Bohong itu Dosa

Ni hari upacara bender,a jadi ketinget masa-masa sekolah dulu ada upacara. Haha jadi pingin bikin cerita yang ada upacara-upacaranya.

“Ma, aku berangkat ya.”

“Ya hati-hati di jalan.”

Huuuh pagi ini bangunnya kesiangan. Jam menunjukkan pukul 6.30, seharunya aku berangkat jam 6 tepat. Ngapain sih tanggal merah begini harus kesekolah. Eh iya, ini kan 17 Agustus ya wajib lah upacara. SMP-ku berjarak kurang lebih 12 km, papa pernah menghitung dengan speedometer mobil. Waktu tempuh dengan angkot kurang lebih 45-60 menit. Upacara akan dimulai jam 7.30, tapi seharusnya sudah harus datang sebelum upacar dimulai. Duh semoga jalanan nggak rame deh.

Aku memanggil bus yang sudah mau berangkat. Bisa lama kalau menunggu bus berikutnya. Nafas sedikit terengah-engah ketika aku naik ke dalam bus. Bus tidak seramai biasanya. Sekarang tinggal berdoa semoga supirnya semangat 45 buat nyetirnya, biar cepet nyampe dan nggak telat. Kebanyakan yang naik bus juga anak sekolahan yang mau upacara dan PNS yang memakai seragam.

Aku seperti biasa ngelamun disepanjang perjalanan. Fenomena pagi ini berbeda dengan biasanya. Semua sekolah dan aula yang kulihat dipenuhi orang yang mau upacara. Mereka semua memakai satu seragam, lengkap dengan sepatu hitam, dan topi. TOPI ??? Oh ya topiku ketinggalan. Waduh bagaimana ini. Gara-gara keburu-buru sih.

Balik lagi ? Kayaknya nggak akan kekejar. Kalau misalnya bolos upacara bisa dapat nilai 0 nih buat PPKN. Ancaman yang diucapkan ibu guru PPKN itu langsung terngiang di benakku. Jadi coret kemungkinan untuk balik lagi ke rumah buat ngambil topi, nggak akan kekejar. Kalau datang tanpa topi…, bakal di setrap dan dicatat namanya terus dapat hukuman.

Kalau nggak salah guru BK yang galak itu ngomong ke semua siswa kalau semua siswa wajib pakai baju putih biru, sepatu hitam, dasi dan topi. Kalau nggak bakal berdiri di barisan beda dan dihukum. Hukumannya apa sih ? Kalau berkaca dari 17an tahun lalu, hukumannya adalah kerja bakti satu sekolah. Walaah, malas banget tuh. Aku terus memikirkan bagaimana cara agar bisa datang upacara namun tidak disetrap.

Aku sampai di sekolah. 15 menit sebelum setengah 8. Yes, jalanan lancar. Siswa sudah pada turun untuk membuat barisan. Aku berlari menuju ke kelas untuk menaruh tas. Topi gimana nih topi ? Kayaknya Tuhan mendengar doaku deh. Di kelas ada topi nganggur yang terletak di meja guru. KElas sudah kosong, semua teman sekelasku sudah turun. Ah aku ambil saja dan langsung aku pakai.

Siiip, aman deh aku. Aku langsung turun ke lapangan dan masuk ke barisan. Haha, itu barisan yang seragamnya nggak lengkap. Jauh berkurang dibanding tahun lalu. Kena deh loe, bersihin satu sekolah. Aku tersenyum kecut kepada mereka.

“Nggak mau, pokoknya nggak mau,” terdengar teriakan di dekat barisan itu. Itu teman satu kelasku. Kenapa dia ? Suasan menghening sejenak. Pemandangan itu menjadi pusat perhatian.

“Kamu nggak bawa topi. Masuk ke barisan sini.”

“Nggak. Saya tadi bawa. Demi Allah saya bawa.”

Gila dia berani ngelawan guru BK yang galaknya melebihi ibu tiri. TErlihat sekali kalau guru BK itu sudah keluar tanduknya.

“Kamu nggak usah bawa-bawa nama Tuhan, masuk ke barisan sini. Sekarang,” guru BK itu menggandeng tangan temanku untuk dimasukkan ke barisan. Temanku mengelak.

“HEH BERANI KAMU YA ?” kata guru BK dengan mata melotot. Mukanya udah kayak mau makan orang.

“Saya berani karena saya benar. Tadi topi saya saya taruh di kelas. Tapi saya lupa taruhnya dimana. Pasti ada yang ambil.”

“Nggak usah alasan kamu.”

“DEMI ALLAH BU. Saya nggak bohong. Topi saya ada namanya di bagian dalam.”

Guru BK dan temanku saling meloto-melototan.

“Oke. Saya akan cek.”

Guru BK itu berjalan ke arah barisan kelasku. Deg-deg. JAngan-jangan ini topi temanku. Jelas sekali kan ini bukan topiku. Bisa saja punya dia. Bagaimana ini. Keringat mengalir deras dari dahiku. Bisa-bisa aku dituduh mengambil topi orang yang memang kenyataannya begitu. Aku melakukannya untuk menyelamatkan diriku dari hukuman. Waduh, kalimat sempurna untuk mendapat hukuman ekstra.

Guru BK itu sudah berdiri didepan barisanku, tetap dengan tatapan macam yang mau menerkam mangsanya.

