Balada Pengantin Baru

Akhir-akhir ini termenung dengan undangan-undangan kawinan temen-temen yang berdatangan. Hmm, semuanya sudah mulai bersiap, mengambil satu langkah penting dalam sebuah kehidupan. Perlahan tapi pasti semua temen-temen juga bakal ngasih undangan satu persatu. Dan gue ? Gue belum berpikir sama sekali nggk berpikir kesana. Well semua orang punya hidupnya masing-masing kan ? Jadi menanyakan pertanyaan kapan nikah itu sama aja kayak menyebut Lord Voldemort di kisah Harry Potter. Kalau habis nikah pasti bakal jadi pengantin baru doong, nah gue cuma mau bermain-main imajinasi dikit dengan kisah fiksi pasangan yang baru nikah. Enjoy…

Dari sudut pandang laki-laki

Nit-nit-nit. Hadooh, plis deh ini hari libur, masa sih dibangunin sama alarm. Seinget gue, gue nggak nyalain alarm. Kalau begitu siapa ? Gue langsung membuka mata. Ada sosok lain di sebelah gue. Jangan teriak, memang selama 6 hari ini sudah ada sosok ini yang menemani gue tidur. Huuh, dia yang nyalain alarm, malah dia kagak bangun duluan.

Dia adalah Dian, wanita yang membuat gue berjanji untuk membahagiakannya seumur hidup gue. Kita menikah 6 hari lalu. Walau masa pacaran kita singkat, Cuma 6 bulan, gue merasa cocok dan…, pokoknya nggak bisa dijelaskan. Ada sesuatu yang membuat gue berpikir dan merasa kalau she’s the one. Mungkin ini yang disebutkan kalau jodoh tidak kemana.

“Eh udah jam berapa nih ?”

Akhirnya Dian bangun. Jam 10 pagi. Dia kemudian mematikan alarm dan mengulet. Jarang memang gue bangun sesiang ini. Ya memang karena kami tidur cukup malam juga. Dian terduduk dan tersenyum manis kea rah gue. Seketika gejolak dan asmara terbakar di hati. Belum lagi cinta yang menjadi bara api antara gue dengannya. Dia kembali berbaring dan berbisik di sebelah gue.

“Kamu lapar ?”

“Tentu sayang. Aku menghabiskan banyak tenaga tadi malam.”

“Aku akan siapkan makan,” katanya lalu kemudian mencium bibir gue selama sedetik.

Aaah, I love her very much. Kalau kata orang sih cintanya cowok itu gede di awalnya aja, makin lama akan berkurang. Well…, gue akan buktikan kalau itu salah.

Dari sudut pandang perempuan

 Aaah, indahnya pernikahan. Aku merasa lebih stabil dan terlindungi. Dia adalah Andi, pria yang aku pilih untuk menjadi orang yang akan bertanggung jawab kepadaku. Well, kalau dia akan melakukan tanggung jawabnya ya aku juga harus melakukan kewajibanku. Aku bangun, mengenakan pakaian dan langsung kedapur.

Sambil memasak sarapan, aku berpikir sejenak. Kami baru menikah selama 7 hari dengan waktu pacaran baru 6 bulan. Waktu yang sangat singkat untuk masa pacaran. Aku juga masih tergolong muda, aku 24 sedangkan dia 25 tahun. Kalau boleh jujur, ketika dia melamarku aku juga masih belum yakin 100 %. Tapia da sesuatu yang membuat gue bertindak harus menerima lamaran itu. Mungkin ini yang disebut dengan kalau jodoh nggak kemana.

Seketika ada tangan yang memelukku dari belakang dan menghembuskan nafas di leherku. Bulu kudukku langsung merindih, namun gairah ini menenangkanku, membuatku melepaskan hormone yang membuatku ikhlas untuk diperlakukan seperti ini.

“Masak apa ?” bisiknya.

“Nasih goreng.”

“Aku sudah lapar.”

“Tak lebih lama dari 15 menit lagi.”

