There’s Something About Alan (PART I)

Happy new year everyone…, sudah tahun 2015. Alhamdulillah Allah masih memberiku umur sampai detik ini. Tahun baru resolusi baru…, hmm kurasa resolusiku masih sama dengan tahun sebelumnya namun kali ini dengan semangat baru dan dengan kata harus diawal kalimatnya. 

Nyerpen lagi setelah sekiaan lama nggak nyerpen. Well i’m working on something bigger. Apapun yang aku dan skita semua kerjakan, asalkan itu baik semoga dapat tercapai Enjoy

“Soal ini ada yang bisa mengerjakan di papan tulis ?”

Hening. Sekejab ruangan kelas berubah menjadi kuburan. Semua nunduk plus ada yang pura-pura menghitung. Dosen berkepala botak itu menatap seluruh isi kelas, sudah seperti setan bertanduk yang mau menyerok manusia laknat ke neraka. Kenapa begini sih ? Aku jadi bingung sendiri.

        “Saya pak,” aku angkat tangan.

        Semua mahasiswa kaget sekaligus takjub. Kayak baru melihat cowok yang mengaku sedang hamil. Aku maju dan langsung menuliskan beberapa baris dengan rapi di papan tulis dengan percaya diri. Wong soal gampil begini.

        “Sudah pak.”

        “Bagus Alan, ini benar,” kata Dosen yang percaya nggak percaya.

        “Apa kamu sudah pernah mengerjakan soal ini sebelumnya ?”

        “Belum pak.”

        “Mmmh, mungkin…, kamu bisa menjelaskan ke teman-teman kamu tentang soal ini. Biasanya kalau yang menjelaskan sama-sama muda bisa lebih cepat kan.”

        Wah, kayaknya ini dosen nggak percaya. Oke aku langsung berbicara dengan detail semua teori yang aku gunakan dan penerapaannya ke soal ini. Kenapa sih ? Emangnya seorang Alan itu bego banget ya di mata mereka sehingga mereka tampangnya begitu banget.

        Pelajaran usai. Aku bersama keempat teman lain makan bersama. Mereka adalah teman-teman terbaikku, kemana-mana selalu bersama. Ada Beno, Charlie, Dhea, dan Erika. Kami menamai geng kami dengan geng ABCDE, ya itu kan singkatan nama kami. Kami semua adalah mahasiswa tingkat tiga jurusan Matematika di universitas terbaik di negeri ini.

        “Gile lo lan. Keren abis tadi ngerjain sama njelasin soalnya.”

        “Ah biasa aja.”

        “Iya. Kayak bukan Alan aja. Minggu ini lo beda banget deh Lan. Jangan-jangan Alan ini Alien yang menyamar lagi.”

        “Eeee…,” aku gugup.

        Bagaimana dia bisa tahu ? Apa dia berhasil masuk ke kosanku aka markasku. This is my little secret. Aku bukan Alan yang mereka maksud, aku adalah Alien yang sedang menyamar. Aku datang dari planet X-216, berjarak 10 juta tahun cahaya dengan sebuah misi, mencari satu pria dan wanita untuk aku bawa ke planetku untuk aku jadikan budak di planetku.

        Aku harus mencari kandidat yang tepat karena manusia yang akan kubawa akan dikloning. Sifat kloningannya akan sama dengan sifat induknya. Aku harus mencari pria yang muda, kuat, baik, dan humble. Untuk wanita aku harus menjadi yang muda, baik, penyayang, dan keibuan. Sebenarnya aku juga belum tahu penerapan sifat-sifat itu seperti apa. Yang jelas apapun sifatnya, mereka akan dijadikan budak yang harus mau mengerjakan semua yang kami inginkan.

        Aku datang hari sabtu lalu. Aku butuh waktu satu hari di dalam pesawat UFO-ku untuk mempelajari kehidupan manusia melalui jaringan internet. Aku jadi tahu susunan masyarakat, semua teori fisika yang berlaku disini, teknologi, pokoknya A-Z kehidupan manusia. Makanya menjawab soal tadi adalah gampang banget. Teknologi disini masih sangat kuno dibanding teknologi di planetku.

