Dead or Alive

Kayaknya udah lama nggak nulis yang mellow-mellow.

Aku mengemudi dengan cepat di jalanan berliku di atas bukit yang tinggi. Titik-titik cahaya rumah dikejauhan itu bagaikan bintang yang berjatuhan dan membuatku mengemudi lebih tinggi dari awan. Disampingku ada isteriku dan di belakang ada kedua anakku.

“Pelan-pelan sayang,” dia berkata pelan kepadaku. Dia memang khawatiran, kedua anakku saja biasa-biasa saja.

Pikiran mereka jelas berbeda jauh denganku. Mood mereka berada dalam bahagia dan pemikiran akan liburan yang menyenangkan namun itu berbeda 180 derajat denganku. Hanya lisanku saja yang berkata akan menghabiskan waktu bersama di tempat wisata namun niat sebenarnya adalah untuk membuatku sekeluarga pergi selamanya bersama.

Kehidupan ini harus diakhiri. Aku tak bisa meninggalkan tanggung jawabku pada mereka, orang-orang yang aku cintai mereka harus ikut bersamaku. Tanganku gemetaran. Aku mencoba menyembunyikan kegugupanku dari isteriku yang sepertinya sudah mulai curiga dengan gelagatku semenjak kemarin.

“Papa, nanti kita main kembang api bersama ya.”

“Tentu sayang.”

Anak perempuanku memang sangat sayang padaku. Dia lebih pantas disebut anak papa dibandingkan anak mama.

“Sudah lebih baik kamu tidur saja. Mungkin masih 1 jam lagi kita sampai. Besok kita mulai liburannya.”

Kata isteriku pada anak perempuanku. Anak laki-lakiku yang lebih besar sudah pulas dari setengah jam yang lalu. Aku memastikan anak perempuanku tidur terlebih dahulu. Kuingin dia pergi tanpa merasarakan apa-apa, tiba-tiba sudah terbangun di alam yang berbeda tanpa sakit sedikitpun. Butuh 15 menit agar aku yakin dia sudah terlelap.

“Kamu tidur juga saja,” kataku pada isteriku. Kulihat daritadi dia juga sudah menguap beberapa kali. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Aku juga ingin isteriku tidur sehingga dia tak merasakan apa-apa ketika nafasnya berhenti. Tikungan maut sudah dekat, tikungan yang banyak memakan korban kecelakaan. Lebih baik menyamarkan ini semua menjadi kecelakaaan alih-alih bunuh diri. Lebih baik kabur dengan cara yang orang lain lihat lebih masuk akal daripada terlihat seperti pengecut

“Mas…, kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan, bicarakan lah,” kata isteriku pelan.

“Bicarakan apa ?” jantungku mulai berdebar kencang. Dia memang tahu keseharianku dan semua permasalahan yang kuhadapi. Aku juga berdebar karena tikungan maut kurang dari 1 km lagi.

“Tak  apa-apa. Anak-anak sudah tidur. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu.”

“Taka da yang kusembunyikan sayang.”

“Aku tahu sedang ada masalah besar….”

“Sssst, anak-anak sudah tidur.”

Isteriku terdiam. Aku terdiam sejenak. Aku mengumpulkan keberanian untuk memantapkan niatku. Ya…, mengakhiri segalanya adalah pilihan yang paling tepat. Yang kulakukan ini adalah benar. Setetes keringan mengalir dari pelipisku, tak peduli AC dan udara luar yang dingin. Itu dia…, tikungan maut sudah terlihat, kurang dari 200 meter lagi.

“Satu-satunya hal yang ingin aku ucapkan adalah….,” aku berkata, isteriku menyimak.

“Aku mencintaimu,” lanjutku sambil membanting setir ke kanan dan semua langsung gelap.

*

                Jadi inikah rasanya mati ? Inikah kehidupan setelah kematian ? Semua terasa begitu ringan namun menyakitkan. Kenapa kematian serasa begitu nyata ? Seakan aku masih berada dalam raga namun tak bisa kukendalikan. Apakah aku sudah benar-benar mati ?

                Aku masih bisa merasakan udara masuk ke paru-paruku. Aku juga masih bisa mendengar suara ‘nit’ yang memiliki jeda yang teratur. Aku masih bisa merasakan tanganku meraba sesuatu yang halus dan empuk. Dan perlahan aku masih bisa membuka mata untuk melihat dunia.

