Galau Putus

Sekedar menuangkan pikiran iseng ke  sebuah tulisan

Dari sudut pandang pria

“Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah…, yaudah…, YAUDAH.”

Aku terbangun bukan karena alarm melainkan karena ngiangan kata yang gue ucapkan dua hari lalu. ‘Yaudah,’ sebuah kata yang mengakhiri hubunganku dengan dia. Aku bangun dan duduk di pinggir kasur. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Masih 1 jam lagi sebelum aku harus memulai rutinitas pagi ini.

Aku memijit pelan kepalaku, dunia terasa berputar. Dua hari belakangan ini hidupku tak teratur, entah berapa lama aku tidur nyenyak tanpa mimpi yang menyesakkan dada. Aku sudah pernah merasakan luka akibat jatuh dari motor, tinju dalam perkelahian dan semacamnya, namun luka kali ini adalah yang paling perih. Aneh, padahal luka ini tak terlihat, tak berbekas, namun begitu membuatku sekarat.

Aku mencoba tak menangis, mencoba mengabaikan perasaanku. Semua akan baik-baik saja, waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Yang sekarang aku butuhkan hanyalah pelarian dari pikiran yang terus menguasai diriku. Kuyakin rutinitas akan membuat kenangan ini tenggelam dengan sendirinya.

Aku bangun dan memasukkan beberapa buku ke tasku. Aku fokus ke sebuah buku, dasar termodinamika. Mungkin mengerjakan tugas bisa membuatku teralih. Masih ada 1 jam sebelum waktu siap-siap.

Sebuah siklus refrigerasi memiliki beban….Biasanya hanya butuh 30 menit untuk mengerjakan soal mudah ini namun kertas kerjaku haanya berisi sebuah hambar hati. Di dalam gambar hati itu aku menuliskan sebuah nama tanpa kusadari. Aarrgh, aku meremas kertas HVS ku dan membuangnya tidak mood untuk mengerjakan tugas, masa bodoh ah tidak mengumpulkan. Lebih baik aku mandi dan mulai beraktifitas.

Dari sudut pandang Wanita

“Hiks…, hiks….”

“Udah Del…, lo udah 2 hari 2 malam nangis melulu sampe tidur jadwal tidur aja nggak jelas.”

“Habis gimana Rin. Gue nggak bisa diginiin. Harga diri gue sebagai cewek diinjek-injek. Tolong tisu dong.”

“Berarti jahat banget ya si A’al.”

“Ih kok lo panggil-panggil dia A’al sih, itukan panggilan sayang yang boleh gue doang yang panggil.”

“Iye…, iye…, maksud gue jahat banget si Ali.”

“Iya…, hati gue perih banget, sakitnya tuh di sini….” Srooot, aku mengeluarkan ingus dari hidungku.

“Tapi sejak 2 hari gue jadi teman curhat lo, gue masih kepo kenapa sih lo berdua putus. Kenapa ?”

“Udah gue bilang Rin. Dia melakukan suatu hal yang membuat gue sakit hati. Terlalu sakit untuk gue omongin. Huaaa…., huaaaa.”

“Iya…, udah-udah. Sorry gue nggak akan nanyain itu lagi deh. Terus sekarang gimana ? Udah jam 5 pagi. Lo mau kuliah nggak ?”

Aku tak menyangka dua hari telah berlalu sejak kata terakhirku kepadanya aku ucapkan, ‘Kita putus’. Selama 2 hari itu rasanya semua adalah neraka yang membuat hatiku perih. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menangis dan meluapkan seluruh kegundahan hati ini.

“Kuliah.”