“Kelas 2-3. Saya Tanya sama kalian. Ada yang ngerasa ngambil topi teman kalian itu ? Jawab,” kata jawab itu menggelegar bagai petir.

Tanganku gemetaran, tidak kuat untuk ngangkat tangan.

“Saya Tanya sekali lagi. Ada yang ngerasa ngambil topi teman kalian.”

Tidak ada satupun orang yang ngangkat tangan. Semua membatu dibuatnya.

“OKe, buka topi kalian dan serahkan ke teman sebelah. Cek apakah ada nama teman kalian disitu. CEPAT.”

Jeder. Bagaiamana ini ? Semua melakukan perintah sang guru. Tanganku sudah dingin mati rasa ketika membuka topi dan menyerahkan ke teman sebelahku. Aku tak berani melihat ke bagian dalam topi untuk mengecek. Aku menerima topi teman sebelahku dan mengeceknya. Tentu tidak ada.

“Ada nama teman kalian?”

Jantungku serasa mau copot. Namun…, suasana tetap hening. Teman sebelahku tak berkata ada atau berkata apapun. Jadi ini bukan topi dia ? Benarkah ? Apakah topi ini sengaja dikirim Tuhan dari surge untuk menyelamatkanku dari hukuman.

Topi kembali diberikan. Kali ini aku mengecek bagian dalam. ADA NAMA TEMANKU. Loh kok ???Aku melirik ke teman sebelahku. Dia bersikap biasa saja. Guru BK itu kembali k edepan dan memberikan tamparan di pipi kanan dan kiri ke temanku yang ngeyel itu. Kemudian guru BK membawa paksa temanku ke barisan siswa tak disiplin (seragam tak lengkap), dibawanya dengan cara jerean di kuping kiri. Semua siswa kaget. Pasti setelah ini image kegalakan guru BK itu akan naik 100 %.

Upacara dimulai. Selama upacara jantungku berdebar kencang, aku sama sekali nggak konsen. Pingin cepet pulang dan membuang ini topi. Tapi habis ini ada class meeting dulu. Paling enggak, ini topi harus dijauhkan dariku sehabis upacara ini.

“Bubar jalan.”

Kalimat itu membuat barisan siswa bubar dan berhamburan, kecuali barisan siswa tak disiplin. Mereka akan debriefing untuk hukuman yang akan mereka terima. Aku sama sekali tak menggubris teman sebelahkku. Sebenarnya aku penasaran. Apa dia sengaja tidak memberi tahu guru BK itu kalau ada nama di topi yang kupakai atau memang dia buta seketika karena kehendak Tuhan ? Bodo ah.

Aku langsung berlari ke toilet dan masuk ke sebuah bilik. Aku perhatikan sekali lagi pada topi itu. Jelas-jelas ada namanya. Ah sudahlah. Lebih baik sekarang lenyapkan barang bukti. Aku keluar dari kamar mandi dan menuju ke ujung lorong sekolah yang memang selalu sepi. Ada tempat sampah disana. Celingak celinguk, sepertinya aman untuk membuang barang bukti. Baru aku mau membuang itu topi…

“Jangan dibuang disitu,” jeder. Kaget bukan main. Siapa itu ?

“Eh elo,” ternyata itu teman yang tadi berdiri disebelahku ketika upacara, yang mengecek topiku.

“Gw emang sengaja nggak bilang.”

“Kenapa ?”

“Soalnya gw BT sama yang empunya tuh topi. Orangnya sombong, sok pinter, nyebelin, egois. Sekali-kali gw pingin kasih dia pelajaran. Lagipula…, gw pingin lo yang ngaku apa yang lo lakukan lah. Kalau emang lo punya hati nurani ya ngaku, kalau nggak ya biarin aja.”

Dia meninggalkanku di ujung lorong. Gimana ya ? Kok aku jadi nggak enak ya. Aku mengurungkan diri untuk membuang barang bukti dan kembali ke kelas. Emang sih, kalau aku buang aku selamat tapi kejam. Kalau aku ngaku aku bakal habis dimakan guru BK sampe setulang-tulangnya. Gimana ya ?

Bruk. Karena nggak konsen, aku menabrak seseorang. Ternyata itu guru BK yang super galak itu. Dia hanya memandangiku dengan pandangan penuh ketajaman itu. Aku tersenyum dan minta maaf karena menabrak.

“Heh kamu. Ini topinya jatuh.”

Aku berbalik dan melihat sang guru BK sedang mengambil topiku yang terjatuh. Walah, barang bukti malah jatuh ke tangan polisi.

“LOH INI ADA NAMA TEMAN KAMU ?”

Jeder. Jantungku berhenti seketika. Ketahuan deh kalau aku yang ngambil.

“Kamu nemu ini dimana ?”

Ngaku atau ngeles ?

“Di WC deket aula bu barusan. Kayaknya tadi ketinggalan deh.”

“Oh jadi dia bener-bener bawa ?”

“Kayaknya sih gitu. Makanya dia nggak usah dihukum bu. Dia emang bener-bener bawa. Makanya dia sampe berani ngelawan ibu tadi yak arena emang dia bener.”

“Oh gitu ya. Oke deh. Ibu akan cabut hukumannya”

Huaaah ternyata simple banget cara buat nyelametin diri dan nyelametin temen. Just need to think out of the box. Well yaudah deh satu kebohongan menutupi kebohongan lain. Mungkin kali ini aku beruntung, tapi lain kali aku nggak akan bohong lagi karena bagaimanapun bohong itu dosa.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s