        Intelegensi manusia memang tak terbatas namun mereka hanya menggunakannya sedikit. Itulah mengapa kami memilih spesies manusia untuk dijadikan budak.Alan adalah kandidat pria yang aku ambil, dia tampan, sehat, kuat, dan sepertinya baik. Kalau sifat yang tak terlihat, aku hanya bisa menerka-nerka saja. Aku menculiknya dan membuat hologram dirinya untuk di proyeksikan denganku. Jadi sebenarnya tubuh Alan inihanya fatamorgana saja. Tubuh Asli Alan sudah ada di pesawatku yang kusimpan di langit kosan Alan, tentu sudah aku buat agar invisible.

        Untuk mencari kandidat aku mempunyai alat pemindai yang terhubung ke retina mata. Dengan alat itu aku bisa mengetahui susunan biologis manusia jadi aku tahu apakah dia sehat atau tidak. Pemindai juga bisa memberikan clue sifat manusia yang kupindai, namun keakuratannya hanya 50 %. Untuk tahu pasti, aku harus menyelidikinya.

        Sekarang aku hanya tinggal mencari kandidat wanita. Cukup sulit. Aku belum yakin apakah kandidat yang mau aku ambil ini cocok untuk tidak. Dialah Dhea, pemindai mengatakan kalau susunan biologisnya sehat dan masuk kriteria. Namun aku masih harus membuktikan sifatnya dulu. Budak wanita akan dijadikan budak rumah dan bayi, jadi aku tak boleh salah pilih.

        “Woy, ngelamun lagi lo Alan. Ngelamunin apa ? Gue Cuma becanda kali. Mana mungkin lo itu alien.”

        “Pada mau mesen apa ?” kantin mengambil konsep outdoor foodcourt.

        “Gue pecel ayam, lo mau ayam penyet Lie ?” Charlie mengangguk.

        “Gue Mie Yamin.”

        “Gue Ayam Bakar aja. Lo pesen apa Lan ?”

        “Emm…, gue puasa.”

        “Puasa apaan ? Ini kan hari Rabu.”

        “Iya, dari kemarin lo puasa mulu. Lo lagi diet ?”

        “Puasa…, bayar hutang.”

        “Bayar hutang mulu. Berapa hari sih ?”

        “7 hari.”

        “Kayaknya lo kemarin nggak ada yang batal deh. Lo sehat-sehat aja kok pas bulan puasa kemarin. Gue inget banget kok,” kata Beno. Gue langsung mengakses database bumi melalui internet yang terintegrasi dengan tubuh gue untuk mencari alasan yang tepat.

        “Gue batal bukan karena sakit yang harus membuat gue minum obat.”

        “Loh terus kenapa ?”

        “Karena gue mengeluarkan sesuatu yang seharusnya tidak dikeluarkan dari….”

        Dhea langsung menyeburkan air minum yang lagi dia teguk ketika gue menyelesaikan kalimat itu. Teman yang lain langsung cengo. Kenapa ? Apa gue salah ya ? Apa alasan itu tidak bisa diterima.

        “Bro…, ada cewek disini. Plis lah,” kata Charlie.

        “Jadi lo tujuh hari batal karena….”

        “Udah deh Ben. Kalau masih mau ngomongin itu gue pindah nih.”

        Alasan sebenarnya aku tidak makan adalah karena aku tidak boleh mennerima H20 aka air. Air adalah racun bagi spesiesku. Sekali aku terkena air dalam bentuk cair maka kulitku akan melumer, seperti manusia yang terkena asam kuat. Air yang terkandung dalam minuman, makanan dan genangan adalah musuh bagiku. Udara ini pun mengandung uap air, makanya aku tidak bisa lama-lama disini. Paling tidak hari minggu aku sudah harus pulang ke planetku.

        Aku selalu mengenakan pakaian panjang dengan celana panjang. Pakaian ini juga sudah aku semprot dengan polimer khusus yang aku bawa dari planetku. Apabila ada semprotan air maka baju ini tidak akan menyerapnya. Jadi hanya telapak tangan dan wajahku yang harus kulindungi.

        Satu-satunya yang menjadi makananku adalah apa yang ada di dalam botol logamku. Dari luar terlihat seperti termos kecil biasa, namun isinya adalah nitrogen cair.  Untunglah udara dibumi 79 %nya nitrogen, sehingga aku tak perlu mengenakan masker. Oksigen hanya akan menjadi zat inert untukku. Aku meneguk nitrogen cair itu.

        “Loh kok lo minuum, katanya puasaaa.”

        “Iya gimana siiih.”

        Aduh aku kelepasan. Search di database yang sudah aku bajak. Alasan apa ya.

        “Lupa,” jawabku singat.

        “Bener lupa ? Yaudah kalau bener mah nggak apa-apa.”

