Galau Putus

Sekedar menuangkan pikiran iseng ke  sebuah tulisan

Dari sudut pandang pria

“Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah…, yaudah…, YAUDAH.”

Aku terbangun bukan karena alarm melainkan karena ngiangan kata yang gue ucapkan dua hari lalu. ‘Yaudah,’ sebuah kata yang mengakhiri hubunganku dengan dia. Aku bangun dan duduk di pinggir kasur. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Masih 1 jam lagi sebelum aku harus memulai rutinitas pagi ini.

Aku memijit pelan kepalaku, dunia terasa berputar. Dua hari belakangan ini hidupku tak teratur, entah berapa lama aku tidur nyenyak tanpa mimpi yang menyesakkan dada. Aku sudah pernah merasakan luka akibat jatuh dari motor, tinju dalam perkelahian dan semacamnya, namun luka kali ini adalah yang paling perih. Aneh, padahal luka ini tak terlihat, tak berbekas, namun begitu membuatku sekarat.

Aku mencoba tak menangis, mencoba mengabaikan perasaanku. Semua akan baik-baik saja, waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Yang sekarang aku butuhkan hanyalah pelarian dari pikiran yang terus menguasai diriku. Kuyakin rutinitas akan membuat kenangan ini tenggelam dengan sendirinya.

Aku bangun dan memasukkan beberapa buku ke tasku. Aku fokus ke sebuah buku, dasar termodinamika. Mungkin mengerjakan tugas bisa membuatku teralih. Masih ada 1 jam sebelum waktu siap-siap.

Sebuah siklus refrigerasi memiliki beban….Biasanya hanya butuh 30 menit untuk mengerjakan soal mudah ini namun kertas kerjaku haanya berisi sebuah hambar hati. Di dalam gambar hati itu aku menuliskan sebuah nama tanpa kusadari. Aarrgh, aku meremas kertas HVS ku dan membuangnya tidak mood untuk mengerjakan tugas, masa bodoh ah tidak mengumpulkan. Lebih baik aku mandi dan mulai beraktifitas.

Dari sudut pandang Wanita

“Hiks…, hiks….”

“Udah Del…, lo udah 2 hari 2 malam nangis melulu sampe tidur jadwal tidur aja nggak jelas.”

“Habis gimana Rin. Gue nggak bisa diginiin. Harga diri gue sebagai cewek diinjek-injek. Tolong tisu dong.”

“Berarti jahat banget ya si A’al.”

“Ih kok lo panggil-panggil dia A’al sih, itukan panggilan sayang yang boleh gue doang yang panggil.”

“Iye…, iye…, maksud gue jahat banget si Ali.”

“Iya…, hati gue perih banget, sakitnya tuh di sini….” Srooot, aku mengeluarkan ingus dari hidungku.

“Tapi sejak 2 hari gue jadi teman curhat lo, gue masih kepo kenapa sih lo berdua putus. Kenapa ?”

“Udah gue bilang Rin. Dia melakukan suatu hal yang membuat gue sakit hati. Terlalu sakit untuk gue omongin. Huaaa…., huaaaa.”

“Iya…, udah-udah. Sorry gue nggak akan nanyain itu lagi deh. Terus sekarang gimana ? Udah jam 5 pagi. Lo mau kuliah nggak ?”

Aku tak menyangka dua hari telah berlalu sejak kata terakhirku kepadanya aku ucapkan, ‘Kita putus’. Selama 2 hari itu rasanya semua adalah neraka yang membuat hatiku perih. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menangis dan meluapkan seluruh kegundahan hati ini.

“Kuliah.”

“Lo yakin, ntar ketemu si Ali lho. Kalian kan satu jurusan.” Continue reading

Biang Kerok

Akhirnya setelah sekian lama bisa ngupdate blog lagi. (Baca : Sok sibuk). Habis begimana, ada 61 perusahaan migas yang harus dipantau produksi dan liftingnya dengan permasalahan yang bermacam-macam. Bangun pagi, olahraga, kerja sampe malam, tidur sampe nggak kerasa udah tahun 2016, yang berarti bentar lagi gue 25 tahun. Time runs so fast, but who cares as long as i tried to enjoy it. Anyway, enjoy this story.

“Kamu suka makan disini ?”

