There’s Something About Alan (PART II)

 Well…, enjoy part 2 ya. Just wanna say…, mimpi adalah angan-angan sedangkan realita adalah kenyataan. Batas antara mimpi dengan realita hanyalah sebuah zona abu-abu yang dibatasi oleh sebuah garis yang disebut niat, kemauan, dan usaha.

Sebenarnya aku bingung mau kemana tapi yasudah aku ikuti saja teman-temanku ini. Yang penting cuacanya cerahrahrah. Habis ini aku akan membius Dhea dan membawanya ke planetku. Setelah itu misi selesai dan aku akan dapat penghargaan atas jasaku.

“Kita dah sampai.”

Kami sampai di depan sebuah gapura. Kami berfoto-foto dulu di depan gapura lalu berjalan beberapa ratus meter. Suara yang membuatku merinding mulai terdengar. Sebuah sungai dengan aliran deras terpampang di depan mataku.

“Wuhuu, rafting. Yuk ah pake lifevestnya terus siap basah-basahan.”

Mati aku.

“Gimana ini ?” kataku.

“Gimana apanya ?”

“Rafting tuh pasti basah ya ?”

“Yaiyalah Lan. Kok pertanyaan lo aneh banget sih.”

“Gue nggak bisa berenang,” kata gue menggunakan alasan yang ditemukan didatabase.

“Bohong banget deh. Jelas-jelas renang lo jago. Lagian kan kita pake lifevest.”

Kami sudah sampai di pinggir sungai. Bunyi air yang kencang menandakan derasanya arus. Aku gemetaran dan panik.

“Lo kenapa Lan ?” tanya Dhea.

“Aku takut.”

“Tenang, kan ada kita-kita disini. Kita nggak akan ngebiarin lo celaka.”

“Eh ganti baju dulu ah gue. Mau ganti celana pendek.”

Yang lain ganti celana pendek dan kaus aku malah menambahkan sarung tangan dan kupluk. Bodo amat, aku masih belum mau mati.Hanya wajahku saja yang terpapar udara luar. Namun bagaimanapun apabila air terkena wajah maka akan langsung lumer permanen dan apabila tertelan maka aku akan langsung mati dalam waktu 60 menit.

“Kok lo malah pake baju gitu sih Lan ?”

“Emang nggak boleh ?”

“Ya tapi aneh aja. Mending pake kaus sama celana pendek,” kata Dhea.

“Bilang aja lo mau lihat body Alan yang sexy kan Dhe,” goda Beno.

“Tahu aja lo. Yoweslah terserah Alan. Yuk.”

Aku mendengarkan safety briefing dengan cermat. Ini perjuangan hidup mati untukku. Aku naik ke atas perahu karet dengan melompat, tak membiarkan air mengenai kakiku. Ketakutan yang belum pernah aku alami sebelumnya.

“Lo takut amat sih Lan. Nyantai aja keles.”

“Ya,” kataku namun masih panik.

Track rafting kurang lebih 2 km. Arus deras seperti ini ditambah medan yang berbatu sangat rawan membuat perahu terbalik. Sekali terbalik maka habislah sudah aku. Petualangan dimulai. Aku diminta untuk mendayung. Tentu tanganku terkena siraman air, namun pakaian yang kupakai melindungiku dari air yang langsung mengenai kulit.

“AAA, AAA, AAA,” aku teriak saat perahu agak-agak miring.

“Buset, kenceng amat teriakan lo Lan.”

Aku bersyukur karena tidak jadi jatuh. Teman-teman yang lain sudah pada basah, sedangkan aku masih kering. Jangan sampai setetespun mengenai wajahku.

“WHOAAA,” aku teriak ketika perahu melaju cepat. Dhea memegang tanganku untuk membuatku tenang. Dia duduk disebelahku. Aku mencengkram tangannya. Didepan ada batu besar, sudah pasti akan menabrak dan terbalik. Kok teman-teman malah pingin banget terbalik ya rasanya. Tinggal 10 meter menuju batu.

“MATI AKUUU,” aku teriak.

Initiate combustion. Dalam waktu 3 detik batu yang ada didepanku langsung pecah. Semua langsung kaget. Selamat deh. Aku menarik nafas lega.

“Siapa yang jadi toph bei fong barusan ? Kok batunya pecah sendiri ?” semua bertanya demikian.

Perjalanan kemudian relative aman sampai kami ke puncak perjalanan. Sebuah jurang air setinggi setengah meter lebih ditambah arus yang deras. Ini sebuah resep sempurna untuk terbalik dan mati. Aku berpikir, batu mana yang harus dihancurkan. Tak ada batu. Perahu mulai mengencang.”

“WHOAA,” aku melepaskan dayung dan memeluk Dhea disampingku.