“Kurasa akan lebih lama dari itu…, sayang…,” dia berbisik pelan di telingaku.

 

*

Dua piring nasi goreng sudah terhidang di meja. Aku memang tak pandai memasak, masih dalam tahap belajar. Mertuaku berjanji akan memberikan les privat memasak untukku, dimulai besok. Aku sudah mencicip ini, memang rasanya tak terlalu enak, namun kupikir tak seburuk itulah.

“Ayo makan mas.”

Dari sudut pandang laki-laki.

 Rasanya lapar dan ingin makan orang. Dari baunya sih…, kayaknya nggak enak. Gue udah terbiasa makan makanan enak yang dimasak sama nyokap, jadi sekalinya makan makanan yang rasanya agak aneh, lidah gue langsung menerjemahkan itu menjadi sesuatu yang nggak enak. Tapi sekarang gue Cuma tinggal berdua sama Dian, jadi mau nggak mau ya makan masakan dia.

Selama 6 hari ini gue makan masakan dia dan…, kalau dinilai 1 sampai 10 masakan dia itu 4 kali ya. Pernah sekali dia masak yang menurut gue nilainya minus. Haduuh sayur lodeh buatannya disaster banget. Tapi sebagai suami gue harus hargai usahanya. Toh dia juga bakal belajar masak ama nyokap nanti.

Satu suapan…, hmmm, nilainya 3,5 lah. Nasi goreng apa sih ini ? Warnanya sih nasi goreng merah tapi rasanya kok kayak…, au deh kayak apa ini. Untung gue lagi laper, jadi apa aja bakal gue hajar

“Gimana mas ? Nggak enak ya ?”

“Enak banget kok,” gue memasukkan 2 suapan lagi.

Dari sudut pandang perempuan.

 Dia bohong. Jelas-jelas rasanya aneh banget. Dia Cuma pingin nyenengin aku aja. Dan aku yakin dia lahap karena lagi lapar. Aku juga lapar, jadi makan aja lah nasi goreng ancur ini.

“Oh ya nanti jadi kan ke Acu Hardwarenya ?”

“Jadi dong. Katanya mau cari lampu hias buat ruang tamu. Jam 11an aja berangkatnya biar nggak macet.”

“Oke.”

Rumah ini masih kosong. Kami bersikeras untuk tinggal terpisah dari kedua orang tua. Jadilah kami membeli rumah kecil ini dengan cicilan selama 15 tahun. Uang DP rumah ini membuat kami menunda bulan madu.

Ya tidak sepenuhnya kosong juga. Ketika kami kawinan, teman-teman kantor banyak yang memberikan perabotan rumah. Kulkas, kompor dan lemari itu adalah pemberian. Mama dan papa juga menyumbangkan perabotan yang tidak terpakai di rumah. Jadilah rumah mungil sederhana yang secara perlahan akan kami lengkapi isinya.

“Yuk ah aku mandi dulu.”

Gila cepet banget makannya padahal kan rasanya ancur banget. Apa jangan-jangan pas aku nggak ngeh tadi dia buang makannya ? Aku jadi curiga nih. Dibuang kemana tuh makanan ?

Dari sudut pandang laki-laki.

 Lebih baik makannya nggak usah dikunyah biar rasanya nggak kerasa banget. Jadinya cepet deh makan gue. Haha. Sudah hampir jam 11. Gue langsung masuk ke kamar mandi.

Paling tidak hari senin gue udah bisa makan makanan enak lagi di kantin kantor. Jatah cuti nikah sudah habis. Senin lusa sudah harus masuk. Dian juga bekerja. Hari gini susah juga kalau cewek nggak ikutan kerja. Huuuh, rasanya agak malas juga sih kerja tapi kalau mengingat cicilan rumah dan Dian yang harus aku tanggung…, semangatku langsung terbakar.

“Mas…,” Dian menyapa dari luar.

“Ya.”

“Sampo sama sabun dah abis belum ?”

