Ngumpetin

its glad to be back. Rasanya dah lama nggak nulis cerpen…. Why ? You know lah. Sibuk banget kerjaan. Alasan klise. Syarat utama buat nulis itu ya emang selain ada tools, ide cerita, dan energi, ya juga harus ada mood diwaktu yang tepat. Enjoy

“Heh kamu, ke ruangan saya sekarang.”

Nada-nada gini nih kayak nada-nada mau dikasih kerjaan segunung. Bos emang gitu sih orangnya, tegas dan kadang tegaan. Tapi ya mau bagaimana lagi, nggak mungkin kan gue nolak karena malas. Namanya senin pagi, pikiran juga Cuma 50 % di depan computer, sisanya masih ada di kenangan akhir pekan kemarin.

Gue berjalan ke ruangan bos, sebernarnya dia ini bosnya bos. Bos di langit kedua lah. Ruangannya lumayan besar. Di depan ruangan ada meja dan empat sofa untuk tamu. Masuk dikit ada meja bundar juga dengan empat kursi dan berbagai jenis kue kiloan dalam toples (dah kayak jualan). Ada juga TV flat 24 inci, bisa buat nonton atau presentasi.

Yang paling menarik perhatian itu meja di samping ruangan. Isinya piala semua. Kalau ngelihat pialanya sih jelas banget nih orang jago main golf. Soalnya sepertiga piala bentuknya miniature orang yang lagi mau mengayunkan tongkat golf. Kayaknya sengaja dipasang biar semua tamu yang datang sadar sama hal itu sih.

“Ya bos.”

Gue duduk dan memperhatikan bos yang sedang membaca sebuah surat.

“Gini…., mmmm,” kata bos sambil memijat kepalanya. Mata gue tertuju ke sebuah piala yang sepertinya piala baru. Berbentuk bola golf yang sedang di letakkan di atas tee yang tertancap di tanah. Bolanya seperti bola Kristal yang memantulkan cahaya sehingga terlihat seperti berlian mahal.

“Halo…, kamu dengerin nggak.”

“Oh ya maaf Pak. Gimana ?”

“Kamu lihat apa sih ? Oooh, piala itu ya.”

“Iya Pak, bagus banget.”

Kalau misalnya ngelakuin kesalahan cara paling aman untuk lolos dari omelan bos ini adalah dengan mengalihkannya ke golf, bakal langsung jinak dia.

“Itu baru saya menangkan kemarin di Bali. Saya juara satu turnamen.”

“Wah selamat Pak. Bapak emang paling jago kalau golf. Kalau saya mah boro-boro.”

Dengan memuji ngarep kalau pembicaraan tentang golf diperpanjang dan dia lupa ngasih kerjaan.

“Emang kamu udah berapa kali main golf ?”

“Baru dua kali pak. Saya payah. Gimana sih cara memukul yang benar ? Belajar dimana pak ?”

“Harus lebih sering biar terbiasa. Nah coba kamu lihat surat ini…,”

Yaaah trik mengalihkan perhatian batal. Gue mendengarkan ucapan bos gue dengan seksama. Bisa sih ngehandlenya Cuma rempong nih kayaknya. Ditengah pejelasan tiba-tiba ponsel bos bordering. Gue sempet ngelirik dari siapa. Oh dari bosnya bosnya bosnya bos. Langit lapisan ketiga lah.

“Halo ya Pak. Oke pak saya ke ruangan bapak.”

Bos mematikan ponselnya.

“Saya ke ruangan bos sebentar untuk ambil dokumen. Kamu tunggu dulu disini ya. Paling Cuma 5 menit.”

Bos keluar dan tiba-tiba krik-krik-krik. Suasana hening sejenak. Gue bangun dan beranjak ke meja piala. Gile nih orang isterian ama tongkat golf kali ya, pasti weekend kerjaannya golf mulu. Gue mengamati piala baru itu lebih dekat. Bagus banget sih menurut gue. Bola golfnya udah kayak bola disko ajeb-ajeb. Gue mengangkat piala itu. Lumayan berat juga ya. Kayaknya bisa dijadiin barbell juga nih piala.

