Galau Putus

Sekedar menuangkan pikiran iseng ke  sebuah tulisan

Dari sudut pandang pria

“Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah…, yaudah…, YAUDAH.”

Aku terbangun bukan karena alarm melainkan karena ngiangan kata yang gue ucapkan dua hari lalu. ‘Yaudah,’ sebuah kata yang mengakhiri hubunganku dengan dia. Aku bangun dan duduk di pinggir kasur. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Masih 1 jam lagi sebelum aku harus memulai rutinitas pagi ini.

Aku memijit pelan kepalaku, dunia terasa berputar. Dua hari belakangan ini hidupku tak teratur, entah berapa lama aku tidur nyenyak tanpa mimpi yang menyesakkan dada. Aku sudah pernah merasakan luka akibat jatuh dari motor, tinju dalam perkelahian dan semacamnya, namun luka kali ini adalah yang paling perih. Aneh, padahal luka ini tak terlihat, tak berbekas, namun begitu membuatku sekarat.

Aku mencoba tak menangis, mencoba mengabaikan perasaanku. Semua akan baik-baik saja, waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Yang sekarang aku butuhkan hanyalah pelarian dari pikiran yang terus menguasai diriku. Kuyakin rutinitas akan membuat kenangan ini tenggelam dengan sendirinya.

Aku bangun dan memasukkan beberapa buku ke tasku. Aku fokus ke sebuah buku, dasar termodinamika. Mungkin mengerjakan tugas bisa membuatku teralih. Masih ada 1 jam sebelum waktu siap-siap.

Sebuah siklus refrigerasi memiliki beban….Biasanya hanya butuh 30 menit untuk mengerjakan soal mudah ini namun kertas kerjaku haanya berisi sebuah hambar hati. Di dalam gambar hati itu aku menuliskan sebuah nama tanpa kusadari. Aarrgh, aku meremas kertas HVS ku dan membuangnya tidak mood untuk mengerjakan tugas, masa bodoh ah tidak mengumpulkan. Lebih baik aku mandi dan mulai beraktifitas.

Dari sudut pandang Wanita

“Hiks…, hiks….”

“Udah Del…, lo udah 2 hari 2 malam nangis melulu sampe tidur jadwal tidur aja nggak jelas.”

“Habis gimana Rin. Gue nggak bisa diginiin. Harga diri gue sebagai cewek diinjek-injek. Tolong tisu dong.”

“Berarti jahat banget ya si A’al.”

“Ih kok lo panggil-panggil dia A’al sih, itukan panggilan sayang yang boleh gue doang yang panggil.”

“Iye…, iye…, maksud gue jahat banget si Ali.”

“Iya…, hati gue perih banget, sakitnya tuh di sini….” Srooot, aku mengeluarkan ingus dari hidungku.

“Tapi sejak 2 hari gue jadi teman curhat lo, gue masih kepo kenapa sih lo berdua putus. Kenapa ?”

“Udah gue bilang Rin. Dia melakukan suatu hal yang membuat gue sakit hati. Terlalu sakit untuk gue omongin. Huaaa…., huaaaa.”

“Iya…, udah-udah. Sorry gue nggak akan nanyain itu lagi deh. Terus sekarang gimana ? Udah jam 5 pagi. Lo mau kuliah nggak ?”

Aku tak menyangka dua hari telah berlalu sejak kata terakhirku kepadanya aku ucapkan, ‘Kita putus’. Selama 2 hari itu rasanya semua adalah neraka yang membuat hatiku perih. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menangis dan meluapkan seluruh kegundahan hati ini.

“Kuliah.”

“Lo yakin, ntar ketemu si Ali lho. Kalian kan satu jurusan.”

“Kalau misal gue nggak masuk ntar kelihatan banget kalau gue galau karena mutusin dia. Ih nggak lah yaw. Gue akan buktiin ke dia kalau gue nggak nyesel karena mutusin dia. Bagi gue dia itu sekarang hanya mantan.”

“Yakin ?”