“Samponya tinggal dikit banget, sabun masih ada. Kenapa ?”

“Nanti sekalian belanja aja. Aku juga mau beli beberapa bahan dapur.”

“Oke.”

“Samponya aku sisain ya.”

 *

Rencananya sih berangkat jam 11an, eeeh malah jadi berangkat jam 12an. Mobil yang kami gunakan ini adalah mobil gue yang sudah gue gunakan semenjak awal masuk kerja. Ini pemberian bonyok yang gue rawat banget sampe sekarang. Mungkin cinta gue ke mobil ini sama cinta gue ke Dian beda tipislah, banyakan cinta gue ke Dian pastinya.

Dari sudut pandang perempuan.

Mobil melaju di jalanan yang macet. Sebenarnya aku agak gimana gitu sama mobil ini. Kok kayaknya Mas Andi sayang banget sama ni mobil. Kalau misalnya ada maling masuk dan Mas Andi diberi pilihan antara mana yang boleh diambil kayaknya dia lebih milih tuh maling ngambil aku dibanding mobil ini.

“Nanti jadi beli apa aja ?”

“Aku mau beli garem, gula, teh, kecap, pembersih baju, sama…, kain pel.”

Kami tak menggaji pembantu. Berhubung aku juga kerja, jadi kerjaan rumah harus dibagi dua. Aku kebagian nyuci baju, nyetrika, sama masak sedangkan Mas Andi nyapu sama ngepel. Kalau beres-beres perabot rumah biar aku lah…, sudah menjadi kodrat wanita untuk lebih repot urusan rumah tangga seperti ini.

Kami sampai di Mall yang cukup besar ini. Di dalemnya lengkap, ada Acu Hardware dan Raksasa. Berjalan bergandengan di mall seperti ini jadi teringat masa pacaran yang singkat dulu. Mas Andi sering membawaku pergi, walau hanya makan di mall aku merasa senang karena kami berbagi banyak cerita dan canda.

“Andii,” terdengar suara seorang wanita memanggil.

Huuh, dia adalah wanita yang ada dalam daftar wanita yang terlarang untuk menemui suamiku. Kenapa malah tiba-tiba ketemu disini. Dia berjalan mendekati kami. Ya Tuhan mohon ciptakan lubang untuk menyedotnya ke kerak bumi…

“Eh Laura…, kamu disini.”

“Iya aku lagi jalan-jalan nih.”

Dia adalah Laura, mantan pacar Mas Andi. Waktu pacaran mereka sudah 2 tahun, bahkan waktu kebersamaan mereka melebihi waktu kenalanku dengan Mas Andi sampai sekarang.

“Hai…, Dian..,” Laura menyodorkan tangannya kepadaku. Dengan terpaksa gue bersalaman dan tersenyum kepadanya. Kalau dilihat dari sorot matanya Mas Andi siiih, kayaknya masih ada rasa deh. Kalau nggak ada lagi, nggak perlu diladenin juga kan. Terus nenek gondorong juga tahu kalau cantikan Laura kemana-mana dibanding gue.

Mas Andi cerita kalau mereka putus karena tidak cocok lagi. Masa sih butuh waktu 2 tahun untuk tahu nggak cocok, paling nggak kalau Cuma nggak cocok sebulan juga udah ketahuan kan ? Aku rasa ada yang mereka sembunyikan dariku.

Dari sudut pandang laki-laki

Hah, malah ketemu Laura lagi disini. Walah. Walau dari tampangnya Dian fine-fine aja gue yakin dia sudah berpikir untuk menyewa rudal untuk membom Laura habis ini. Harus gue akui, Dian orangnya agak posesif. Tapi…, Laura tuh emang cantik dan sempurna, sebagai cowok normal ya gue nggak bisa berbohong kalau gue tertarik sama dia. Tapi ketertarikan gue sekarang nggak lebih dari sekedar tertarik.

“Kamu sendiri aja Ra ?”