“Suka lah Jo. Tempatnya fancy banget, suasanya elegan, makanannya enak, musicnya jazz lembut which is aku banget.”

“Hani…, tahu nggak kenapa aku ngebawa kamu fine dining gini ?”

Formal-Dining-Restaurant-POS-System

“Buat makan malam kan ?”

“Ya memang, tapi aku ada alasan lain ?”

“Alasan lain ? Apaan Jo ?”

“Han…, nggak kerasa ya kita udah deket selama 6 bulan ini. Selama kita deket, aku ngerasa sesuatu loh. Sesuatu yang membuat hati aku selalu berdebar ketika dekat dengan kamu. Sesuatu yang membuat aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu. Sesuatu yang membuat aku galau ketika berpikir kamu akan pergi dari hidupku.” *Sambil pegangan tangan.

“Maksud kamu ?”

“Aku sayang sama kamu Hani. Kamu mau nggak jadi cewek aku.”

“Emm…, itu…, aku….”

“Han…, plis. Aku akan bahagiakan kamu. Kamu nggak akan menyesal jika memilihku menjadi pendampingmu nantinya.”

“Itu…, aku…, ma…”

“OOH JADI BEGINI YA KELAKUAN KAMU.”

Tiba-tiba muncul suara ketiga yang memecah suasana di meja gue. Continue reading

Dead or Alive

Kayaknya udah lama nggak nulis yang mellow-mellow.

Aku mengemudi dengan cepat di jalanan berliku di atas bukit yang tinggi. Titik-titik cahaya rumah dikejauhan itu bagaikan bintang yang berjatuhan dan membuatku mengemudi lebih tinggi dari awan. Disampingku ada isteriku dan di belakang ada kedua anakku.

“Pelan-pelan sayang,” dia berkata pelan kepadaku. Dia memang khawatiran, kedua anakku saja biasa-biasa saja.

Pikiran mereka jelas berbeda jauh denganku. Mood mereka berada dalam bahagia dan pemikiran akan liburan yang menyenangkan namun itu berbeda 180 derajat denganku. Hanya lisanku saja yang berkata akan menghabiskan waktu bersama di tempat wisata namun niat sebenarnya adalah untuk membuatku sekeluarga pergi selamanya bersama.

Kehidupan ini harus diakhiri. Aku tak bisa meninggalkan tanggung jawabku pada mereka, orang-orang yang aku cintai mereka harus ikut bersamaku. Tanganku gemetaran. Aku mencoba menyembunyikan kegugupanku dari isteriku yang sepertinya sudah mulai curiga dengan gelagatku semenjak kemarin.

“Papa, nanti kita main kembang api bersama ya.”

“Tentu sayang.”

Anak perempuanku memang sangat sayang padaku. Dia lebih pantas disebut anak papa dibandingkan anak mama.

“Sudah lebih baik kamu tidur saja. Mungkin masih 1 jam lagi kita sampai. Besok kita mulai liburannya.”

Kata isteriku pada anak perempuanku. Anak laki-lakiku yang lebih besar sudah pulas dari setengah jam yang lalu. Aku memastikan anak perempuanku tidur terlebih dahulu. Kuingin dia pergi tanpa merasarakan apa-apa, tiba-tiba sudah terbangun di alam yang berbeda tanpa sakit sedikitpun. Butuh 15 menit agar aku yakin dia sudah terlelap.

“Kamu tidur juga saja,” kataku pada isteriku. Kulihat daritadi dia juga sudah menguap beberapa kali. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Aku juga ingin isteriku tidur sehingga dia tak merasakan apa-apa ketika nafasnya berhenti. Tikungan maut sudah dekat, tikungan yang banyak memakan korban kecelakaan. Lebih baik menyamarkan ini semua menjadi kecelakaaan alih-alih bunuh diri. Lebih baik kabur dengan cara yang orang lain lihat lebih masuk akal daripada terlihat seperti pengecut

“Mas…, kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan, bicarakan lah,” kata isteriku pelan.

“Bicarakan apa ?” jantungku mulai berdebar kencang. Dia memang tahu keseharianku dan semua permasalahan yang kuhadapi. Aku juga berdebar karena tikungan maut kurang dari 1 km lagi.

“Tak  apa-apa. Anak-anak sudah tidur. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu.”

“Taka da yang kusembunyikan sayang.”

“Aku tahu sedang ada masalah besar….”