“Lo yakin, ntar ketemu si Ali lho. Kalian kan satu jurusan.” Continue reading

Advertisements

Balada Pengantin Baru

Akhir-akhir ini termenung dengan undangan-undangan kawinan temen-temen yang berdatangan. Hmm, semuanya sudah mulai bersiap, mengambil satu langkah penting dalam sebuah kehidupan. Perlahan tapi pasti semua temen-temen juga bakal ngasih undangan satu persatu. Dan gue ? Gue belum berpikir sama sekali nggk berpikir kesana. Well semua orang punya hidupnya masing-masing kan ? Jadi menanyakan pertanyaan kapan nikah itu sama aja kayak menyebut Lord Voldemort di kisah Harry Potter. Kalau habis nikah pasti bakal jadi pengantin baru doong, nah gue cuma mau bermain-main imajinasi dikit dengan kisah fiksi pasangan yang baru nikah. Enjoy…

Dari sudut pandang laki-laki

Nit-nit-nit. Hadooh, plis deh ini hari libur, masa sih dibangunin sama alarm. Seinget gue, gue nggak nyalain alarm. Kalau begitu siapa ? Gue langsung membuka mata. Ada sosok lain di sebelah gue. Jangan teriak, memang selama 6 hari ini sudah ada sosok ini yang menemani gue tidur. Huuh, dia yang nyalain alarm, malah dia kagak bangun duluan.

Dia adalah Dian, wanita yang membuat gue berjanji untuk membahagiakannya seumur hidup gue. Kita menikah 6 hari lalu. Walau masa pacaran kita singkat, Cuma 6 bulan, gue merasa cocok dan…, pokoknya nggak bisa dijelaskan. Ada sesuatu yang membuat gue berpikir dan merasa kalau she’s the one. Mungkin ini yang disebutkan kalau jodoh tidak kemana.

“Eh udah jam berapa nih ?”

Akhirnya Dian bangun. Jam 10 pagi. Dia kemudian mematikan alarm dan mengulet. Jarang memang gue bangun sesiang ini. Ya memang karena kami tidur cukup malam juga. Dian terduduk dan tersenyum manis kea rah gue. Seketika gejolak dan asmara terbakar di hati. Belum lagi cinta yang menjadi bara api antara gue dengannya. Dia kembali berbaring dan berbisik di sebelah gue.

“Kamu lapar ?”

“Tentu sayang. Aku menghabiskan banyak tenaga tadi malam.”

“Aku akan siapkan makan,” katanya lalu kemudian mencium bibir gue selama sedetik.

Aaah, I love her very much. Kalau kata orang sih cintanya cowok itu gede di awalnya aja, makin lama akan berkurang. Well…, gue akan buktikan kalau itu salah.

Dari sudut pandang perempuan

 Aaah, indahnya pernikahan. Aku merasa lebih stabil dan terlindungi. Dia adalah Andi, pria yang aku pilih untuk menjadi orang yang akan bertanggung jawab kepadaku. Well, kalau dia akan melakukan tanggung jawabnya ya aku juga harus melakukan kewajibanku. Aku bangun, mengenakan pakaian dan langsung kedapur.

Sambil memasak sarapan, aku berpikir sejenak. Kami baru menikah selama 7 hari dengan waktu pacaran baru 6 bulan. Waktu yang sangat singkat untuk masa pacaran. Aku juga masih tergolong muda, aku 24 sedangkan dia 25 tahun. Kalau boleh jujur, ketika dia melamarku aku juga masih belum yakin 100 %. Tapia da sesuatu yang membuat gue bertindak harus menerima lamaran itu. Mungkin ini yang disebut dengan kalau jodoh nggak kemana.

Seketika ada tangan yang memelukku dari belakang dan menghembuskan nafas di leherku. Bulu kudukku langsung merindih, namun gairah ini menenangkanku, membuatku melepaskan hormone yang membuatku ikhlas untuk diperlakukan seperti ini.

“Masak apa ?” bisiknya.

“Nasih goreng.”

“Aku sudah lapar.”

“Tak lebih lama dari 15 menit lagi.”

“Kurasa akan lebih lama dari itu…, sayang…,” dia berbisik pelan di telingaku.

  Continue reading

There’s Something About Alan (PART I)

Happy new year everyone…, sudah tahun 2015. Alhamdulillah Allah masih memberiku umur sampai detik ini. Tahun baru resolusi baru…, hmm kurasa resolusiku masih sama dengan tahun sebelumnya namun kali ini dengan semangat baru dan dengan kata harus diawal kalimatnya. 

