Bring on The Night

Well, hari ini nggak mau nulis cerpen atau cerita apa-apa sih. Cuma pingin ngiklan dan nginfo aja. Kemarin pas lagi browsing-browsing youtube nemu lagu baru dari salah satu band favorit gue, The Corrs. Hmm…, terakhir ini band ngeluarin album itu tahun 2005 (Home), pas gue masih SMA (what, gue udah tua ya). Wuih langsung excited dong pas liat ni video. Buat para 90’ers pasti nggak asing dengan band ini.

Kok tiba-tiba ngeluarin single baru ? Emang mau ngeluarin album ? Info terakhir yang gue tahu band ini vakum karena masing-masing personilnya sibuk sama rumah tangga masing-masing. Setahun, dua tahun, dan akhirnya hilang selama 10 tahun. Ya gue dah pesimis sih ni band bakal balik lagi secara personilnya juga udah tua-tua. Setelah googling-googling eh ternyata This Irish Band is Back…, yeah.

Continue reading

Advertisements

Stop Bertanya Kapan Kawin Saat Lebaran !!!

Alhamdulillah, besok insyaallah sudah lebaran. So Minal Aidin Walfaidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin. Maafin ya atas segala kesalahan yang telah kuperbuat. Kalau lebaran sudah pasti ada tradisi kumpul-kumpul keluarga. Bagi muda mudi yang berusia 20tahunan ke atas pasti deh udah mulai ditanyain pertanyaan pamungkas dari om tante yang bikin mules. Yup, kapan kawin atau mana calonnya. Huh pasti banyak kan yang merasakan sama seperti yang gue rasakan. Terus lo mau ngapain ? Pura-pura pingsan atau pura-pura ketelen bumi ? I choose to stay cool and keep calm, gue tahu siapa gue dan gue nggak terlalu memusingkan pertanyaan orang-orang yang nggak sesuai sama prinsip gue. So…, enjoy your Lebaran.

“Huaaah,” gue ngulet untuk melepas penat. Pekerjaan ini rasanya tidak ada habisnya ditambah gue sedang berpuasa, badan lemes dan bawaannya pingin tidur aja. Tapi berita baiknya adalah ini hari terakhir masuk sebelum besok cuti bersama. Yeey bentar lagi lebaran. Berita baik lainnya adalah gue kayaknya bakal dapat lebaran, nggak ‘dapet’ kayak tahun lalu dan dua tahun lalu. Eeeh BTnya pas mau berangkat sola tied eh terus malah ‘dapet’.

Tapi tetap saja kalau bulan puasa kayak gini tuh atmosfirnya berbeda. Ada rasa yang membuat gue rindu untuk tetap berada di bulan ini walau pas kerja ngantuk-ngantukan dan lemes. Ditambah kalau bulan puasa orang-orang bawaannya pulang cepet biar buka puasa bareng keluarga padahal kenyataannya nggak nyampe karena jalanan macet.

“Udah kelar kerjaan lo Chi,” kata Arman. Dia adalah teman satu bagian yang duduk di sebelah gue.

“Emang ada kata selesai untuk kerjaan kita ?”

“Ya iya sih. Mudik nggak lo Man ?”

“Mudik lah ke Semarang.”

“Berangkat kapan ?”

“Lebaran hari pertama. Lo kapan ke Bandung ?”

“Nanti baru lebaran hari kedua. Lebaran hari pertama di Jakarta dulu. Biasa digilir, kalau lebaran hari pertama sama keluarga besar bokap kalau lebaran hari kedua”

“Terus nanti gimana ?”

“Gimana apanya ?”

“Pasti ditanya kapan nikah kan ?”

Bagai mendengar petir yang menghisap semua euforia karena besok mulai cuti, menikmati opor ayam, dan belanja menghabiskan THR. Iya…, itu benar. Inilah gue, seorang gadis yang tahun depan berkepala 3 dan belum membawa calon ketika kumpul keluarga. Ini gara-gara gue terlalu sibuk dengan kerjaan gue sampe-sampe lupa nyari pacar.

“Chi, Chi-chi.”

“Eh ya. Aaah, nyantai aja Man.”

“Gue inget banget tahun lalu lo juga bilang gini dengan ekspresi was-was kayak gitu.”