“Iya. Kok lo ngeraguin gue gitu sih Rin. Btw thanks ya udah jadi teman curhat gue.”

*

Dari sudut pandang pria

“Bro, nyontek dong tugas termo.”

“Hah…, seorang Ali nyontek.”

“Gue lagi nggak sempet ngerjain. Udah deh, sekali-kali doang, mumpung dosen belum datang.”

“Iye…, nih.”

Aku langsung menyalin tulisan-tulisan aneh yang ada di kertas teman gue. Itu dia…, si Adel datang. Dia sempat melihat selama dua detik ke arahku. Biasanya dia langsung duduk di sebelahku. Kalau sudah begitu, kelas serasa milik kita berdua, dosen dan mahasiswa lain hanyalah tim hore di belakang kisahku berdua.

Wajah Adel hari ini murung. Dari matanya jelas sekali kalau dia baru menangis semalaman, mungkin dua malaman. Haha…, sepintar apapun dia mencoba menyembunyikan, mata tak akan bisa berbohong. Setidaknya aku hanya menangis satu jam dan tak ada mata panda di wajahku.

Adel langsung membuang muka dan duduk jauh dari tempatku duduk. Jeder, melihatnya murung dan duduk jauh dariku membuatku langsung nyesek. Aku langsung menggelengkan kepalaku dan kembali fokus dengan apa yang kulakukan. Ya.., waktulah yang akan mengubah kegalauan ini menjadi perasaan lega.

“Bro…, ente putus sama si Adele ?” tanya teman disebelahku.

“Iya. Kan di facebook udah gue ubah status gue menjadi single lagi.”

“Emang kenapa lo putus.”

“Nggak penting ah.”

“Ente selingkuh ?”

“Enak aja lo.”

“Dia yang selingkuh ?”

“Bukan karena orang ketiga.”

“Terus kenapa ?”

“Kepo banget deh lo kayak infotainment. Alasan nggak penting.”

Dari sudut pandang wanita

“Del…, lo putus sama si Ali ? Kenapa sih ?”

“Ntar deh pas makan siang gue ceritain.”

“Okelah…, gue broadcast ke grup cewek angkatan kita ya bakal ada konfrensi pers. Habis dari kemarin kita semua nanyain lo di grup nggak dijawab-jawab.”

“Habis gue masih belum bisa menuangkan keperihan itu dalam kata-kata.”

“Udah Del, udah…, simpan air mata lo untuk ntar siang.”

Dosen datang dan mulai menerangkan materi. Sama sekali tidak masuk. Apa yang dosen ini katakana hanya masuk kuping kiri keluar dari kuping kanan dan bokong. Biasanya selalu A’al yang duduk di sebelahku, dia yang mengajari aku kalau aku tidak ngerti. Aku mencoba menahan setetes air mata yang mencoba menyeruak keluar dari kornea mataku.

“Coba itu bedua yang lagi ngelamun maju kesini. Kamu kerjain soal yang sebelah kanan dan kamu yang sebelah kiri.”

Teman sebelahku langsung menginjak kakiku. Ternyata dosen menunjuk ke arahku. Mati aku, mana aku ngerti soal itu. Tapi nggak mungkin kan aku nolak. Dengan langkah panik aku maju ke depan. Seketika aku merasa kegalauan ini sirna, ya mungkin aku harus sering masuk ke situasi darurat seperti ini untuk membuat pikiranku teralih.

Aku maju dan mengambil spidol. Mati aku, apa yang harus aku tulis. Pikiranku fokus pada rumus dan secercah kalimat yang tadi diucapkan dosen. Namun semua itu pecah saat dia berdiri di sebelahku. Jadi dia juga ngelamun dan disuruh maju. Hah ketahuan kalau sebenarnya dia juga masih belum bisa move on dan fokus. Sepintar apapun mencoba menyembunyikan tapi mata tidak bisa bohong.

