Galau Putus

Sekedar menuangkan pikiran iseng ke  sebuah tulisan

Dari sudut pandang pria

“Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah / Kita putus / Yaudah…, yaudah…, YAUDAH.”

Aku terbangun bukan karena alarm melainkan karena ngiangan kata yang gue ucapkan dua hari lalu. ‘Yaudah,’ sebuah kata yang mengakhiri hubunganku dengan dia. Aku bangun dan duduk di pinggir kasur. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Masih 1 jam lagi sebelum aku harus memulai rutinitas pagi ini.

Aku memijit pelan kepalaku, dunia terasa berputar. Dua hari belakangan ini hidupku tak teratur, entah berapa lama aku tidur nyenyak tanpa mimpi yang menyesakkan dada. Aku sudah pernah merasakan luka akibat jatuh dari motor, tinju dalam perkelahian dan semacamnya, namun luka kali ini adalah yang paling perih. Aneh, padahal luka ini tak terlihat, tak berbekas, namun begitu membuatku sekarat.

Aku mencoba tak menangis, mencoba mengabaikan perasaanku. Semua akan baik-baik saja, waktu yang akan menyembuhkan luka ini. Yang sekarang aku butuhkan hanyalah pelarian dari pikiran yang terus menguasai diriku. Kuyakin rutinitas akan membuat kenangan ini tenggelam dengan sendirinya.

Aku bangun dan memasukkan beberapa buku ke tasku. Aku fokus ke sebuah buku, dasar termodinamika. Mungkin mengerjakan tugas bisa membuatku teralih. Masih ada 1 jam sebelum waktu siap-siap.

Sebuah siklus refrigerasi memiliki beban….Biasanya hanya butuh 30 menit untuk mengerjakan soal mudah ini namun kertas kerjaku haanya berisi sebuah hambar hati. Di dalam gambar hati itu aku menuliskan sebuah nama tanpa kusadari. Aarrgh, aku meremas kertas HVS ku dan membuangnya tidak mood untuk mengerjakan tugas, masa bodoh ah tidak mengumpulkan. Lebih baik aku mandi dan mulai beraktifitas.

Dari sudut pandang Wanita

“Hiks…, hiks….”

“Udah Del…, lo udah 2 hari 2 malam nangis melulu sampe tidur jadwal tidur aja nggak jelas.”

“Habis gimana Rin. Gue nggak bisa diginiin. Harga diri gue sebagai cewek diinjek-injek. Tolong tisu dong.”

“Berarti jahat banget ya si A’al.”

“Ih kok lo panggil-panggil dia A’al sih, itukan panggilan sayang yang boleh gue doang yang panggil.”

“Iye…, iye…, maksud gue jahat banget si Ali.”

“Iya…, hati gue perih banget, sakitnya tuh di sini….” Srooot, aku mengeluarkan ingus dari hidungku.

“Tapi sejak 2 hari gue jadi teman curhat lo, gue masih kepo kenapa sih lo berdua putus. Kenapa ?”

“Udah gue bilang Rin. Dia melakukan suatu hal yang membuat gue sakit hati. Terlalu sakit untuk gue omongin. Huaaa…., huaaaa.”

“Iya…, udah-udah. Sorry gue nggak akan nanyain itu lagi deh. Terus sekarang gimana ? Udah jam 5 pagi. Lo mau kuliah nggak ?”

Aku tak menyangka dua hari telah berlalu sejak kata terakhirku kepadanya aku ucapkan, ‘Kita putus’. Selama 2 hari itu rasanya semua adalah neraka yang membuat hatiku perih. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menangis dan meluapkan seluruh kegundahan hati ini.

“Kuliah.”

“Lo yakin, ntar ketemu si Ali lho. Kalian kan satu jurusan.” Continue reading

Stop Bertanya Kapan Kawin Saat Lebaran !!!