                Apa ini… ? Aku masih hidup. Aku berada di rumah sakit. Ini mustahil. Aku beraada dalam kecepatan 80 km/jam ketika membelokkan mobilku melewati palang pembatas. Mobil pun meluncur dari ketinggian kurang dari 100 meter. Mustahil aku masih hidup ? Apakah memang kehidupan paska kematian seperti ini ?

                Aku bisa menggerakan tubuhku namun selang-selang yang mengikat tubuh ini tak bisa membuatku bisa bebas berdiri dan berjalan. Aku merasakan nyeri dari beberapa sendi tubuh. Aku melihat ke sekujur tubuhku. Hanya kakiku saja yang diperban sisanya taka da goresan sedikitpun. Dan aku yakin kakiku ini tak lumpuh, hanya saja sakit ketika aku mencoba menggerakannya.

                Seorang wanita masuk. Apakah dia malaikat ? Tapi dia tak bersayap. Lebih pantas kalau dia adalah suster. Sudah pasti ini ruang ICU. Aku masih hidup. Dia kaget melihatku sudah siuman dan mencoba berdiri. Dia langsung berjalan cepat ke arahku.

                “Pak, jangan bangun dulu. Kaki anda masih belum pulih,” suster mencoba merebahkanku kembali ke kasur.

                “Katakan kalau saya sudah mati.”

                “Pak, kumohon tetap di kasur….”

                “KATAKAN KALAU SAYA SUDAH MATI.”

                Aku berteriak kencang membuat suster lain datang dan mencoba menenangkan. Sudah pasti aku masih hidup. Aku tak bisa terima, seharusnya aku sudah mati sekarang. Seharusnya aku sudah di alam yang lain sekarang.

                Walaupun sulit, aku mencoba menerima. Aku terdiam selama 3 hari sambil berbaring diruang ICU. Semua ucapan dokter tak kudengarkan sedikitpun. Masa bodoh, sesaat setelah aku keluar dari rumah sakit aku akan bunuh diri. Ya…, hanya tinggal seteguk dua teguk racun serangga maka semua akan beres.

                Hari keempat aku dimasukkan ke ruang rawat inap. Dokter menemukan dompet dalam saku celanaku dan mereka tahu aku orang yang berpunya dari alamat di KTPku. Sisa uang di ATMku cukup untuk membayar pengobatan ini. Aku dimasukkan ke ruang kelas satu, satu kamar 2 orang. Kamar VIP sudah penuh.

                Kasurku berada dekat dengan pintu. Aku berbaring menatap kosong ke arah TV yang tak menyala. Aku hanya berdoa agar masalah itu tak terbawa kesini. Toh rumah sakit ini jauh dari rumahku, lebih dekat dengan tikungan maut tempatku ingin mengakhiri segalanya. Aku hanya berdoa agar aku bisa segera keluar dari sini dan segera ke toserba untuk membeli racun serangga.

                “Dok…, berapa lama lagi aku harus menginap disini ?”

                “Mungkin 1 minggu. Paling lama 10 hari. Anda masih harus memulihkan kaki anda Pak. Tapi…, sungguh…, ini adalah keajaiban. Tikungan maut itu sudah banyak memakan jiwa. Dan Anda…, hanya luka sedikit di kaki yang akan segera sembuh. Tuhan benar-benar menanyangi anda Pak.”

                “Dokter…., bagaimana dengan anak dan isteri saya ?” akhirnya setelah 4 hari aku memberanikan diri menanyakan itu. Apakah Tuhan juga berbaik hati kepada mereka ?

                “Pak.., sayang sekali…, mereka tak seberuntung Anda.”

                Aku tak mendengarkan sisa ucapannya. Air mataku mengalir. Antara air mata kesedihan dan bahagia. Sebentar lagi aku pasti akan menyusul mereka. Dokter meninggalkanku. Semangatku yang ada saat ini hanya untuk segera pulih dan pergi dari rumah sakit ini.

                “Hey bro…,” aku mendengar suara dari sebelah. Antara dua kasur hanya dipisahkan gorden saja.

                “Siapa ya ?”

                “Gue bro…,” seseorang menyibak gorden. Rupanya dia yang ada di kasur sebelah gue.

                Pria itu duduk di atas kasurnya sambil tersenyum ke arahku. Usianya mungkin kurang lebih hampir 30 tahun atau 30 tahun awal. Rambutnya cepak dan tubuhnya kurus namun masih agak berisi. Nampaknya dia sehat-sehat saja, ngapain disini coba ?