Pemindai bekerja kepada Dhea. Jantung berdebar kencang. Energi positif itu kembali meningkat. Dapat menimbulkan efek ledakan. Pemindai memang berkata demikian, namun yang aku dengar hanya detak jantung yang memang lebih kencang.

Akhirnya selesai juga. Aku tidak jadi mati.  Perahu merapat ke pinggiran. Aku melompat dari perahu dan langsung berlari ke pinggiran. Aman-aman-aman. Kadar ketakutanku mulai menurun.

“Gila seru banget yah. Lo penakut amat Lan. Gue baru tahu.”

“Soalnya air sih,” Ups hampir keceplosan.

“Laper nih, makan yuk. Didepan ada warung seafood yang terkenal enaknya.”

“Woke.”

Walah, bagaimana ini. Kalau siang hari mana ada lampu yang bisa dimatikan. Aku yakin akan menemukan caranya nanti dan cerita ini akan menjadi oleh-oleh tak terlupakan dalam perjalananku ini. Kami berjalan menyusuri tebing dipinggir sungai untuk naik ke jalan.

“Aaah,” jalanan licin dan gue kepeleset. Dibawah adalah sungai dengan aliran yang deras.

Dhea langsung memegang tanganku. Namun tubuhnyakecil, tidak akan kuat untuk menahan tubuhku yang lebih berat. Dia jadi ikut meluncur di tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat ini. Kalau dia melepas tangannya maka dia akan selamat namun tentu tidak denganku. Kami berdua bersiap meluncur ke bawah. Beno langsung memegang kaki Dhea. Charlie dan Erika langsung menarik Beno.

“Angkat-angkat…,” kata Dhea.

Dari wajahnya dia sepertinya sudah tidak kuat untuk memegangku. Namun tangannya taka da tanda-tanda mau melepaskan. Aku memandang mata Dhea dalam-dalam. Kenapa dia mau mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menolongku ? Dia bisa saja ikut tercebur dan mati terseret arus atau terbentur batu.

“Gue nggak akan ngelepasin tangan lo Lan.”

Ada apa dengan spesies ini ? Tak ada satupun di planetku yang mau begini. Semua hidup individualis dan mau menang sendiri. Kami adalah makhluk berintelegensi tinggi yang kuat dan berteknologi. Sedangkan manusia hanya makhluk lemah yang primitive, tapi kenapa manusia mau berbuat seperti ini ? Apakah karena mereka bodoh ?

Pemindai bekerja, mengatakan hasil kepadaku. Perasaan target berubah drastic. Kesenangan sirna, digantikan dengan perasaan takut. Energi tak terduga terinisiasi pada tubuh target. Kemampuan fisik sedang digunakan melebihi kapasitasnya berkat energi itu. Sumber energy tak terduga masih belum dapat didefinisikan.

        “Tolong, tolong,” Erika berteriak.

Petugas rafting yang melihat kejadian langsung berlari dan membantu kami. Aku ditarik ke atas. Aman,aku tak jadi mati. Wajahku pucat. Dhea langsung memelukku.

“Gue kira bakal kehilangan lo.”

“Terimakasih karena sudah menyelamatkan gue.”

“Makanya hati-hati bro.”

Fuih, insiden beakhir. Kami sampai di depan jalan besar dan masuk ke dalam restoran seafood yang kami tuju.

Yang aku pikirkan adalah energy itu…,energi positif yang timbul pada diri Dhea. Beberapa kali pemindai mendeteksi energy itu, ketika di kampus dan tadi ketika aku hampir jatuh. Energi kuat yang bisa menimbulkan ledakan sel-sel. Dan ketika energy itu digunakan, maka bisa membuat Dhea melakukan hal yang berada di luar kapasitasnya. Darimana sumber energy itu ? Perasaannya adalah takut dan terancam, memangnya ada energy besar dari ketakutan dan keterancaman ? Komputerpun masih belum dapat mendefisinikannya. Kenapa aku tak bisa melacak energy itu dari teman yang lain ?

“Mikirin apa lo, ayo makan.”

Walah, ternyata sudah ada ikan, udang, cumi, dan sayur mayor di depan mata. Fokusku lebih terarah ke energy positif itu bukan ke cara aman dari air.

“Aku lagi nggak laper, buat kalian aja.”

“Mulai lagi deh ni anak konslet. Tabok juga deh lo. Mana kuat kita ngabisin ini semua tanpa lo.”

Erika langsung menuangkan nasi ikan dan lauk ke piringku. Waduh gimana nih ?

“Eh lihat, ada UFO,” kataku sambil menunjuk ke langit melalui jendela.

“Mana-mana.”

Aku langsung meledakkan makanan di piringku dalam sekejab.

*

“Seru yah hari ini.”