        Kebersamaan bersama mereka mengajarkanku sesuatu yang tidak bisa aku dapat di internet, mengenai persahabatan, canda, dan ego manusia.

        “Mau kemana lo Lan ?”

        “Mau ke belakang sebentar.”

        Alasan sebenarnya adalah aku mau berkeliling kampus dan mencari kandidat, hanya dengan melihat dan memindainya. Kampus adalah tempat yang paling tepat untuk mencari kandidat, manusia muda disini idealis dan humble. Aku sudah keliling kota dan memindai beberapa manusia dengan random. Mahasiswa memberikan hasil yang lebih baik, sekarang aku hanya tinggal mencari yang terbaik dari yang terbaik.

*

        Kuliah hari ini diakhiri dengan kuis yang amat sangat mudah. Kenapa pada lesu begitu pas dibilang mau kuis. Well itu yang disebut perasaan malas. Oke, nanti aku akan rekomendasikan untuk ditanamkan program antimalas di induk manusia yang akan di cloning.

        Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Langit yang mendung akhirnya menumpahkan air juga. Gawaat. Hujan turun dengan deras. Walaupun sudah membawa jas hujan lebih baik aku tidak cari mati dan menunggu sampai hujan reda.

        “Hujan niih. Gue balik duluan dah pake payung.”

        “Gue nunggu sampe reda dulu dah. Ga bawa payung,” kataku.

        Kos-kosan kami berdekatan, jadi biasanya kami pulang bersama naik angkot.

        “Gue bawa kok, ntar gue anterin dulu ke kos lo,” kata Beno.

        “Nggak. Gue lagi nggak fit, takut kalau keujanan dikit malah sakit. Gue ke kantin dulu aja.”

        “Sejam lagi emang magrib sih. Lo mau buka puasa dulu yah ?”

        “I…,iya.”

        “Yaudah gue temenin lah,” kata Dhea.

        Beno dan Erika pulang duluan sedangkan Charlie ada kumpul unit go green. Aku duduk di kantin bersama dengan Dhea, berharap hujan akan berhenti sebelum magrib atau aku akan dalam masalah.

        “Kok lo nggak balik sama Beno sama Erika. Ada janji ?”

        “Nggak. Gue lagi males balik cepet aja.”

        Gue memindai Dhea sekali lagi, secara fisik dia oke, badan ideal dan sehat. Secara non fisik dia baik dan perhatian. Kalau sampai Sabtu aku tak menemukan calon yang lebih baik, maka aku akan membawa Dhea saja.

        “Kalau gue perhatiin, minggu ini lo berbeda.”

        “Berbeda gimana ?”

        Aku mulai curiga. Penyamaranku tak boleh ketahuan. Siapapun yang tahu akan langsung aku hancur leburkan. Aku dilengkapi dengan laser yang bisa mengoyak intan sekalipun dalam 1 detik.

        “Berbeda aja. Kayak bukan Alan yang gue kenal.”

        “Emang gue terlihat berbeda ?” kataku sambil melihat tubuh gue sendiri, takut kalau hologramnya eror.

        “Nggak…, fisik lo emang Alan yang gue kenal, ganteng, atletis, dam sexy. Haha”

        “Terus ?”

        “Sikap lo aja yang aneh. Lo jadi lebih kaku dan pintar.”

        “Lo lebih suka Alan yang mana ?”

        “Ya Alan lo lah. Emang ada berapa Alan ? Bagaimanapun gue suka lo apa adanya kok.”

        “Iya ya. Kalau boleh jujur gue juga suka cewek kayak lo. Lo itu cewek yang paling memenuhi kriteria,” ups hampir aja keceplosan.

        “Ah yang bener.”

        Dhea memegang tanganku yang nganggur di atas meja dan kemudian menatapku dalam-dalam. Pemindai memberi sinyal otomatis kepadaku.

        “Scaning complete. Detak jantung target mengalami peningkatan drastis diikuti dengan meningkatnya hormone adrenalin. Ada sebuah energy kuat yang tiba-tiba muncul dari dalam diri target.”

        “Kamu kenapa ? Kamu mau meledak ?” aku panik dan langsung memegang tangan Dhea dengan erat. Pemindai mengatakan kalau detak jantung Dhea malah bertambah kencang.

        “Meledak ?”

        “Kamu kenapa ? Jangan meledak dulu. Kamu adalah wanita yang paling berkualifikasi yang pernah aku temui.”

