Biang Kerok

Akhirnya setelah sekian lama bisa ngupdate blog lagi. (Baca : Sok sibuk). Habis begimana, ada 61 perusahaan migas yang harus dipantau produksi dan liftingnya dengan permasalahan yang bermacam-macam. Bangun pagi, olahraga, kerja sampe malam, tidur sampe nggak kerasa udah tahun 2016, yang berarti bentar lagi gue 25 tahun. Time runs so fast, but who cares as long as i tried to enjoy it. Anyway, enjoy this story.

“Kamu suka makan disini ?”

“Suka lah Jo. Tempatnya fancy banget, suasanya elegan, makanannya enak, musicnya jazz lembut which is aku banget.”

“Hani…, tahu nggak kenapa aku ngebawa kamu fine dining gini ?”

Formal-Dining-Restaurant-POS-System

“Buat makan malam kan ?”

“Ya memang, tapi aku ada alasan lain ?”

“Alasan lain ? Apaan Jo ?”

“Han…, nggak kerasa ya kita udah deket selama 6 bulan ini. Selama kita deket, aku ngerasa sesuatu loh. Sesuatu yang membuat hati aku selalu berdebar ketika dekat dengan kamu. Sesuatu yang membuat aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu. Sesuatu yang membuat aku galau ketika berpikir kamu akan pergi dari hidupku.” *Sambil pegangan tangan.

“Maksud kamu ?”

“Aku sayang sama kamu Hani. Kamu mau nggak jadi cewek aku.”

“Emm…, itu…, aku….”

“Han…, plis. Aku akan bahagiakan kamu. Kamu nggak akan menyesal jika memilihku menjadi pendampingmu nantinya.”

“Itu…, aku…, ma…”

“OOH JADI BEGINI YA KELAKUAN KAMU.”

Tiba-tiba muncul suara ketiga yang memecah suasana di meja gue. Seorang wanita muda, mungkin seusia gue. Tampanganya marah, nampaknya dua tanduk setan pada wanita itu sudah poll keluarnya.  Siapa cewek ini ? Gue nggak pernah lihat sebelumnya.

“Lo siapa ?”

“Ya ampun Jo…, jadi Cuma karena dia, kamu langsung nggak menganggap aku ini ada. Berarti kecurigaanku memang terbukti. Belakangan ini kamu nyuekin aku, kamu bilang lagi sibuk kerja tapi ternyata karena dia ya. ” *Hiks-hiks

“Eh cewek gila. Lo siapa ? Gue nggak kenal sama lo.”

“Dulu kamu berkata-kata manis sampai membuat aku terbuai.  Kamu bilang kamu janji mau nikahin aku, sampai-sampai aku rela menyerahkan segalanya. Kamu masih belum jawab kapan kamu mau tanggung jawab atas anak kita,” kata cewek itu sambil menangis dan memegang perutnya.

“JO…, CUKUP. KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB,” Hani berdiri dan langsung pecah.

“Hani, kamu harus percaya sama aku. Jujur aku nggak kenal siapa cewek gila ini.”

“Aku ini pacar kamu dan anak yang ada di perut ini adalah anak kita,” cewek itu makin menaikkan emosi Hani.

“CUKUP JO. DASAR BUAYA DARAT,” Hani menaikkan tangan kanannya dan…, PLAK-PLAK.

Anjiiir sakitnya…, tapi malunya lebih kerasa sih secara diliatin seantero resto begini. Hani langsung berlari keluar resto. Cewek gila tadi masih mengejarku sambil merengek minta dikawinin.

“Ngapain, sana tanggung jawab,” Hani memberikan hadiah terakhir tepat ke perut gw…, BUG.

*

“Gimana penembakannya tadi malam ?”

“Bangkeeee, semua berantakan.”

“Berantakan gimana ?”

Mereka berdua adalah Niko dan Tito, teman kerja gue dan juga kampret-kampret yang biasa jadi partner gue dalam melakukan semua kenakalan masa muda. Jangan tanya apa yang sudah gue lakukan bersama mereka berdua, ya biar nggak nyesel kalau misalnya nanti udah tua dan berumah tangga.

“Apa ? Ada cewek yang ngaku dihamilin sama lo ? Cewek yang mana Jo ?”

“Au dah. Gue juga bingung siapa cewek gila itu.”