                “Siapa lo ?”

                “Roomate lo selama disini. Gue denger tadi dokter lo nyinggung-nyinggung tentang tikungan maut. Lo kecelakaan disana ?”

                “Iya,” kataku singkat.

                “Wuih…, hebat kali lo bisa selamat disana.”

                “Nggak penting ah.”

                “Lah kok malah ngomong gitu.”

                “Emang lo pikir gue harus ngomong apa ? Gue harus bilang ‘woow gue juga nggak nyangka bisa selamat. Ini benar-benar sebuah mukjizat’. Drama.”

                “Ya emang seharusnya lo ngomong gitu.”

                “Kenapa ?”

                “Pake nanya lagi. Lo nggak tahu betapa beruntungnya lo. Dokter tadi bilang mobil ringsek nggak berbentuk, ledakannya aja gede banget, nah lo Cuma kebaret dikit di kaki. Gimana nggak beruntung.”

                “Emang dokternya tadi ngomong gitu ?”

                “Iya. Lo nggak denger emang ?”

                “Ya nggak denger. Justru gue lagi sial karena gue nggak mati sekalian,” kataku dengan emosi.

                “Lah kenapa begitu ?”

                “Gue emang mau bunuh diri.”

                “Kenapa emang mau bunuh diri ?”

                “Bukan urusan lo.”

                “Lo udah kehilangan isteri dan anak-anak lo. Mau dipendem juga buat apa. Mending ceritain aja ke gue. Toh habis lo atau gue keluar dari rumah sakitpun, kita nggak akan ketemu.”

                Aku menghela nafas sejenak dan membayangkan kembali kejadian yang membuatku mengambil keputusan untuk mengakhiri kehidupanku dan keluargaku.

Dua minggu yang lalu

 

                Aku duduk dibelakang meja sambil membaca sebuah dokumen. Serasa terkena serangan jantung namun tak sampai membunuhku. Ini  tak mungkin….

                “BODOH.”

                Aku menggertak ke karyawan yang ada didepanku. Dia nampak ketakutan. Aku memang dikenal sebagai bos yang baik dan penyabar.

                “Kamu tahu apa maksud dari ini ?” tanyaku kepada karyawan didepanku. Dia hanya diam, bahkan tak berani menggeleng atau mengangguk.

                “Artinya kamu…, dan semua karyawan disini akan kehilangan pekerjaan. KELUAR KAMU KELUAR.”

                Karyawan itu keluar. Sekilas aku melihat sekumpulan karyawan lain yang sepertinya sedang nguping didepan ruanganku. Aku bangkrut…, aku mempertaruhkan semua pada proyek itu. Dan proyek itu gagal…, bukan karena aku ditipu atau diperdaya namun karena aku gagal.

Dan sekarang bagaimana aku harus menutup pinjaman investrot itu ? Juga bagaimana untuk menggaji karyawan ? Bagaimana untuk biaya operasional kantor ? Bagaimana mungkin aku salah perhitungan sampai kesalahannya fatal seperti ini ? Padahal aku sudah optimis dan memperhitungkan segalanya. Bodoh…, aku bodoh.

*

                “Gue harus menjual rumah dan mencairkan semua deposito…, dan semua itu belum cukup.”

                “Jadi Cuma karena itu lo sekeluarga bunuh diri ?”

                “Cuma karena itu ? Dari kecil gue dan keluarga gue hidup dalam berkecukupan.”

                “Jadi Cuma karena lo takut miskin ? Drama banget sih lo.”

                “Lo nggak ngerti tekanan stress yang gue rasain nyet.”

                “Lo belum tahu siapa gue rupanya ?”

                “Emang lo kerja apaan sampe bisa berpikir seakan lo tahu tekanan yang gue rasa ?”

                “Gue business men juga bro. Punya tambak ikan, restoran seafood, pemain saham dan bisnis travel. Gue dirut semuanya. Gue tahu gimana tekanan seorang leader dalam mengambil keputusan.”

                “Terus gue harus gimana ?”

                “Bunuh diri aja, mau gue beliiin racun serangga sekarang ? Kalau boleh gue tebak sih…, lo mau coba bunuh diri lagi kan ?”

                Aku hanya terdiam.

                “Tuh kan, emang dasar lonya yang drama.”

                “Terus gue harus gimana ?”