“Nggak…, ini…, gue ama cowok gue, kenalin namanya Maman,” Seorang pria datang. Haha…, seleranya downgrade. Nenek gondrong juga tahu kalau gantengan gue kemana-mana.

“Kalian mau kemana ?” tanya gue.

“Kita mau ke Acu Hardware nih, mau nyari lampu buat hadiah nikahan temennya Maman. Kalian mau kemana ?”

“Sama dong. Kita mau ke Acu hardware juga nyari lampu hias buat dirumah.”

“Yaudah bareng aja…,” ajak Laura.

Gue melihat kea rah Dian. Dia agak mencembungkan pupil matanya. Lebih baik gue cari aman aja deh.

“Em…, kita emang mau kesitu tapi kita mau makan dulu, iya kan Say ?”

“Kata siapa ? Kan kita baru makan tadi jam 10. Mending bareng aja nyarinya siapa tahu seleranya Laura bagus. Yuk,” Dian menggandeng tangan gue.

Loh gimana sih ? Jelas-jelas gue udah mau ngehindar kok malah diladenin. Gue nggak ngerti cara pikir cewek.

Dari sudut pandang perempuan.

Loh kok malah diturutin ? Gue sengaja bilang gitu buat nguji dia aja. Harusnya dia nolak dong. Harusnya dia bilang alasan apa lagi gitu biar kita nggak jalan bareng. Ih kok nggak ada usahanya banget sih. Apa jangan-jangan emangmasih mau jalan sama Laura ya ? Huh jadi senjata makan tuan nih aku.

Kami berempat sampai didepan Acu Hardware. Laura banyak bertanya-tanya tentang kehidupan Mas Andi selama jalan. Ih gatel banget sih jadi cewek. Jelas-jelas dia lagi jalan ama cowoknya, ya ngomong ama cowoknya aja lah. Mas Andi juga malah ngeladenin lagi.

“Mau lampu yang kayak gimana say ?” kami sudah berdiri didepan deretan lampu hias. Laura dan cowoknya lagi di ujung lorong, melihat lampu model lain.

“Yang ini aja gimana ?”

“Mmm…, kalau yang ini ?”

“Jelek yang itu Mas, mending yang ini. Dan lagi…, itu lebih mahal.”

“Yowes lah. Yang itu aja.”

Pilihan ditetapkan. Laura datang dan langsung melihat ke lampu hias yang tadi dipilih Mas Andi.

“Ya ampuun bagusnya. Yang ini aja gimana ? Budgetnya juga pas sama buget kamu. Daripada yang itu.”

Ooh oke, selera mereka sama. Fine. Laura kembali menilik lampu hias yang dia pilih.

“Aku suka banget lampu ini, persis sama yang ada dirumahku, hadiah dari…, Mas Andi 2 tahun lalu…,” Laura berkata pelan sambil melirik kearah kami. Ooooh jadi tadi dia sengaja pingin lampu ini buat ngingetin kenangan dia sama Luara.

Dari sudut pandang laki-laki

Haduuuh Laura, kenapa pake disebut segala sih. Gue sih pingin ini lampu ada dirumah murni karena gue suka model lampu ini. Dian langsung memandang gue dengan tajam, kayak ada pisau yang keluar dari sorot matanya.

“Yuk ah bayar.”

Kami ke kasir dan membayar. Sudah hampir jam 2. Perutku lapar. Pokoknya apapun yang terjadi habis ini harus misah sama Laura. Bagaimanapun gue harus menjaga perasaan Dian.

“Kalian mau kemana ?” kata gue.

“Kalian sendiri mau kemana ?” tanya Laura.

Gue dan Dian saling pandang. Dari sorot tajamnya sudah pasti Dian meminta gue yang jawab.

“Loh kok malah tanya balik sih,” kataku.

“Say, kita kan mau ke Raksasa tadi,” kata Maman ke Laura.

“Oh iya sampe lupa. Kita mau ke Raksasa.”

