe jumat berangkat jam 5 pagi terus berkutat dengan kemacetan Jakarta. Belum lagi urusan di kantor yang bikin puyeng. Malam-malamnya juga harus berkutat lagi dengan kemacetan dan baru sampe rumah jam 9 malam. Haduuh, itulah realita kehidupan di Jakarta, kota yang kejam.

Penat ? Sudah pasti. Salah satu cara untuk menghilangkan penat ya dengan mengambil cuti seminggu terus liburan. Amerika. Sebuah negara amat jauh dari Jekardah…, negara yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya atau bahkan terpikir untuk mengunjunginya.

Adalah Tommy, temanku yang mengatur semua Jadwal, tiket, dan hotel disini. Ya dia EO dalam liburan ini dengan imbalan kamar hotel dia patungannya paling kecil. Selain aku dan Tommy, juga ada Didith, dia yang paling berduit. Pokoknya kalau jalan-jalan harus sama dia, pasti nanti kecipratan deh. Tadi aja taksi ke bandara Soeta dia yang bayarin. Hehehe.

Kami bertiga mengambil koper kami dari belt baggage dan berjalan menuju keluar bandara. Hiruk pikuk bandara tidak terlalu ramai, mungkin memang karena bukan sedang musim liburan. Bule-bule dimana-mana, banyak yang bening-bening sih, lumayan lah buat cuci mata. Maklum kami bertiga ini masih 25 tahun. Pacar sih udah punya, tapi kan belum ada ikatan via cincin, jadi bolehlah lirik kanan kiri dulu.

“Siang ini kita kemana Tom ?”

“Habis ini kita cek in dulu di hotel terus langsung naik bis pariwisata ke Liberty.”

“Woke.”

Perjalanan dengan taksi tak memakan waktu lama. Wuih nggak macet. Yaiyalah lo pikir Jakarta. Welcome to New York. Waah gedung pencakar langit dimana-mana, mengingatkanku dengan Jakarta namun versi yang lebih wow. Toko-toko berjejer di sepanjang jalan. Saat ini sedang musim semi, jadi udara tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin.

Hotel yang kami pesan bukanlah hotel yang mewah. Yang penting ada tempat buat tidurlah. Toh liburan ini bukan pindah tidur. Jadwal yang disusun Tommy sudah ketat, hotel Cuma buat tidur doang. Kami booking satu kamar dengan satu single bed ukuran king size. Kalau pesan tiga kamar bisa-bisa overbugetlah. Kamarnya lumayan bagus bila dibandingkan dengan harganya. Bruk. Aku langsung ambruk di kasur yang empuk.

“Setengah jam lagi kita berangkat ya, jadi jangan pake tidur dulu.”

“Iya, iya Tom.”

Ngantuk sih tidak terlalu, secara di pesawat kerjaannya tidur mulu. Aku bangun dan membuka koperku. Loooh kok ???

“Kenapa lo Jo ?”

“Kok isinya begini sih ?”

Aku tercengang saat mendapati isi koperku berbeda dari yang aku masukkan. Aku mengecek koper itu. Haaah ini sih bukan koperku. Harusnya ada nametag namaku. Bentuk dan warnanya memang 100 % mirip. Isinya aneh…, hanya ada botol-botol oval setinggi mungkin 8 cm, seperti yang biasa digunakan untuk membungkus cairan pembersih wajah atau semacamnya.

“Lo bawa apaan tuh ?” Tanya Didith

“Ini bukan koper gw.”

“Hah seriusan lo ?”

“Iya. Lo sih tadi ngeburu-buruin jadi g ga ngecek lagi tuh ni koper gw apa bukan.”

“Loh kok gw yang disalahin sih ?” Elak Eko

“Apaan sih ini ?” Didith mengangkat salah satu botol dan memandanginya.

Botol berwarna putih susu itu taka ada label apaun. Polos, los, los. Berarti ini bukan produk komerisal dong ? Agak mencurigakan sih. Didith membuk tutup botolnya. Berisi cairan lembek berwarna putih susu. Apa sih ini ? Cream pembersih muka ?

“Apaan sih tu ?”

“Au,” kata Didith yang kemudian mencium cairan putih itu.

“Coba pinjem,” aku langsung mengambil botol itu dan menciumnya. Tak berbau. Aku hendak memegang cairan itu.

“Bentar Jo.”