                “Ya hadapin bro. Lo pikir semua permasalahan nggak ada solusinya ?”

                “Apa solusinya. Hutang gue miliaran. Gue nggak punya apa-apa lagi. Bentar lagi pasti investor itu akan nagih ke gue, terus gue harus gimana ?”

                “I don’t know. Lo yang buat salah perhitungan ya lo yang bertugas menemukan jawabannya.”

                “See, you pressed me.”

                “Yes I am. Kalau bisa gue bakal tendang pantat lo biar lo sadar. But at least, menurut gue lo sudah sadar.”

                “Sadar apa ?”

                “Lo sudah bertanya apa jawabannya. Jawabannya memang lo harus menemukan jawabannya bukan kabur dan bunuh diri.”

                “Ah lo nggak banyak membantu.”

                “Ya maaf.”

                “Lo sendiri sakit apa sih ? Kayaknya sehat begitu.”

                “Ya emang sehat. Cuma kena leukemia aja.”

                “Leukimia ? Itu kan penyakit mematikan.”

                “Lo sama aja kayak dokter-dokter bual itu. Bilang penyakit gue ini mematikan dan umur gue akan kurang dari 1 bulan lagi.”

                “Dokter bilang umur lo kurang dari 1 bulan lagi ? Emang udah stadium berapa ?”

                “Stadium akhir. Tapi itu hanya di atas kertas. Gue akan tetap hidup sampai tua nanti kok.”

                “Aaah, I see. Lo nggak menerima takdir penyakit lo kan ?”

                “Nggak. Gue menerima kok. Gue menerima kalau gue kena leukemia stadium akhir tapi…, gue nggak terima kalau umur gue kurang dari 1 bulan lagi. Umur kan yang nentuin Tuhan bukan dokter apalagi diri sendiri…,” katanya menyidirku.

                “Apa yang membuat lo yakin kalau lo bisa hidup lama ?”

                “Lo nggak lihat kondisi gue ? Emangnya kayak orang mau mati ?”

                “Ya nggak siih.”

                “See…, lagipula gue emang masih belum mau mati dulu. Gue masih banyak pekerjaan yang ingin gue kerjakan. Pekerjaan yang membuat gue bisa senang, membuat orang lain bisa hidup, pekerjaan yang membuat orang lain punya harapan. Masih kecepetan lah.”

                “Kalau Tuhan nakddirin lo buat mati besok gimana ?”

                “Nggak apa-apa kalau Tuhan yang nakdirin asal bukan manusia yang menakdirkan atau bahkan manusia itu sendiri. Masih mau bunuh diri lo ?”

                Aku memejamkan mata sejenak, takjub dengan orang ini. Dia begitu percaya diri.

                “Bodo ah. Gue mau tidur.”

                Aku menutup tirai yang memisahkan kami berdua. Berbaring memandang langit-langit dan memikirkan semua ini.

                “Lo punya Tuhan kan ? Lo percaya Tuhan kan ?” dia berkata dari balik tirai.

                “Berisik lo.”

                Aku terdiam selama beberapa jam, pikiran kemana-mana. Perlahan tapi pasti rasa penyesalan mulai tumbuh. I killed my family. Apa hakku untuk mengatur ajal mereka ? Apakah aku Tuhan ? Apakah aku malaikat maut ? Air mataku mengalir deras…, anak-anakku punya masa depan yang masih panjang namun sekarang sudah tiada.

                Apakah aku harus menyusul mereka ? Hanya dengan menyusulnya aku bisa bertemu dan minta maaf kepada mereka ? Apakah aku harus menjadi Tuhan atau malaikat maut yang dapat menentukan ajalku sendiri ? Aku tenggleam dalam bimbang.

                “Udah tidur bro ?” Terdengar suara pria dari balik tirai.

                “Belum.”

                “Menurut lo gue harus percaya kalau umur gue tinggal beberapa bulan lagi ?”

                “Mana gue tahu. Terserah lo mau percaya atau nggak. Tadi lo bilang lo nggak percaya.”

                “Emang. Kalau lo jadi gue lo bakal percaya ?”

                “Nggak.”

                “Kenapa ?”

                “Emangnya dokter Tuhan.”

                “Yup, emangnya manusia bisa jadi Tuhan yang ngatur ajal. Semua pasti ada jalan keluarnya. Ya lo pinter banget. Well you know…, gue harap bisa kayak lo.”

