Perang Pramugari

Senangnya bisa menulis lagi…, well harus aku akui saat ini aku sedang manggadaikan passion dengan gaji yang lebih stabil. Well tapi suatu saat pasti aku akan kembali bangkit dan menulis lagi yang buanyaaak.

Jam menunjukkan pukul 15.30, kalau melihat tiket berarti 5 menit lagi aku harus naik ke pesawat. Aku bukan penumpang juga bukan petugas bandara. Kalau mau tahu siapa diriku coba saja nyanyikan lagu leaving on the jet plane. Yes, aku adalah pramugari. Aku menggeret koperku, bersama 3 pramugari lainnya, serta pilot dan coplilot. Gosip ringan selalu menyertai langkahku setiap ingin masuk ke pesawat.

Aku berjalan melewati jalur khusus untuk flight attendant. Mata penumpang yang sedang menunggu  tertuju kepada kami. Aku berjalan bak model yang sedang melenggang di runway. Dibayangan kalian semua pasti seorang pramugari adalah wanita cantik dengan tubuh molek yang bersikap lembut dan humble dalam melayani  penumpang. Yah kenyataannya memang begitu.

Aku sudah mengenakan seragam pramugari ini selama 5 tahun. Ini memang sudah menjadi cita-citaku sejak kecil. Aku sangat kagum dengan pramugari saat pertama kali aku naik pesawat. Mereka begitu anggun dan elegan. Baju yang mereka kenakan sexy namun tidak ngebitch. Perilaku mereka layaknya seorang ibu, penuh pengertian dan kasih sayang.

Tiap pekerjaan ada suka dan dukanya. Sukanya adalah ini adalah passionku, jadi tak perlu ada alasan lain lagi. Dukanya adalah aku harus jauh dari keluargaku. Nggak mungkin kan pramugari kerjanya kayak orang kantoran. Jangakan keluarga, tanah aja aku napaknya jarang-jarang. Well tapi itu tak membuatku lupa dengan yang namanya rumah.

“Aku dah mau naik pesawat.” SMS itu selalu aku kirim ke orang tua, adik dan tunanganku sebelum penerbanganku. Doa mereka adalah perlindungan yang paling manjur. Pasti semua akan membalas dengan urutan mama, papa, tunangan lalu adik. Semua berdoa kurang lebih agar aku selamat sampai tujuan. Walau simple, itu adalah pwer terkuat untuk ku bisa bekerja dengan penuh semangat.

Hari ini jadwal penerbanganku dari Jakarta ke hongkong. Penerbangan internasional dan domestic yang membedakan hanya penumpangnya saja. Kalau domestic kan lebih banyak muka local, kalau internasional banyak muka bule. Otomatis kalau penerbanyan internasional lebih banyak speak-speak bahasa inggris. Sisanya sih sama saja. Kalau masalah cowoknya, sama-sama centil ah menurutku.

Pesawat jenis boeing 737 ini mulai dipenuhi penumpang. Sebelum mereka naik, pasti pesawat sudah bersih dan rapi. Aku berdiri di kursi nomor 37 sambil tersenyum dan menyalami para penumpang. Kalau boleh curhat sih rasanya gigi ini sudah kering senyum mulu. Ya wong kalau misalnya diomeli sama penumpang juga modalnya harus senyum.

Semua penumpang sudah duduk, video keselamatan sudah diputar, peswat akhirnya lepas landas. Oke, setelah kondisi stabil aku harus mulai membagikan makanan ke penumpang. Membawa troli makanan di gang yang sempit ini juga butuh skill, apalagi kalau lagi turbulensi. Haha, aku sudah ahli bahkan kalau harus berlenggap di runway yang lagi gempa.

Kalau kondisi pesawat baru stabil seperti ini biasanya banyak penumpang yang banyak ke toilet. Setelah itu baru aku membagikan makanan. Aku sedang di bagian belakang pesawat, menyiapkan troli yang aku bawa, memastikan teh dan jus semua sudah lengkap, saat aku mendengar suara teriakan di tengah badan pesawat. Aku segera berjalan untuk melihat apa yang terjadi.