Nyerpen lagi setelah sekiaan lama nggak nyerpen. Well i’m working on something bigger. Apapun yang aku dan skita semua kerjakan, asalkan itu baik semoga dapat tercapai Enjoy

“Soal ini ada yang bisa mengerjakan di papan tulis ?”

Hening. Sekejab ruangan kelas berubah menjadi kuburan. Semua nunduk plus ada yang pura-pura menghitung. Dosen berkepala botak itu menatap seluruh isi kelas, sudah seperti setan bertanduk yang mau menyerok manusia laknat ke neraka. Kenapa begini sih ? Aku jadi bingung sendiri.

        “Saya pak,” aku angkat tangan.

        Semua mahasiswa kaget sekaligus takjub. Kayak baru melihat cowok yang mengaku sedang hamil. Aku maju dan langsung menuliskan beberapa baris dengan rapi di papan tulis dengan percaya diri. Wong soal gampil begini.

        “Sudah pak.”

        “Bagus Alan, ini benar,” kata Dosen yang percaya nggak percaya.

        “Apa kamu sudah pernah mengerjakan soal ini sebelumnya ?”

        “Belum pak.”

        “Mmmh, mungkin…, kamu bisa menjelaskan ke teman-teman kamu tentang soal ini. Biasanya kalau yang menjelaskan sama-sama muda bisa lebih cepat kan.”

        Wah, kayaknya ini dosen nggak percaya. Oke aku langsung berbicara dengan detail semua teori yang aku gunakan dan penerapaannya ke soal ini. Kenapa sih ? Emangnya seorang Alan itu bego banget ya di mata mereka sehingga mereka tampangnya begitu banget.

        Pelajaran usai. Aku bersama keempat teman lain makan bersama. Mereka adalah teman-teman terbaikku, kemana-mana selalu bersama. Ada Beno, Charlie, Dhea, dan Erika. Kami menamai geng kami dengan geng ABCDE, ya itu kan singkatan nama kami. Kami semua adalah mahasiswa tingkat tiga jurusan Matematika di universitas terbaik di negeri ini.

        “Gile lo lan. Keren abis tadi ngerjain sama njelasin soalnya.”

        “Ah biasa aja.”

        “Iya. Kayak bukan Alan aja. Minggu ini lo beda banget deh Lan. Jangan-jangan Alan ini Alien yang menyamar lagi.”

        “Eeee…,” aku gugup.

        Bagaimana dia bisa tahu ? Apa dia berhasil masuk ke kosanku aka markasku. This is my little secret. Continue reading

Cinderella, Bukan Hello Kitty

Belakangan ini, nggak sahur nggak habis tarawih pasti TV dibajak sama Mak dan Kakak buat nonton sinetron yang membuat semua orang benci sama Hello Kitty. Hadeeh, mending ngendon di kamar aja deh kalau udah gitu. Kenapa ya tokoh wanita di sinetron-sinetron Indonesia nggak dijadiin mutan Wolferine aja yang bisa ngeluarin pisau dari tangannya jadinya sinetronnya cepet tamat, nggak pake adegan licik-licikan atau selingkuh-selingkuhan. Anyway jadi terinspirasi buat sebuah cerpen. Bagi penggemar sinetronnya, take it easy aja ya. Cuma pingin mengeksplor sisi humor dari efek samping nonton sinetron.

Aneh, mungkin itu kata yang bisa menggambarkan kelaukan Yudi, suamiku. Ada apa dengannya ? Dia kelihatan berbeda sebulan belakangan ini. Sikapnya lebih dingin. Ketika malam dia pulang kerja, dia hanya mandi, makan, ngobrol seadanya lalu tidur. Paginya juga begitu, mandi, makan, ngomong sepatah dua patah kata lalu berangkat. Biasanya tidak sependiam itu. Jika akhir pekan, dia biasanya selalu ceria untuk mengajakku dan Rosa, anak tunggal kami, untuk jalan-jalan. Namun kal ini dia seperti enggan dan lebih memilih tidur atau lembur di kantor.