                “Kenapa ?”

                “Tuhan begitu sayang sama lo sehingga memberi lo kesempatan kedua untuk hidup lagi.”

                Jlep. Aku langsung mengeluarkan air mata. Aku bukan Tuhan, aku adalah pembunuh, dan yang kubunuh adalah keluargaku sendiri. Semalaman aku tak bisa tidur, menangis menyesali apa yang telah kuperbuat. Aku baru bisa memejamkan mata ketika subuh.

                Aku membuka mata saat mendengar suara disebelahku. Sudah jam 12 siang. Tidur yang begitu pulas namun menyesakkan dada. Suster sedang membersihkan kasur disebelahku. Tak ada orang yang tidur di atasnya. Loh kemana dia ?

                “Suster kemana dia ?”

                “Dia meninggal tadi subuh.”

                “Apa ?” aku kaget setengah mati. Padahal dia semalam segar seperti itu. Tidurku kebo sekali ya sampai tak bisa mendengar suara apa-apa.

                “Sekarang dimana dia ? Apa sudah dikuburkan ?”

                “Sudah jam 10 pagi tadi. Umur memang tidak ada yang bisa menebak, tergantung kehendak Yang Maha Kuasa,” kata suster itu.

                Ya memang, urusan umur, jodoh dan rezeki sudah ada yang mengatur. Jika Dia berkehendak maka jadilah.

                “Saya salut dengan dia. Dia begitu semangat melawan penyakitnya. Dia pantang menyerah mengabaikan relita kesehatannya,” kata Suster itu sambil menghela nafas.

                Selama beberapa hari aku tenggelam dalam renungan dan kesendirian. Bimbang apakah aku harus mati atau hidup. Aku tak sanggup untuk menghadapi cobaan yang sedang kualami. Tapi aku juga bukan Tuhan yang bisa memutuskan ajal.

                Hari ini aku keluar dari rumah sakit. Taka da yang menjemputku. Keluarga yang kupunya sudah tiada. Harta yang kupunya sudah tiada. Yang tersisa hanya hutang dan masalah. Alasan yang sangat tepat untuk mati. Ya…, pergi ke toserba lalu membeli obat serangga dan meneguknya maka aku terbebas.

                Tapi…., belum tentu begitu. Masih ada Tuhan yang punya kehendak. Bisa saja aku masih diselamatkan, bisa saja aku masih hidup namun belum tentu tubuhku akan ‘benar’ 100 % setelah aku meneguk racun serangga itu. Selama ada Tuhan, semua kemungkinan itu masih ada. Ya Tuhan, aku harus bagaimana.

                “Pak…,” ternyata sudah ada 2 pria bertubuh tegap menghadangku di lobi rumah sakit. Ini pasti orang suruhan investor itu untuk menagih hutangku. Bagaimana mungkin dia bisa tahu aku disini.

                “Siapa Anda ?”

                “Bos kami menyuruh kami memberikan ini kepada Anda semalam sebelum dia meninggal,” salah satu pria menyerahkan amplop.

                Aku membuka amplop itu. Ternyata ini dari pria yang terkena leukemia itu. Dari tanggal suratnya, ini ditulis sehari sebelum dia mati. Hanya ada satu kalimat di surat itu. Gunakan dengan bijak, kamu bisa membeli racun serangga atau melunasi hutangmu. Aku melihat ada lembar lain di amplopnya. Sebuah cek dengan nominal yang…., teramat besar. Ini lebih dari cukup untuk melunasi hutangku.

                Tapi…, apa artinya hidup tanpa keluarga ? Apa artinya hidup dengan cap sebagai pembunuh. Tapi…, kabur bukanlah jawabannya. Tuhan sudah menunjukkan kuasanya, menyelamatkanku dari kecelakaan dan memberikan solusi atas masalahku. Aku tak boleh menyerah.

*

                Beratus kilometer dari rumah sakit.

                “Tuan, cek yang tadi untuk apa ?”

                “Oh itu…, . Mungkin cek itu bisa membuat seseorang berubah pikiran. Toh tidak mempengaruhi cashflow perusahaan kan ?”

                “Tentu pak. Lalu kenapa suruhan Anda diperintahkan seakan-akan anda diskenariokan meninggal di rumah sakit kemarin ? Anda kan hanya kena gejala tipes karena kecapekan.”

                “Haha…, makin dikit yang kamu tahu makin bagus.”

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s