Bule Nyasar

Waktu menunjukkan pukul 8 delapan tepat. Pria itu mengambil tas backpacknya dari belt conveyor. Dia berkebangsaan Perancis, sebut saja namanya Raul. Ini pertama kalinya dia ke Jakarta. Rencananya dia akan ke Bali untuk tujuan backpacker. Hanya saja tiket murah mengharusnyaknnya sampai ke Jakarta sepagi ini sedangkan flight ke bali baru jam 5 sore. Sebagai backpacker sejati ya waktu selama 9 jam ini jarus dimanfaatkan untuk berkeliling ibu kota.

Berbekal browsing sana sini, dia sudah menentukan tujuan untuk backpacker di Jakarta yaitu ke Kota Tua dan Monas. Dari yang dia cari di Internet, masyarakat Indonesia itu ramah-ramah dan sopan, ciri khas masyarakat timur. Raul yakin perjalanannya di Jakarta akan berjalan lancar hanya dengan bekal internet dan Tanya sana sini.

Cuaca cukup panas. Ya memang dari internet, di Indonesia sedang musim kemarau. Bandara Soekarno Hatta cukup ramai. Dia pikir Jumat tak membuat bandara ramai. Raul keluar pintu bandara. Naik apa yak ke kota tua ? Sebagai backpacker, pantang untuk naik taksi atau travel. Naik bus dimana ya ?

“Where are you going sir ? I can guide you ?”

“Taxi sir ?”

“I can take you anywhere sir.”

Raul kaget dengan pelayanan bandara yang sangat antusias. Namun dia sudah mantap ingin naik bis saja. Sampai sebegitunyakah ? Sampai-sampai para penawar jasa itu terlihat sangat kecewa ketika Raul menolak.

“Where are you going sir ? I can give you Jakarta Tour right now,” kata seorang pria berkemeja biru. Raul agak bimbang. Ikut tidak ya ? Ada layanan tour di depan mata nih ? Dia tak menemukan data di internet kalau ada layanan tour di bandara. Well stick to the plan, naik bis biar paling murah.

“No thanks.”

Raul merasa jadi seperti selebritis saja, dikerubungi banyak orang yang menawarinya perjalanan tour kota. Baik sekali orang Jakarta. Berbekal Tanya petugas, Raul berhasil menemukan loket untuk naik bus. Petugas mengarahkan untuk naik bus menuju ke blok M lalu naik busway sekali untuk sampai ke monas dan kota tua.

Bus datang dan Raul naik. Jalanan cukup lancar namun ketika masuk ke perkotaan sudah pasti macet. Woow kaya sekali orang-orang di kota ini, sepertinya semua orang punya mobil pribadi disini sampai macetnya kayak begini. Sudah pasti kesejahteraan masyarakat terjamin disini. Sudah orangnya ramah-ramah, sejahtera pula. Namun menurutnya masih teratur perancis disbanding Jakarta.

Dari jalan tol Raul melihat realita di trotoar jalan. Kenapa itu ? Baik sekali orang-orang bermobil mewah itu. Mereka mau mengangkut penumpang di pinggir trotoar. Hanya tinggal melambaikan tangan, maka terangkut sudah. Penumpang yang numpang itu juga kayaknya orang yang sederhana, ada yang agak gembel, ada yang bawa anak. Raul terpana dengan kebaikan para pemilik mobil itu.

Bus sampai di terminal. Oh jadi ini namanya terminal. Raul mengikuti orang-orang yang turun dari bus. Banyak kios-kios di terminal. Dari sini dia harus naik busway satu kali. Dimana ya loket busway. Logat plonga plongo Raul menarik perhatian dua orang pria penghuni terminal.

“May I help you sir ?”

“I have to go by busway. Where is it ?”

“That way sir. Mmm, in holiday ?”

“Yes.”

“Where do you want to go ? Kota Tua ? Monas ? Patung Selamat Datang ?”

“How do you know ?”

“It’s great that you meet us here. We’re from Jakarta Holiday Journey. We can guide you.”

“But I don’t want to go by taxi. You know, I’m a backpacker.”

“Oke, is it your first time to Jakarta ?”

“Yes,” jawab Raul singkat.

“I remind you sir. Not every people here are good. You should keep your eyes of your belonging. But, you don’t need to worry about us. We can give you cheap tour and safe of course.”

“Really ?”

“Yes. Our motto is yur wish is my command. Just tell us what do you want and we will accompany you.”

“Oke. My flight to Bali is at 5 pm. Maybe I only have 5 or 6 hours to take a short tour here.”

“Not a problem.”

How bout the price.”

“Just 10 dollar.”