“Sssst, anak-anak sudah tidur.”

Isteriku terdiam. Aku terdiam sejenak. Aku mengumpulkan keberanian untuk memantapkan niatku. Ya…, mengakhiri segalanya adalah pilihan yang paling tepat. Yang kulakukan ini adalah benar. Setetes keringan mengalir dari pelipisku, tak peduli AC dan udara luar yang dingin. Itu dia…, tikungan maut sudah terlihat, kurang dari 200 meter lagi.

“Satu-satunya hal yang ingin aku ucapkan adalah….,” aku berkata, isteriku menyimak. Continue reading

Ada Apa Dengan Tinta ?

Its good to be back on my blog. Belakangan ini nggak sempet nulis blog…, well bukan karena sibuk banget sampe nggak bisa ngeluangin waktu buat mampir, tapi aku lagi memulai lagi nulis yang lebih panjaaang dari cerpen. Tapi tenang, minggu kemarin sempet punya sejam dan kebetulan ada ide buat cerpen.

Well, bagi penggemar film Ada Apa Dengan Cinta, pasti nggak asing dengan AADC 2014 yang dibuat sama Line kan ? Ya cerita galaunya Rangga ama Cinta selama belasan tahun. Bagi penggemar setianya, apa yang aku tulis ini semata-mata hanya untuk menghibr saja, tidak ada maksud untuk menjelekkan atau menghina. Semoga dapat menghibur

 

“Jadi beda, satu purnama di new york dan di Jakarta.”

Gue berkata itu pas yakin kalau cowok yang ada di depan gue itu si Mangga. Tuh kan bener. Kayaknya rambutnya dia dulu kriwil-kriwil kenapa sekarang jadi keren gitu yah. Mangga berjalan maju kedepan gue sambil tersenyum.

Loh kenapa nggak ngomong apa-apa, kenapa malah ngomong dalam hati ? Gue udah di gantungin 12 tahun nih, udah di PHPin. Bilangnya Cuma 1 purnama, purnama apaan. Udah gitu pas ketemu Cuma senyum doang dan berharap gue yang nyapa duluan. Dasar cowok berengsek.

“PLAK”. Gue menampar pipi Mangga.

“Au. Kok gue di tampar,” kata Mangga sambil memegang pipinya.

“Masih untung Cuma gue gampar. Tadinya mau gue pecahkan kepala lo biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh.”

“Tinta kok jadi jutek gitu ?”

“Udah deh, ngape lo line-line gue ?” Continue reading

Bohong itu Dosa

Ni hari upacara bender,a jadi ketinget masa-masa sekolah dulu ada upacara. Haha jadi pingin bikin cerita yang ada upacara-upacaranya.

“Ma, aku berangkat ya.”

“Ya hati-hati di jalan.”

Huuuh pagi ini bangunnya kesiangan. Jam menunjukkan pukul 6.30, seharunya aku berangkat jam 6 tepat. Ngapain sih tanggal merah begini harus kesekolah. Eh iya, ini kan 17 Agustus ya wajib lah upacara. SMP-ku berjarak kurang lebih 12 km, papa pernah menghitung dengan speedometer mobil. Waktu tempuh dengan angkot kurang lebih 45-60 menit. Upacara akan dimulai jam 7.30, tapi seharusnya sudah harus datang sebelum upacar dimulai. Duh semoga jalanan nggak rame deh.

Aku memanggil bus yang sudah mau berangkat. Bisa lama kalau menunggu bus berikutnya. Nafas sedikit terengah-engah ketika aku naik ke dalam bus. Bus tidak seramai biasanya. Sekarang tinggal berdoa semoga supirnya semangat 45 buat nyetirnya, biar cepet nyampe dan nggak telat. Kebanyakan yang naik bus juga anak sekolahan yang mau upacara dan PNS yang memakai seragam.

Aku seperti biasa ngelamun disepanjang perjalanan. Fenomena pagi ini berbeda dengan biasanya. Semua sekolah dan aula yang kulihat dipenuhi orang yang mau upacara. Mereka semua memakai satu seragam, lengkap dengan sepatu hitam, dan topi. TOPI ??? Oh ya topiku ketinggalan. Waduh bagaimana ini. Gara-gara keburu-buru sih.