Alhamdulillah, besok insyaallah sudah lebaran. So Minal Aidin Walfaidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin. Maafin ya atas segala kesalahan yang telah kuperbuat. Kalau lebaran sudah pasti ada tradisi kumpul-kumpul keluarga. Bagi muda mudi yang berusia 20tahunan ke atas pasti deh udah mulai ditanyain pertanyaan pamungkas dari om tante yang bikin mules. Yup, kapan kawin atau mana calonnya. Huh pasti banyak kan yang merasakan sama seperti yang gue rasakan. Terus lo mau ngapain ? Pura-pura pingsan atau pura-pura ketelen bumi ? I choose to stay cool and keep calm, gue tahu siapa gue dan gue nggak terlalu memusingkan pertanyaan orang-orang yang nggak sesuai sama prinsip gue. So…, enjoy your Lebaran.

“Huaaah,” gue ngulet untuk melepas penat. Pekerjaan ini rasanya tidak ada habisnya ditambah gue sedang berpuasa, badan lemes dan bawaannya pingin tidur aja. Tapi berita baiknya adalah ini hari terakhir masuk sebelum besok cuti bersama. Yeey bentar lagi lebaran. Berita baik lainnya adalah gue kayaknya bakal dapat lebaran, nggak ‘dapet’ kayak tahun lalu dan dua tahun lalu. Eeeh BTnya pas mau berangkat sola tied eh terus malah ‘dapet’.

Tapi tetap saja kalau bulan puasa kayak gini tuh atmosfirnya berbeda. Ada rasa yang membuat gue rindu untuk tetap berada di bulan ini walau pas kerja ngantuk-ngantukan dan lemes. Ditambah kalau bulan puasa orang-orang bawaannya pulang cepet biar buka puasa bareng keluarga padahal kenyataannya nggak nyampe karena jalanan macet.

“Udah kelar kerjaan lo Chi,” kata Arman. Dia adalah teman satu bagian yang duduk di sebelah gue.

“Emang ada kata selesai untuk kerjaan kita ?”

“Ya iya sih. Mudik nggak lo Man ?”

“Mudik lah ke Semarang.”

“Berangkat kapan ?”

“Lebaran hari pertama. Lo kapan ke Bandung ?”

“Nanti baru lebaran hari kedua. Lebaran hari pertama di Jakarta dulu. Biasa digilir, kalau lebaran hari pertama sama keluarga besar bokap kalau lebaran hari kedua”

“Terus nanti gimana ?”

“Gimana apanya ?”

“Pasti ditanya kapan nikah kan ?”

Bagai mendengar petir yang menghisap semua euforia karena besok mulai cuti, menikmati opor ayam, dan belanja menghabiskan THR. Iya…, itu benar. Inilah gue, seorang gadis yang tahun depan berkepala 3 dan belum membawa calon ketika kumpul keluarga. Ini gara-gara gue terlalu sibuk dengan kerjaan gue sampe-sampe lupa nyari pacar.

“Chi, Chi-chi.”

“Eh ya. Aaah, nyantai aja Man.”

“Gue inget banget tahun lalu lo juga bilang gini dengan ekspresi was-was kayak gitu.”

Gue inget banget tahun lalu pas kumpul keluarga semuanya nanyain kapan nikah. Stress gue. Bayangin aja, bokap gue punya 3 adik dan 2 kakak sedangkan nyokap gue punya 3 kakak dan 1 adik. Ke 9 tante dan om tersebut nanyainnya sama pas ngelihat muka gue, ya itu nanya kapan nikah. Udah eneg sama bonyok sendiri ditanyain gitu nah sekarang ditambah sama krooni-kroninya.

Udah 4 tahun mereka intens nanyain itu ke gue. Gue udah menggunakan segala cara ngeles buat jawab itu, dari A-Z udah gue pake. Kira-kira tahun ini gue harus jawab apa pas ditanya kapan nikah. Nggak ada buku panduan ngelesnya sih.

