Cinderella, Bukan Hello Kitty

Belakangan ini, nggak sahur nggak habis tarawih pasti TV dibajak sama Mak dan Kakak buat nonton sinetron yang membuat semua orang benci sama Hello Kitty. Hadeeh, mending ngendon di kamar aja deh kalau udah gitu. Kenapa ya tokoh wanita di sinetron-sinetron Indonesia nggak dijadiin mutan Wolferine aja yang bisa ngeluarin pisau dari tangannya jadinya sinetronnya cepet tamat, nggak pake adegan licik-licikan atau selingkuh-selingkuhan. Anyway jadi terinspirasi buat sebuah cerpen. Bagi penggemar sinetronnya, take it easy aja ya. Cuma pingin mengeksplor sisi humor dari efek samping nonton sinetron.

Aneh, mungkin itu kata yang bisa menggambarkan kelaukan Yudi, suamiku. Ada apa dengannya ? Dia kelihatan berbeda sebulan belakangan ini. Sikapnya lebih dingin. Ketika malam dia pulang kerja, dia hanya mandi, makan, ngobrol seadanya lalu tidur. Paginya juga begitu, mandi, makan, ngomong sepatah dua patah kata lalu berangkat. Biasanya tidak sependiam itu. Jika akhir pekan, dia biasanya selalu ceria untuk mengajakku dan Rosa, anak tunggal kami, untuk jalan-jalan. Namun kal ini dia seperti enggan dan lebih memilih tidur atau lembur di kantor.

Aku sudah memancingnya untuk bicara. Mungkin dia sedang menghadapi masalah di kantornya. Mas Yudi berkata seperti itu, sedang ada masalah pelik di kantor. Ya itulah salah satu fungsiku sebagai isteri, tempat curhat suami. Namun mas Yudi enggan membicarakan masalah kantornya kepadaku. Dia bilang ceritanya panjang dan rumit. Namun tak masalah bagiku untuk meluangkan waktu mendengarkan curahtnya. Siapa tahu aku bisa memberinya solusi.

Tapi…., kok rasanya ada yang janggal. Feelingku berkata ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku bisa tahu dari sorot matanya. Kalau melihat sinetron-sinetron yang aku ikuti di TV dari sore sampai tengah malam itu, tanda ini merupakan tanda-tanda adanya perselingkuhan di rumah tanggaku. Apa selingkuh ? Mungkinkah ? Dia sudah mengucapkan janji sehidup sematidenganku 5 tahun lalu. Kami bahkan sudah dikaruniai satu anak perempuan yang lucu dan cantik.

Jumat malam ini aku sudah bertekad, harus tahu apa yang terjadi padanya. Kalau dari salah satu episode di sinetron yang aku tonton, cara tahu apa yang terjadi adalah dari ponselnya. Semua jejak yang dia lakukan satu hari terekam jelas di ponselnya. Feelingku terasa kuat, mengatakan ada orang ketiga di rumah tangga kami.

Malam ini seperti biasa suamiku pulang dengan mobilnya. Rosa langsung menghampiri Mas Yudi yang baru keluar dari mobil. Mas Yudi mengelus-elus kepala Rosa sambil tersenyum. Kadar keceriaan itu berkurang selama sebulan terakhir ini. Biasanya dia langusng menggendong ani dan menciumnya. Rosa baru berusia 4 tahun, masih kuat untuk dia gendong.

“Alhamdulillah sudah sampe mas,” kataku sambil mencium tangan Mas Yudi.

“Iya.”

“Makanan udah aku siapin. Mas mau mandi dulu.”

“Iya.”

Iya dan Cuma iya. Kalau dulu paling tidak satu kalimat panjang bukan Cuma iya. Mas Yudi langsung masuk ke kamar untuk mandi. Biasanya dia mandi selama 15 menit. Waktu yang cukup untuk mengubek isi ponselnya. Setengah menit setelah suara air terdengar di kamar mandi, aku langsung mengecek ponselnya yang ia letakkan di dekat kasur.