Pluk. Tiba-tiba bagian bola golfnya copot dan jatuh karena gue menggoyang-goyangkannya terlalu kencang. Untung refleks gue bagus, gue bisa menangkap bola itu dan tidak terjatuh ke lantai. Kalau jatuh bisa pecah lagi. Sekarang piala terbagi menjadi dua bagian. Kulit gue merinding seketika. Gue lebih memilih merinding karena lihat mbak kun dibandingkan merinding karena ini.

Gimana nih ??? Ni piala pasti lagi jadi kesenangan si bos. Kalau ketahuan masih untuk Cuma dipecat, kayaknya bakal dibunuh pake tangan kosong nih. Tangan gue mendadak gemetaran. Yang penting jangan sampai ketahuan, bentar lagi bos datang. Gue harus perbaiki nanti. Sayup-sayup gue mendengar suara bos di depan ruangan yang sedang berbicara. Mati gue.

Gue meletakkan piala itu di meja dan menyusunnya. Dengan hati-hati gue meletakkan bagian bolanya di atas bagian tee tempat bolanya. Syukurlah bisa seimbang dan berdiri. Tapi kayaknya kalau ada angina dikit bakal gelinding deh. Paling nggak gue bisa nggak ketahuan sembari mikir gimana cara memperbaiki itu nanti.

Gue langsung duduk dan bersikap seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Atur nafas dan berpikir positif kalau semua akan baik-baik saja. Bos masuk dan kembali duduk di depan gue. Sesekali gue melihat ke piala di belakang. Yang penting jangan ngegelinding sekarang.

“Sampai dimana tadi kita ?”

Setelah 10 menit pembicaraan, gue keluar dari ruangan bos. Sesaat sebelum gue keluar. Gue nengok ke belakang. Bos sedang mau mengangkat piala baru itu. Mati gue.

“Pak….”

“Ya ?”

“Tadi ini harus diselesaikan kapan ?”

“Sebelum jam 2 hari ini. Titik.”

Huh, syukurlah. Bos mengurungkan niatnya mengambil piala barunya. Gue keluar ruangan dan langsung ke kubikel. Keringat mengalir di pelipis. Gimana nih ? Oh ya lem kuat. Paling nggak itu bisa membuat pialanya bertahan selama beberapa hari dan membuyarkan kelakuan bodoh gue terhadap piala itu tadi. Haduuh ngapain sih tadi gue sok-sokan menjadikan piala itu kayak barbell. Bodooh.

Dah yang penting sekarang gimana melepaskan gue dari kursi tersangka. Gue langsung ke pantry mencari OB. Kebetulan dia sedang ada di sana.

“Ada apa mas ?” tanya OB.

Bentar…, pasti si OB bakal curiga kalau misalnya gue suruh beli lem kuat tanpa punya barang pribadi yang harus di lem. Gue harus main aman.

“Mmm, tolong buatin teh hangat ya. Perut saya agak nggak enak.”

Gue langsung kembali ke kubikel. Gimana bisa mendapatkan lem gajah itu tanpa dicurigai ? Kalau gue cewek sih udah gue patahin highheels dan gue suruh OB buat beli lem kuat. Eh itu dia…, highheels.

Gue nengok ke belakang. Kubikel belakang masih kosong. Mbak yang satu ini emang hobinya telat, alibinya sih ngurus anak sekolah dulu dan semacamnya. Dia biasanya nyimpen sepatu highheelsnya di bawah. Katanya sih males perjalanan make highheels. Sekarang adalah bagaimana membuat teman di depan kubikel ini teralih.

“Eh Mas, kalian berdua kayaknya dipanggil bos tuh diruangannya.”

“Beneran ? Ada apaan ?”

“Kayaknya masalah yang kemarin sore. Dia mau nanya updatenya.”

“Oke deh.”