“Pasti lagi mikir gimana cara jawab pas ditanya kapan nikah. Iya kan ?”

“Apaan sih lo Man ?”

“Ya iyalah. Lo dah 29 tahun dan masih jomblo. Udah pasti pas kumpul keluarga yang ditanya itu. Gue dulu juga sama pas belum nikah.”

“Ya iya sih.”

“So udah punya cara ngeles buat besok ?”

“Belum,” kata gue singkat.

“Emang cara apa yang udah lo pake tahun lalu ?”

Gue memutar memori gue ke lebaran tahun lalu. Lebaran hari pertama di rumah Pak De Anto, kakak tertua dari keluarga Bokap.

“Eh apa kabar…, gimana kerjaannya Chi ?”

“Alhamdulillah lancar Pak De.”

Setelah 5 menit pembicaraan nggak penting akhirnya sampai juga ke pertanyaan itu.

“Jadi kapan nyebar undangan ? Seharusnya sudah giliran Chi-chi lho.” Continue reading

Ngumpetin

its glad to be back. Rasanya dah lama nggak nulis cerpen…. Why ? You know lah. Sibuk banget kerjaan. Alasan klise. Syarat utama buat nulis itu ya emang selain ada tools, ide cerita, dan energi, ya juga harus ada mood diwaktu yang tepat. Enjoy

“Heh kamu, ke ruangan saya sekarang.”

Nada-nada gini nih kayak nada-nada mau dikasih kerjaan segunung. Bos emang gitu sih orangnya, tegas dan kadang tegaan. Tapi ya mau bagaimana lagi, nggak mungkin kan gue nolak karena malas. Namanya senin pagi, pikiran juga Cuma 50 % di depan computer, sisanya masih ada di kenangan akhir pekan kemarin.

Gue berjalan ke ruangan bos, sebernarnya dia ini bosnya bos. Bos di langit kedua lah. Ruangannya lumayan besar. Di depan ruangan ada meja dan empat sofa untuk tamu. Masuk dikit ada meja bundar juga dengan empat kursi dan berbagai jenis kue kiloan dalam toples (dah kayak jualan). Ada juga TV flat 24 inci, bisa buat nonton atau presentasi.

Yang paling menarik perhatian itu meja di samping ruangan. Isinya piala semua. Kalau ngelihat pialanya sih jelas banget nih orang jago main golf. Soalnya sepertiga piala bentuknya miniature orang yang lagi mau mengayunkan tongkat golf. Kayaknya sengaja dipasang biar semua tamu yang datang sadar sama hal itu sih.

“Ya bos.”

Gue duduk dan memperhatikan bos yang sedang membaca sebuah surat.

“Gini…., mmmm,” kata bos sambil memijat kepalanya. Mata gue tertuju ke sebuah piala yang sepertinya piala baru. Berbentuk bola golf yang sedang di letakkan di atas tee yang tertancap di tanah. Bolanya seperti bola Kristal yang memantulkan cahaya sehingga terlihat seperti berlian mahal.

“Halo…, kamu dengerin nggak.”

“Oh ya maaf Pak. Gimana ?”

“Kamu lihat apa sih ? Oooh, piala itu ya.”

“Iya Pak, bagus banget.”

Kalau misalnya ngelakuin kesalahan cara paling aman untuk lolos dari omelan bos ini adalah dengan mengalihkannya ke golf, bakal langsung jinak dia. Continue reading

Balada Pengantin Baru

Akhir-akhir ini termenung dengan undangan-undangan kawinan temen-temen yang berdatangan. Hmm, semuanya sudah mulai bersiap, mengambil satu langkah penting dalam sebuah kehidupan. Perlahan tapi pasti semua temen-temen juga bakal ngasih undangan satu persatu. Dan gue ? Gue belum berpikir sama sekali nggk berpikir kesana. Well semua orang punya hidupnya masing-masing kan ? Jadi menanyakan pertanyaan kapan nikah itu sama aja kayak menyebut Lord Voldemort di kisah Harry Potter. Kalau habis nikah pasti bakal jadi pengantin baru doong, nah gue cuma mau bermain-main imajinasi dikit dengan kisah fiksi pasangan yang baru nikah. Enjoy…