Balik lagi ? Kayaknya nggak akan kekejar. Kalau misalnya bolos upacara bisa dapat nilai 0 nih buat PPKN. Ancaman yang diucapkan ibu guru PPKN itu langsung terngiang di benakku. Jadi coret kemungkinan untuk balik lagi ke rumah buat ngambil topi, nggak akan kekejar. Kalau datang tanpa topi…, bakal di setrap dan dicatat namanya terus dapat hukuman.

Kalau nggak salah guru BK yang galak itu ngomong ke semua siswa kalau semua siswa wajib pakai baju putih biru, sepatu hitam, dasi dan topi. Kalau nggak bakal berdiri di barisan beda dan dihukum. Hukumannya apa sih ? Kalau berkaca dari 17an tahun lalu, hukumannya adalah kerja bakti satu sekolah. Walaah, malas banget tuh. Aku terus memikirkan bagaimana cara agar bisa datang upacara namun tidak disetrap. Continue reading

Cinderella, Bukan Hello Kitty

Belakangan ini, nggak sahur nggak habis tarawih pasti TV dibajak sama Mak dan Kakak buat nonton sinetron yang membuat semua orang benci sama Hello Kitty. Hadeeh, mending ngendon di kamar aja deh kalau udah gitu. Kenapa ya tokoh wanita di sinetron-sinetron Indonesia nggak dijadiin mutan Wolferine aja yang bisa ngeluarin pisau dari tangannya jadinya sinetronnya cepet tamat, nggak pake adegan licik-licikan atau selingkuh-selingkuhan. Anyway jadi terinspirasi buat sebuah cerpen. Bagi penggemar sinetronnya, take it easy aja ya. Cuma pingin mengeksplor sisi humor dari efek samping nonton sinetron.

Aneh, mungkin itu kata yang bisa menggambarkan kelaukan Yudi, suamiku. Ada apa dengannya ? Dia kelihatan berbeda sebulan belakangan ini. Sikapnya lebih dingin. Ketika malam dia pulang kerja, dia hanya mandi, makan, ngobrol seadanya lalu tidur. Paginya juga begitu, mandi, makan, ngomong sepatah dua patah kata lalu berangkat. Biasanya tidak sependiam itu. Jika akhir pekan, dia biasanya selalu ceria untuk mengajakku dan Rosa, anak tunggal kami, untuk jalan-jalan. Namun kal ini dia seperti enggan dan lebih memilih tidur atau lembur di kantor.

Aku sudah memancingnya untuk bicara. Mungkin dia sedang menghadapi masalah di kantornya. Mas Yudi berkata seperti itu, sedang ada masalah pelik di kantor. Ya itulah salah satu fungsiku sebagai isteri, tempat curhat suami. Namun mas Yudi enggan membicarakan masalah kantornya kepadaku. Dia bilang ceritanya panjang dan rumit. Namun tak masalah bagiku untuk meluangkan waktu mendengarkan curahtnya. Siapa tahu aku bisa memberinya solusi.

Tapi…., kok rasanya ada yang janggal. Feelingku berkata ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku bisa tahu dari sorot matanya. Kalau melihat sinetron-sinetron yang aku ikuti di TV dari sore sampai tengah malam itu, tanda ini merupakan tanda-tanda adanya perselingkuhan di rumah tanggaku. Apa selingkuh ? Mungkinkah ? Dia sudah mengucapkan janji sehidup sematidenganku 5 tahun lalu. Kami bahkan sudah dikaruniai satu anak perempuan yang lucu dan cantik.

Jumat malam ini aku sudah bertekad, harus tahu apa yang terjadi padanya. Kalau dari salah satu episode di sinetron yang aku tonton, cara tahu apa yang terjadi adalah dari ponselnya. Semua jejak yang dia lakukan satu hari terekam jelas di ponselnya. Feelingku terasa kuat, mengatakan ada orang ketiga di rumah tangga kami.