“BERHENTI.” Duar, seorang pria dengan seluruh muka ditutupi kupluk dilubangi di bagian mata berteriak kepadaku sambil menembakkan peluru. Peluru itu sengaja diarahkan meleset beberapa centi di atasku. Aku kaget bukan main. Ada sesuatu melingkar di tubuhnya. Itu…, bom. Jantungku berdebar bukan main. Tanganku langsung dingin.

Ini salah satu hal yang paling aku takuti dalam pekerjaanku. Sesuatu yang tak pernah aku pikirkan akan aku alami. Sesuatu yang sempat menghantuiku ketika aku mulai menjalani profesi ini. Dan sekarang hal itu aku alami. Terlihat semua penumpang takut. Namun aku pramugari, aku tak boleh terlihat sama takutnya dengan mereka.

Pria itu tak sendiri. Mereka sekomplotan, ada 3 orang yang berkostum sama. Mereka semua membawa pistol dan bom di tubuh mereka. Sudah pasti yang ada di bangku pilot sekarang bukanlah pilot yang seharusnya. Destinasi sudah diubah. Apa yang mereka inginkan ? Dalam ketakutan ini aku berpikir sejenak. Apa ada barang berbahaya yang mereka incar disini ? Apakah ada orang penting di pesawat ini ? Sepertinya tidak ada. Kalau begitu pasti mereka ingin menabrakkan pesawat ini ke suatu tempat. Tapi kemana ?

“Tak ada yang boleh bergerak. Saya beri tahu saja. Semua disini akan mati,” pria itu berteriak dengan kencang, pasti terdengar sampai kelas bisnis.

Aku menelan ludah. Dag dig dug. Jadi inilah akhir dariku. Kalau tahu ini adalah penerbangan terakhirku sudah pasti aku akan mengirim SMS perpisahan yang lebih panjang, meminta maaf kepada mereka semua dan mengatakan kalau aku cinta dengan mereka semua.

“Oweeee.”

Bayi yang duduk di sebelahku menangis kencang. Dia ada di dekapan ibunya. Pasti bayi itu takut. Sang ibu mencoba menenangkannya namun bayi itu tetap menangis.

“BERISIIK,”

Pria yang paling dekat dariku berjalan cepat. Dia menyodorkan pistolnya ke kepala si bayi. Sang ibu menangis, merengek agar dia jangan melakukannya.

“Buat dia diam atau saya yang membuat dia diam.”

Aksen inggris yang pria itu gunakan membuatku berpikir keras. Siapa penumpang berkebangsaan inggris yang naik ke pesawat ini ? Rasanya tak banyak. Pria yang duduk dimana ? Ah lupakan itu. Ada situasi yang lebih genting di depan mataku. Tak mungkin aku membiarkan bayi terbunuh di depanku.

“Sir, mungkin dia haus. Kalau boleh aku bisa memberikannya air.”

“Oh kamu pikir kamu yang berkuasa disini.”

“Sir tapi dia tak akan diam sebelum dia mendapatkan air.”

“BAIKLAH. CEPAT AMBIL. KALAU DIA TAK DIAM SETELAH DIBERI MINUM TAK HANYA DIA YANG AKAN BOCOR DI KEPALA.”

Gertakan itu membuatku takut, namun aku tak boleh terlihat takut. Sang ibu memeluk erat anaknya. Dia menangis juga tanpa suara, takut anaknya ditembak mati. Kalau misalnya anak itu tak diam setelah diberi minum matilah aku.  Untunglah, bahkan sebelum diberi minum, bayi itu bisa tenang. Aku menarik nafas lega.

“Pesawat ini akan mengarah langsung ke Gedung Pemerintahan Cina. Siapa yang belum pernah ke Cina ? Ya jika ada yang belum maka inilah perjalanan pertama kalian yang pertama dan terakhir.”