Benar saja. Ada pesan dengan wanita yang bernama Cinderella. Satu percakapan panjang dia dengan suamiku. Hatiku langsung pedih, ah bagaimana ini ??? Rumah tanggaku ? Nasib Rosa ? Aku langsung merasa menjadi wanita yang paling menderita sedunia. Jadi wanita di rumah tanggaku bernama Cinderella ? Sepetrinya Cinderela ini bukan nama aslinya, hanya nama samaran, sama seperti yang disintetron yang aku tonton. Cinderella ini hanya nama yayang-yayangan mas Yudi ke selingkuhannya. Ini sebuah penjelasan yang sangat sempurna untuk sikapnya selama 1 bulan terakhir ini.

Aku harus kuat. Kalau di sinetron yang aku tonton, harusnya aku kuat untuk mempertahankan rumah tanggaku, ini terutama untuk Rosa. Dia masih butuh kasih sayang seorang ayah. Tapi aku sedih dan sakit. Pasti sebentar lagi perlakuan suamiku makin aneh dan menjadi. Mungkin saja si Cinderella ini akan datang meneror kehidupanku, berkata kalau dia sedang mengandung darah daging Mas Yudi. Mungkin saja dia akan memintaku untuk mencerikan mas Yudi. Ah bagaimana ini ?

Aku meletakkan ponsel Mas Yudi dan bersikap biasa. Kami langsung ke meja makan untuk makan malam. Well sebentar lagi jam 8 yang berarti sinetron langgananku sudah mau tayang. Aku harus tahu episode selanjutnya, untuk referensi juga apa yang dilakukan sang tokoh utama wanita untuk menghadapi ini.

“Besok Sabtu kita jalan-jalan Yuk Ma, Pa ?” kata Rosa

“Nggak bisa sayang, Papa harus ke kantor. Ada pekerjaan.”

“Ya papa…,” kata Rosa kecewa.

“Loh tapi kan besok Sabtu Mas. Masa sih ke kantor ?” Pemikiranku langsung tertuju ke satu hal. PAsti dia menemui si Cinderella itu. Sudah pasti dia mau berduaan dengan selingkuhannya.

“Lagi ada masalah pelik di kantor sayang. Emmm minggu depan deh, aku janji kita liburan sekeluarga.”

“Bener nih Yah ?” kata Rosa.

“Kalau nggak bisa janji, mending jangan janji mas ?”

“Kali ini aku janji. Kamu mau kemana Rosa ?”

“Emmm, terserah Papa aja. Yang penting kita bertiga, aku, mama, dan Papa,” jawab Rosa polos.

Makan malam selesai. Mas Yudi langsung masuk kamar dan tertidur. Memang 4 hari kemarin ini dia selalu pulang malam, paling cepat sampai rumah jam 11. Pasti, sudah pasti dia menemui Cinderella itu. Tapi siapa itu Cinderella ? Apakah dia orang yang sudah aku kenal ? Kalau di sinetron sih, dunia itu selebar daun kelor, maksudku selingkuhannya ternyata orang yang aku sudah kenal-kenal juga. Tapi siapa ? Aku tak bisa langsung menuduh tanpa ada bukti. Handphone Mas Yudi ada di dekat kasur. Nanti kalau sudah agak malaman dan dia sudah benar-benar pulas akan aku ubek-ubek lagi. Sekarang…., sinetron dulu.

Aku terbawa emosi. Apa yang si tokoh perempuan ini alami, sama dengan apa yang aku alami. Aku langusng mengambil ponselku dan membuka facebook. Update status isi hatiku. Siapa tahu ada yang bisa memberiku masukan. Aku berpikir sejenak, merangkai kata dalam otak.

Aku merasa menjadi wanita paling menderita di dunia. Apakah mahligai rumah tangga yang sudah aku bangun dari pondasi ini harus hancur berkeping-keping menjadi serpihan yang tak berarti ? Disaat suamiku diam seribu bahasa, dan fakta kuketahui tak dari lisannya, apa yang harus aku lakukan ? Haruskan kupertahankan dia walau dengan goresan di hati yang menganga. Sakiiit rasanya. Lebih baik aku disayat oleh pedang di tanganku daripada disayat oleh kekecewaan tepat di jantung hatiku. Oh Tuhan, kuatkanlah hamba-Mu ini. Aku tak boleh menyerah. Aku sudah punya mutiara kehidupan yang begitu cantik. Tak ingin kunodai mutiara itu.