Mereka berdua pergi. Gue sendiri di area kubikel-kubikel ini. Secepat kilat gue langsung mengambil sepatu highheels di belakang kubikel gue. Dengan sekuat tenaga gue menarik bagian heelsnya. Plak. Berhasil putus. Ngapain fitness kalau gini aja nggak kuat. Gue meletakkan sepatu itu kembali ke tempatnya.

Sepuluh menit kemudian kedua teman gue kembali. Mereka protes ke gue karena bos nggak memanggil. Tapi karena sudah keruangan jadinya malah di kasih kerjaan.

“Lah tadi bilang ke gue, suruh ke ruangannya. Dia kan orangnya lupaan.”

Tak lama kemudian, sang wanita yang duduk di belakang kubikel gue sampe. Ritual pertamanya adalah mengganti sandal yang dia pakai dengan highheels. Reaksi yang gue harapkan terjadi.

“Loh highheels gue kenapa ? Kenapa heelsnya copot. Nggak bisa banget gue nggak pakai highheels. Mana sepatunya masih bagus lagi.”

“Kok bisa sih ?” gue pura-pura nggak tahu.

“Nggak tahu nih. Kayaknya kemarin fine-fine aja. Gimana nih ?”

“Rempong amat sih. Di lem aja.”

“Oh ya.”

Timing yang pas. OB datang dengan membawa the hangat pesanan gue.

“Mang, tolong beliin lem super kuat dong. Highheels saya copot nih.”

“Loh kenapa bisa copot gitu mbak ?”

“Nggak tahu nih. Nggak ada angin nggak ada hujan tapi tiba-tiba copot. Kayak ada yang nyopot paksa gini. Kayaknya ini ulahnya si genit dari HRD deh. Sepatunya sama persis kayak punya saya. Dia pasti nggak mau ada yang nyaingin makanya dia copot paksa deh. Ntar aku lihat CCTVnya deh.”

Oh y ague sampe lupa sama yang namanya CCTV.

“Udahlah Mbak, jangan suudzon gitu. Sekarang kan yang penting gimana itu sepatu bener lagi,” kata gue.

“Iya mbak. Saya selalu sedia lem kuat kok dilaci. Saya ambil yah.”

Hah ??? Oh gitu. Tahu gitu mah tadi gue ambil sendiri di laci pantry dan tak perlu ada korban lain yang berjatuhan. Tak lama kemudian lem gajah sudah ada di meja belakang gue. Dengan cermat si mbak mengelem heelsnya. Setelah selesai dia meniup-niup hellsnya agar cepat kering.

Sip, lemnya tergeletak di meja bundar di area samping kubikel gue. Secepat kilat gue mengambil lem itu tanpa diketahui siapapun. Nyawa kedua sudah ditangan. Sekarang adalah bagaimana masuk ke ruangan bos dan mengelem pialanya. Hmmm, oh ya nanti saja ketika menyerahkan pekerjaan ini atau ketika dia makan siang gue mengendap-endap.

Antara deg-degan dan konsentrasi dengan kerjaan. Kalau tetiba bos sadar dan ngamuk-ngamuk gimana. Gue pasti dicurigai. Ayo berpikir positif.

“Mbak, tadi lem kuatnya dimana ?” tanya OB.

“Dimeja bundar. Bukannya udah diambil ?”

“Belum. Kok nggak ada ya ?”

“Lah mana saya tahu. Rempong amat sih. Kalau ilang beli lagi aja.”

Menjelang makan siang, gue melihat bos jalan melewati kubikel gue bersama rekannannya. Apakah mereka berniat makan siang di luar bareng.

“Halooo…,” sang sekertaris bos datang ke meja bundar.

“Jalan-jalan yuk. Mumpung bos keluar makan siang ama partner dan kayaknya bakal lama karena sekalian rapat.”