Tommy langsung merebut botol itu, menciumnya dan mencoleknya.

“Ini…., kokain bukan sih ?”

“Apa ???” aku dan Didith berkata bersamaan.

“Kok lo tahu ? Lo pengguna ya ?”

“Enak aja lo. Bukan…, coba lo pikir deh. Botol mencurigakan berisi cairan putih. Tanpa label atau apapun. Diselundupin dari Asia ke Amerika untuk diperjualbelikan. Apalagi kalau bukan kokain.”

“Lah nggak mungkin dong benda kayak gini bisa masuk bandara Amerika yang ketatnya kayak skinny jeansnya alai,” tanyaku.

“Udah di kongkalikong sama petugas bandaranya. Apa sih yang ngga bisa dilakuin tanpa duit ?”

Aku dan Didith berpikir sejenak.

“Udah gini aja. Kita bawa ini ke kantor polisi terus kita jalan-jalan,” kata Tommy.

“Setuju,” aku dan Didith kompak.

Kami langsung menutup koper itu dan langsung keluar kamar. Deg-degan. Kalau misalnya ini kokain yang diselundupkan…., berarti ini kepimilikan sindikat mafia atau geng semacamnya. Mereka akan melakukan apapun yang untuk mendapatkan apa yang mereka selundupkan, nyawa seorang dua orang bocah tak masalahlah buat mereka.

“Kok gw ngerasa perasaan gw nggak enak ya?” kata Didith.

“Nggak enak gimana ?” tanyaku.

“I feel like we are in danger. We’re dealing with something unusual, something that maybe criminal would die for it.”

Nampaknya Didith berpikir hal yang sama denganku. Kami baru saja sampai lobi hotel saat seseorang memanggil kami bertiga.

“Hey you three. Wait….”

Kami menengok kebelakang. Dua orang pria bule bertubuh besar, mengenakan kaus, jaket hitam, jeans dan topi. Salah seorang pria menunjuk kami bertiga. Refleks pertamakucadalah….

“Lari…,” kataku.

Didith dan Tommy mengikuti refleksku. Kami langsung berlari keluar hotel. Doorman hotel membukakan pintu dengan cepat. Pengunjung hotel melihat dengan bingung.

“Kok lari sih ?” Tanya Tommy.

“Itu pasti yang punya kokain ini.”

“Dia ngejar tuh.”

Dua pria tadi mengejar kami yang sedang berlari di trotoar. Kecepatan lariku tak secepat Didith dan Tommy karena aku lari sambil menggeret koper. Berengsek gw ditinggal, dasar teman sejati. Kedua pria itu makin mendekat. Masa bodoh deh dengan kopernya, yang penting kabur dolo. Aku melepas koper itu dari peganganku dan berlari secepat kilat.

Kami menyebrangi lampu merah yang untungnya sedang hijau untuk pedestrian, kemudian berbelok di sebuah gedung tinggi. Dua pria itu sudah tidak mengejar lagi. Nafas cukup terengah-engah.

“Wuih selamat deh kita.”

“Kopernya mana ?” Tanya Didith.

“Berat anjir, lo pada kagak mau bantu ya gw lepas. Mereka jadi nggak ngejar lagi kan.” kataku

“Kok mereka tahu kita nginep disitu ?” lanjutku.

“Ya mereka pasti ada mata-mata dimana-mana. Mungkin mereka dah buntutin kita semenjak tadi.”

“Emang pasti mereka itu yang punya kopernya ?” Tanya Tommy.

“Pastilah. Mereka pasti criminal,” Didith berkata dengan yakin.

“Terus sekarang gimana ?”

“Udahlah anggep aja nggak terjadi apa-apa. Yuk liburan.”

“Lath terus koper gw gimana ? Semua baju-baju gw ada disana. Untung passport gw taro di tas lain.”

“Gini aja. Kita lapor ke kantor penerbangan dulu, habis itu liburan gimana ? Lo pinjem baju-baju kita dulu aja,” kata Tommy.

“Termasuk kolor juga ?”

“Udah ah ribet banget sih lo kayak cewek sosialitas yang hobinya nyasak. Mau jalan nggak ?”

“Yaudah yuk,” kataku.

Kami kembali ke schedule walau agak sulit untuk melupakan apa yang terjadi barusan. Tujuan pertama adalah maskapai berinisial G yang kami gunakan dari Indonesia. Karena belum tahu dimana itu berada ya kami naik taksi dan Didith bersedia jadi donaturnya. Haha teman yang loyal, maklum anak tajir 7 turunan.