Gue inget banget tahun lalu pas kumpul keluarga semuanya nanyain kapan nikah. Stress gue. Bayangin aja, bokap gue punya 3 adik dan 2 kakak sedangkan nyokap gue punya 3 kakak dan 1 adik. Ke 9 tante dan om tersebut nanyainnya sama pas ngelihat muka gue, ya itu nanya kapan nikah. Udah eneg sama bonyok sendiri ditanyain gitu nah sekarang ditambah sama krooni-kroninya.

Udah 4 tahun mereka intens nanyain itu ke gue. Gue udah menggunakan segala cara ngeles buat jawab itu, dari A-Z udah gue pake. Kira-kira tahun ini gue harus jawab apa pas ditanya kapan nikah. Nggak ada buku panduan ngelesnya sih.

“Pasti lagi mikir gimana cara jawab pas ditanya kapan nikah. Iya kan ?”

“Apaan sih lo Man ?”

“Ya iyalah. Lo dah 29 tahun dan masih jomblo. Udah pasti pas kumpul keluarga yang ditanya itu. Gue dulu juga sama pas belum nikah.”

“Ya iya sih.”

“So udah punya cara ngeles buat besok ?”

“Belum,” kata gue singkat.

“Emang cara apa yang udah lo pake tahun lalu ?”

Gue memutar memori gue ke lebaran tahun lalu. Lebaran hari pertama di rumah Pak De Anto, kakak tertua dari keluarga Bokap.

“Eh apa kabar…, gimana kerjaannya Chi ?”

“Alhamdulillah lancar Pak De.”

Setelah 5 menit pembicaraan nggak penting akhirnya sampai juga ke pertanyaan itu.

“Jadi kapan nyebar undangan ? Seharusnya sudah giliran Chi-chi lho.” Continue reading

Ngumpetin

its glad to be back. Rasanya dah lama nggak nulis cerpen…. Why ? You know lah. Sibuk banget kerjaan. Alasan klise. Syarat utama buat nulis itu ya emang selain ada tools, ide cerita, dan energi, ya juga harus ada mood diwaktu yang tepat. Enjoy

“Heh kamu, ke ruangan saya sekarang.”

Nada-nada gini nih kayak nada-nada mau dikasih kerjaan segunung. Bos emang gitu sih orangnya, tegas dan kadang tegaan. Tapi ya mau bagaimana lagi, nggak mungkin kan gue nolak karena malas. Namanya senin pagi, pikiran juga Cuma 50 % di depan computer, sisanya masih ada di kenangan akhir pekan kemarin.

Gue berjalan ke ruangan bos, sebernarnya dia ini bosnya bos. Bos di langit kedua lah. Ruangannya lumayan besar. Di depan ruangan ada meja dan empat sofa untuk tamu. Masuk dikit ada meja bundar juga dengan empat kursi dan berbagai jenis kue kiloan dalam toples (dah kayak jualan). Ada juga TV flat 24 inci, bisa buat nonton atau presentasi.

Yang paling menarik perhatian itu meja di samping ruangan. Isinya piala semua. Kalau ngelihat pialanya sih jelas banget nih orang jago main golf. Soalnya sepertiga piala bentuknya miniature orang yang lagi mau mengayunkan tongkat golf. Kayaknya sengaja dipasang biar semua tamu yang datang sadar sama hal itu sih.

“Ya bos.”

Gue duduk dan memperhatikan bos yang sedang membaca sebuah surat.

“Gini…., mmmm,” kata bos sambil memijat kepalanya. Mata gue tertuju ke sebuah piala yang sepertinya piala baru. Berbentuk bola golf yang sedang di letakkan di atas tee yang tertancap di tanah. Bolanya seperti bola Kristal yang memantulkan cahaya sehingga terlihat seperti berlian mahal.

“Halo…, kamu dengerin nggak.”

“Oh ya maaf Pak. Gimana ?”

“Kamu lihat apa sih ? Oooh, piala itu ya.”

“Iya Pak, bagus banget.”

Kalau misalnya ngelakuin kesalahan cara paling aman untuk lolos dari omelan bos ini adalah dengan mengalihkannya ke golf, bakal langsung jinak dia. Continue reading

There’s Something About Alan (PART II)

 Well…, enjoy part 2 ya. Just wanna say…, mimpi adalah angan-angan sedangkan realita adalah kenyataan. Batas antara mimpi dengan realita hanyalah sebuah zona abu-abu yang dibatasi oleh sebuah garis yang disebut niat, kemauan, dan usaha.