Informasi yang gue tunggu-tunggu. Gue menunggu sampai sang sekertaris beserta mbak dibelakang gue pergi jalan-jalan. Sekarang gue hanya tinggal mengendap-endap ke dalam ruangan bos. Gue memastikan kalau taka da satu matapun yang menangkap gue masuk ke ruangan bos.

Suasana di dalam hening. Gue deg-degan. Kalau misal ada yang masuk, bakal bilang apa gue ? Gue langsung mengambil piala itu. Piala itu masih belum berpindah dari posis terakhir, berarti belum ada yang ngangkat-ngangkat.

Gue baru mau mengangkat bagian bola piala itu sampai gue mendengar suara di depan ruangan bos. Aduh gimana nih ? Refleks gue adalah ngumpet di bawah meja bos. Hap, aman. Ada seorang pria masuk. Ternyata itu bapak bos lapisan langit ketiga.

“Oh tidak ada di ruangan rupanya.”

Gue mengintip langkah kakinya. Dia menuju ke meja di sudut ruangan, tempat piala-piala golf diletakkan. Mati gue. Kalau misalnya dia pay attention kea rah timur aja, bakal kelihatan gue. Terlihat dia sedang mengamati piala baru itu. Sepertinya dia penasaran dan mengangkatnya. Pluk. Bagian bolanya copot.

“Loh kok copot. Haduh gimana nih ?”

Terlihat dia menyusun kembali piala itu dan kemudian keluar. Hmm sebenarnya bisa aja gue biarin dan si bosnya bos yang menjadi tersangka kalau ketahuan. Tapi…, ini udah didepan mata lem sama pialanya. Yoweslah gue lem aja.

Dalam waktu semenit gue berhasil melaksanakan misi. Paling nggak butuh waktu sehari biar kering. Sekarang gue hanya bisa berdoa. Semoga nggak akan ketahuan deh. Tapi kalau ketahuan gue nggak akan ngaku, biar bosnya bos aja yang ngaku. Nggak mungkin kan dia mecat atasannya.

Gue pikir aman-aman saja sampai pas sore bos memanggil semua anak buahnya. Langsung deg-degan deh gue. Kenapa nih ? Keringet gue mengalir. Gue mengatur nafas agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi kalau dari tampangnya sih bos lagi senang.

Setelah 30 menit penjelasan, oooh ternyata bos memberitahukan kabar gembira kalau kita sudah berhasil merangkul partner hebat. Ah gue terlalu khawatir. Bos kembali melanjutkan pidatonya.

“Bisnis yang sulit hanya bisa ditangani dengan kegigihan. Ini sama dengan bermain golf. Butuh kesabaran dan ketika sampai pada saat menyerang, harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Kemarin saya juga sudah membuktikannya dengan memenangkan piala ini.

Waduh…, gawat nih. Bos berniat mengangkat piala barunya. Lemnya belum kering. Aduh gimana nih. Tak bisa dihalangi. Bos mengangkat piala itu dan membangga-bangga kannya. Dia mengangkat tingg piala itu daaaan. Pluk. Bagian bolanya copot dan jatuh. Bunyi benturan terdengar kencang. Bolanya tidak pecah, entah retak atau tidak.

Krik-krik-krik. Hening. Sumpah gue takut mampus. Kayaknya kalau diselidiki noda atau bau lemnya masih ada deh. Mana lem gajahnya masih ada di meja gue lagi, belum gue balikkin ke laci pantry. Terlihat muka bos shock banget. Ekspresinya langsung berubah dari tenang dan senang menjadi murka dan seperti setan.

“Hai. Kudengar kita berhasil mendapat partner baru ya ?”

Bos lapisan langit ketiga tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan. Suasana hening kuburan dipecahkan oleh suaranya.

“Oh ya tentang piala itu…., tadi aku tak sengaja mencopot bagian atasnya ketika mengangkatnya. Maafkan aku ya.”

Selama setengah detik terlihat bos menahan emosinya, Nggak mungkin kan dia murka ke atasannya. Yang ada bakal dipindah ke bagian antah berantah lagi. Dia menimbulkan senyum dibalik emosinya yang mau meledak.