Dari sudut pandang laki-laki

Nit-nit-nit. Hadooh, plis deh ini hari libur, masa sih dibangunin sama alarm. Seinget gue, gue nggak nyalain alarm. Kalau begitu siapa ? Gue langsung membuka mata. Ada sosok lain di sebelah gue. Jangan teriak, memang selama 6 hari ini sudah ada sosok ini yang menemani gue tidur. Huuh, dia yang nyalain alarm, malah dia kagak bangun duluan.

Dia adalah Dian, wanita yang membuat gue berjanji untuk membahagiakannya seumur hidup gue. Kita menikah 6 hari lalu. Walau masa pacaran kita singkat, Cuma 6 bulan, gue merasa cocok dan…, pokoknya nggak bisa dijelaskan. Ada sesuatu yang membuat gue berpikir dan merasa kalau she’s the one. Mungkin ini yang disebutkan kalau jodoh tidak kemana.

“Eh udah jam berapa nih ?”

Akhirnya Dian bangun. Jam 10 pagi. Dia kemudian mematikan alarm dan mengulet. Jarang memang gue bangun sesiang ini. Ya memang karena kami tidur cukup malam juga. Dian terduduk dan tersenyum manis kea rah gue. Seketika gejolak dan asmara terbakar di hati. Belum lagi cinta yang menjadi bara api antara gue dengannya. Dia kembali berbaring dan berbisik di sebelah gue.

“Kamu lapar ?”

“Tentu sayang. Aku menghabiskan banyak tenaga tadi malam.”

“Aku akan siapkan makan,” katanya lalu kemudian mencium bibir gue selama sedetik.

Aaah, I love her very much. Kalau kata orang sih cintanya cowok itu gede di awalnya aja, makin lama akan berkurang. Well…, gue akan buktikan kalau itu salah.

Dari sudut pandang perempuan

 Aaah, indahnya pernikahan. Aku merasa lebih stabil dan terlindungi. Dia adalah Andi, pria yang aku pilih untuk menjadi orang yang akan bertanggung jawab kepadaku. Well, kalau dia akan melakukan tanggung jawabnya ya aku juga harus melakukan kewajibanku. Aku bangun, mengenakan pakaian dan langsung kedapur.

Sambil memasak sarapan, aku berpikir sejenak. Kami baru menikah selama 7 hari dengan waktu pacaran baru 6 bulan. Waktu yang sangat singkat untuk masa pacaran. Aku juga masih tergolong muda, aku 24 sedangkan dia 25 tahun. Kalau boleh jujur, ketika dia melamarku aku juga masih belum yakin 100 %. Tapia da sesuatu yang membuat gue bertindak harus menerima lamaran itu. Mungkin ini yang disebut dengan kalau jodoh nggak kemana.

Seketika ada tangan yang memelukku dari belakang dan menghembuskan nafas di leherku. Bulu kudukku langsung merindih, namun gairah ini menenangkanku, membuatku melepaskan hormone yang membuatku ikhlas untuk diperlakukan seperti ini.

“Masak apa ?” bisiknya.

“Nasih goreng.”

“Aku sudah lapar.”

“Tak lebih lama dari 15 menit lagi.”

“Kurasa akan lebih lama dari itu…, sayang…,” dia berbisik pelan di telingaku.

  Continue reading

There’s Something About Alan (PART II)

 Well…, enjoy part 2 ya. Just wanna say…, mimpi adalah angan-angan sedangkan realita adalah kenyataan. Batas antara mimpi dengan realita hanyalah sebuah zona abu-abu yang dibatasi oleh sebuah garis yang disebut niat, kemauan, dan usaha.