Dari sudut pandang pria

Bangke kenapa jadi bisa maju berdua gini. Kalau begini kan jadi ketahuan kalau misalnya gue itu tadi nggak fokus. Haduh gimana ngerjain soal ini ya ? Bentar…, aku hanya butuh fokus selama semenit untuk bisa menghubungkan beberapa teorema untuk mengerjakan soal ini. Tapi kalau ada dia disebelah mana bisa fokus, rasa kegalauan ini langsung meningkat 200 %

“Ayo kerjakan…, kenapa malah ngelamun.”

Aku mencoba fokus dan mulai menulis sedagkan Adele masih membeku. Otaknya memang dibawah rata-rata sih, tapi tampangnya memang di atas rata-rata.

“Tumben kalian berdua duduk berjauhan, biasanya udah kayak lem.”

Aku langsung menengok kea rah dosen dan memandangnya dengan marah. Begitu juga dengan Adele.

angry eye

Sang dosen langsung kaget. Suasana kelas menghening. Adele masih membeku sedangkan aku sudah setengah jalan. Adele melihat ke arahku selama beberapa detik dan dia mengulanginya selama beberapa kali.

“Apa sih liat-liat ?” kataku sambil tetap menulis.

“Siapa yang lihat-lihat.”

“Lo barusan. Emangnya gue nggak ngelihat.”

“Orang gue ngelihatin rumus yang lo tulis. GR banget sih.”

“Makanya kalau dosen nerangin tuh di dengerin. Dari dulu nggak pernah berubah deh.”

“Apa sih ? Kok lo nyebelin banget deh.”

“Dibilangin bukannya dengerin malah bantah, dasar cewek.”

Adele langsung membanting spidol yang dia pegang dan memandang marah ke arahku. Masa bodoh. Aku tetap fokus mengerjakan soal. Adele langsung berjalan kebelakang, mengambil tasnya, keluar kelas dengan membanting pintu. Dosen dan mahasiswa yang lain speechless.

assortment of smiley face expressions including very happy, smug, happy, mild surprise, shock, neutral, chagrin, sad, dead, skull with teeth

Dari sudut panwang wanita

“Kalian lihat nggak yang dia lakukan tadi ?” aku berkata sambil terisak dihadapan teman-teman cewek seangkatanku.

“Iya, dia tega banget ya. Nggak nyangka aku.”

“Aku tuh selalu digituin waktu pacaran. Kalian bisa bayangin kan rasa sakit yang aku rasain.”

“Emang ya semua cowok sama, bisanya Cuma nyakitin kita aja.”

“Hiks-hiks, ya emang. Makanya aku nggak bisa lagi sama dia.”

“Ya ampun…, sabar ya Adele. Minum dulu. Tapi emang ya tadi dia itu di kelas nyebelin banget. Pingin aku bejek-bejek.”

“Sakiiit…, sakit….,” kataku sambil memegang dada.

“Terus lo kemarin putus emang dia ngapain ? Dia selingkuh ?”

“Iya, kenapa sih kalian putus dan dia sampe jadi benci banget sama lo gitu ?”

“Huaaa…, aku nggak bisa cerita. Itu terlalu menyakitkan buat gue.”

“Pelan-pelan aja Del. Coba cerita ke kita-kita. Siapa tahu kita punya solusinya ?”

“Dia…, dia…, dia melakukan hal yang merendahkan gue banget. Sebagai wanita gue nggak bisa terima.”

“Emang dia ngatain lo apa ?”

“Hiks…, hiks…, dia…, dia…,” aku terhenti oleh sesak. Kata-kata itu tertahan di tenggorokanku.

“Udah Del…, udah…. Udah teman-teman kayaknya dia masih belum sanggup lanjutin. Yang jelas apa yang Ali lakukan udah bener-bener keterlaluan.”

“Del, kalau gue boleh saran. Lo sekarang lagi butuh pelampiasan aka pelarian biar pikiran lo nggak ngelantur ke si Ali aja.”

“Maksud lo ?”