“Koper yang kalian ambil ada dimana ya ?” Pertanyaan itu cukup membuat kami bingung juga. Masa sih aku bilang aku tinggal di tengah jalan. Customer servicenya sih orang Indonesia juga, kalau diceritakan ke dia apa-apa nggak ya ?

“Ada di hotel kami,” kata Didith cepat.

“Baiklah laporan kami terima. Kami akan cek. Bila sudah ditemukan akan kami beri kabar.”

“Kira-kira berapa lama ya bisa ketemu ?”

“Ini bukan kasus pertama. Biasanya tak lebih dari 1 kali 24 jam.”

Laporan sudah dibuat. Yasudahlah, semoga bisa ketemu hari ini juga. Onscheule lagi, yaitu liburan. Tujuan pertama adalah liberty statue. Sepanjang perjalanan jadi agak canggung. Obrolan tidak seluwes biasanya ketika kami di kantor. Tentu kejaidan tadi masih terngiang di benak masing-masing.

“Huah sampe juga.”

Kami melihat patung liberti di kejauhan. Sekarang hanya tinggal naik ferri kecil yang membawa kami tepat ke pulau patung liberti. Antrian ke dalam ferri tidak terlalu panjang. Kami yakin dapat naik keberangkatan selanjutnya.

“Hei, our guessed is right. You must come here.”

Kami menengok ke suara berat yang tepat berasal dari belakang kami. Dua pria yang tadi mengejar kami. Mereka tersenyum, pasti maksud senyum itu adalah…. Salah seorang pria hendak mengambil sesuatu di kantung belakang celananya.

“Bug, Bug.”

Didith reflex mengeluarkan ilmu bela dirinya. Dia memang jago dalam hal ini. Satu tinju tepat mengenai wajah salah satu pria kemudian tendangan keras tepat mengenai perut pria yang lain. Mereka berdua terjatuh. Pengunjung lain langsung teriak.

“Lari….”

Kami bertiga berlari. Polisi. Kami harus mencari polisi. Tapi bagaimana mereka bisa tahu kami disini ? Well nenek gondrong juga tahu kami turis, kemana lagi tujuan kami selain tempat wisata. Liberti adalah pilihan yang tepat. Tapi kan aku sudah jatuhkan kopernya kenapa masih dikejar ? Apa karena kami sudah tahu apa isi koper itu ? Mereka pasti mau melenyapkan jejak.

“Wait.”

Terdengar suara di kejauhan. Dua pria itu mengejar. Huaaa. Kami menabarak beberapa pengunjung yang terlihat bingung melihat tingkah kami berdua.

“Mereka mau ngapain sih ?”

“Bagaimana kalau kita hadapi saja. Ini ramai. Mereka tak mungkin berbuat apa-apa,” ujar Tommy.

Mengabaikan ide tersebut kami tetap berlari. Kedua pria itu semakin dekat.

“STOP.”

Kali ini suara yang menyuruh kami berhenti berasal dari pita suara lain. Mereka polisi. Ada tiga yang sedang berlari kearahkami. Syukurlah. Kami berhenti.

“Arrest them,” perintah salah satu polisi sambil menunjuk kami.

Loh kenapa ? Kami tak melakukan apa-apa. Ketiga polisi itu memegangi tangan kami. Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa malah kami yang ditangkap ? Apakah polisi ini adalah kongkalikongnya dua pria itu ?

“Wait there must be misunderstanding here,” kilah Didith.

“You can explain it later.”

Apa-apaan ini, kenapa malah aku yang ditangkap. Para polisi mengeluarkan borgol, siap membawa kami. Didith tak tinggal diam. Dia memutar tubuhnya sambil melancarkan tendangan. Ni anak emang hebat kalau berantem, polisinya langsung KO. Dia langsung berlari kencang. Sang polisi mengeluarkan pistol dan tembakan peringatan, namun Didith sudah menghilang di keramaian orang. Terlalu riskan untuk menembak.

“Take this two.”

Aku dan Tommy dibawa naik mobil bersama dua polisi sedangkan satu lainnya mengejar Didith. Kira-kira Didith lari kemana ya ? Apa yang dia lakukan. Aku masih bingung, kenapa kami yang ditangkap ? Konspirasi apa yang mereka mainkan. I think I am victim here. Sirine mobil polisi mengiring kami menuju ke kantor polisi. Haduuuh, rencana liburan jadi gagal total.