Wuih ternyata teman-temanku merespon statusku. Kebanyakan sih menanyakan ada apa ? Aku tak boleh bilang yang sebenarnya terjadi. Aku tak boleh menyebar aib keluargaku. Well Mas Yudi tidak punya facebook jadi dia tak bisa membaca postinganku. Sebagian temanku hanya komentar agar aku tabah menghadapi cobaan hidup.

Aku penasaran, siapa Cinderella itu ? Sudah dua jam semenjak Mas Yudi tidur. Sinetron itu juga sudah habis. Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari Susi, sahabatku.

“Hei, lagi ngapain ?”

“Biasa habis nonton sinetron. Lagi ngapain Sus ?”

“Sama habis nonton sinetron. Besok jalan sama keluarga ?”

“Nggak. Mas Yudi ada lemburan.”

“Ketemuan yuk, ada yang ingin aku omongi nih.”

“TEntang apa ?”

“Tentang adik aku. Kamu juga ada yang ingin diomongin kan ?”

“Tahu darimana ?”

“Dari Status facebook kamu.”

“Iya nih, tentang suami aku. Yaudah deh besok ketemuan aja di Starbucks Supermall Indonesia.”

*

“Loh aku pikir kamu datang sama si Rosa ?”

“Nggak. Dia aku suruh dia main sama temennya. Aku nggak mau dia denger pembicaraan kita hari ini. Adik kamu emang kenapa Sus ?” kataku sambil menyeruput kopi panas yang baru datang.

“Ini niih…,” kata Susi tiba-tiba lemas sambil menunduk.

“Adik ku, si Rina…, dia dihamilin sama pacarnya.”

“Apa ???”

“Terus dia mau tanggung jawab ?”

“Itu dia. Aku juga nggak tahu siapa pacarnya. Gimana ini ? Aku bingung dengan masa depan Rina ?”

“Kamu harus kuat Sus. Jadi ini maksud dari status facebook kamu dua hari lalu ?”

“Iya.”

“Gimana ya. Padahal aku juga udah nganggep Rina kayak adik sendiri. Mending kita minta pria itu bertanggung jawab aja. Itu udah solusi paling bener.”

“Iya…, bentar aku update status facebook dulu ya,” kata Susi sambil mengutak atik ponselnya.

“Eh kamu gimana. Suami kamu gimana ?” lanjut Susi.

“Dia…., selingkuh dengan wanita yang dia sebut Cinderella.”

“Apa ???”

“Dan dia sekarang sedang menemui selingkuhannya ?”

“Kamu tahu darimana ?”

“Semalem aku ngubek ponselnya dan menemukan percakapannya dengan si Cinderella.”

“Ya ampuun, pantes kamu pasang status kayak begitu di facebook.”

“Aku nggak tahu harus bagaimana Sus ? Aku harus menahan perihnya duri dalam rumah tangga ini demi Rosa.”

“Eh bentar deeh…,” kata Susi.

“Kamu berpikir apa yang aku pikir nggak ?” lanjutnya.

Rina sedang dihamili, suamiku selingkuh dengan wanita yang dia sebut Cinderella. Kalau di sinetron yang aku tonton siih. Suami sang tokoh wanita selingkuh dengan adik sahabatnya sendiri. Mungkinkah ??? Ya pasti, pasti Cinderella itu adalah Rina.

“Bener Sus. Aku yakin,” kataku sambil menggebrak meja, membuat pengunjung lain kaget.

“Kamu tahu dimana suami kamu lagi ketemuan sekarang ?”

“Yah kemarin sih di message yang aku stalker, mereka mau ketemuan di Hotel Tralala.”

“Yaudah kita pergokin aja. Paling mereka lagi ngamar.”

“Oke. Sekejab ya, pasang status facebook dulu.”

“Aku juga deh.”

*

Hotel Tralala terlihat jelas di depan kami. Aku dan Susi langsung menuju lobi hotel. Sang resepsionis tersenyum dan menyapa kami.

“Ada yang bisa saya bantu ?”