“Senakal-nakalanya kita, nggak sampe lah ngehamilin anak orang.”

“Terus si Hani gimana ?”

“Gue telpon nggak diangkat, direject malah. Gue whatsapp di read doang. The end lah, padahal gue udah cocok banget sama Hani.”

“Serius deh, cewek yang mana sih ? Lo sempet foto tuh cewek ?”

“Nggak. Ya gue nggak mikir sampe situ lah. Yang gue pikirin si Hana.”

“Tapi…, gue jadi mikir Jo. Kayaknya ada aja deh yang ngehambat lo punya pacar. Coba lo inget-inget lagi 2 kejadian terakhir lo nembak cewek.”

Gue memflashback kejadian tahun lalu dan dua tahun lalu. Otak gue langsung membuka file dengan dua nama yang indah itu; Anita dan Icha.

Anita…, cewek yang gue kenal secara tak sengaja waktu gue belanja di mall. Pas itu gue lagi ngantri buat bayar dan Anita ngantri tepat didepan gue. Pas dia mau bayar dia bingung karena dompetnya nggak ada. Ya mumpung ada kesempatan kenalan sama cewek yang cantiknya overdosis langusng lah gue beliin barang yang mau dia beli. Set-set-set dikit, tuker-tukeran nomor HP terus PDKT selama 6 bulan.

Gue nembak dia itu di puncak gunung. Si Anita emang suka naik gunung. Pas itu kita di puncak Dieng, pas banget lagi sunrise ketika gue bilang kalau gue suka sama dia. Si Anita nerima. Gue seneng bukan kepalang, tapi umur jadian gue sama dia Cuma 4 jam doang. Entah kenapa B*a cewek-cewek yang sat rombongan sama trip gue hilang terus pas tas semua peserta trip digeledah, semua b*a ternyata sudah pindah ketas gue.

“Hahaha…, gue langsung ngakak abis tuh pas liat tampang Anita ilfeel sama  lo Jo. Dikira lo punya feti*h sama barang gituan.”

“Iya tuh, sampe sekarang ya gue bingung siapa yang melakukan itu semua ya. Sayangnya di homestay waktu di Dieng itu nggak ada CCTVnya. Bangke…, si Anita langsung nampar gue dan mutusin gue,” kata gue sambil memukul meja.

“Terus yang kedua pas sama si Icha ya. Haha…, gue juga masih suka ngakak tuh kalau mengenang kisah seorang Jojo sama si Icha.”

Icha…, cewek super cantik, yang gue temui di acara kondangan temen kerja. Waktu itu si Icha jadi wedding singernya. Nomor HP bisa dengan mudah gue dapatkan dari temen kerja yang nikah itu. Dengan alibi sedang mencari wedding singer buat nikahan saudara, gue PDKT sama dia.

Awalnya PDKT sih lancar-lancar aja sampai gue bullet mau nembak si Icha. Eh pas malam penembakan gue mabok. Entah siapa yang masukin alcohol ke minum gue yang ada di mobil. Gue juga nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya, sadar-sadar tiba-tiba udah pagi dan di apartemen. Dan udah pasti nomor HP gue diblacklist sama si Icha.

“Gue penasaran, siapa sih biang keroknya ?” Gue berkata dengan geram.

“Kalau sudah tiga kali begini kayaknya nggak mungkin deh kebetulan. Pasti ada yang merencanakan. Dan siapapun yang merencanakan itu pasti tahu kalau malam itu gue mau nembak si Anita, Icha atau Hani. Siapapun yang merencanakan ini pasti tahu lokasi, timing, dan bagaimana metode penembakan gue. Yang tahu semua itu kan….”

Seketika masuk sebuah pemikiran ke otak gue. Gue langsung memandang kedua kampret didepan gue.

“Lo nuduh kita berdua ?” kata Niko.

“Apa untungnya juga buat kita,” kata Tito.

“Kalian kan Jomblo, mungkin kalian sebenarnya naksir sama si Anita atau Icha atau Hani.”

“Enak aja jomblo. Lah lo pikir si  Yuli itu siapanya gue,” kata Tito.

“Oh iya Lupa, sorry To.”

“Lo kan semua tahu, hati gue Cuma buat Renata seorang,” kata Niko.