“Oh, aku sama Dian mau makan dulu. Yaudah deh, kita split dulu kalau gitu.”

“Tapi makan dulu aja deh. Aku laper Ra,” kata Maman ke Laura.

“Yaudah makan bareng aja.”

“Nggak usah. Kita mau ke Raksasa dulu. Belum terlalu laper juga kan ya. Mau beli bumbu dapur,” gue langsung menyambar.

“Yaudah deh kita ke sana dulu ya, ke Raksasa,” gue langsung mengakhiri pembicaraan dan berpisah. Huh aman.

Dian diam. Apa yang dia pikirkan ? Apa yang tidak-tidak ? Ah biarkan saja dulu lah. Jangan terlalu berprasangka.

“Aku dah laper. Makan dulu aja deh baru ke Raksasa,” kata Dian.

“Mau makan dimana ?”

“Kamu aja yang nentuin. Kayaknya selama seminggu ini kamu makan makanan nggak enak. Jadi hari ini kamu bebas makan enak dimana.”

“Kok gitu sih ngomongnya. Masakan kamu enak kok. Makan di Bakmi GR aja yuk. Aku pingin ifumienya.”

Kami sampai di depan Bakmi GR. Waduh, ngantri juga walau sudah bukan jam makan siang.

“Heei, ayo makan disini…,” seseorang menyapa kami dari kejauhan. Oh tidak…, Laura dan Maman. Mereka ternyata makan disini juga dan sudah mendapat tempat duduk.

“Mbak mereka bareng meja saya saja…, kebetulan tadi dikasihnya malah meja untuk 4 orang,” Laura berkata pada Mbak-mbak pengatur tempat duduk.

Sudah kepalang bacut, nggak enak untuk menolak. Yaudahlah. Toh kalau ngantri, berapa lama lagi coba. Aku dah lapar. Kami berjalan ke meja di pojokan tempat Laura dan Maman.

Dari sudut pandang perempuan

Ni cewek agresif banget sih. Aku langsung maju dan memegang rambut Laura dan menariknya. Laura berteriak kesakitan. Aku belum puas. Aku memasukkan wajah Laura ke mangkok mie ayam yang ada di meja orang yang nggak gue kenal dan mengoyang-goyangkannya. Laura memberontak namun tak kuat melawanku. Aku mengangkat kepalanya dan membenturkannya ke meja.

“Mampus lo, dasar cewek gatel.”

“Say…, say…,” Mas Andi menjentikkan jarinya didepanku. Aku tersadar dari lamunanku.

“Kamu mau pesen apa ?” ternyata kami sudah sampai di depan meja dan Laura fine-fine saja.

“Aku mau…, Mie Ayam special pakai bakso,” kataku

“Oke. Aku mau ifumie, wortelnya banyakin, ayamnya sedkit aja, ekstra pedas,” Mas Andi menuliskan pesanannya dengan detail.

“Kalian nggak pesen ?” tanyaku.

“Udah. Kita udah pesen. Kalia nggak jadi ke Raksasa ?”

“Habis ini. Tadi udah kelaperan,” kataku.

“Yaudah bareng aja.”

Aku melihat ke arah Mas Andi dan melayangkan sorot mata pisau memotong terong. Mas Andi jadi gugup dan hanya berkata eee saja.

“Yaudah bareng aja,” kataku, berharap dia ngeles untuk nggak bareng. Aku pingin liat usahanya.

“Oke,” kata Mas Andi. Loh kok malah diokein sih sama dia ???

Makanan batch 1 datang. Maman memesan nasi goreng sedangkan Laura memesan…

“1 nasi goreng, 1 ifumi dengan ekstra wortel, ayamnya setengah, dan ekstra pedas,” kata sang pelayan.

Kok sama banget siih sama pesanan Mas Andi ?

Dari sudut pandang Laki-laki.

Anjiir. Salah pesen gue, jadinya malah pesenannya sama persis. Dulu pas pacaran sama Laura, ini restorn favorit kami dan kami selalu pesan menu ini sebagai menu favorit.