Sebenarnya aku bingung mau kemana tapi yasudah aku ikuti saja teman-temanku ini. Yang penting cuacanya cerahrahrah. Habis ini aku akan membius Dhea dan membawanya ke planetku. Setelah itu misi selesai dan aku akan dapat penghargaan atas jasaku.

“Kita dah sampai.”

Kami sampai di depan sebuah gapura. Kami berfoto-foto dulu di depan gapura lalu berjalan beberapa ratus meter. Suara yang membuatku merinding mulai terdengar. Sebuah sungai dengan aliran deras terpampang di depan mataku.

“Wuhuu, rafting. Yuk ah pake lifevestnya terus siap basah-basahan.”

Mati aku.

“Gimana ini ?” kataku.

“Gimana apanya ?”

“Rafting tuh pasti basah ya ?”

“Yaiyalah Lan. Kok pertanyaan lo aneh banget sih.”

“Gue nggak bisa berenang,” kata gue menggunakan alasan yang ditemukan didatabase.

“Bohong banget deh. Jelas-jelas renang lo jago. Lagian kan kita pake lifevest.”

Kami sudah sampai di pinggir sungai. Bunyi air yang kencang menandakan derasanya arus. Aku gemetaran dan panik.

“Lo kenapa Lan ?” tanya Dhea.

“Aku takut.”

“Tenang, kan ada kita-kita disini. Kita nggak akan ngebiarin lo celaka.”

“Eh ganti baju dulu ah gue. Mau ganti celana pendek.”

Yang lain ganti celana pendek dan kaus aku malah menambahkan sarung tangan dan kupluk. Bodo amat, aku masih belum mau mati.Hanya wajahku saja yang terpapar udara luar. Namun bagaimanapun apabila air terkena wajah maka akan langsung lumer permanen dan apabila tertelan maka aku akan langsung mati dalam waktu 60 menit.

“Kok lo malah pake baju gitu sih Lan ?”

“Emang nggak boleh ?”

“Ya tapi aneh aja. Mending pake kaus sama celana pendek,” kata Dhea.

“Bilang aja lo mau lihat body Alan yang sexy kan Dhe,” goda Beno.

“Tahu aja lo. Yoweslah terserah Alan. Yuk.”

Aku mendengarkan safety briefing dengan cermat. Ini perjuangan hidup mati untukku. Aku naik ke atas perahu karet dengan melompat, tak membiarkan air mengenai kakiku. Ketakutan yang belum pernah aku alami sebelumnya.

“Lo takut amat sih Lan. Nyantai aja keles.” Continue reading

Perang Pramugari

Senangnya bisa menulis lagi…, well harus aku akui saat ini aku sedang manggadaikan passion dengan gaji yang lebih stabil. Well tapi suatu saat pasti aku akan kembali bangkit dan menulis lagi yang buanyaaak.

Jam menunjukkan pukul 15.30, kalau melihat tiket berarti 5 menit lagi aku harus naik ke pesawat. Aku bukan penumpang juga bukan petugas bandara. Kalau mau tahu siapa diriku coba saja nyanyikan lagu leaving on the jet plane. Yes, aku adalah pramugari. Aku menggeret koperku, bersama 3 pramugari lainnya, serta pilot dan coplilot. Gosip ringan selalu menyertai langkahku setiap ingin masuk ke pesawat.

Aku berjalan melewati jalur khusus untuk flight attendant. Mata penumpang yang sedang menunggu  tertuju kepada kami. Aku berjalan bak model yang sedang melenggang di runway. Dibayangan kalian semua pasti seorang pramugari adalah wanita cantik dengan tubuh molek yang bersikap lembut dan humble dalam melayani  penumpang. Yah kenyataannya memang begitu.

Aku sudah mengenakan seragam pramugari ini selama 5 tahun. Ini memang sudah menjadi cita-citaku sejak kecil. Aku sangat kagum dengan pramugari saat pertama kali aku naik pesawat. Mereka begitu anggun dan elegan. Baju yang mereka kenakan sexy namun tidak ngebitch. Perilaku mereka layaknya seorang ibu, penuh pengertian dan kasih sayang.

Tiap pekerjaan ada suka dan dukanya. Sukanya adalah ini adalah passionku, jadi tak perlu ada alasan lain lagi. Dukanya adalah aku harus jauh dari keluargaku. Nggak mungkin kan pramugari kerjanya kayak orang kantoran. Jangakan keluarga, tanah aja aku napaknya jarang-jarang. Well tapi itu tak membuatku lupa dengan yang namanya rumah.