“Mbak mau Tanya. Kamar atas nama Yudhi di nomor berapa ya ?”

“Sebentar ya Bu,” kata sang resepsionis sambil melihat layar computer.

“Taka da reservasi atas nama Yudhi Bu.”

“Kalau atas nama Rina ?”

“Emmm…., tidak ada juga Bu.”

“Heh Mbak…, mbak dibayar berapa untuk menyembunyikan informasi yang kita butuhkan ?” jawab Susi ketus.

“Benar Bu. Tidak ada reservasi atas nama yang ibu tanyakan.”

“Ada yang bisa saya bantu…,” seorang pria yang berlabel manager diatas sakunya menghampiri kami.

“Ini nih, karyawan bapak. Dia sengaja menyembunyikan informasi yang kami butuhkan karena sudah disogok.”

“Biar saya yang tangani,” kata sang manager kepada resepsionis.

“Bagaimana Bu ?” Sang manager bertanya kepada kami berdua.

“Ini…, kami mencari suami sahabat saya namanya Yudhi, juga adik saya namanya Rina.”

“Berdasarkan data yang kami punya. Tak ada nama untuk dua orang tersebut. Kapan mereka check in ?”

“Tadi pagi.”

“Mungkin…, ibu punya foto suami atau adiknya ?”

Aku menunjukkan foto Mas Yudhi, begitu juga dengan Susi yang menunjukkan foto Rina.”

“Oooh, kalau yang pria saya lihat. Dia datang tadi pagi. Dia sekarang sedang di ruang ballroom 1 di sebelah sana.”

Aku dan Rina langsung menuju ruang ballroom, entah apa jenis ruang apa ballroom itu. Yang jelas pasti mereka sedang berdua-duaan disana. Ini dia…, sebuah ruangan dengan tulisan ballroom 1 di depannya. Pintu ruangannya tertutup. Aku langsung membuka ruangan itu sambil berkata.

“KENAPAAA KAMU SELINGKUH MAS ?”

Semua hadirin dalam ruangan itu langsung mengarah kepadaku. Memang ada suamiku yang sedang duduk. Disampingnya ada wanita yang cantik. Jadi itu Cinderella ? Tapi itu bukan Rina. Daan mereka sedang dalam rapat, bersama kurang lebih 20 orang lain dalam ruangan ini. Suasana freeze selama 30 detik.

“Eh bukan nih Sus,” kataku berbisik ke sebelah. Loh ternyata Susi sudah taka da, menghilang ditelan angin.

*

“Kamu kenapa sih ?” Tanya Mas Yudhi di rumah.

“Aku curiga kamu selingkuh dengan wanira bernama Cinderella itu.”

“Cinderella itu nama aslinya. Darimana kamu curiga aku sama dia selingkuh ?”

“Aku diam-diam buka percakapan kamu dengan dia di HP.”

“Coba mana kalimat mesra aku sama dia,” kata Mas Yudhi menunjukkan percakapannya dengan Cinderella di ponsel.

“Ya memang nggak ada sih. Semua ngomongin kerjaan. Kalau ketemuan pun, janjian buat rapat,” kataku.

“Nah itu tahu. Cinderella itu partner penting kantor aku. Nggak mungkin kalau aku jutek sama dia.”

“Habis mas sikapnya berbeda sih selama sebulan belakangan ini. Mas juga nggak mau cerita ada apa ?”
“Sebenarnya aku nggak mau cerita karena masalah di kantor itu panjang dan pelik, kamu pasti susah ngerti yang ada aku jadi emosi sendiri nyeritaiinya. Kalau kamu mau diceritain yaudah sini aku ceritain.”

“Yaudah cerita deh mas.”

2 Jam mas Yudhi bercerita. Ooooh, setidaknya aku mengerti perubahan sikapnya, memang karena masalah kantor yang cukup pelik. Yasudahlah. Setelah diskusi pelurusan masalah ini…., sudah pasti langsung update status. Eh ada statusnya di Susi.

Ternyata nggak selamanya mual-mual itu gejala hamil. Mual-mual itu lebih masuk akal jadi gejala masuk angina. Syukur deh….

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s