Sebenarnya aku bingung mau kemana tapi yasudah aku ikuti saja teman-temanku ini. Yang penting cuacanya cerahrahrah. Habis ini aku akan membius Dhea dan membawanya ke planetku. Setelah itu misi selesai dan aku akan dapat penghargaan atas jasaku.

“Kita dah sampai.”

Kami sampai di depan sebuah gapura. Kami berfoto-foto dulu di depan gapura lalu berjalan beberapa ratus meter. Suara yang membuatku merinding mulai terdengar. Sebuah sungai dengan aliran deras terpampang di depan mataku.

“Wuhuu, rafting. Yuk ah pake lifevestnya terus siap basah-basahan.”

Mati aku.

“Gimana ini ?” kataku.

“Gimana apanya ?”

“Rafting tuh pasti basah ya ?”

“Yaiyalah Lan. Kok pertanyaan lo aneh banget sih.”

“Gue nggak bisa berenang,” kata gue menggunakan alasan yang ditemukan didatabase.

“Bohong banget deh. Jelas-jelas renang lo jago. Lagian kan kita pake lifevest.”

Kami sudah sampai di pinggir sungai. Bunyi air yang kencang menandakan derasanya arus. Aku gemetaran dan panik.

“Lo kenapa Lan ?” tanya Dhea.

“Aku takut.”

“Tenang, kan ada kita-kita disini. Kita nggak akan ngebiarin lo celaka.”

“Eh ganti baju dulu ah gue. Mau ganti celana pendek.”

Yang lain ganti celana pendek dan kaus aku malah menambahkan sarung tangan dan kupluk. Bodo amat, aku masih belum mau mati.Hanya wajahku saja yang terpapar udara luar. Namun bagaimanapun apabila air terkena wajah maka akan langsung lumer permanen dan apabila tertelan maka aku akan langsung mati dalam waktu 60 menit.

“Kok lo malah pake baju gitu sih Lan ?”

“Emang nggak boleh ?”

“Ya tapi aneh aja. Mending pake kaus sama celana pendek,” kata Dhea.

“Bilang aja lo mau lihat body Alan yang sexy kan Dhe,” goda Beno.

“Tahu aja lo. Yoweslah terserah Alan. Yuk.”

Aku mendengarkan safety briefing dengan cermat. Ini perjuangan hidup mati untukku. Aku naik ke atas perahu karet dengan melompat, tak membiarkan air mengenai kakiku. Ketakutan yang belum pernah aku alami sebelumnya.

“Lo takut amat sih Lan. Nyantai aja keles.” Continue reading

There’s Something About Alan (PART I)

Happy new year everyone…, sudah tahun 2015. Alhamdulillah Allah masih memberiku umur sampai detik ini. Tahun baru resolusi baru…, hmm kurasa resolusiku masih sama dengan tahun sebelumnya namun kali ini dengan semangat baru dan dengan kata harus diawal kalimatnya. 

Nyerpen lagi setelah sekiaan lama nggak nyerpen. Well i’m working on something bigger. Apapun yang aku dan skita semua kerjakan, asalkan itu baik semoga dapat tercapai Enjoy

“Soal ini ada yang bisa mengerjakan di papan tulis ?”

Hening. Sekejab ruangan kelas berubah menjadi kuburan. Semua nunduk plus ada yang pura-pura menghitung. Dosen berkepala botak itu menatap seluruh isi kelas, sudah seperti setan bertanduk yang mau menyerok manusia laknat ke neraka. Kenapa begini sih ? Aku jadi bingung sendiri.

        “Saya pak,” aku angkat tangan.

        Semua mahasiswa kaget sekaligus takjub. Kayak baru melihat cowok yang mengaku sedang hamil. Aku maju dan langsung menuliskan beberapa baris dengan rapi di papan tulis dengan percaya diri. Wong soal gampil begini.

        “Sudah pak.”