“Aku dah mau naik pesawat.” SMS itu selalu aku kirim ke orang tua, adik dan tunanganku sebelum penerbanganku. Doa mereka adalah perlindungan yang paling manjur. Pasti semua akan membalas dengan urutan mama, papa, tunangan lalu adik. Semua berdoa kurang lebih agar aku selamat sampai tujuan. Walau simple, itu adalah pwer terkuat untuk ku bisa bekerja dengan penuh semangat.

Hari ini jadwal penerbanganku dari Jakarta ke hongkong. Penerbangan internasional dan domestic yang membedakan hanya penumpangnya saja. Kalau domestic kan lebih banyak muka local, kalau internasional banyak muka bule. Otomatis kalau penerbanyan internasional lebih banyak speak-speak bahasa inggris. Sisanya sih sama saja. Kalau masalah cowoknya, sama-sama centil ah menurutku.

Pesawat jenis boeing 737 ini mulai dipenuhi penumpang. Sebelum mereka naik, pasti pesawat sudah bersih dan rapi. Aku berdiri di kursi nomor 37 sambil tersenyum dan menyalami para penumpang. Kalau boleh curhat sih rasanya gigi ini sudah kering senyum mulu. Ya wong kalau misalnya diomeli sama penumpang juga modalnya harus senyum.

Semua penumpang sudah duduk, video keselamatan sudah diputar, peswat akhirnya lepas landas. Oke, setelah kondisi stabil aku harus mulai membagikan makanan ke penumpang. Membawa troli makanan di gang yang sempit ini juga butuh skill, apalagi kalau lagi turbulensi. Haha, aku sudah ahli bahkan kalau harus berlenggap di runway yang lagi gempa.

Kalau kondisi pesawat baru stabil seperti ini biasanya banyak penumpang yang banyak ke toilet. Setelah itu baru aku membagikan makanan. Aku sedang di bagian belakang pesawat, menyiapkan troli yang aku bawa, memastikan teh dan jus semua sudah lengkap, saat aku mendengar suara teriakan di tengah badan pesawat. Aku segera berjalan untuk melihat apa yang terjadi.

“BERHENTI.” Duar, seorang pria dengan seluruh muka ditutupi kupluk dilubangi di bagian mata berteriak kepadaku sambil menembakkan peluru. Peluru itu sengaja diarahkan meleset beberapa centi di atasku. Aku kaget bukan main. Ada sesuatu melingkar di tubuhnya. Itu…, bom. Jantungku berdebar bukan main. Tanganku langsung dingin. Continue reading

Jomblo Sejati : Kencan Buta

Well, ini cuma cerita fklsi belaka. Apabila ada kesamaan tokoh dan tempat, bukan merupakan kesengajaan. Dan gw nggak tahu kenapa tampilan editing post wordpress gw berubah.

Hmmm….., jomblo sejati. That’s me. Kenalin nama gw Bimo. Gw mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, nggak boleh sebut merek ya. Well kehidupan kampus gw nggak terlalu penting sih. Disini yang mau gw ceritain adalah tentang cinta.

Harus gw akuin pengalaman gw tentang cinta : nol besar. Entah kenapa gw nggak pernah berhasil jadian sama satu cewek pun. Padahal tampang…, ya pas-pasain sih tapi kan idung gw satu, mata gw dua, kuping gw dua, semuanya masih lengkap kok. Body…, kurus nggak gemuk dikit sih, tapi kan nggak kayak gentong juga. Otak…, sebelas dua belas lah sama albert Einstein (yang katanya autis). Urusan dompet, nggak bolong-bolong amat, paling Cuma selembar dua lembar doang.

Cupid mana sih cupid ? Kayaknya tuh makhluk males amat manahin panahnya kearah gw. Apa Karena jomblo ini kutukan ya ? Ah nggak ah, mana ada yang mau ngutuk orang yang sudah terkutuk kayak gw ? Jadi kenapa dong nasib cinta gw gini amat ? Mungkin karena kurang usaha aja kali ya. Seperti kata pepatah. Someday someone will walk into your life and make you realize why it never works with anyone else.

Jadi gini ceritanya. Gw lagi suka sama cewek yang namanya Rianti. Dia anak jurusan sebelah, satu tahun di bawah gw. Pertama gw lihat mukanya dia…., gila kok gw nggak nyadar kalau ada bidadari di kampus gw. Padahal kan dia udah 3 tahun beredar di kampus gw. Mungkin Rianti yang membuat cewek-cewek lain nggak pernah nyantol sama gw.