        Dhea cengo. Aku melepaskan pegangan tanganku dari Dhea. Kulit tangannya mengandung H20.

        “Aku baik-baik saja. Relaks.”

        Bersamaan dengan itu pemindai mengatakan kalau detak jantung Dhea sudah kembali normal. Fuih.

        “Eh kamu belum pesen makan loh. 10 menit lagi buka.”

        Gawat. Hujan belum ada tanda-tanda mau berhenti. Daripada terjebak harus minum air, lebih baik aku pulang dengan menerjang hujan mengenakan jas hujan.

        “Aku mau pulang dulu,” kataku sambil mengeluarkan jas hujan yang menutupi seluruh tubuh.

        “Hah ? Serius pake jas hujan begituan ? Kupikir pake payung. Mending buka puasa dulu aja.”

        “Nggak usah. Aku mau pulang.”

        Aku langusng pergi dari hadpan Dhea yang kebingungan.

*

        “Jumat sore nih. Eh jangan lupa ya besok sama rencana kita. Kumpul di depan gerbang jam 7 pagi ya,” kata Beno.

        “Emang mau kemana ?”

        “Eh kita dah lama rencanain ini. Tabok deh kalau sampe lupa,” kata Erika.

        “Oh oke,” sebenarnya mau kemana besok ? Supaya tidak mencurigakan diiyakan sajalah.

        Besok malam aku harus pulang ke planetku. Aku sudah memindai semua mahasiswa dan tak ada yang sebagus Dhea. Besok aku akan bius dia dan akan kubawa ke planetku untuk di cloning. Rumaah, walau hanya seminggu meninggalkan rumah rasanya rindu. Aku menciptakan lubang cacing untuk membuat jalan pulang dari bumi ke planetku. Perjalanan 1 juta tahun cahaya akan kutempuh dalam waktu 1 menit saja.

        “Makan yuk.”

        “Yuk ah, makan dimana ?’

        “Steak WS yuk. Udah lama nih.”

        “Yuk ah langsung.”

        Ini sudah jam 7 malam. Alasan apa yang bisa aku pakai untuk mengelak ? Lebih baik aku tidak usah ikut makan saja.

        “Eh gue nggak ikutan deh.”

        “Loh kenapa Lan ?”

        “Gue…,” searching alasan yang paling baik, alasan yang masuk akal namun tidak membuat teman merasa sebel sama aku. Satu alasan ditemukan…, sakit perut.

        “Gue mau sakit perut.”

        “Hah ?” teman-teman bingung.

        “Kok sakit perut mau, gimana sih ? Lo mau boker lan ?”

        “Nggak. Gue mau sakit perut.”

        “Apa sih ? Lo ngigo ya ?” Dhea bingung.

        Kenapa malah pada bingung ? Kayaknya harus cari alasan lain nih. Satu alasan lain ditemukan…, orang tua datang.

        “Maksudnya orang tua datang.”

        “Hah ? Sakit perut sama orang tua gue datang kan beda banget. Bonyok lo yang dari Padang datang ? Kapan datang, kok nggak cerita-cerita ?”

        Searching database. Satu hasil yang paling mendekati ditemukan. Jadwal keberangkatan dengan pesawat sitilink, nomor penerbangan ST120k, jam…

        “Oke, dengan penerbangan ST120k, jam 14.30-15.35, tipe pesawat boeing 737 keluaran tahun 2008.”

        “Maksudnya sekarang dah dikosan ?”

        “Iya.”

        “Dalam rangka apa datang ?”

        Searching untuk alasan kenpaa orang tua datang ke kosan anaknya. Beberapa alasan yang paling relevan dengan situasi ditemukan…, menengok anaknya yang sakit, dikenalin sama calon isteri, wisudaan, kondangan saudara disini.

        “Mau nengokin anaknya yang lagi sakit.”

        “Hah ? Jadi lo sakit perut doang terus bonyok lo datang buat nengokin ?”

        “Bukan, maksudnya mereka mau datang buat dikenalin sama calon isteri gue.”

        “HAH JADI LO UDAH MAU NIKAH ?” Dhea kaget.

        Pemindai langsung bereaksi. Detak jantung berdebar kencang disertai perasaan yang sama seperti perasaan manusia yang sudah berada di kondisi mau mati. Produksi air mata mulai meningkat disertai dengan emosi yang tidak stabil.

        “Dhea kamu kenapa ? Kamu mau mati ? Kumohon jangan mati ?” aku panik.