Haha.., sebenarnya Niko lebih ngenes sih. Renata adalah karyawati perempuan yang bisa dibilang kembang desa kantor. Si Niko udah pernah nembak di Renata tapi ditolak mentah-mentah. Tapi si Niko nggak mau move on dan pantang menyerah, kalau gue jadi Renata sih gue malah jadi risih.

“Eh udah jam berapa nih, ayo balik ke kubikel. Kok kita malah lama di kantin begini.”

*

Sebuah percakapan whatsapp.

Tito : Jo…, lo curiga ya sama gue ?

Jojo : Ya…, tapi gue nggak enak aja bilangnya.

Tito : Jujur ya, bukan gue yang ngelakuin. Gue itu udah punya Yuli.

Jojo : Ya gue tahu itu.

Tito : Gue juga curiga…, dan gue mencurigai si Niko. Gue nggak enak aja ngomongnya tadi.

Jojo : Dia kan ngebet banget sama Renata. Seisi dunia juga tahu itu.

Tito : Nah berarti dia nggak mau keduluan sama lo. Dia kan kompetitif banget.

Jojo : Terus gue harus gimana ?

Tito : Coba deh lo iseng-iseng selidikin. Tapi positif sih ini nggak mungkin kebetulan doang.

Bener juga apa kata Tito sih. Gue langsung membuka tap percakapan whatsapp degan Niko. Ketik apa ya ? Coba deh gue tanya apa bener masih ngebet sama si Renata…, eh tapi masa tetiba gue whatsapp gitu. Apa gue tanya dulu ya tentang kecurigaan gue ini…, tapi masa gitu nanyanya.

Niko : Kok dari tadi is typing doang. Ada apa ?

Waduh…, gue lupa kalau gue ngetik gini diwhatsappnya si Niki bisa kedetek.

Niko : Lo pasti curiga kan sama gue ?

Jojo : Ya iya sih.

Niko : Enak aja lo. Gue itu Cuma mau sama Renata, titik. Tapi gue setuju sama lo kalau ini bukan kebetulan doang.”

Jojo : Terus gue harus gimana dong ?

Niko : Coba deh lo interogasi si Tito. Bisa aja kan dia udah bosen sama Yuli dan butuh pelampiasan baru. Dan kebetulan aja cewek inceran lo itu tipenya dia.

Jojo : Masa sih begitu ?

Niko : Who knows tapi pakai logika aja sih. Gue udah punya Renata, nggak ada untungnya juga buat gue. Pasti deh si Tito.

Ah…, kampret-kampret ini sama sekali nggak membantu. Aha…, gue dapat akal.

*

3 Bulan kemudian

*

“Eh gue mau nembak si Dania nih besok malam.”

“Bukannya lo curiga sama kita berdua ? Mending nggak usah cerita,” kata Tito sebel.

“Lo bedua kan bestfriend gue, masa sih lo bedua tega. Jadi si Dania kan suka banget sama Cokelat dan Teddy Bear. Kebetulan banget besok itu ulang tahunnya dia. Jadi rencananya gue bakal datang jam 12 malam nanti ke rumahnya sambil bawa boneka teddy bear pink seukuran gaban dan cokelat mahal yang gue pesen spesial ke toko cokelat factory.”

“Semuanya dah siap ?”

“Udah. Bonekanya udah ada di apartemen gue, cokelatnya nanti sore diantar.”

“Ya good luck lah bro. Semoga nggak ada apa-apa nanti,” kata Niko.

“Ya bro, semoga bisa nyusul gue lah,” kata Tito.

*

Gue sudah menduga pancingan gue berhasil. Gue melihat si kampret itu masuk ke dalam toko cokelat factory. Gue mengamati dari kejauhan. Kepo…, apa sih yang dia omongkan dengan penjaga tokonya. Tak lama kemudian kampret itu keluar dengan membawa bungkuan besar. Itu pasti cokelat pesenan gue. Setelah dia keluar gue langusng masuk ke dalam toko dan bicara ke karyawannya.

“Mbak…, mas tadi ngambil pesenan atas nama Jojo ya ?”

“Iya. Semua persis seperti yang Pak Jojo bilang”

“Dia ngomong apa mbak ?”

“Ya dia bilang dia suruhannya Pak Jojo buat ngambil cokelatnya.”