“Wuih, kalian memang sehati ya,” kata Dian.

“Kebetulan aja pesenannya sama. Aku jadi pengen ganti deh. Kayaknya nasi goreng enak tuh,” gue ngeles sambil mencari pelayan terdekat.

“Loh bukannya ifumi adalah favorit kamu di restoran ini yah ? Dulu kamu selalu pesen ini kalau kesini,” kata Laura polos. Aduuh mak, kenapa pake disebut-sebut sih. Dian memandangku dengan kesal.

“Kan tadi pagi udah makan nasi goreng, kenapa mau nasi goreng lagi disini ? Apa karena nasi gorengku nggak enak ya jadinya pingin lagi disini ?”

“NGgak kok. Ya pingin aja.”

“Mbak ganti pesenan bisa,” gue memanggil pelayan yang kebetulan lewat. Dan ternyata nggak bisa ganti pesenan. Suasana diam selama 1 menit.

“Jadi gimana rasanya menikah ?” tanya Maman.

“Enak, yang nggak enak Cuma masakannya aja kayaknya deh,” Dian berkata dengan agak judes.

“Maksudnya ?” tanya Maman.

“Nggak kok. Everything is perfect. Kalian kapan nyusul ?”

“Ya tunggu aja tanggal mainnya,” kata Laura.

Makananku dan Dian datang.

“Nih…,” Laura menyodorkan merica ke gue. Gue emang punya selera sendiri dalam menikmati ifuminya.

“Kok kayaknya apal banget sih…,” Dian berkata dengan senyum…, senyum yang menyembunyikan setan bertanduk dibelakannya.

“Ya kebetulan aja tahu,” gue ngeles

“Kebetulan tahu kayaknya aneh juga,” kata Dian.

“Aku tahu ya karena dulu pernah jadian 2 tahun sama Andi,” jawab Laura.

Aduuuh Lauraaaa. Mati deh gue

“Lama ya ? Aku aja Cuma 6 bulan.”

“Eh… lampunya ketuker ya,” gue mengalihkan pembicaraan. Tapi emang bener lampunya ketuker. Yang gue bawa daritadi itu ternyata bukan lampu gue.

“Oh iya. Untung aja…,” kata Maman.

Gue mempercepat makan biar ini segera berakhir.

Dari sudut pandang perempuan.

“Cepet banget makannya. Biar bisa langsung jalan lagi ya ?” aku memberikan penekanan.

“Ya habis aku laper.”

Taka da obrolan nyerempet lagi sampai kami selesai makan, hanya ucapan ringan seputar isu dunia. Huuuh aman. Setelah bayar kami langsung menuju Raksasa. Aku berjalan di samping Mas Andi yang menjawab seadanya apabila Laura bertanya kepadanya. Halah, alasan Cuma ingin menjaga perasaan aku doang.

“Kalian mau beli apa ?” tanya Laura.

“Bumbu dapur sama pembersih baju sama lantai.”

“Wah aku juga mau beli bumbu dapur.”

Kami berjalan bersama menuju ke rak bumbu dapur.

“Kamu bisa masak ?” tanyaku pada Laura. Maman menjawab.

“Dia jago banget masak. Ni dia lagi beli bumbu. Dia janji mau masakin aku Ayam bakar sama spageti bolognise sama cheese garlic bread. Dia jago banget masakan itu.”

Loh itukan masakan kesukaannya Mas Andi. Oooh, ya jelaslah jago

“Jelaslah jago. Pasti dulu sering masakin buat seseorang kaan ?” aku nyindir.

“Kebetulan juga itu masakan kesukaan Mas Maman,” kata Laura sambil memilih bumbu-bumbu. Aku melirik bumbu-bumbu dapur didepan. Ambil apa aja ya ?

“Kamu mau masak apa ? Sini biar aku bantu pilih bumbunya,” kata Laura. Aku tak menjawab, aku juga bingung mau masak apa besok. Toh aku tidak jago masak dan belum hafal resep.