        “Aku kaget banget.”

        Detak jantung makin berdebar. Tingkat emosi meningkat ke tingkat yang mengkhawatirkan, dapat memicu ke kondisi ledakan atau penghancuran sel menjadi bentuk energy murni.

        “Dhea kamu jangan mati…., aku butuh kamu. Kamu itu calon yang ideal buat aku,” aku memegang tangan Dhea dengan erat.

        “Jadi calonnya Dhea ?” tanya Erika dan Beno bersamaan.

        “Loh kok kalian tahu tentang calon itu. Kalian tahu yang sebenarnya ?”

        “Tahu apa sih ?”

        Detak jantung target berdebar kencang namun disertai perubahan emosi ke tingkat yang menggembirakan. Energi positif mulai terbendung dengan besar. Dapat memicu tarian gembira dan teriakan histeris yang dapat memecahkan kaca. Tanda penghancuran sel negative.

        “Huh aman…, Dhea kamu sudah nggak apa-apa.”

        “Alan, lo kenapa sih ?”

        Semua meliht ke arah gue. KOmputer, selamatkan gue. Satu alasan untuk menyelamatkan diri dari situasi ditemukan…, Cuma bercanda kok. Ayo makan.

        “Gue Cuma bercanda kok. Ayo makan.”

        “Konslet kayaknya nih anak. Udah ah, gue laper.”

        Kami menuju ke warung steak dekat kampus. Loh kok malah makan ? Ya ampun gue nggak kepikiran dan malah langsung pakai alasan searchingan computer lagi. Aduh bagaimana ini. Sekali aku meneguk air maka aku akan langsung mati.

        Restoran cukup ramai namun masih ada tempat. Aku membolak-balikkan buku menu. Apakah ada yang tidak mengandung air di dalamnya. Komputer tolong scan dan cari. Hasil menunjukkan semua menu mengandung air.

        “Pesen apa lo Lan ?”

        “Apa ya ? Gue nggak makan deh.”

        “Udah pesenin aja sirloin steak sama milkshake.”

        Mati aku. Tak lama kemudian pesanan datang. Aku bisa merasakan kematian dari piring itu.

        “Ayo makan Lan. Lo nunggu apa lagi ?”

        Aku sudah memikirkan cara keluar dari situasi ini. Sebenarnya cukup mudah. Aku melihat ke langit-langit. Kunci target. Inisiasi isolasi aliran listrik dalam waktu 5 detik. 5,4,3,2,1. Seketika listrik di restoran mati. Kondisi jadi gelap. Aku dapat mengendalikan aliran listrik dengan teknologiku.

        “Mati lampu-mati lampu,” pengunjung mulai berkomentar.

        Aku langsung menatap ke piring dan gelasku. Inisiasi ledakan dalam waktu 3 detik, 3,2,1. DUAR. Bunyi ledakan kecil terdengar. Aku baru saja menggunakan laser pemusnahku dalam intensitas sangat kecil. Daging dan air di gelas sudah lenyap.

        “Apatuh ?” teman-temanku mendengar suara itu.

        Hentikan isolasi aliran listrik. Dalam sekejab lampu restoran kembali nyala.

        “Alhamdulillah nyala lagi. Lo tadi denger ledakan nggak. Kayaknya dimeja ini.”

        “Iya…, dimana ya,” Charlie melihat ke sekeliling, siapa tahu ada bekas. Teknologiku tak sejelek itu, tak akan meninggalkan bekas.

        “Perasaan kalian doang kali.”

        “Loh makanan lo dah abis Lan ? Kayaknya tadi masih penuh”

        “Gue kan makannya cepet. Emangnya lo. Udah makan-makan, nanti mati lampu lagi loh.

*

        Sebenarnya aku bingung mau kemana tapi yasudah aku ikuti saja teman-temanku ini. Yang penting cuacanya cerahrahrah. Habis ini aku akan membius Dhea dan membawanya ke planetku. Setelah itu misi selesai dan aku akan dapat penghargaan atas jasaku.

        “Kita dah sampai.”

        Kami sampai di depan sebuah gapura. Kami berfoto-foto dulu di depan gapura lalu berjalan beberapa ratus meter. Suara yang membuatku merinding mulai terdengar. Sebuah sungai dengan aliran deras terpampang di depan mataku.

        “Wuhuu, rafting. Yuk ah pake lifevestnya terus siap basah-basahan.”

        Mati aku.

* bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s