“Kenapa sih ? Kok jadi gini ?” bisikku pada Tommy.

“Nggak tahu.”

“Didith kemana ?”

“Gw juga nggak tahu. Nasib kita gimana ini ?”

Tak sampai 10 menit kami sampai di kantor polisi. Kami digiring menuju ke sebuah ruangan. Ini ruangan investigasi, tertutup, hanya ada sebuah meja dan computer. Ada juga sebuah lemari di sudut ruangan. Seorang pria duduk di depan kami, dia bertubuh tegap dan berkumis tebal.

“Name ?” tanyanya pada kami.

“I’m Tommy and he is Jojo.”

“We’ve known. You guys from Indonesia, Jakarta exactly.”

(percakapan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.)

“Apa yang kalian bawa dalam koper itu ?”

“Koper ?”

“Ya koper cokelat itu,” dia menjawab dengan tegas. Tommy langsung menimpali.

“Kami tak tahu. Itu bukan koperku, tapi kopernya,” Tommy melirikku. Hah berengsek, gw di MT in.

“Kalian berteman bukan ?”

“Ya, kami berteman, tapi kami tak tahu kalau dia bermaksud menyembunyikan kokain itu.”

“Heh, berengsek lo Tom.”

“DIAM,” kedua polisi itu memandangi kami dengan kesal. Dia lalu memandangku.

“Itu bukan koperku. Aku berani sumpah. Koperku tertukar di bandara tadi.”

Polisi itu memandangku dengan tajam, seakan menscan pikiranku dalam satu kedipan mata.

“Aku berkata jujur. Kami sudah membuat laporan kehilangan di kantor maskapai penerbangan kami tadi. Yang jelas kokain itu bukan punya kami.”

“Ya itu bukan punyaku,” Tommy masih cari aman. Sial nih temen satu.

“Sebenarnya yang kami permasalahnkan adalah…, kalian memukul dua pria itu.”

“HAH ???” aku dan Tommy kaget.

“Kedua pria itu adalah pihak mafia yang mencoba menyelundupkan kokain itu. Kami hendak membawa koper berisi kokain itu ke kantor polisi dan bertemu mereka di perjalanan. Ya kami melawan.”

“Apa ini ?” sang polisi mengeluarkan sebuah dompet kecil.

“Loh itukan dompetku. Kok bisa ada pada anda ?”

“Dompet ini terjatuh di lobi hotel. Kedua pria itu memanggil kalian karena ingin mengembalikannya padamu.”

“Jadi dua pria itu bukan mafia ?”

“Tentu bukan karena isi botol itu juga bukan kokain.”

“Apa ???” aku dan Tommy sama-sama kaget.

“Lalu isinya apa ?”

“Kopermu tertukar dengan koper pemasok salah satu bahan fabrikasi. Memang mencurigakan barang itu, botol tanpa label dan berisi cairan putih. Namun dia sudah memiliki izin untuk membawa barang itu dan pihak berwajib juga sudah tahu. Kopermu ada di bandara.”

“Jadi…, semua ini hanya salah paham ?”

“Tidak. Kalian yang terlalu banyak film action. Tidak ada kokain, tidak ada mafia, dan tidak ada pembunuhan. Kami menangkap kalian karena kalian membuat onar di tempat umum.”

“Well kami hanya mempertahankan diri…,” engahku.

Polisi itu keluar ruangan sejenak tanpa permisi, meninggalkanku berdua dengan Tommy.

“Heh berengsek lo. MT banget sih jadi temen.”

“Habis gw kan Cuma mengeluarkan naluri perlindungan diri terdalam yang gw punya. MT.”

“Gw baru tahu lo itu temen yang gitu.”

“Ya maaf deh maaf. Nggak lagi deh.”

Polisi itu masuk ke dalam ruangan. Dia bergegas.

“Ada masalah.”

“Masalah apa ?”

“Teman kalian itu pergi ke kedutaan dan berkata cerita ini versinya. Kedubes kalian percaya. Tuh dia bawa satu battalion ke depan kantor polisi. Dipikir ini sarang mafianya kali ya.”

Finished

Pesan moral : Kenyataan itu belum tentu sama dengan apa yang kamu lihat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s