“Bingung ya ? Nih aku pilihin deh. Mending ini aja…,” Laura mengambil beberapa bumbu sambil berkata makanan yang bisa dimasak dengan bumbu yang dia pilih. Yang paling membuatku kesal, dia selalu menyebut nama Mas Andi disetiap kalimatnya.

“Kalau paket bumbu ini itu buat masak Sayur Capcay. Andi itu suka capcay yang agak pedes, wortelnya banyakan, tahunya diancurin….”

“AAAAAAH, Andi, Andi, Andi, apa Cuma Andi yang ada di pikiran lo b*tch.”

Aku langsung melempar keranjang belanjaan dan mencekik Laura sambil memakinya. Laura terjatuh dan aku langsung menibannya. Merica nangkring di rak sebelahku. Aku langsung mengambil merica itu dan membukanya kemudian menuangkanya di wajah Laura. Laura kesakitan. PLAK-PLAK-PLAK. Aku menampar ke kiri dan kanan.

Mas Andi dan Maman mendorongku ke belakang untuk melerai. Loh mendorong ? Kok bukannya menjentikkan jari di depanku. Ini khayalan atau kenyataan sih ?

 

*

Dari sudut pandang cowok dan cewek di mobil masih di parkiran mall.

 “Kamu ini malu-maluin banget sih.”

“Maaf Mas, aku khilaf. Habisnya dia juga sih yang begitu.”

“Memang dia itu begitu. Ditambah lagi dia itu mantan pacar aku selama 2 tahun. Kamu juga yang aneh. Aku udah sengaja ngehindar-hindar, kamu malah nyeburin biar jalan bareng dia.”

“Ya aku kan mau lihat usaha kamu ngehindar. Harusnya kamu usaha lebih dong.”

“Oh itu alasannya. Ya aku nggak tahu kalau kamu mikir begitu. Aku pikir kamu emang fine-fina aja kalau jalan sama dia. Aku udah ngejaga perasaan kamu dengan bicara seadanya sama Laura.”

“Tapi dia tahu banget kamu kayaknya sampe dia tahu selera makan kamu, dan dia masih masakin maskaan kesukaan kamu ke cowoknya yang sekarang.”

“Ya iyalah. Dulu hampir tiap minggu kita jalan. Jelas dia lebih tahu aku dibanding kamu. Dan dia masakin masakan kesukaanku ke cowoknya murni karena cowoknya suka makanan itu. Tadi kan Laura juga udah bilang sendiri.”

“Aku masih belum percaya kalau kalian putus karena nggak cocok. Jelas-jelas kalian banyak kesamaan.”

“Say, Laura tadi udah berbusa habis kamu hajar kalau emang alasan kami putus karena kami nggak cocok. Laura juga bilang kalau dia sama sekali nggak ada rasa lagi sama aku. Dia bahkan bersedia buat sharing-sharing sama kamu tentang apa yang jadi kesukaan aku ke kamu. Dan dia juga bakal mau ngajarin kami masak. Udah kamu iyain juga kan ?”

“Bohong.”

“Say gini ya…, Laura itu memang pernah menjadi wanita yang mengisi waktu aku tapi itu masa lalu. Auku sama dia itu sekarang Cuma temen, Cuma temen. Sekarang itu…, ya kamu, Cuma kamu.”

“Apa buktinya.”

“6 hari lalu di saksikan orang tua, saksi, plus tamu yang dateng. Aku udah janji buat ngebahagiain kamu.”

“Mmmh…, maafin aku mas.”

“Nggak apa-apa Say. Nggak apa-apa. Sini peluk dulu.”

“Oh ya…, satu pertanyaan lagi. Masakanku itu enak nggak sih. Jujur.”

“Nggak.”

“Iih…, berarti bohong dong kamu.”

“Auu, kok cubit-cubit sih…, ‘sakit’ tahu.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s