        “Bagus Alan, ini benar,” kata Dosen yang percaya nggak percaya.

        “Apa kamu sudah pernah mengerjakan soal ini sebelumnya ?”

        “Belum pak.”

        “Mmmh, mungkin…, kamu bisa menjelaskan ke teman-teman kamu tentang soal ini. Biasanya kalau yang menjelaskan sama-sama muda bisa lebih cepat kan.”

        Wah, kayaknya ini dosen nggak percaya. Oke aku langsung berbicara dengan detail semua teori yang aku gunakan dan penerapaannya ke soal ini. Kenapa sih ? Emangnya seorang Alan itu bego banget ya di mata mereka sehingga mereka tampangnya begitu banget.

        Pelajaran usai. Aku bersama keempat teman lain makan bersama. Mereka adalah teman-teman terbaikku, kemana-mana selalu bersama. Ada Beno, Charlie, Dhea, dan Erika. Kami menamai geng kami dengan geng ABCDE, ya itu kan singkatan nama kami. Kami semua adalah mahasiswa tingkat tiga jurusan Matematika di universitas terbaik di negeri ini.

        “Gile lo lan. Keren abis tadi ngerjain sama njelasin soalnya.”

        “Ah biasa aja.”

        “Iya. Kayak bukan Alan aja. Minggu ini lo beda banget deh Lan. Jangan-jangan Alan ini Alien yang menyamar lagi.”

        “Eeee…,” aku gugup.

        Bagaimana dia bisa tahu ? Apa dia berhasil masuk ke kosanku aka markasku. This is my little secret. Continue reading

Ada Apa Dengan Tinta ?

Its good to be back on my blog. Belakangan ini nggak sempet nulis blog…, well bukan karena sibuk banget sampe nggak bisa ngeluangin waktu buat mampir, tapi aku lagi memulai lagi nulis yang lebih panjaaang dari cerpen. Tapi tenang, minggu kemarin sempet punya sejam dan kebetulan ada ide buat cerpen.

Well, bagi penggemar film Ada Apa Dengan Cinta, pasti nggak asing dengan AADC 2014 yang dibuat sama Line kan ? Ya cerita galaunya Rangga ama Cinta selama belasan tahun. Bagi penggemar setianya, apa yang aku tulis ini semata-mata hanya untuk menghibr saja, tidak ada maksud untuk menjelekkan atau menghina. Semoga dapat menghibur

 

“Jadi beda, satu purnama di new york dan di Jakarta.”

Gue berkata itu pas yakin kalau cowok yang ada di depan gue itu si Mangga. Tuh kan bener. Kayaknya rambutnya dia dulu kriwil-kriwil kenapa sekarang jadi keren gitu yah. Mangga berjalan maju kedepan gue sambil tersenyum.

Loh kenapa nggak ngomong apa-apa, kenapa malah ngomong dalam hati ? Gue udah di gantungin 12 tahun nih, udah di PHPin. Bilangnya Cuma 1 purnama, purnama apaan. Udah gitu pas ketemu Cuma senyum doang dan berharap gue yang nyapa duluan. Dasar cowok berengsek.

“PLAK”. Gue menampar pipi Mangga.

“Au. Kok gue di tampar,” kata Mangga sambil memegang pipinya.

“Masih untung Cuma gue gampar. Tadinya mau gue pecahkan kepala lo biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh.”

“Tinta kok jadi jutek gitu ?”

“Udah deh, ngape lo line-line gue ?” Continue reading

Bohong itu Dosa

Ni hari upacara bender,a jadi ketinget masa-masa sekolah dulu ada upacara. Haha jadi pingin bikin cerita yang ada upacara-upacaranya.

“Ma, aku berangkat ya.”

“Ya hati-hati di jalan.”