Malam ini seperti biasa suamiku pulang dengan mobilnya. Rosa langsung menghampiri Mas Yudi yang baru keluar dari mobil. Mas Yudi mengelus-elus kepala Rosa sambil tersenyum. Kadar keceriaan itu berkurang selama sebulan terakhir ini. Biasanya dia langusng menggendong ani dan menciumnya. Rosa baru berusia 4 tahun, masih kuat untuk dia gendong. Continue reading

Bule Nyasar

Waktu menunjukkan pukul 8 delapan tepat. Pria itu mengambil tas backpacknya dari belt conveyor. Dia berkebangsaan Perancis, sebut saja namanya Raul. Ini pertama kalinya dia ke Jakarta. Rencananya dia akan ke Bali untuk tujuan backpacker. Hanya saja tiket murah mengharusnyaknnya sampai ke Jakarta sepagi ini sedangkan flight ke bali baru jam 5 sore. Sebagai backpacker sejati ya waktu selama 9 jam ini jarus dimanfaatkan untuk berkeliling ibu kota.

Berbekal browsing sana sini, dia sudah menentukan tujuan untuk backpacker di Jakarta yaitu ke Kota Tua dan Monas. Dari yang dia cari di Internet, masyarakat Indonesia itu ramah-ramah dan sopan, ciri khas masyarakat timur. Raul yakin perjalanannya di Jakarta akan berjalan lancar hanya dengan bekal internet dan Tanya sana sini.

Cuaca cukup panas. Ya memang dari internet, di Indonesia sedang musim kemarau. Bandara Soekarno Hatta cukup ramai. Dia pikir Jumat tak membuat bandara ramai. Raul keluar pintu bandara. Naik apa yak ke kota tua ? Sebagai backpacker, pantang untuk naik taksi atau travel. Naik bus dimana ya ?

“Where are you going sir ? I can guide you ?”

“Taxi sir ?”

“I can take you anywhere sir.”

Raul kaget dengan pelayanan bandara yang sangat antusias. Namun dia sudah mantap ingin naik bis saja. Sampai sebegitunyakah ? Sampai-sampai para penawar jasa itu terlihat sangat kecewa ketika Raul menolak.

“Where are you going sir ? I can give you Jakarta Tour right now,” kata seorang pria berkemeja biru. Raul agak bimbang. Ikut tidak ya ? Ada layanan tour di depan mata nih ? Dia tak menemukan data di internet kalau ada layanan tour di bandara. Well stick to the plan, naik bis biar paling murah.

“No thanks.” Continue reading

Koper Trouble

Well, another short story. Hope you like it.

“Ayo cepet bro. Jadwal kita ketat nih.”

“Tuh tas kita yuk ambil terus chao.”

Well, I’m in holiday. Capek nggak sih lo senin sampe jumat berangkat jam 5 pagi terus berkutat dengan kemacetan Jakarta. Belum lagi urusan di kantor yang bikin puyeng. Malam-malamnya juga harus berkutat lagi dengan kemacetan dan baru sampe rumah jam 9 malam. Haduuh, itulah realita kehidupan di Jakarta, kota yang kejam.

Penat ? Sudah pasti. Salah satu cara untuk menghilangkan penat ya dengan mengambil cuti seminggu terus liburan. Amerika. Sebuah negara amat jauh dari Jekardah…, negara yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya atau bahkan terpikir untuk mengunjunginya.

Adalah Tommy, temanku yang mengatur semua Jadwal, tiket, dan hotel disini. Ya dia EO dalam liburan ini dengan imbalan kamar hotel dia patungannya paling kecil. Selain aku dan Tommy, juga ada Didith, dia yang paling berduit. Pokoknya kalau jalan-jalan harus sama dia, pasti nanti kecipratan deh. Tadi aja taksi ke bandara Soeta dia yang bayarin. Hehehe.

Kami bertiga mengambil koper kami dari belt baggage dan berjalan menuju keluar bandara. Hiruk pikuk bandara tidak terlalu ramai, mungkin memang karena bukan sedang musim liburan. Bule-bule dimana-mana, banyak yang bening-bening sih, lumayan lah buat cuci mata. Maklum kami bertiga ini masih 25 tahun. Pacar sih udah punya, tapi kan belum ada ikatan via cincin, jadi bolehlah lirik kanan kiri dulu. Continue reading

Balada Pacaran

Kemarin  nulis balada rumah tangga, sekarang nulis balada yang masih pacarannya. Hehe. Anyway bisa nulis lagi. Sibuknya akhir-akhir ini. Masalah datang silih berganti seperti air yang mengalir. Alhamdulillah lah daripada datang tapi tidak mengalir. Enjoyy

 *

Tatkala ada sepasang kekasih yang sedang berkuliah di satu kota. Mereka satu kampus namun berbeda jurusan.