Aku sudah memancingnya untuk bicara. Mungkin dia sedang menghadapi masalah di kantornya. Mas Yudi berkata seperti itu, sedang ada masalah pelik di kantor. Ya itulah salah satu fungsiku sebagai isteri, tempat curhat suami. Namun mas Yudi enggan membicarakan masalah kantornya kepadaku. Dia bilang ceritanya panjang dan rumit. Namun tak masalah bagiku untuk meluangkan waktu mendengarkan curahtnya. Siapa tahu aku bisa memberinya solusi.

Tapi…., kok rasanya ada yang janggal. Feelingku berkata ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku bisa tahu dari sorot matanya. Kalau melihat sinetron-sinetron yang aku ikuti di TV dari sore sampai tengah malam itu, tanda ini merupakan tanda-tanda adanya perselingkuhan di rumah tanggaku. Apa selingkuh ? Mungkinkah ? Dia sudah mengucapkan janji sehidup sematidenganku 5 tahun lalu. Kami bahkan sudah dikaruniai satu anak perempuan yang lucu dan cantik.

Jumat malam ini aku sudah bertekad, harus tahu apa yang terjadi padanya. Kalau dari salah satu episode di sinetron yang aku tonton, cara tahu apa yang terjadi adalah dari ponselnya. Semua jejak yang dia lakukan satu hari terekam jelas di ponselnya. Feelingku terasa kuat, mengatakan ada orang ketiga di rumah tangga kami.

Malam ini seperti biasa suamiku pulang dengan mobilnya. Rosa langsung menghampiri Mas Yudi yang baru keluar dari mobil. Mas Yudi mengelus-elus kepala Rosa sambil tersenyum. Kadar keceriaan itu berkurang selama sebulan terakhir ini. Biasanya dia langusng menggendong ani dan menciumnya. Rosa baru berusia 4 tahun, masih kuat untuk dia gendong. Continue reading

Jomblo Sejati : Kencan Buta

Well, ini cuma cerita fklsi belaka. Apabila ada kesamaan tokoh dan tempat, bukan merupakan kesengajaan. Dan gw nggak tahu kenapa tampilan editing post wordpress gw berubah.

Hmmm….., jomblo sejati. That’s me. Kenalin nama gw Bimo. Gw mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, nggak boleh sebut merek ya. Well kehidupan kampus gw nggak terlalu penting sih. Disini yang mau gw ceritain adalah tentang cinta.

Harus gw akuin pengalaman gw tentang cinta : nol besar. Entah kenapa gw nggak pernah berhasil jadian sama satu cewek pun. Padahal tampang…, ya pas-pasain sih tapi kan idung gw satu, mata gw dua, kuping gw dua, semuanya masih lengkap kok. Body…, kurus nggak gemuk dikit sih, tapi kan nggak kayak gentong juga. Otak…, sebelas dua belas lah sama albert Einstein (yang katanya autis). Urusan dompet, nggak bolong-bolong amat, paling Cuma selembar dua lembar doang.

Cupid mana sih cupid ? Kayaknya tuh makhluk males amat manahin panahnya kearah gw. Apa Karena jomblo ini kutukan ya ? Ah nggak ah, mana ada yang mau ngutuk orang yang sudah terkutuk kayak gw ? Jadi kenapa dong nasib cinta gw gini amat ? Mungkin karena kurang usaha aja kali ya. Seperti kata pepatah. Someday someone will walk into your life and make you realize why it never works with anyone else.

Jadi gini ceritanya. Gw lagi suka sama cewek yang namanya Rianti. Dia anak jurusan sebelah, satu tahun di bawah gw. Pertama gw lihat mukanya dia…., gila kok gw nggak nyadar kalau ada bidadari di kampus gw. Padahal kan dia udah 3 tahun beredar di kampus gw. Mungkin Rianti yang membuat cewek-cewek lain nggak pernah nyantol sama gw.

Pertama sih gw kepoin dia di facebook. Eh nggak tahunya pas ngesearch-ngesearch, gw malah nemu satu cewek yang…, Rianti tuh Cuma level babu tiarap deh. Nama tuh cewek Riana. Oke target berubah, gw yakin Riana adalah cewek yang membuat semua cewek nggak pernah nyantol sama gw. Riana, anak kuliahan di Jakarta juga. Jurusannya sama kayak gw. Kalau dari about sama statusnya sih nih cewek lagi galau karena habis diputusin mantannya.