“Ya lo butuh kegiatan. Gimana kalau ntar malam kita nonton aja. Kan besok kuliah kita siang tuh”

“Hush…, orang baru putus kok diajakin nonton Vi…”

“Ya kan buat menghibur aja Din….”

“Mau ya Del. Gue yang atur deh acara ntar malam. Pokoknya lo harus bisa balik ke Adele yang sebelumnya. Buktiin ke si brengsek itu, lo nggak nyesel karena putusin dia.”

Aku hanya mengangguk pelan. Dalam hati aku masih teringat dengan kenagan ketika aku menonton bioskop setiap malam minggu bersama dengan A’al. Ah aku masih belum bisa melepaskan kenangan itu.

Dari sudut pandang pria

Ih ngapain tuh dia sama temen-temen ceweknya mojok disana ? Ah sudah pasti ngomongin yang lebay tentang aku. Dasar cewek, semuanya sama…, comel. Sudah pasti si drama queen itu sedang bicara kenapa kami putus dengan ditambah bumbu yang enggak-enggak. Iiih….., sebel.

Aku mengeluarkan ponselku. Si Drama Queen itu harus dihapus dari ponselku, aku membuka kontak whatsapp. Are you sure want to delete your conversation with Princess Adele ? Galau, antara pencet yes atau no. Ah jangan chat deh yang dihapus, mending foto-foto aja. Aku membuka gallety foto. Aduh…, aku malah jadi galau, teringat dengan semua kenangan yang ada di foto-foto ini, ketika kami liburan bersama, nonton bersama, atau ngegaje bersama.

“Ali…, awas.”

Aku menghindari bola yang tepat mengarah kearahku. Ternyata teman-temanku sedang main voli di lapangan kampus. Mereka mengajakku untuk ikutan. Ah daripada galau mending olahraga saja lah. Lumayan juga 1 jam dapat pelampiasan untuk melepas galau. Aku kepinggir lapangan untuk mendinginkan badan.

“Gue denger lo baru putus sama si Adele ya ?” itu teman seangkatanku.

“Iya dan gue nggak mau ngomongin itu.”

“Kayaknya lagi ada konfrensi pers deh diantara ceciwi angkatan kita. Tadi gue lihat.”

“Ya gue juga lihat.”

“Haha…, paling omongan drama queen. Eh nonton yuk ntar malam. Besok kan jadwal kuliah kita siang. Itung-itung pelarian buat lo.”

“Boleh-boleh. Ajakin geng kita biasa ya.”

“Sip deh Al.”

“Dah ya gue mau balik. Baju dah basa begini.”

Jadwal janjian dan film sudah ditetapkan. Sebuah film action penuh konspirasi adalah film yang sangat cocok untuk pelarian. Ya…, sudah pasti waktu dan rutintias adalah obat yang paling mujarab untuk galau ini.  Aku menunduk, tetiba kalau sendiri aku selalu teringat dengan Adele. Kenapa sih aku harus putus segala ?

Bruk. Aku menabrak seseorang cewek karena aku yang tak fokus dan orang yang ditabrak juga terlalu fokus kepada ponselnya sambil jalan. Karena tubuhku yang lebih besar, dia jadi jatuh. Buku yang dia pegang berjatuhan. Aku memegang tangannya dan membantunya bediri kemudian mengambilkan bukunya.

“Sorry-sorry,” kataku.

“Nggak apa-apa kok mas. Saya juga yang jalan nggak lihat-lihat.”

“Mbaknya nggak apa-apa kan ?”

“Saya baik-baik aja kok mas. Makasih.”

Untunglah bukan tipe cewek yang nyalahin.

Dari sudut pandang wanita

“Del…, si Ali emang brengsek banget ya. Baru kemarin putus masa udah deket sama cewek lain. ”

“Maksud lo apa Din ?”

“Lihat nih foto. Gue ambil tadi sore di depan gedung ABC kampus.”

Dini menunjukkan sebuah foto dari ponselnya. Foto pertama A’al sedang memegang tangan cewek. Foto kedua dia sedang mengobrol akrab dengan cewek itu.