Aku ingin menangis namun aku tahan ketakutanku.

“Andai diketinggian seperti ini ada sinyal, sudah tentu aku akan membolehkan kalian menghubungi orang yang kalian cintai, namun sayang sekali ponsel kalian tak berguna di ketinggian seperti ini.”

Sudah 30 menit semenjak kalimat terakhir pria itu. Aku masih berdiri membatu karena takut. Penumpang yang lain juga sama takutnya. Beberapa ada yang menangis namun tanpa suara.

“Pst, pst,” penumpang yang duduk dua baris di belakangku memanggil. Aku berjalan mundur sambil tetap memperhatikan sang teroris yang mengawasi didepan.

“Aku punya rencana untuk menyelamatkan kita,” kata penumpang itu pelan.. Mendengar itu seperti merasakan angina sorga

“Bagaimana ?” kataku sambil memastian sang teroris tak melihat.

“Aku tahu jenis senjata yang dia gunakan dan bagaimana melumpuhkannya.”

DUAR. Penumpang itu tertembak tepat di jantungnya dan tepat dihadapanku. Aku shock bukan main. Penumpang itu langusng tewas ditempat. Penumpang lain berteriak kecil dan ada yang menangis karena takut.

“TAK BOLEH ADA YANG MELAKUKAN PEMBICARAAN. KAU PIKIR AKU MAIN-MAIN,” teroris itu langsung berjalan cepat kearahku sambil menyodorkan pistol.

“Aku…, aku…,” aku kehabisan kata-kata, jantung serasa copot.

“Kulihat dari tadi kamu cukup membawa masalah. Kehilangan satu premugari juga tak masalah untukku. Toh kita semua akan mati hari ini. Punya kalimat terakhir ?”

“Tolong jangan bunuh aku.”

Pria itu tertawa kecil sambil bersiap menarik pelatuknya. TIba-tiba dari bagian kelas bisnis terdengar suara ledakan. Seperti suara ledakan pistol. Aku tak bisa melihat apa yang terjadi karena kelas bisnis terhalang tirai. Satu pria teroris lain berlari dan menyibak tirai, melihat apa yang terjadi. Sesaat setelah tirai tersibak terdengar suara tembakan kedua, kali ini tepat mengenai sang teroris yang menyibak tirai tadi. Dia tak sempat menghindar, tembakan itu terlalu cepat. Teroris itu jatuh.

Ternyata itu copilot. Dia memegang pistol. Dua pria terbujur di lantai dekatnya, aku bersyukur karena itu pria yang kuharapkan untuk mati satu jam lalu. Sang copilot itu mengarahkan pistolnya tepat kearah teroris yang berdiri di depanku. Secepat kilat teroris itu mencengkram dan mendekat leherku dengan tangannya. Kemudian dia mengarahkan pistol tepat kearahku.

“Jatuhkan senjatamu atau dia mati,” kata teroris itu sambil berjalan mundur.

“Jangan dengarkan dia, tembak saja. Biarkan aku mati…,” kataku.

Copilot tetap mengarahkan pistolnya, namun kali ini dengan keraguan. DUAR. Teroris itu menembak, tepat mengenai dada copilot dia terjatuh. Tidak. BUG. Pramugari lain memberikan serangan dari belakang, sebuah pukulan benda tumpul ke belakang kepala teroris yang membekapku. Dia langsung berteriak kesakitan. Entah dapat wangsit darimana aku langsung menyikut wajah sang teroris dan merebut pistolnya. Keadaan sekarang berbalik.

Tanpa pikir panjang aku langsung menarik pelatuk dan menembak jatuh sang teroris tepat di bahunya dan kakinya. Dia terjatuh namun masih hidup. Hal terakhir yang dia lakukan akan menekan sesuatu di rompi yang ia kenakan. Terlihat sebuah digita waktu dimulai dari 10.00 dan berjalan mundur. Dia mengaktifkan bom waktu yang ada di tubuhnya.