Huuuh pagi ini bangunnya kesiangan. Jam menunjukkan pukul 6.30, seharunya aku berangkat jam 6 tepat. Ngapain sih tanggal merah begini harus kesekolah. Eh iya, ini kan 17 Agustus ya wajib lah upacara. SMP-ku berjarak kurang lebih 12 km, papa pernah menghitung dengan speedometer mobil. Waktu tempuh dengan angkot kurang lebih 45-60 menit. Upacara akan dimulai jam 7.30, tapi seharusnya sudah harus datang sebelum upacar dimulai. Duh semoga jalanan nggak rame deh.

Aku memanggil bus yang sudah mau berangkat. Bisa lama kalau menunggu bus berikutnya. Nafas sedikit terengah-engah ketika aku naik ke dalam bus. Bus tidak seramai biasanya. Sekarang tinggal berdoa semoga supirnya semangat 45 buat nyetirnya, biar cepet nyampe dan nggak telat. Kebanyakan yang naik bus juga anak sekolahan yang mau upacara dan PNS yang memakai seragam.

Aku seperti biasa ngelamun disepanjang perjalanan. Fenomena pagi ini berbeda dengan biasanya. Semua sekolah dan aula yang kulihat dipenuhi orang yang mau upacara. Mereka semua memakai satu seragam, lengkap dengan sepatu hitam, dan topi. TOPI ??? Oh ya topiku ketinggalan. Waduh bagaimana ini. Gara-gara keburu-buru sih.

Balik lagi ? Kayaknya nggak akan kekejar. Kalau misalnya bolos upacara bisa dapat nilai 0 nih buat PPKN. Ancaman yang diucapkan ibu guru PPKN itu langsung terngiang di benakku. Jadi coret kemungkinan untuk balik lagi ke rumah buat ngambil topi, nggak akan kekejar. Kalau datang tanpa topi…, bakal di setrap dan dicatat namanya terus dapat hukuman.

Kalau nggak salah guru BK yang galak itu ngomong ke semua siswa kalau semua siswa wajib pakai baju putih biru, sepatu hitam, dasi dan topi. Kalau nggak bakal berdiri di barisan beda dan dihukum. Hukumannya apa sih ? Kalau berkaca dari 17an tahun lalu, hukumannya adalah kerja bakti satu sekolah. Walaah, malas banget tuh. Aku terus memikirkan bagaimana cara agar bisa datang upacara namun tidak disetrap. Continue reading

Cinderella, Bukan Hello Kitty

Belakangan ini, nggak sahur nggak habis tarawih pasti TV dibajak sama Mak dan Kakak buat nonton sinetron yang membuat semua orang benci sama Hello Kitty. Hadeeh, mending ngendon di kamar aja deh kalau udah gitu. Kenapa ya tokoh wanita di sinetron-sinetron Indonesia nggak dijadiin mutan Wolferine aja yang bisa ngeluarin pisau dari tangannya jadinya sinetronnya cepet tamat, nggak pake adegan licik-licikan atau selingkuh-selingkuhan. Anyway jadi terinspirasi buat sebuah cerpen. Bagi penggemar sinetronnya, take it easy aja ya. Cuma pingin mengeksplor sisi humor dari efek samping nonton sinetron.

Aneh, mungkin itu kata yang bisa menggambarkan kelaukan Yudi, suamiku. Ada apa dengannya ? Dia kelihatan berbeda sebulan belakangan ini. Sikapnya lebih dingin. Ketika malam dia pulang kerja, dia hanya mandi, makan, ngobrol seadanya lalu tidur. Paginya juga begitu, mandi, makan, ngomong sepatah dua patah kata lalu berangkat. Biasanya tidak sependiam itu. Jika akhir pekan, dia biasanya selalu ceria untuk mengajakku dan Rosa, anak tunggal kami, untuk jalan-jalan. Namun kal ini dia seperti enggan dan lebih memilih tidur atau lembur di kantor.