Dari sudut pandang cewek. Di kos-kosan cewek.

Sabtu pagi ini seperti biasa Vivi menelpon Didi, pacarnya.  Untuk apa ? Biasalah orang yang sedang kasmaran, hanya untuk berhaha hihi melepas kangen. Tidak bertemu semalaman saja rasanya dunia sudah mau runtuh. Tuuut tuut. Panggilan masuk ke ponsel namun tidak ada yang mengangkat.

“Biasanya si Didi jam segini udah bangun. Dia biasanya jam segini lagi baca Koran sehabis lari pagi,” gumam Vivi dalam hati.

Vivi mencoba satu kali lagi. Kali ini telepon diangkat namun bukan suara Didi yang ada di balik speaker, melainkan suara perempuan.

“Halo Didi.”

“Halo.”

“Loh siapa kamu ?”

“Halo, suaranya pu…us…tus”

“Halo, kok kamu bisa ada di kamarnya Didi ?”

“Hah, aku mah udah sering ada di kamarnya Mas Didi.”

“APA ??? Siapa kamu ? Ada hubungan apa kamu dengan Didi ?”

“Apa ? Tidak je—as”

Nampaknya sinyal sedang tidak bagus disana.

“Mana Didi ?”

“Mandi.”

“Hah mandi ? Emang kalian habis ngapain ?”

“….”

“Hei jawab pertanyaanku wanita.”

“Handuk…, lepas…., jatuh….”

“Apa ??? Handuknya siapa yang lepas ? Halo…, halo….”

“Aaaa,” terdengar teriakan wanita.

Vivi langsung geram.

* Continue reading

Disadap

Wuiih nulis cerpen lagi…, well akhir-akhir ini banyak kasus penyadapan petinggi-petinggi negara.  Jadi terinspirasi buat nulis tentang itu. Enjoy….

Di kantor seorang menteri pertahanan….

“Selamat pagi Pak,” sang sekertaris itu menyapa sang menteri yang baru saja datang ke kantornya.

“Selamat Pagi.”

“Apakah ada yang mencariku ?”

“Tidak Pak. Saya mau mengingatkan akan ada rapat dengan Pak Presiden hari ini….”

“Ya tentu aku ingat, mana mungkin aku bisa lupa dengan rapat sepenting itu.”

Sang menteri masuk ke dalam ruangan dan meletakkan tas kerjanya. Dua ajudan yang mengiringinya berada di luar ruangan. Keamanan orang penting sepertinya merupakan satu hal yang harus di prioritaskan walau sebenarnya dia tak suka dibatasi ruang geraknya seperti itu. Belum satu menit dia ada di dalam ruangan, dia sudah mengambil langkah lagi keluar ruangan.

“Anda mau pergi pak ?” kata salah satu ajudan yang bersiaga di luar ruangan.

“Saya hanya mau ke toilet.”

Sang menteri menuju ke toilet. Di dalam toilet ada Ujang, si OB kantor, yang sedang membersihkan toilet. Ujang langsung menunduk, menunjukkan rasa hormatnya.

“Tak perlu seperti itu lah Jang. Saya bukan orang yang gila hormat. Sudah belikan pesanan saya ?”

“Tentu Pak. Ini…,” kata Ujang menyodorkan sebuah persegi panjang tipis berukuran 10 kali 15 centimeter.

“Terimakasih, ini,” kata sang Menteri sambil menyodorkan uang 50ribu. Nominal yang terlalu besar untuk benda itu.

“Kamu boleh ambil kembaliannya.”

“Terimakasih pak.”

Ujang buru-buru keluar toilet sambil membawa perlengkapan bersih-bersihnya. Dia agak bingung, secara sang menteri punya banyaka ajudan yang bisa disuruh untuk membeli barang tersebut. Kenapa harus menyuruh OB seperti dia. Ah masa bodoh, Ujang tak mau ambil pusing.

Setelah buang air, sang menteri kembali ke ruangannya. Dia mengeluarkan benda yang dia titip ke Ujang tadi. Sebuah kartu perdana dengan nomor yang antik. Mana mungkin ada orang yang mengira, seorang menteri akan menggunakan nomor cantik seperti itu. Sang menteri mengeluarkan sebuah ponsel, memasukkan sim card ke ponsel itu dan langsung menelpon. Continue reading