“Oke…, nggak apa-apa mbak. Mbak ngerekam pembicaraan tadi kan seperti yang saya suruh.”

Gue langsung menuju ke apartemen. Sudah pasti dia akan menukar kotak cokelat itu dengan buatan dia yang mungkin sudah dicampur obat pencuci perut atau racun tikus untuk kemudian diantar ke apartemen gue untuk gue kasih ke Dania. Ntar gue tuker lagi deh cokelatnya dengan yang lain. Tembak-tembakan gue sama Dania kan Cuma sandiwara doang buat ngebongkar siapa biang keroknya. Sekarang hanya tinggal membuat kampret ini tertangkap basah.

*

“Eh Jojo, jadi lo mau nembak gue sekarang ?”

“Ssst…, Dan…, udah deh walaupun ini sandiwara kita harus tetep melakukan sesuai scenario. Gue sendiri nggak tahu si Kampret itu ngerencanain apa buat ngerusak malam ini. Bisa aja dia perhatiin dari balik pagar rumah.”

“Iya-iya. Jadi itu cokelat sama teddy bearnya. Sini.”

“Nih…”

41hIutwQaPL

“Terus ?”

“Dan…, gue mau bilang kalau gue suka sama lo. Mau nggak jadi cewek gue ?”

“Iye. Udah ya. Gue ngantuk nih. Nggak mungkin juga sih ada orang di balik pager gue. Komplek gue aman kok.”

Dan memang nggak terjadi apa-apa. Kalau ini beneran mungkin gue sama Dania udah jadian. Jadi rencan si kampret itu Cuma cokelat doang ya. Okelah, besok akan gue mainkan.

*

“Gimana penembakannya semalam ?”

“Berhasil. Gue dah jadian sama dia.”

“Dia suka sama cokelat dan teddy bear lo ?”

“Iya dong. Langsung diabisin cokelatnya sama dia. Teddy bearnya juga langsung dibuat tidur sama dia.”

“Masa sih ? Dia nggak apa-apa habis makan cokelatnya, ups.” Kampret itu langsung menutup mulut

“NAH…, gue udah tahu kalau lo biang keroknya.”

“Biang kerok apa ? Gue Cuma nanya gimana cokelatnya.”

“Ini buktinya,” gue mengeluarkan foto ketika dia masuk kecokleat factory kemarin, juga rekaman pembicaraan dia dengan karyawan cokelat factory itu.

“Udah ngaku aja deh daripada gue bawa urusan ini ke polisi. Untung gue dah tuker lagi cokelatnya.”

Dia menunduk, tak bisa mengelak.

“Ya emang gue yang melakukan itu, juga ketika lo nembak si Icha, Anita dan Hani. Ketika lo nembak si Anita, gue bayar orang buat ngambil b*a di tas para cewek dan masukin k etas lo. Gue yang masukin alcohol ke minuman lo pas lo mau nembak si Icha, pas sorenya kan gue nebeng lo waktu itu. Pas nembak si Hani, gue yang batyar cewek itu buat ngaku udah dihamilin sama lo.”

“Gue nggak percaya lo bisa melakukan itu Tito. Lo kan udah punya Yuli. Kenapa lo masih ngincer si Icha, Anita, Hani, dan Dania juga ?”

“Yuli itu Cuma kedok gue doang. Gue nggak pernah suka sama dia.”

“Tapi kenapa harus sama cewek yang jadi inceran gue ? Jadinya gue nggak bisa punya cewek. Kan banyak cewek lain.”

“Lo salah Jo. Gue nggak suka sama cewek inceran lo. Gue sukanya sama….,lo.” *mukamerah

“HAH ??????” *gubrak.

“Udah mending lo bilang dulu si Dania, jangan dipegang bonekanya. Itu udah gue taburin bedak gatel.”

“Hah kok bisa ? Kapak lo kasihnya ? Tuh boneka kana da di apartemen gue sepanjang hari setelah gue beli.”

“Kan gue punya kunci apartemen lo.”

“Kok bisa ?”

“Gue duplikat. Pas lo mabok habis nembak icha, kan gue yang bawa lo ke apartemen lo. Mana mungkin lo nyetir pas mabok. Emang menurut lo apa yang terjadi di apartemen lo setelah kita sampai ?”

“TITO…., LO GUE END.”

*

Advertisements

One comment on “Biang Kerok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s