Aku sudah memancingnya untuk bicara. Mungkin dia sedang menghadapi masalah di kantornya. Mas Yudi berkata seperti itu, sedang ada masalah pelik di kantor. Ya itulah salah satu fungsiku sebagai isteri, tempat curhat suami. Namun mas Yudi enggan membicarakan masalah kantornya kepadaku. Dia bilang ceritanya panjang dan rumit. Namun tak masalah bagiku untuk meluangkan waktu mendengarkan curahtnya. Siapa tahu aku bisa memberinya solusi.

Tapi…., kok rasanya ada yang janggal. Feelingku berkata ada sesuatu yang disembunyikannya. Aku bisa tahu dari sorot matanya. Kalau melihat sinetron-sinetron yang aku ikuti di TV dari sore sampai tengah malam itu, tanda ini merupakan tanda-tanda adanya perselingkuhan di rumah tanggaku. Apa selingkuh ? Mungkinkah ? Dia sudah mengucapkan janji sehidup sematidenganku 5 tahun lalu. Kami bahkan sudah dikaruniai satu anak perempuan yang lucu dan cantik.

Jumat malam ini aku sudah bertekad, harus tahu apa yang terjadi padanya. Kalau dari salah satu episode di sinetron yang aku tonton, cara tahu apa yang terjadi adalah dari ponselnya. Semua jejak yang dia lakukan satu hari terekam jelas di ponselnya. Feelingku terasa kuat, mengatakan ada orang ketiga di rumah tangga kami.

Malam ini seperti biasa suamiku pulang dengan mobilnya. Rosa langsung menghampiri Mas Yudi yang baru keluar dari mobil. Mas Yudi mengelus-elus kepala Rosa sambil tersenyum. Kadar keceriaan itu berkurang selama sebulan terakhir ini. Biasanya dia langusng menggendong ani dan menciumnya. Rosa baru berusia 4 tahun, masih kuat untuk dia gendong. Continue reading

Bule Nyasar

Waktu menunjukkan pukul 8 delapan tepat. Pria itu mengambil tas backpacknya dari belt conveyor. Dia berkebangsaan Perancis, sebut saja namanya Raul. Ini pertama kalinya dia ke Jakarta. Rencananya dia akan ke Bali untuk tujuan backpacker. Hanya saja tiket murah mengharusnyaknnya sampai ke Jakarta sepagi ini sedangkan flight ke bali baru jam 5 sore. Sebagai backpacker sejati ya waktu selama 9 jam ini jarus dimanfaatkan untuk berkeliling ibu kota.

Berbekal browsing sana sini, dia sudah menentukan tujuan untuk backpacker di Jakarta yaitu ke Kota Tua dan Monas. Dari yang dia cari di Internet, masyarakat Indonesia itu ramah-ramah dan sopan, ciri khas masyarakat timur. Raul yakin perjalanannya di Jakarta akan berjalan lancar hanya dengan bekal internet dan Tanya sana sini.

Cuaca cukup panas. Ya memang dari internet, di Indonesia sedang musim kemarau. Bandara Soekarno Hatta cukup ramai. Dia pikir Jumat tak membuat bandara ramai. Raul keluar pintu bandara. Naik apa yak ke kota tua ? Sebagai backpacker, pantang untuk naik taksi atau travel. Naik bus dimana ya ?

“Where are you going sir ? I can guide you ?”

“Taxi sir ?”

“I can take you anywhere sir.”

Raul kaget dengan pelayanan bandara yang sangat antusias. Namun dia sudah mantap ingin naik bis saja. Sampai sebegitunyakah ? Sampai-sampai para penawar jasa itu terlihat sangat kecewa ketika Raul menolak.

“Where are you going sir ? I can give you Jakarta Tour right now,” kata seorang pria berkemeja biru. Raul agak bimbang. Ikut tidak ya ? Ada layanan tour di depan mata nih ? Dia tak menemukan data di internet kalau ada layanan tour di bandara. Well stick to the plan, naik bis biar paling murah.

“No thanks.” Continue reading