“Ih kok dia pake pegang-pegang tangan gini sih. Berengsek banget emang dia.”

Seketika aku terbakar api cemburu. Rasa perih makin terasa menga-nga di dada. Aku langsung menangis namun tanpa suara.

“Udah Del-udah…, dia kan bukan siapa-siapa lo lagi.”

“Tapi masa sih sia langsung lupain aku begitu aja. Berarti emang dari dulu dia pingin putus.”

“Yah jadi nyesel gue nunjukin foto tadi. Udah mending sekarang kita pulang dan siap-siap nonton.”

Aku langsung bergegas pulang sambil menahan air mata. Marah dan cemburu. Tapi…,dia kan Cuma mantan sekarang, kenapa harus cemburu sih ? Apakah keputusanku untuk break up sudah benar ? Kenapa aku jadi bimbang begini ya. Ah aku hanya belum terbiasa saja.

Setelah sampai kos aku langsung mandi dan siap-siap. Aku mengenakan make up agak lebih tebal untuk menutupi mata pandaku. Dini akan menjemputku dengan mobilnya dan kami akan berangkat bareng. Rencananya kami ber-8 akan nonton, makan dan karaoke. Ya semoga ini bisa membuatku melupakan dia dan menyadari kalau dunia itu tak selebar wajahnya saja.

Dari sudut pandang pria

“Wuih ganteng banget nih. Mode cari cewek baru ya ?”

“Ya begitulah. Dia kan Cuma mantan doang sekarang.”

Aku mencoba senang dan bahagia namun dalam hati masih ada perasaan yang mengganjal. Masih ada sesuatu yang membuatku ingin terus bersamanya.

“Yang lain mana ?”

“Lagi pada otw. Mending kita beli tiket dulu aja.”

Dan benar saja…, film ini memang cocok, action penuh darah dan pemikiran. Tapi section apapun film pasti ada kisah cintanya. Haduuuh…., melihat adegan percintaan antara sang agen rahasia dengan tokoh antagonisnya membuatku langsung galau lagi. Benakku langsung teringat dengan Adele.

Aku mengeluarkan ponselku. Sesaat aku berpikir untuk memwhatsappnya dan bertanya dia sedang apa. Ih gengsi dong. Tapi makin kebelakang filmnya makin banyak dosisi percintaannya. Enough, mending aku keluar saja. Toh inti filmnya sudah lewat.

Aku langsung berdiri dan hendak keluar. Untunglah aku duduk di pinggir jalan sehingga tidak harus menggubris banyak orang. Orang yang duduk di baris sebelahku juga berdiri. Kayaknya kenal sama orang itu. Loh kenapa ada di Adele disitu. Aku melihat ke deretan di sebelahnya. Itu teman-teman ceweknya.

“Ngapain lo disini ?” tanya Adele dengan jutek.

“Eh emangnya ini bioskop punya nenek moyang lo. Haha…., mata panda. Ketahuan tuh kalau masih belum bisa move on.”

panda eye

“Iih, Ge-Er. Lo tuh yang kesini buat pelarian. Dasar munafik.”

“Lo kali yang pelarian. Sejak kapan lo suka film action begini. Cewek drama queen kayak lo tuh demennya film mewek yang.”

“Jadi selama ini lo nggak suka sama film yang gue pilih buat kita nonton bareng ?”

“Ya nggak lah, selera lo tuh kamseupay.”

Adele tiba-tiba menutup mata dan menangis. Huuu…. Riuhan penonton bioskop yang menikmati pertunjukan iklan antara aku dan Adele langsung berseru kepadaku. Beberapa ada yang melempar popcorn. Ininih yang paling aku tak suka dari cewek, kalau mereka sudah nangis. Mending denger suara ketawanya kuntilanak deh.

Namun…, seketika aku juga merasa ingin menangis. Tak pernah sekalipun aku menyakitinya. Melihatnya menangis seperti ini membuatku ingin memeluknya dan menenangkannya. Aku tak tega melihatnya bersedih. Aku meremas tanganku, ingin memukul diriku sendiri.