Awalnya gw iseng-iseng add facebook dia. Diapprove. Huaah, langsung pikiran melantur kemana-mana. Gw chat dia. Dia nanggepin. Haduh makin kemana-mana pikiran gw, untung belum sampe ke kasur. Haha. Kita tuker-tukeran pin. Tiap hari gw BBM tuh Riana. Sebulan dan dua bulan, gw makin akrab sama Riana. Tapi kita belum pernah sama sekali ketemuan.

Jadi ceritanya si Riana itu baru putus sama mantannya. Dia diduain. Hadeeh, cowok bego mana sih yang mau ngeduain cewek kece kayak Riana. Gw rasa gw mendapatkan momen yang pas untuk menjadi seseorang yang ada di sisi dia saat dia patah begitu. Dia suka curhat hal-hal yang cukup pribadi. Haaah senangnya, padahal kan gw baru kenal sama dia.

Continue reading

Balada Pacaran

Kemarin  nulis balada rumah tangga, sekarang nulis balada yang masih pacarannya. Hehe. Anyway bisa nulis lagi. Sibuknya akhir-akhir ini. Masalah datang silih berganti seperti air yang mengalir. Alhamdulillah lah daripada datang tapi tidak mengalir. Enjoyy

 *

Tatkala ada sepasang kekasih yang sedang berkuliah di satu kota. Mereka satu kampus namun berbeda jurusan.

Dari sudut pandang cewek. Di kos-kosan cewek.

Sabtu pagi ini seperti biasa Vivi menelpon Didi, pacarnya.  Untuk apa ? Biasalah orang yang sedang kasmaran, hanya untuk berhaha hihi melepas kangen. Tidak bertemu semalaman saja rasanya dunia sudah mau runtuh. Tuuut tuut. Panggilan masuk ke ponsel namun tidak ada yang mengangkat.

“Biasanya si Didi jam segini udah bangun. Dia biasanya jam segini lagi baca Koran sehabis lari pagi,” gumam Vivi dalam hati.

Vivi mencoba satu kali lagi. Kali ini telepon diangkat namun bukan suara Didi yang ada di balik speaker, melainkan suara perempuan.

“Halo Didi.”

“Halo.”

“Loh siapa kamu ?”

“Halo, suaranya pu…us…tus”

“Halo, kok kamu bisa ada di kamarnya Didi ?”

“Hah, aku mah udah sering ada di kamarnya Mas Didi.”

“APA ??? Siapa kamu ? Ada hubungan apa kamu dengan Didi ?”

“Apa ? Tidak je—as”

Nampaknya sinyal sedang tidak bagus disana.

“Mana Didi ?”

“Mandi.”

“Hah mandi ? Emang kalian habis ngapain ?”

“….”

“Hei jawab pertanyaanku wanita.”

“Handuk…, lepas…., jatuh….”

“Apa ??? Handuknya siapa yang lepas ? Halo…, halo….”

“Aaaa,” terdengar teriakan wanita.

Vivi langsung geram.

* Continue reading

Ge-er

Akhirnya bisa nulis lagi. Emang ya kalau diniatin pasti bisa nemu waktu. I beleive i can write more frequently from now.

Bus berwarna merah itu mulai datang dari kejauhan. Bertuliskan transjakarta dengan lambang burung yang aku sendiri tak pernah mencari tahu burung apa itu. Kali ini yang datang adalah bus gandeng.  Semua yang berdiri di barisan ini bersiap mengambil ancang-ancang bagaikan pelari jarak dekat yang menunggu ledakan tanda start dimulai. Antrian cukup panjang pagi ini.

Perlahan tapi pasti bus itu mulai memasuki halte. Selain harus berjuang untuk mendapat PW, aku juga harus memastikan make up, rambut, dan bajuku tidak kusut atau luntur. BAgaimanapun aku harus selalu terlihat cantik walau sedang bunge jumping. Ciiiit, bus berhenti dan pintu terbuka. Berhubung ini halte kedua, maka tidak terlalu ramai. Ciaaaat, semua berbondong-bondong masuk dalam sebuah barisan.