“Deal.”

Mereka bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Dua pria itu bernama Rian dan Emon. Raul tak menaruh curiga, mengingat realita keramahan orang-orang di kota ini. Lagipula dari bahasa inggris mereka yang lancar, sepertinya mereka memang agen resminya.

“First I want to go to Kota Tua.”

“Oke. First Kota Tua and then we can go to Monas by Busway and then you have to go to airport to catch up your flight. I suggest we go to Patung Selamat Datang before go to Monas. Maybe you want to take picture there.”

“Mmm, ok. You know better than I am.”

“Give me your bag sir. My friend, Emon, will take it to Kota Tua. I thinks it’s heavy and make you not comfortable to enjoy your trip.”

Tanpa curiga Raul memberikan tas backpacknya ke Emon. Lagipula semua uang dan passport ada di tas pinggangnya. Dia langsung berangkat ke Kota Tua dengan busway sedangkan Raul dan Rian membeli makan sebentar.

“What is this ?”

“It’s called somay. It made by fish. There also a tofu and potato.”

Raul makin salut dengan keramahan orang Jakarta karena makan ini dibayarin oleh Rian. Dia bilang ini bagian dari pelayanan. Mereka berangkat naik busway menuju ke Kota Tua dengan transit dulu di Patung Selamat Datang.

“So manh building here, right ?”

“Yes sir. It’s our capital city.”

Bus berdesak-desakan. Raul sudah tahu dengan risiko ini. Mereka turun di halte dan berjalan sebentar untuk menikmati Patung Selamat Datang. Matahari hampir sampai ke puncaknya Raul bertanya banyak hal tentag patung ini. Setelah foto-foto beberapa saat, mereka lanjut perjalanan.

“Ya halo,” Rian mengangkat telepon

“Oh lo udah di markas. Oke, gw beresin dulu ni bule satu, habis itu kita pesta.”

Rian menutup telepon.

“Sir, Emon Said that he already arrived at Kota Tua. I take you to nearest busway station. The last station is Kota Tua. Emon will meet you at that busway station.”

“You’re not going ?”

“No. I’m so sorry. I have something very important. But don’t worry. Emon is waiting you right now.”

“O.., oke.”

Tanpa curiga, Raul naik busway sendiri. Rian bilang tinggal naik saja sampai ke terminal akhir yang akan langsung sampai ke Kota Tua. Bus sampai di terminal akhir. Raul bingung karena taka da Emon disitu.

*

Sementara itu….

“Wuih tas gede dari mana tuh ?”

Mereka sedang di markas, sebutan tempat persembunyian mereka. Ada empat orang lain selain Emon dan Rian disitu. Mereka sedang berjudi kartu.

“Habis ngadalin bule bego tadi. Percaya banget dia kalau kita agen resmi tour.”

“Tuh bule bisa bahasa Indonesia ?”

“Nggak lah. Makanya lo lo lo itu banyak-banyak ngadalin bule biar bisa bahasa Inggris.”

“Isinya apa tuh ?”

“Ni baru mau dilihat. Pasti ada yang bisa kita jual nih. Barang branded.”

Belum sempat mereka membuka ta situ. Segerombolan polisi masuk sambil menodong pistol.

“Berhenti. Kami dapat laporan kalau ini tempat persembunyian narkoba.”

Keenam pria itu langsung mengangkat tangan. Tempat itu digeledah. Dan benar saja ada narkoba tersembunyi di dalam lemari.

“Kalian harus ikut ke kantor polisi sekarang.”

Mereka dibawa ke kantor polisi dengan mobil. Interograsi berjalan panjaaag. Setelah tentang narkoba akhirnya polisi menyadari kalau tas besar yang ada di tempat tadi bukan milik mereka.

“Itu tas punya siapa ? JAWAB ?” kata polisi keras.

“Punya bule namanya Raul.”

“Kok bisa ada di kalian ?”

Rian dan Emon menjelaskan bagaimana ta situ ada dimereka.

“Jadi sekarang tuh bule ada di Kota Tua sendiri ?”

“Iya.”

Sang polisi langsung keluar ruang interogasi dan memerintahkan anak buahnya.

“Cari bule perancis, kulit putih, rambut cokelat, tinggi, kurus, usia kurang lebih 27. Ada di Kota Tua. Bawa dia kesini. Pastiin dia ketemu. Bisa perang dua negara kalau tuh bule ilang dan jadi gelandangan.

*

“Who are you searching sir ?” seorang pria di sekitar halte mendapati Raul yang sedang kebingungan.

“I’m looking for Emon. He’s from Jakarta Holiday Tour. He said that he’ll meet me here.”