“Udah Del. Cowok berengsek kayak dia nggak usah diladeinin.”

Teman-teman Adele langsung menggiring Adele keluar bioskop. Aku kembali duduk dan melamun. Sama sekali tak fokus dengan akhir dari film ini.

Dari sudut pandang wanita

“Ih jahat banget ya dia. Masa ngomong gitu di depan umum sampe buat Adele nangis gini. Ni tisu del.”

Aku menyeka air mataku dengan tisu.

“Udah biar tenang mending makan dulu ya Del. Gue pesenin makanan kesukaan lo ya.”

Loh ternyata teman-teman menggiringku ke restoran dalam mall. Well ini restoran dengan suasana yang tidak terlalu ramai. Ya bolehlah kalau tempatnya hening begini. Band pengiring dalam live music di restoran ini pun menyanyikan lagunya jass acoustic. Mungkin makanan enak bisa membuatku lebih tenang. Aku percayakan menu makan ke teman-temanku.

“Oke menunya saya ambil ya. Mungkin mau request lagu.”

“Del, mau request lagu apa ? Ntar bisa dinyanyiin sama bandnya tuh.”

“Gue request lagu lelaki Pergilah Kau. Yang kenceng ya mbak. Bilangin lagu ini untuk semua cowok di dunia.”

Tak lama kemudian makanan datang. Wah ada steak, spageti, salad, lasagna, beef barbeque, tiramisu, brownies. Ini makanan kesukaanku semua. Aku langsung mengambil steak porsiku.

“Emang ya semua cowok itu berengsek apalagi si Ali. Rasanya pingin deh motong-motong dia kayak gini,” kataku sambil memotong daging dengan emosi sampai-sampai sausnya tumpah ke meja.

“Santai Del-santai. Gimana nggak sebel. Masa dia bisa ngelakuin itu ke gue. Emang ya si A’al itu,” kataku sambil memotong daging dengan bringas.

Dari sudut pandang pria.

“Lagu ini didedikasikan untuk semua cowok di dunia. Satu lagu berjudul Pergilah Kau.”

Aku tertawa kecil mencibir penyanyi itu. Emangnya semua cowok begitu.

“Kayaknya yang request lagu itu cewek desperate deh.”

“Oke mas pesenannya saya ambil. Mungkin mau request lagu ?”

“Mbak, yang request lagu ini siapa ?”

“Mbak yang disebelah sana.”

Aku melihat kea rah yang ditunjuk pelayan. Ya ampuuun, kenapa sih harus serestoran sama dia lagi. Niatnya mala mini mau pelarian.

“Loh kok ada ceciwi ini lagi sih. Pindah resto yuk,” kata temanku.

“Tunggu. Kalau kita pindah berarti kita kalah. Mbak saya mau request lagu ya, lagu ular bebisa. Puter habis ini, bilang dari meja sebelah sini untuk meja sebelah situ.”

“Tapi habis ini lagu yang…”

“Nih…, buat habis ini lagu request saya yang diputer,” kataku sambil menyodorkan seratus ribu.

Pelayan itu menggeleng. Lima menit kemudian….

“Satu lagu dari Mbak-mbak cantik di meja sini dari cowok-cowok di sebelah sana. Lagu berjudul ular berbisa.”

Seketika cewek-cewek itu menengok ke arah meja kami. Dari tatapan matanya seperti tatapan mata TNI mau bertempur.

Dari sudut pandang wanita.

“Berengsek…., kita dibilang ular berbisa. Gue nggak terima,” kataku geram.

“Udah Del, udah. Mending kita chao aja yuk.”

“Nggak. Pindah berarti kalah. Mbak….,” aku memanggil pelayan. Tak lama kemudian pelayan menghampiri.

“Saya mau nyanyi habis ini.”

“Oh boleh mbak. Kafe kami membolehkan pengunjung jika ada yang mau berpartisipasi dalam live music. Tapi habis ini sudah ada yang mau menanyi dari pengunjung sebelah sana.”