Dapat duduk tidak ya ???? Sayangnya hari ini bukan hari keberuntunganku. Di spot khusus penumpang wanita sudah penuh. Aku melihat ke deretan wanita yang sedang duduk. Semuanya angkuh, sudah pasti tak ada yang mau mengalah untuk memberiku duduk. Siapa aku juga, aku masih 26 tahun, belum nenek-nenek. Fisikku juga sempurna, bisa berdiri tanpa cacat, sudah pasti kalau di spot khusus wanita pasti bakal berdiri.

Bus mulai berjalan. Biasanya butuh waktu 45 menit agar aku sampai ke kantor dengan transit satu kali. Aku menyelinap ke belakang, ke spot campuran pria dengan wanita. Nah kalau disini masih ada kesempatan aku bisa duduk. Aku sudah ahli menggunakan jurus berdiri kaki pegal karena mengenakan highheels. Pasti cowok-cowok disitu iba dan memberiku duduk.

Aku berdiri dan berpegangan dengan sedikit mengetuk-ngetuk kaki ke lantai. Tak lupa dengan tampang sedikit melirik ke pria-pria yang sedang duduk itu. Tak butuh waktu lama sampai….

“Mbak silakan duduk,” kata salah seorang pria yang mereleakan kursinya. Continue reading

Gara-Gara Hipnotis

First post di 2014. Gilaaa, belakangan ini sibuk banget sampe nggak sempet nulis. Ayo Widi Wake up dan atur waktumu dengan baik. I just need to be more discipline. Well, untung skill nulis cerpen nggak ilang dengan bergantinya tahun dan kesibukan di kantor. Enjoy

Jalan berdua dengan pacar di malam minggu. Apa yang tak lebih menyenangkan selain itu. Masa sih udah umur 26 masih aja menjomblo, kalah sama truk gandeng yang punya gandengan. Ya malam minggu ini aku jalan berdua dengan Jenifer, pacarku. Mall yang cukup mewah di Jakarta menjadi tempatku menghabiskan waktu dengan Jenifer.

Jenifer…, wanita yang sempurna. Dia cantik, baik, pengertian, dan everything deh. Dia anak dari seorang pengusaha sukses. Rumahnya saja sudah seperti istana. Belum lagi vila-vilanya yang juga tak kalah mewah. Mobil Jenifer berjejer di garasi bagaikan showroom mobil. Baju dan perhiasan Jenifer juga pasti punya label yang membuat harganya mahal walaupun di ada yang persis di ITC dengan harga yang murah.

Berpikir aku cowok matre yang hanya ingin harta Jenifer ? Tidak lah. Aku juga terlahir dari keluarga yang cukup kaya. Mana mau Jenifer sama pria yang kere. Yang menjadi keuntunganku bila, seandainya, aku dan Jenifer menikah adalah masa depan karir yang begitu cemerlang. Huaa, aku akan menjadi CEO dari banyak perusahaan. Tapi aku memacari Jenifer bukan karena itu, tapi karena cinta.

“Say, mau kesitu yuk. Aku mau cari sepatu.”

“Oke say.”

Aku menggandeng tangan Jenifer memasuki sebuah toko. Aku membantu memilihkan sepatu yang ingin Jenifer beli walaupun sebenarnya sepatu Jenifer masih banyak berjejer di lemarinya. Sebagai cowok, aku wajib membayarkan belanjaannya walaupun sebenarnya saldo tabungannya unlimited.

Aku dan Jenifer sudah 2 tahun jalan bersama. Pertama kali kami bertemu dulu ketika aku dan bapak Jenifer menjalankan sebuah projek bersama. Kala itu aku dan bapak Jenifer meeting di sebuah restoran dan kala itu ada Jenifer. Aku berkenalan dengannya dan berlanjutlah sampai ke tahap pacaran ini.

Jenifer tidak bekerja. Sebenarnya harta orang tuanya tak akan habis tujuh turunan jadi mau dia nganggur juga tidak akan kekurangan. Keseharian Jenifer dihabiskan dengan ke mall, salon, dan bersosialisasi. Dasar cewek sosialita.