Pria itu langsung memikirkan sebuah rencana untuk mengambil isi tas pinggang sang bule. Pasti isinya dolar dolar dan dolar. Dia tahu kalau bule ini sedang dikibuli oleh orang yang dia sebut Emon itu. Sudah pasti si Emon mengaku sebagai agen tour yang akan mengguide untuk tour di Jakarta. Sudah pasti Emon tak akan ada disini. Pasti tas sudah berpindah tangan, yang tersisa adalah tas pinggang yang sepertinya isinya jauh lebih berharga dari tas besar.

“Oh yes. I’m from Jakarta Holiday Tour. Unfortunately Emon has something important to do. I replace him to guide you to Kota Tua.”

“What kind of important things ?”

“His mother suddenly fell at bathroom. He’s taking his mother to hospital. I was called a minute ago by Emon to replace him.”

“Oh I’m sorry to hear that. Oke, lets start. Whats your name by the way ?”

“I’m Bambang, just called my Bams.”

“Oke, i’m raul. Can we start now, i’m so excited.”

Bams sudah memiliki rencana. Dia akan memberi tour singkat ke Raul. Setelah itu dia akan memberikan minuman yang diberi obat tidur lalu…, semua pasti tahu lah gimana akhirnya. Setelah dua jam, Tour Kota Tua selesai. Masih ada dua jam setengah untuk tour monas.

“Lets go to Monas.”

“Are you not hungry sir ? Maybe we should take lunch.”

“I’m not very hungry. I already ate somay few hours ago. Maybe we should go to Monas area and have lunch there before enter.”

“Oke. We should go by Metromini instead of busway. Take this, I think your get thistry

Ada obat tidur di minuman itu. Sudah pasti si bule akan teller ketika di bus. Tinggal ambil tasnya dan keluar. Raul meneguk habis minuman itu. Mereka langsung naik metromini menuju ke Monas. Ketika itu polisi baru sampai di Kota Tua #telat.

Timing yang pas. Raul langsung ngantuk ketika naik ke metromini dan tertidur. MEreka duduk di bangku dua dari belakang. Kesempatan. Bams langsung melepas ikatan tas pinggang dan hendak pergi. Namun ada penumpang lain yang mencium kejanggalan ini.

“Heh Maling ya ?” teriak penumpang itu yang duduk di belakang.

“Heh, jaga bicara lo ya ?”

“Itu tas pinggang, bukan punya lo kan ?”

“Apa sih lo,” Bams langsung menarik kerah penumpang pria itu. Bug. Penumpang itu meninju Bams.

“Maliing,” teriak penumpang itu. Penumpang lain segera membantu untuk memukuli Bams sedangkan Raul masih pulas tertidur. Penumpang lain membawa Bams turun untuk digiring ke kantor polisi. Ketika itu Raul bangun. Tas pinggangnya tergeletak di kursi sampingnya. Dia bingung mendapati bus ini kosong. Kemana Bams dan penumpang yang lain ? Raul bingung.

Monaaas, bus tepat berhenti di depan monas. Raul langsung turun dari bus. Dia sudah sangat excited untuk mengunjungi monument kebanggaan kota Jakarta itu. Ketika dia turun, seseorang memanggilnya. Pria yang mengenakan baju polisi.

“Are you Raul Right ?”

“Yes.”
“Thanks god we found you. Follow me sir.”

“No one can stop me from touring Monas right now.”

Polisi itu kebingungan. Sepertinya dia tak sadar apa yang sedang terjadi dengannya. Akhirnya polisi itu mengantarnya untuk tour ke Monas. Raul makin terkesima dengan kebaikan warga Jakarta. Tur guidenya polisi, serasa menjadi duta negara saja. Sudah hampir jam 3.

“I have to go to airport.”

“You don’t realize at all ?”

“Realize what ?”

“No, no, no, mmm, I get you a car.”

“No no no. I’m a backpacker….”

“Don’t worry. We pay for it.”

“Is it include in service ? Wow I deserve many things only with 10 dollar.”

“Oh yes.”

“And where’s my bag.”

“We have your bag. The car will also bring your bag.”

“Oh really ? Thank you. I got to say. This is the nicest city I’ve ever visit. The people is soo kind. I love this city. It’s even better than I’ve read from internet.”

“Oke, wait a minuter sir.”

Sang polisi mengeluarkan HTnya.

“Ni bule bego atau lugu sih. Nggak nyadar-nyadar kalau dia korban criminal. Udah biarin aja, jangan dikasih tahu. Siapkan mobil sama bawa tas tuh bule ke Monas sekarang. Antar dia ke bandara.”

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s