Pertama sih gw kepoin dia di facebook. Eh nggak tahunya pas ngesearch-ngesearch, gw malah nemu satu cewek yang…, Rianti tuh Cuma level babu tiarap deh. Nama tuh cewek Riana. Oke target berubah, gw yakin Riana adalah cewek yang membuat semua cewek nggak pernah nyantol sama gw. Riana, anak kuliahan di Jakarta juga. Jurusannya sama kayak gw. Kalau dari about sama statusnya sih nih cewek lagi galau karena habis diputusin mantannya.

Awalnya gw iseng-iseng add facebook dia. Diapprove. Huaah, langsung pikiran melantur kemana-mana. Gw chat dia. Dia nanggepin. Haduh makin kemana-mana pikiran gw, untung belum sampe ke kasur. Haha. Kita tuker-tukeran pin. Tiap hari gw BBM tuh Riana. Sebulan dan dua bulan, gw makin akrab sama Riana. Tapi kita belum pernah sama sekali ketemuan.

Jadi ceritanya si Riana itu baru putus sama mantannya. Dia diduain. Hadeeh, cowok bego mana sih yang mau ngeduain cewek kece kayak Riana. Gw rasa gw mendapatkan momen yang pas untuk menjadi seseorang yang ada di sisi dia saat dia patah begitu. Dia suka curhat hal-hal yang cukup pribadi. Haaah senangnya, padahal kan gw baru kenal sama dia.

Continue reading

Apa kata mereka tentang Seven Checks ?

Akhir-ahir ini Alhamdulillah aku selalu di- mention sama Grasindo yang mempromosikan Seven Checks. I feel so happy and excited. Apa sih Seven Checks ? Itu loh novel perdanaku yang bercerita tentang seseorang yang menderita penyakit kanker. Dia membuat 7 daftar yang harus dilakukan sebelum dia pergi.

Stalker-stalker di twitter, ngesearch “Seven Checks” dan menemukan banyak hasil yang ternyata menjadi masukan bagus buatku. Kebanyakan respon pembaca tentang novelku itu positif.  Pas ngebaca quote atau komentar orang tentang tulisanku rasanya itu…. senang buangeet. Emang iya responnya positif ? Well i give you some of evidence.

quote 2

quote 3

quote 7 Continue reading

Pisau Gamma untuk Kanker

Di Novel 7 Checks, Reza, sang karakter utama, terkena penyakit kanker otak stadium 4. Kemudian dia membuat 7 daftar yang harus dilakukan sebelum maut menjemput. Well, pada novel tersebut diceritakan kalau Reza mengambil metode pengobatan Gamma Knife. Apa itu Gamma Knife ? Sebuah pisau kah ?

Diceritakan kalau metode pengobatan Gamma Knife merupakan sebuah metode pengobatan kanker tanpa bedah konvensional. Secara konvensional maksudnya adalah untuk mengeluarkan sel kanker dari dalam tubuh pasien, bagian tubuh pasien harus dibuka lalu diangkat sel kankernya. Jikalau kanker yang dialami kanker otak, maka tengkorak kepalanya harus dibuka. Dengan metode Gamma Knife, tak perlu ada pembedahan. Sel kanker akan diradiasi oleh sinar gamma. Jadi ini merupakan metode pengobatan berbasis radiasi.

And FYI, metode ini benar-benar ada. Jadi aku tak mengarang-ngarang informasi mengenai metode tersebut. Dalam bedah Gamma Knife®, dipancarkan sebanyak 200 sinar radiasi yang difokuskan ke tumor atau target lainnya. Unsur seperti radium dan radioisotop hasil rekayasa seperti kobalt-60 dapat menghasilkan sinar-gamma yang mempunyai karakter sama dengan sinar-X saat sinar tersebut berinteraksi dengan jaringan. Tumbukan sinar-X atau sinar-gamma pada jaringan akan mengakibatkan kerusakan DNA yang disusul dengan kematian jaringan tersebut. Sebagian besar jaringan sehat mempunyai daya tahan lebih tinggi daripada daya tahan jaringan kanker pada peristiwa ini. Perencanaan yang teliti dengan bantuan alat pencitraan diperlukan untuk mengidentifikasi lokasi target.

Alat Gamma Knife

Alat Gamma Knife

Continue reading