“Nih…,” aku menyodorkan seratus ribu rupiah. Tak lama kemudian….

“Yak dari mbak disebelah sana katanya ada yang mau menyumbangkan suara.”

Aku langsung maju, mengabaikan teman-teman yang menyuruhku untuk tidak emosi. Aku duduk di depan panggung dan memandang A’al dengan pandangan macan.

tiger

“Silakan mbak mau nanyi lagu apa ?”

“Lelaki buaya darat.”

“Loh kenapa mau nyanyi lagu itu ?”

“Itung-itung buat mantan berengsek yang semena-mena ngatain terus mutusin, eh besoknya langsung pegang-pegangan tangan sama cewek lain. Ya semua cowok emang sama-sama berengseknya.”

Aku menanyi dengan penuh emosi dan memberikan penekanan pada kata ‘buset aku tertipu lagi’. Mampus lo…., makan tuh lagu. Aku turun dari panggung dengan perasaan lebih lega. Rasanya seperti habis namparin si A’al nyebelin itu.

“Yak sekarang giliran dari cowok disebelah sana untuk menyanyi.”

Ali naik ke panggung, mengambil gitar dan siap bernyanyi. Jadi dia mau membalas ? Oke, siapa takut. Aku langsung berdiri dan berjalan ke depan panggung. Aku menyilangkan tanganku sambil menatapnya dengan marah.

Tapi…., seketika perasaan dejavu langsung menguasaiku. Ini kan ? Momen ini pernah kurasakan satu setengah tahun lalu, tepat seperti ini. Ali menanyi diatas panggung dan aku berdiri didepanya dan menatapnya.  Ini momen ketika dia hendak menembakku. Seketika seluruh perasaan yang aku punya kepadanya menyeruak menjadi air mata yang mencoba keluar. Ya aku masih menyayanginya.

Dari sudut pandang pria.

Anjiir kenapa jadi terjebak ke momen ini ? Ini sama persis dengan kejadian satu setengah tahun lalu. Segala emosi dan amarah langsung tergantikan oleh perasaan hangat dan kasih sayang. Aku melihat mata Adele…, ya memang sikap dan perkataan bisa berbohong namun mata tak bisa berbohong. Aku juga tak bisa menyembunyikan perasaanku. Kuyakin dia bisa membaca semua isi hatiku melalui pandangan mataku, sama seperti aku membacanya melalui matanya,.

“Silakan mas mau nyanyi apa ? Katanya mau nyanyi lagu untuk mantannya ya ?”

“Saya mau menyanyikan sebuah lagu yang saya nyanyikan satu setengah tahun lalu untuk wanita di depan saya.”

Dari sudut pandang pria dan wanita

“Jadi kalian sudah balikan lagi ya ?”

“Begitulah….”

“Syukur deh.”

“Tapi kenapa kamu nyanyiin lelaki buaya darat Del ? Emang aku selingkuh.”

“Itu dari si Dini. Coba tunjukkin fotonya Din ?”

“Oh ini…, ini aku lagi jalan terus nabrak cewek ini.”

“Okelah apapun itu…., aku mau itu menjadi masa lalu. Mari kita lanjut lagi masa depan kita Mas A’al.”

“Ah, aku kangen sama sapaan itu.”

“Btw, Al, Del, kalian itu kemarin putus kenapa sih ?”

“Gapapa lah ya diceritain Del, udah masa lalu ini juga.”

“Baiklah. Gini…, kan rencananya buat valentine nanti kita mau Jalan-jalan bareng ke Singapur, ke Universal Studio. Rencana kita mau pake baju kembaran, Cuma aku pinginnya pake baju warna merah dengan gambar hati separo dan Mas A’al pakai baju separo hatinya lagi. Kan unyu dan romantis. Pokoknya aku mau itu titik”

“Aku nggak mau lah. Terlalu lebay mampus. Masa pake baju begituan. Makanya aku marah”

“Haedeeeeh.”

males

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s