“Oh tidak apa-apa bos. Hanya tinggal di lem gajah juga bisa nyambung lagi.”

Sebenarnya kasihan sih si bos. Kayaknya dia udah kayak mau nangis ngelihat piala kesayangannya rusak kayak gitu tapi nggak bisa marah.

Selama 20 menit, pembicaraan tentang kesuksesan memiliki partner bisnis baru mengalihkan emosi bos yang sebenarnya sudah diujung pantat. Untunglah ada bosnya bos. Tapi jujur, gue jadi ngerasa nggak enak. Pembicaraan sore selesai. Semua anak buah keluar. Terlihat bos duduk murung di meja ketika kami semua keluar. Paling bentar lagi mewek.

“Gila, untung ya ada bosnya bos. Tadi pagi gue tuh yang ngejatuhin itu piala,” kata teman gue yang duduk di kubikal depan kanan gue. Gue shock mendengarnya.

“Jadi elo ?” tanya gue.

“Sssst, tadi pagi pas naro laporan mingguan ke mejanya. Gue ngangkat pialanya, eh malah terus jatoh dan copot deh itu bolanya. Langsung aja gue ambil lem gajah di pantry dan gue lem. Untung belum ada yang datang pas itu.”

“Jadi elo…, gue pikir gue,” kata teman gue satu lagi yang duduk di depan kiri gue.

“Emang lo ngapain ?”

“Tadi pagi pas naro surat yang diminta bos kemarin, gue juga ngejatuhin terus copot bagian bolanya. Untung dia belum datang. Gue langsung ngelem pake lem gajah di pantry.”

Ooooh jadi lem gajah yang di meja gue itu udah jadi saksi bisu 2 tragedi sebelumnya ya.

“Ya ampuun kalian, kalian harus ngaku ke bos. Kalian tega sama bos ?” kata gue.

“Gue lebih tega sama dia dibanding sama anak isteri gue. Kalau gue dipecat gimana.”

“Gue bakal lapor ke bos.”

“Ih kok lo comel gitu sih ? Nyesel gue cerita ke lo”

“Ini bukan comel, tapi menegakkan keadilan.”

“Plis jangan dong.”

“Iya, iya, tapi traktir dong. Itung-itung syukuran nggak ketahuan.”

“Iya deh iya.”

“Masing-masing sehari ya.”

Haha, gue berhasil memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Gue kembali ke meja. OB gue sedang membersihkan meja bundar di samping kubikel gue. Meja itu biasa digunakan kalau ada yang makan di ruangan karena tidak sempat makan ke bawah atau buat santai-santai ketika bisa santai.

“Nih lem gajahnya. Kok bisa ada di meja saya yah,” kata gue bohong.

“Ya ampun mas saya cariin dari tadi ternyata di meja mas.”

“Emang kenapa ?”

“Tadi pagi buta pas bersih-bersih ruangan bos, saya nggak sengaja nyenggol pialanya yang baru itu. Bagian bolanya copot. Tadi ketahuan nggak mas ?”

“Ooooh, lo juga. Udah tenang aja.”

“Tenang gimana mas ? Saya bisa dipecat kalau ketahuan.”

“OBEEEE,” terdengar teriakan bos.

Kalau dari tampangnya sih dia habis nangis Bombay. Terlihat semua tersangka pelaku perusak piala panik.

“MANA LEM GAJAH. Pak Tua itu merusak piala saya.”

Amaaan. Bos benar-benar mengira atasannya yang merusak. Dunia kembali tenang sampai jam pulang kantor.

“HEH LO,” mbak di kubikel belakang gue ngomel ke gue.

“Gue dah lihat CCTV. Lo yang ngerusak sepatu gue. Kenapa ?”

“Emm, itu karena…, gue mau ngambil lemnya tanpa dicurigai.”

“Emang kenapa ?”

“Gue nyenggol piala bos sampe copot.”

“WOO,” semua teman langsung noyol gue.

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s