Kalimat itu masih saja diucapkan bahkan ketika kami sudah sampai di depan gerbang kampus. Kami pulang naik angkot. Urutan turun adalah Erika dan Beno, aku dan Dhea, lalu Charlie. Sebenarnya hanya beda beberapa gang saja.

Aku turun dengan Dhea di gang nomor 3. Sekaranglah saatnya untuk membiusnya dan membuatnya jalan sambil tertidur ke kosku untuk kunaikan ke pesawat. Tapi…, ada suatu hal yang mendorongku untuk melakukannya. Dia begitu baik…, aku tak tega untuk menjadikannya budak di planetku. Budak tak akan diperlakukan dengan baik, mereka hanya akan dianggap hama.

“Ada satu hal yang ingin kamu ucapkan ?”

“Eh, kenapa emang ?”

“Kos lo kan belok sana.”

“Emmm…, sebenarnya gue hanya bingung.”

“Bingung kenapa ?”

“Sewaktu tadi gue mau jatuh, kenapa lo nggak melepaskan gue ?”

“Ya mana mungkin lah. Ntar lo mati dodol.”

“Sesimpel itukah jawabannya ?”

“Loh emang harus jawab apa ?”

“Lo ketahuaan banget nggak kuat gitu pas mau ngangkat gue. Ada energy takterduga yang muncul dari dalam diri lo. Sebuah energy besar yang membuat lo kuat untuk menahan tubuh gue. Gue penasaran darimana asal energy itu ? Energi yang diinisasi dari perasaan takut itu ? Lo nggak mengkonversi satu sel pun tubuh lo ke energy murni mc2. Jadi darimana asal energy itu ? Dan satu lagi, gue nggak menemukan energy besar ini terinisiasi dari teman-teman yang lain”

Dhea cengo sambil bingung.

“Gue nggak ngerti apa yang lo ucapkan namun yang membuat gue nggak mau melepaskan pegangan tangan itu adalah karena gue nggak mau kehilangan lo.”

“Iya lo takut kehilangan gue, apapun yang berada dibalik perasaan takut itu menginisasi ke energy murni yang besar ? Kenapa lo nggak mau kehilangan gue ?”

“Karena…, gue cinta sama lo Lan.”

“Cinta ?”

Komputer…, tolong searching tentang cinta. Aku bergumam dalam hati. Satu hasil ditemukan, cinta atau love adalah…..

“Jadi karena yang namanya cinta ?”

Dhea tersenyum dan mengangguk. Energi positif kembali terinisiasi membuat detak jantung lebih kencang.

Aku bergumam dalam hati. Computer definisikan energy ini sebagai cinta. Ambil semua informasi dari worldwideweb tentang cinta dan masukan ke database untuk aku bawa ke planetku.

“Terimakasih Dhea.”

“Terimakasih untuk ?”

“Karena sudah menunjukkan cinta kepada gue.”

“Jadi ya atau tidak ? Seharusnya cowok yang melakukan ini.”

“Ya atau tidak ?”

Apalagi ini ? Memangnya cinta itu harus ya atau tidak ? Ya saja deh.

“Iya,” jawabku sambil senyum

Dhea langsung memelukku. Pemindai memberikan suara ke benakku. Energy positif dideifinisikan sebagai cinta terinisiasi dengan sangat banyak. Ledakan energy baru saja terjadi di dalam diri target. Target sedang mengekspresikan ledakan itu sekarang sekaligus mentrasfernya ke tubuh Anda.

        Dhea melepas pelukanku, tersenyum dan berbalik. Aku menarik nafas panjang. Aku merasa bersemangat, merasa baru, merasa segar. Jadi seperti ini rasa energy yang disebut cinta itu. Kurasa penemuan ini jauh lebih berharga dibandingkan dengan membawa manusia untuk dijadikan budak. Komputer tolong rekam energy ini dan simpan baik-baik untuk kubawa ke planet berserta semua catatan di world wide web tentang cinta.

Aku kembali ke kosan, mengurungkan niat untuk menyelesaikan misi ini. Aku berhasil menemukan misi lain yang lebih berharga. Aku harus segera pulang dan menyampaikan penemuan ini ke pemimpinku. Oh ya, aku harus lepaskan Alan yang asli terlebih dahulu.

*

Keesokan harinya.

        “Nih flashdisk yang isinya foto-foto rafting kemarin,” kata Erika.

“Rafting, bukannya Rafting baru minggu depan  ? Sekarang tanggal 5 kan ?”

“Mulai konslet lagi nih si Alan, sekarang tanggal 12.”

“Hai sayaang…,” kata Dhea langsung memeluk.

“Sayang ?”

“Cie yang pasangan baru, pasti lagi hot-hotnya,” goda Beno.

“Gue jadian sama Dhea ?”

*

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s