“Nit-nit.”

Ada Whatsapp masuk ke ponselku. Dari seorang wanita bernama Casandra.

“Lagi sama di Jenifer ya ?”

“Iya.”

“Kapan aku dapat jatah jalan bareng ?”

“Minggu depan deh say. Aku akan bilang ke Jenifer kalau ada tugas kantor keluar kota satu minggu.”

“Kalau begitu satu minggu ya jangan satu malam doang. Haha.”

“Sip.”

Itu adalah pacar keduaku. Yes, i’m cheating. Casandra tahu kalau misalnya aku sudah memiliki pacar. Dia tak keberatan menjadi yang kedua. Kalau dibandingkan dengan Jenifer…, tentu Casandra lebih cantik dan bahenol. Masa sih selingkuhan lebih jelek dari yang official ? Casandra masih kuliah semester akhir di jurusan kedokteran. Lumayan lah dapet serep seorang calon dokter.

Sebenarnya kalau disuruh memilih antara Casandra dan Jenifer aku juga bingung. Mereka berdua memliki kekurangan dan kelebihan yang bisa aku terima. Mereka berdua juga menerimaku apa adanya. Aku cinta dua duanya, mau tidak ya mereka berdua dimadu ? Yang jelas Casandra tak mau, dia hanya mau dengan kondisi seperti ini jika pacaran. Jenifer juga pasti ngamuk kalau tahu aku ada WIL. Ya lihat nanti saja lah. Continue reading

Balada Rumah Tangga

Sebuah cerita sederhana tentang cinta yang sedang diuji. Enjoy….

Sudut pandang suami. Pagi hari, di dalam busway.

Haduuuh. Aku mengeluh dalam hati. Bagaimana tidak, ini sebenarnya busway atau toples. Biasanya sih toples isinya kacang tapi ini isinya manusia. Mau maju tidak bisa, mundur tidak bisa. AC yang dingin sudah hampir kalah oleh banyaknya manusia yang bersuhu 37 derajat.

Haha, apalah gunanya mengeluh. Sudah hampir 2 tahun aku melakukan hal ini. Berdesak-desakan bak cendol ini sudah menjadi minumanku setiap pagi dan sore. Awalnya terasa begitu menyiksa, namun lama kelamaan tetap menyiksa sih namun dengan dosis yang sudah berkurang. Aku yakin semua penumpang busway ini merasakan hal yang sama denganku.

Pagi ini tak beda dengan pagi weekdays lainnya. Berangkat  pagi, kerja, pulang sore, berkumpul dengan keluarga dan selesai. Rutinitas yang terlihat membosankan namun aku senang menjalaninya. Suasana pagi ini begitu cerah. Aku melihat keluar jalanan melalui jendela. Rasakan kau mobil pribadi yang berkerumun dalam kemacetan sedangkan aku lancar jaya.

Busway berhenti di halte setiabudi. Aku menerobos kerumunan orang menuju pintu keluar. Kenapa tidak sekalian ada backsound lagu “sure you can do” ya. Huah, akhirnya menghirup udara segar juga. Kalau dulu sih keluar busway pasti keringatan, namun sekarang sudah tidak. Paling hanya butuh semprot parfum dan sisiran sedikit and i’m ready.

“Dret-dret”

Ponsel disakuku bergetar. Sebuah pesan masuk. Siapa ini pagi-pagi sudah SMS. Malas aku kalau misalnya bos tiba-tiba SMS dan mengharuskanku mengerjakan sesuatu dengan deadline hanya 1 jam semenjak SMS  dikirm. Paling tidak aku ingin bernafas dulu lah. Ternyata SMS dari nomor tidak dikenal.

“Sayang, ini nomor baru aku. Tolong transfer ke rekening aku yah (no rekening) 1 juta ajah.”

Haduuh, masih ada aja maling-maling tidak kreatif yang menggunakan modus bodoh seperti ini untuk menipu. Siapa sih yang akan tertipu dengan cara ini ? Mungkin manusia purba kali. Aku kerjai saja deh maling ini.