DUAR.DUAR. Aku menembak dua kali ke tubuh teroris itu, dia langsung tak sadarkan diri. Tiga teroris berhasil di lumpuhkan, namun bom itu siap untuk meledak. Apa yang harus dilakukan ? Aku mencoba tenang. Aku berjalan kea rah teroris itu dan melepas bom itu dari rompinya. Waktunya tinggal 9 menit lagi.

“Ada yang tahu cara menjinakkan bom dalam 8 menit ?”

“Tenanglah…,” sang copilot masih hidup, namun darah keluar dari mulutnya. Nafasnya sesak. Dia sedang sekarat.

“Kamu masih hidup….”

“Tak ada waktu. Cepat ambil obeng dan gunting.”

Aku berlari ke belakang pesawat dan mengambil obeng. Bom itu berbentuk kotak berwarna hitam dengan ada layar kecil sebagai penunjuk waktu dan sekarang tinggal 7.00 menit lagi.

“Buka bagian belakangnya dan kemarilah.”

Untunglah aku tidak buta sama sekali dengan obeng, sekrup dan semacamnya. Penumpang yang lain sudah pada komat kamit, berdoa semoga selamat. Tinggal 5 menit lagi sebelum meledak. Oh my god banyak kabel warna warni di belakangnya namun lebih banyak kabel berwarna jingga. Aku menunjukkan itu pada copilot.

“Kamu sekarat.”

“Itu tak penting. Putuskan kabel hijau dan putih. Ingat jangan sampai kabel lain terputus.”

“Jangan aku yang lakukan…,” kataku.

“Cepatlah.”

Aku menelan ludah dan mengerjakan apa yang dia perintahkan. Kabel itu terletak agak dalam, sulit untuk memotongnya tanpa membuat kabel lain terputus. Dengan hati-hati aku putuskan kabel itu. Jantung berdebar bukan main. Berhasil, nyaris memutuskan kabel lain.

“Kemudian putuskan kabel warna jingga yang ada di paling kanan.”

“Yang ini… ?”

“Iya.”

Waktu tinggal 2 menit lagi.

“Lalu yang mana.”

“Putuskan kabel warna cokelat yang paling kecil diatas.”

Aku tak bisa melakukannya dengan cepat, kabelnya terlalu kecil diatas. Sulit untuk memotongnya. Berhasil, nyaris sekali kabel lain terpotong.

“Lalu yang mana.”

“Potong kabel warna terakhir selain warna jingga.”

“Ada dua, merah atau biru ? Cepatlah tinggal 30 detik lagi.”

Dia berpikir sejenak dalam kondisi yang sekarat.

“Aku tak tahu, pilih saja salah satu. You can do it.”

Bruk. Dia langsung terbujur kaku di tempatnya. Kabel merah atau biru ? Tinggal 15 detik lagi. Merah atau biru ? Nyawa sepesawat ada di tanganku. Tinggal 8 detik lagi. Feeling berkata biru. 3 detik lagi. Aku langsung putuskan kabel berwarna biru.  Bom tidak meledak. Aku berhasil, aku berhasil

“TAAAR.”

Terdengar suara ledakan, tapi kok suaranya berasal dari belakang yah ? Bersamaan dengan suara ledakan itu ada tali-tali putih terbang diatasku. Ini sih ledakan confetti. Aku menoleh kebelakang. Teroris itu masih hidup. Aku menoleh ke belakang, teroris lain tiba-tiba berdiri, begitu juga dengan copilot dan penumpang yang tadi ditembak didepanku. Hah ??? Teroris yang tadi aku hajar membuka topengnya. Loh itu kan…, tunanganku ? Dia berdiri tegak sambil memegang sebuah kotak, seperti kotak cincin. Siaaaal.

 *Sisanya tebak sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s