“Oke, nanti siang aku kirimin ya.” Haha biar lumutan dia menunggu di ATM.

Akhirnya sampai juga ke kantor. Pukul 7.15, 15 menit sebelum jam masuk kantor. Oke saatnya mencari nafkah untuk anak dan isteriku.

Continue reading

Yaelaaah (a short story)

Udah lama nggak buat cerpen. Rindu dengan masa lengang dimana bisa menulis tiap hari. Well i need more self discipline to arrange my time. enjoy

Disebuah kafe di bilangan kemang

Rizka sedang duduk sambil melihat ke sekeliling. Suasana malam minggu yang cukup ramai. Ia melongok ke ponselnya, hanya untuk melihat empat digit angka yang menunjukkan waktu. Mungkin kalau ponselnya bisa bicara, dia akan berkata stop clockwatching girl. Jus jeruk yang ia pesan sudah habis setengahnya. Pengunjung kafe lain sudah larut dalam pembicaraan yang asyik dengan teman atau pacar mereka

“Kemana sih, kok lama banget,” eluhnya dalam hati.

Pandangan Rizka tertuju kepada seorang pria yang baru saja datang ke dalam kafe.

“Gila…, ganteng banget.”

Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa melalui persetujuan otak besarnya. Pria muda yang sepertinya berusia 25 tahunan, seumuran dengannya. Rambutnya berdiri, kulitnya putih, dengan badan yang atletis. Sebuah senyum meluncur dari pria itu kepada Rizka ketika ia mendapati Rizka melihatnya tanpa kedip. Rizka langsung tersenyum malu.

Mungkin Tuhan butuh waktu lama untuk menciptakan setiap lekuk pria itu. Pria itu berjalan dengan tegap dan gagah ke arah Rizka. Apakah dia tiba-tba datang untuk berkenalan dengannya ? Rizka memang sudah dandan habis-habisan malam minggu ini dan dia masih single. Pria mana yang tak tertarik dengan tubuh molek dan wajah canatiknya.

      Rizka makin melebarkan senyumnya dan berdiri, hendak menyapa pria itu. Ia yakin 100 persen pria itu datang untuk menemuinya. Pria itu masih saja tersenyum kepada Rizka. Rizka menjulurkan tangannya ketika pria itu sudah dekat sekali dengan mejanya.

“Hai…,” sapa Rizka pelan.

Wuss. Pria itu melewati Rizka dan duduk di meja yang berjarak dua meja darinya. Rizka langsung duduk dan menutup wajahnya karena malu. Salah seorang pengunjung kafe yang duduk di depan Rizka menutup mulutnya yang sedang menertawakan kejadian tadi.

“Aduh bego banget sih gw,” kata Rizka dalam hati.

Selama semenit ia tak berani melihat ke sekeliling.

“Hai Rizka, kenapa lo ?”

Dua orang wanita berdiri di depan mereka. Akhirnya orang yang ia tunggu datang juga. Mereka adalah Sally dan Dona, teman baik Rizka. Mereka memang berencana menghabiskan malam minggu ini bersama di kafe ini. Banyak yang merekomendasikan kafe ini karena live music-nya. Mungkin 10 jam lagi mulai.

“Nggak. Ayo duduk. Kok lama banget sih ?”

“Macet banget. Lo dah lama ?” Dona dan Sally duduk di depan Rizka.

“Yaelah. Nenek gondrong juga tahu kali Don kalau Jakarta pasti macet. Gw dah 20 menit nungguin kalian.”

“20 menit doang. Mas-mas minta menunya dong,” Dona berkata kepada pelayan yang baru saja lewat.

Pelayan itu datang sambil membawa dua buku besar yang berisi daftar menu.

“Lo belom pesen kan Riz ?”

“Belom. Yang enak disini apa ya mas ?” kata Rizka sambil membolak-balikkan menu.

      “Menu spesial yang banyak dipesan disini adalah surprised sirloin steak, bombastic fried rice, dan grilled chiken with volcano sauce. Kalau minumnya yang spesial itu ada Jus remang-remang, Ice gold capucino, dan cendol strawberry.”

Continue reading